Cinderella Gila

Cinderella Gila
...tapi kau bilang iya


__ADS_3

Puluhan orang memenuhi sebuah gang yang cukup terkenal di kota Vinnas. Dengan banyaknya orang yang berlalu-lalang membuat kereta kuda tidak diijinkan melewati gang tersebut.


Dari ujung hingga ke ujung, jalanan itu didominasi oleh kaum adam. Sedangkan sederet wanita dengan pakaian berani, bermanis-manis menarik para pelanggan mereka. Meski ada juga pekerja laki-laki yang berprofesi sama, namun bidang itu tetap didominasi oleh kaum hawa.


Gang yang cukup besar tersebut adalah sebuah area yang biasanya didatangi oleh mereka yang ingin mencari 'kesenangan'. Hal yang membuat Daryl diam membeku saat tidak sengaja bertemu dengan Ashley di sana, terkekang oleh rantai yang biasa disebut 'canggung'.


Alais menatap Daryl sinis, saat Bellena terlihat panik dan bergantian melihat kedua orang di hadapannya.


"Oh? Looking for a place to relieve your stress?" Tanya Ashley kepada Daryl.


Sedikit terlambat merespon karena terlalu terkejut, wajah laki-laki itu sudah memerah terlebih dahulu setelah mendengar pertanyaan yang terlontar dari wanita di depannya.


Mencoba menyangkal, ia justru membuat Ashley semakin percaya dan ingin terus mengusilinya.


Sengaja tidak masuk dan menunggu asistennya di luar karena tidak ingin dikerubungi wanita penghibur, kini ia justru dipertemukan dengan orang yang ia sukai. Skenario terburuk seorang laki-laki yang selalu berusaha meninggalkan kesan baik pada wanita yang sedang didekatinya.


"Kau bilang kau tidak akan ke tempat ini lagi." Ucap Daryl kemudian.


"Hmm, seakang gua tau kenapa."


Dengan nada suara dan wajah meledek Ashley masih lanjut mengusili pria polos tersebut.


"Bukan! Bukan begitu-"


"Ga perlu malu," Sela Ashley tidak membiarkan Daryl terus beralasan.


"Normal kalo lo pengen-"


Melanjutkan ucapannya menggunakan gestur kedua tangan, Ashley kembali mengejutkan pria di hadapannya. Dengan wajah merah padam Daryl langsung menggenggam tangan Ashley, menghentikan wanita itu melakukan gestur tangan vulgar yang tidak seharusnya dilakukan wanita terhormat.


"Stop that!!"


Spontan membentak Ashley dengan lantang, Daryl membuat semua orang di sekitarnya menoleh ke arah mereka. Namun tidak menaruh sedikit pun rasa ingin tahu, orang-orang di sana langsung kembali ke aktivitas mereka masing-masing yang jauh lebih 'menyenangkan'.


Menekan kuat pergelangan tangan laki-laki tersebut ke bawah, Alais melepas genggaman Daryl dari tangan nonanya dengan paksa.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Alais tanpa rasa hormat sedikit pun.


Diliriklah kesatria yang berani ikut campur tersebut oleh sang Marquis. Sama-sama tidak menyukai tindakan satu sama lain, Daryl hendak membalas perkataan Alais sebelum Ashley kemudian menyela pertengkaran mereka.


"Am I hearing things?" Ucap Ashley sambil sedikit memiringkan kepalanya dan melihat ke bawah dengan tatapan kosong.


"Did you just, yell? At me?"


Tidak lagi bermain-main seperti sebelumnya, ekspresi wajah Ashley terlihat serius dan terkesan mengancam. Hal yang sempat terlupakan oleh Daryl, yakni fakta bahwa Ashley adalah orang yang menakukan.


Meminta maaf karena tidak bermaksud berteriak, Daryl terbata-bata memberi penjelasan. Ia tidak terbiasa menjelaskan perasaan yang sedang ia rasakan.


Kemudian, penjelasan itu terhubung sampai ke ucapan Ashley yang pernah mengiyakan permintaan Daryl untuk tidak datang ke tempat itu lagi.


"Gua ga pernah janji, kan?" Jawab Ashley menanggapi hal tersebut.


Sempat tertegun mendengar jawaban wanita itu, Daryl tidak bisa menyangkal karena Ashley memang tidak berjanji. Meski begitu, ia belum bisa menerima jawaban tersebut begitu saja. Kembali angkat suara dengan nada pelan menahan rasa kecewa yang mulai muncul, laki-laki itu berkata,


"...tapi kau bilang iya."


Namun layaknya orang yang tidak peka, wanita itu justru terkekeh.


"Salah lo ga nanya lengkapnya gimana."


