Cinderella Gila

Cinderella Gila
Tour guide mana boleh komplain


__ADS_3

Mengalihkan pandangan ke sisi kanan, Ashley mendapati sebuah benda tak asing yang acap kali ia kenakan dalam kegiatan sehari-hari.


Dilihatnya kemudian sisi yang lain. Kedua bola mata wanita itu menunjuk ke arah satu-satunya kayu yang tergeletak di antara puing dinding hasil ulahnya beberapa saat lalu.


Mengikuti arah pandangan Ashley, Eva kemudian berjalan menghampiri benda tersebut seketika setelah melihatnya. Selagi wanita mungil tersebut pergi mengambil kayu penutup kaki palsu Ashley, si Pemilik berjalan mengambil bagian atas kaki palsunya.


Meski pisaunya telah patah dan bagian untuk menopang kakinya juga terlihat memperihatinkan, jika masih bisa digunakan maka itu bukan masalah. Menemukan kaki kayunya di sana dan belum dibuang saja sudah terbilang beruntung.


Mungkin para petugas gudang tersebut tengah disibukkan dengan adanya pemakaman masal dadakan.


Sadar bahwa berkeliaran dengan pakaian dalam bukanlah hal yang wajar, Will pun melepas mantelnya.


Mengikuti Ashley yang melangkah pergi, ia sedikit merasa bersalah terhadap Daryl karena telah melihat hal yang seharusnya hanya boleh dilihat oleh suami Ashelia. Bukan berarti Daryl diperbolehkan, hanya saja, pria itulah yang mati-matian mengejar wanita pembuat onar tersebut.


Akan tetapi, ialah yang tidak mengetahui bahwa Daryl juga sudah pernah melihatnya terlebih dahulu.


Tersentak dari lamunannya, pergelangan tangan pria pirang itu hampir terpotong saat berniat memakaikan mantelnya di pundak Ashley dari belakang.


"Don't get too close or I'll cut ya into mincemeat."


"...kau boleh memakainya sendiri." Jawab Will yang sama sekali tidak mengantisipasi respon tersebut.


"Ga butuh."


Dengan jawaban ketus layaknya gadis dalam masa pubertas, Ashley mengabaikan pria dengan niat baik itu dan kembali melanjutkan langkahnya ditopang pedang yang ia bawa.


Terlepas dari apa pun, Ashley hanya dendam karena Will berani menipunya. Ditambah dengan kalah ranking sebagai 'orang penting' dan mendapat diskriminasi dalam sesi interogasi, rasa tidak sukanya terhadap Will pun semakin terpupuk.


Meski tentu dua point terakhir tersebut bukanlah salah sang pemuda berambut pirang di sana.


Menyusul dari belakang, dengan wajah ceria bak tanpa beban atau sedikit pun rasa cemas meski berada dalam wilayah musuh, Eva berkata,


"Atau kau ingin bertukar dengan gaunku?"


Mengambil mantel yang masih tergantung di tangan Will, ia kemudian berhenti di depan Ashley yang tengah mengernyit ke arahnya. Sebuah bahasa tubuh yang sangat jelas menunjukan pertentangan.

__ADS_1


Walau demikian, hal itu tidak mampu menghapus senyum di wajah Eva. Seolah telah memprediksi respon tersebut, wanita mungil itu tertawa kecil.


"Sedikit lebih hangat tidak ada salahnya, kan?" Ujarnya sambil membantu memasukan tangan Ashley ke lengan mantel yang dibawanya.


Tidak menolak ataupun menggerutu, si Pirang hanya diam saat Eva membantunya mengenakan pakaian baru sekaligus bekas tersebut. Berlanjut mengambilkan kaki palsu Ashley yang belum sempat ia ambil, Eva kemudian membantu memasangkannya juga.


Meski terbiasa dilayani, namun ada kesan yang berbeda saat Eva yang melakukan semua itu. Tidak merasa sebagai superior Ashley justru merasa seperti 'dibantu'. Hal yang sekali lagi membuat ketua mafia tersebut teringat kepada sang ibu yang telah lama tiada.


Sambil mencoba menggerakan kakinya layaknya mendapat kaki baru, Ashley berkata dengan dingin,


"Jangan ngarep bakal gua balikin."


Walau dikatakan tanpa menyebutkan nama ataupun melihat ke arah lawan bicaranya, kedua orang di sana tahu betul kepada siapa kalimat itu ditujukan.


"Ya, ya. Lakukan sesukamu." Sahut Will yang tidak lagi peduli dengan etika dan sopan santun.


