
Meski orang-orang yang menangkap Ashley telah meningkatkan kewaspadaan mereka, mereka hanya fokus pada kemampuan wanita tersebut dan melewatkan satu benda yang dianggap 'tidak berbahaya'. Jika mereka tahu tongkat Ashley yang mereka sita juga menyimpan pedang, mungkin orang-orang itu akan mencurigai semua benda yang dibawa wanita tersebut.
Kembali beranggapan bahwa mereka telah melumpuhkan Ashley, para penjaga gudang sama sekali tidak khawatir saat memutuskan untuk menempatkan wanita itu bersama 'rekan kriminalnya' yang tertangkap lebih dulu. Mungkin jika mereka mau mendengar pendapat orang lain, Ashley tidak akan memiliki kesempatan sama sekali.
Menarik keluar pisau kecil yang tersembunyi dalam liontin kalung Ashley, Eva kemudian menggunakannya untuk memotong tali yang mengikat tangan serta kaki wanita tersebut. Menelungkup sambil melemaskan otot-otot alat geraknya, Ashley akhirnya bisa terlepas dari rasa pegal, nyeri, serta kesemutan yang mengganggunya.
Terlihatlah guratan-guratan merah di tangan dan kaki si Pirang yang terluka akibat gesekan tali dan diikat terlalu kencang. Bukan hanya karena tali tambang, namun rantai besi yang sempat menghiasi pergelangan tangan Ashley juga meninggalkan jejak di sana, membuat hati Eva terasa semakin hancur.
Kembali memiringkan tubuhnya dengan susah payah, wanita itu mencoba meraih lengannya yang lain. Namun gagal karena tidak memiliki cukup tenaga, Ashley pun melirik ke arah Eva, sekali lagi meminta tolong kepadanya untuk melakukan sesuatu yang harus sesegera mungkin dilakukan.
"Liat pundak gua?"
"Gua mau lo benerin pundak gua."
Tidak tertupup oleh apa pun, tentu saja Eva dapat melihat dengan jelas pundak Ashley yang mengalami dislokasi ke belakang. Sudah ikut merasa sakit hanya dengan melihatnya saja, kini wanita itu justru ingin Eva mengembalikan pergeseran sendi tersebut.
Kepanikan Eva mulai muncul. Ia tidak bisa melakukan hal yang bisa menyakiti Ashley lebih dari ini. Apa lagi dengan menggunakan tangannya langsung.
Menyadari wanita mungil di sana akan memberikan respon yang normal bagi orang awam, Ashley lalu melanjutkan ucapannya guna meyakinkan Eva.
"Jangan kuatir, gua gabisa ngerasain sakit dari kecil. Jadi apa pun yang lo lakuin ga bakal kerasa. Lo cuma peERGH!!"
Seketika berteriak saat sedang berbicara, semua otot wanita itu menegang karena apa yang dilakukan Eva secara tiba-tiba. Mengembalikan pundak Ashley seperti semula dengan paksa dan tanpa aba-aba, ia berhasil mengelabuhi wanita yang sedang berusaha mengelabuhinya. Namun bukan disengaja, ia hanya terlampau percaya dengan ucapan Ashley.
"A-ah!? Apa sakit?" Ucapnya yang sempat tertipu dan benar-benar percaya jika Ashley tidak bisa merasakan sakit.
Melihat kenekatan yang selalu dilakukan oleh Ashley, wajar baginya untuk percaya.
Langsung kembali panik saat melihat respon si Pirang, Eva dibuat kalang kabut oleh wanita yang kini hanya terbujur kaku layaknya sebuah kayu tepat di hadapannya.
"Ga. Gua cuma kaget." Jawab si Pirang kemudian.
Niatnya untuk memberitahukan teknik yang benar kepada Eva sudah tidak dibutuhkan lagi.
Memang bohong jika dibilang tidak sakit, namun jika dibandingkan dengan yang sebelumnya, yang dirasakan Ashley kini sangatlah jauh lebih baik.
Sejujurnya, rasa percaya Eva kepada Ashley sudah sangat tidak masuk akal. Bahkan sampai menakutkan. Jika ia menerapkan hal itu kepada semua orang, usianya tidak akan panjang.
__ADS_1
Sama sekali tidak memiliki energi yang tersisa setelah pemberontakan bersesi yang sangat menguras tenaga, Ashley memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu.
Dua kali tak sadarkan diri membuatnya semakin buta akan waktu yang telah berlalu. Ia hanya bisa berharap ia masih memiliki cukup waktu untuk istirahat dan melarikan diri sebelum Far datang dan mengambil semua peluang lolosnya.