Dengan begitu mudahnya dan tak berperasaan, Ashley merespon hal yang dianggap serius oleh pria malang tersebut.


Tidak lagi mengatakan apa pun, Daryl benar-benar dibuat tidak bisa membantah kali ini.


Wajah kecewanya terlihat dengan begitu jelas, hingga Alais yang tidak menyukainya dan juga Bellena yang mengetahui betapa besar rasa sukanya kepada Ashley, merasa tidak enak. Sangat berbeda dengan wanita jahanam yang ada di hadapannya, orang yang justru terlihat sangat santai dan tidak terganggu sama sekali.


Beberapa detik terbuang dan Daryl masih terdiam. Sudah lama tidak merasakan perasaan tersebut, rasa sakit akibat kekecewanya tidak di sangka membuatnya sangat tidak nyaman.


Saat dirinya masih berusaha menepis perasaan tersebut, Ashley memecah keheningan tersebut dengan candaan yang sangat tidak lucu.


"Lo gamau lanjut? Kalo keburu penuh, lo harus nunggu sampe besok."

__ADS_1


Agak terlambat memahami ucapan Ashley, Daryl kemudian meresponnya dengan tawa saat telah mendapatkan gambaran tentang apa yang wanita itu maksud.


Meski sama sekali tidak lucu dan terasa sangat memaksa, ia tetap tertawa. Namun bukan 'lanjut', Daryl mengatakan jika dirinya hendak kembali ke kediamannya karena urusannya di sana sudah selesai.


Sempat ragu untuk pergi, pria itu kembali menatap Ashley yang masih menampakkan senyum tipis tak bersalah di bibirnya. Terlihat semperti ingin mengatakan sesuatu, wanita tersebut menunggu Daryl yang terus-menerus menutup mulutnya kembali setiap kali terbuka.


Merasa tidak berhak dan tidak ada gunanya menasihati Ashley, pria itu mengurungkan kembali segala sesuatu yang hendak ia ucapkan dan lebih memilih percaya bahwa Ashley akan baik-baik saja.


Menampakkan senyuman terkahirnya yang terasa lebih natural, Daryl menetapkan pikirannya.


"...sampai jumpa." Ucapnya setelah beberapa saat terdiam dengan pandangan tidak fokus melihat ke sana dan kemari.


Pergilah laki-laki tersebut, membawa rasa tidak nyaman yang masih bersemayam di hatinya.


Setelah berjarak cukup jauh, Ashley dan kedua bawahannya pun ikut beranjak dari sana.


Kedua bawahan Ashley sangat mengetahui seberapa bengis sifat nona yang mereka layani. Akan tetapi, kali ini sedikit berbeda, mengingat hubungan kedua orang itu selalu terlihat 'baik'. Meski Ashley yang bertindak keterlaluan, namun entah mengapa merekalah yang terus-terusan merasa tidak enak hati.


Ashley sangat sering berbohong, namun kadang kala, ia juga menggunakan trik ibunya untuk berbohong dengan kejujuran. Hal itu memang sangat berguna untuk mengelabuhi seseorang dengan resiko ketahuan yang cukup rendah karena bisa mengelak.


Akan tetapi, hal tersebut sebenarnya lebih menguras mental daripada berbohong.


Semakin jauh ia mengendalikan persepsi targetnya, semakin besar pula rasa bersalah yang harus ia lawan saat ketahuan. Meski ia bisa mengelak dan terus membenarkan diri, jika target tersebut adalah orang yang ia pedulikan,


maka rasanya akan seperti baru saja melakukan dosa besar.


Baru beberapa meter berjalan dari tempatnya berdiri, Ashley kembali menghentikan langkahnya. Wajahnya terlihat begitu kesal, namun kali ini sedikit berbeda dengan biasanya. Gerak geriknya masih terlihat tenang meski sorot matanya tidak bisa berbohong.


Diberikanlah pipa yang ia ambil dari ruangan Eva kepada Bellena. Menyuruh pelayannya pulang dan meletakan pipa tersebut di meja kamarnya, Ashley kemudian berbalik dan berjalan ke arah yang berlawanan.


"Nona, Anda mau kemana?"


"Ngambil duit gua."


Hal yang tidak diperkirakan oleh Ashley adalah betapa mengganggunya melihat ekspresi wajah Daryl saat mengetahui ia telah menipunya. Raut wajah yang terus terngiang ratusan kali per detik setelah kepergian pria itu.

__ADS_1


Guna menghilangkan perasaan yang sangat mengganggu tersebut, ia kembali mendatangi tempat di mana rekan bisnis barunya berada.


.................. Bersambung .................


__ADS_2