Seketika menoleh ke arah pemuda yang kemudian melirik Ashley dengan tatapan tidak peduli tersebut, wanita pirang itu hampir menggunakan jalan kekerasan. Jika bukan karena Eva yang menahan tangannya sambil tertawa, mungkin sudah terjadi pertikaian antara kedua orang pecinta sarkasme tersebut.


Eva yang mengerti sifat si Pirang 1 dan si Pirang 2, justru menganggapnya sebagai hiburan tersendiri.


Seperti yang orang bilang, orang dengan sifat(keburukan) sama tidak akan bisa akur.


Berjalan menelusuri lorong-lorong gelap, ketiganya mencari jalan keluar. Bau lembab tercium di sepanjang lorong kotor tanpa penjagaan itu. Hanya deretan obor di beberapa titik yang mengisi kekosongan dinding batu di sana.


Bagai penjara bawah tanah, labirin, ataupun semacamnya, gudang tersebut tak disangka cukup luas. Dari luar memang terlihat kecil, namun bagian bawahnya terhubung dengan bangunan yang lain. Tak heran jika mereka memiliki banyak jalur rahasia di antara lorong-lorong tersebut.


Bahkan jalur bawah tanah yang digunakan oleh Klaus si tokoh utama novel mungkin juga terhubung ke sana.


Bukan buatan para pengelola gudang, jelas mereka hanya memanfaatkan jalur pelarian yang sudah tak terpakai.


Tertangkap dalam keadaan tak sadarkan diri, Ashley benar-benar tak tahu kemana ia harus pergi. Karenanya, Will yang mengambil alih sebagai pemimpin jalan. Sama halnya dengan wanita itu, indera dan ingatan Will juga cukup tajam.


Hanya jika ia merasa harus menggunakannya.


Berbeda dengan Ashley yang harus waspada di setiap detiknya, Will dapat memilih kapan ia ingin mengabaikan sekitarnya.

__ADS_1


Dengan suara langkah kaki yang tak tersamarkan -bahkan kaki kayu Ashley menggema cukup keras di sepanjang lorong, kedua wanita di belakang pria tersebut berjalan begitu santai tanpa sedikit pun rasa peduli.


Yah, salah memang, jika berkata Ashley selalu waspada di setiap detik.


"Hey, kita tidak sedang berwisata, kalian tahu?"


Mengacungkan ujung pedangnya ke bawah dagu Will saat pria itu berhenti dan menoleh ke belakang, Ashley mengancam,


"Tour guide mana boleh komplain."


Sedikit mengerutkan dahinya, pria pirang tersebut kemudian beralih menatap Eva yang justru terlihat senang layaknya sedang berlibur. Dari ekspresi wajah Will, tergambar jelas sebuah pertanyaan mengapa Eva menyukai orang semacam ini?


Bukan hanya Eva, bahkan Daryl yang memiliki hormon bahagia sangat minim pun juga tergila-gila dengannya. Apa sebenarnya yang ada di dalam otak mereka?


Selain mencari jalan, mewaspadai musuh yang bisa datang sewaktu-waktu, Will juga merasa tidak tenang menunjukkan punggungnya pada wanita gila bersenjata. Ditambah lagi, saat ia harus menjadi sasaran pertama, ia justru tidak berbekal senjata apa pun.


Jelas sekali pekerjaannya sebagai pemandu jalan juga merangkap sebagai sebuah tameng daging.


"Setidaknya pinjamkan itu padaku." Protesnya merujuk pada pedang di tangan Ashley.


"Lo pikir gua penyedia jasa? Cari sendiri."


Hanya mampu menghela napas karena tidak mampu menumbuhkan rasa percaya untuk Ashley dalam sekejap, Will mau tidak mau harus menerima keadaan.


Teralih karena perbincangan penting barusan, mereka tidak menyadari jika ada seseorang yang tengah berjalan mendekat. Saat berniat melanjutkan tamasya mereka, barulah ketiganya disadarkan oleh kehadiran sang Pengelola Tempat Wisata.


Sempat saling menatap ekspresi terkejut dari kedua pihak, sang PTW pun mendahului mereka dengan memberikan sambutan hangat kepada para turis tersebut.


"MEREKA MELARIKAN DIRI!!!"


Begitu hangat hingga membuat Will dan Ashley jatuh hati dan tak mampu merelakannya.


Tak kuasa memilih satu di antara 2 insan yang mengejar dirinya dengan penuh cinta, sang PTW pun lebih memilih untuk menjauhi keduanya.


"TOLOONG!"

__ADS_1


Bagaimanakah akhir dari cinta segitiga ini?


.................. Bersambung .................


__ADS_2