Mengingat tubuh Ashley yang begitu dingin, Eva hendak merobek gaun yang dikenakannya guna menyelimuti tubuh wanita pirang tersebut.
Akan tetapi tangan Ashley menghentikannya.
Menjelaskan bahwa ia tidak ingin wanita yang secara fisik lebih muda darinya tersebut kedinginan, Eva justru mendapat alasan aneh lainnya.
"Ga perlu, gua gerah."
Melirik ke arah Eva yang masih tidak terlalu yakin dengan jawaban Ashley, si Pirang pun kembali berkata,
"Gua suka dingin."
Tidak bisa memaksakan diri melawan kekeraskepalaan Ashley, Eva pun terpaksa menurutinya.
Beberapa saat berlalu dalam keheningan. Tidak lagi menggunakan kakinya untuk bantalan kepala Ashley, Eva kini terbaring tak jauh dari wanita tersebut atas kemauan 'teman sekandangnya'. Meski memiliki banyak pertanyaan, Eva tetap tidak menanyakannya karena tidak ingin mengganggu waktu istirahat yang sangat Ashley butuhkan saat ini.
Melirik ke samping melihat punggung dengan banyak bekas luka cambukan yang tersamarkan oleh lebam-lebam baru, membuat Eva semakin ingin memeluk Ashley. Lalu di tengah kesunyian tersebut, wanita pirang itu akhirnya mengatakan sesuatu.
Sesuatu yang terasa jujur sekaligus memilukan. Diucapkan dengan suara yang lemah, Ashley membuat 3 kata tersebut terkesan sangat dalam dan penuh arti.
Bangkit dan membaringkan diri di belakang wanita yang sebelumnya mengaku menyukai dingin itu, Eva kemudian memeluknya perlahan dari belakang.
"Sakit?" Tanyanya tidak ingin secara tidak sengaja menyakiti Ashley yang tubuhnya sedang tidak dalam keadaan baik.
Tidak langsung menjawab, pikiran wanita tersebut teralihkan oleh perasaan nostalgia yang membuatnya merasa-
aman.
Menjawab dengan suara lirih, menggunakan satu kata andalannya Ashley mengkonfirmasi jika ia tidak merasa sakit ataupun keberatan dengan apa yang dilakukan Eva. Hal yang membuatnya teringat dengan sang ibu yang selalu memeluknya saat tidur, membuatnya merasa aman untuk memejamkan mata dan pergi ke dunia mimpi.
Tidak lagi memiliki siapa-siapa yang bisa mengawasi punggungnya.
Terjebak dalam dunia asing sendirian.
__ADS_1
Terus berlarian ke sana kemari tanpa henti mencari jalan keluar agar bisa kembali.
Itu semua bukanlah hal yang mudah seperti kelihatannya.
Saat ia pikir ia akhirnya memiliki sesuatu,
memiliki seseorang yang bisa ia andalkan,
dan tahu ke mana harus pergi,
tiba-tiba semuanya lenyap,
membiarkan udara dingin berhembus menerpa punggungnya yang tak terjaga.
"Hey."
Kembali memecah sepi, Ashley akhirnya mengatakan hal yang sedari tadi ia simpan dalam hati karena tidak tahu apa yang harus diucapkan.
"Daryl mencarimu."
Tidak mendengar respon Eva yang biasanya sangat spontan, bola mata Ashley berlari ke ujung, melirik ke belakang tanpa menolehkan kepala.
"...kuharap dia tidak terluka."
"Dia pasti berbuat nekad tanpa memikirkan resiko... ah, tapi Will pasti bisa mengatasinya."
Mendengar jawaban tersebut entah mengapa begitu menyesakkan dada Ashley. Diperlihatkan akan fakta bahwa mereka berdua sangat saling peduli, tak disangka memberikan efek yang begitu kuat baginya. Meski telah mencoba menerima, Ashley masih tidak mengerti dari mana semua rasa sakit itu berasal.
"Tapi bukannya lo harusnya aman kalo udah tunangan sama dia? Daryl tetep punya posisi tinggi, kan?"
Tergagap tidak tahu apa yang harus diucapkannya terlebih dahulu, Eva kemudian duduk dengan wajah memerah.
"Aku tidak bertunangan dengannya!"
Sama-sama terdiam dan saling menatap. Ashley memperhatikan wajah malu sekaligus terkejut Eva. Bukan malu karena tidak suka, namun malu karena pernah suka.
Saat itu, barulah Ashley sadar. Ia telah ditipu oleh orang yang hanya ditemuinya satu kali.
__ADS_1
.................. Bersambung .................