Cinderella Gila

Cinderella Gila
Segini cukup?


__ADS_3

Tangan kanan Guilherme kembali terkulai tak berdaya setelah baru saja menahan tendangan kaki Ashley.


Wanita itu sempat dibuat heran dengan bagaimana pria tersebut masih bisa menggunakan lengan kanannya. Apakah karena sambungan otot dan tulang itu gagal teriris? Atau karena kebetulan?


Mengesampingkan hal tersebut, Ashley kembali maju menyerang laki-laki yang menjadi lawannya tersebut.


Menunggu waktu yang tepat, Guilherme kemudian berputar dan melayangkan tendangan sampingnya ke arah wanita itu.


Dengan tangan kiri saja sakit apalagi kaki kanan? Tidak berniat mengorbankan diri dan menerima serangan yang jelas berkali-kali lipat lebih sakit tersebut, Ashley mendongak sambil meluncur menggunakan lututnya. Tergerus paving jalan jauh lebih baik daripada harus merasakan tulangnya remuk.


Berhasil menghindari tendangan tersebut dan sampai ke sisi Guilherme, disayatkanlah karambit yang masih tergenggam di tangan Ashley tepat pada tendon achilles pria itu.


Jatuhlah sang juara bertahan wilayah tersebut, merasakan rasa sakit sekaligus kehilangan keseimbangan atas dirinya. Masih bisa menggunakan kaki kanannya, pria itu pun kembali berusaha bangkit.


Namun dengan sigap Ashley menancapkan pisau belatinya pada paha belakang Guilherme, melukai kaki kanan pria tersebut agar sama-sama tidak bisa digunakan.

__ADS_1


Diayunkannya kemudian siku kiri pria itu ke belakang, membuat Ashley memcabut kembali pisaunya dan lompat menjauh.


Meski dalam keadaan seperti itu, pria tangguh tersebut masih tetap mencoba berdiri. Menahan setiap luka fatal yang ada pada tubuhnya, ia kembali berdiri tegap walau sempat terhuyung.


"Kenapa maksa sampe segitunya?" Tanya Ashley yang semakin tidak mengerti dengan kegigihan lawannya.


"Karena aku masih punya alasan untuk berdiri."


Memalingkan wajah, Ashley berpikir. Kata-kata Guilherme memang terdengar setia dan kukuh pendirian, namun dari awal, pemikiran mereka berdua sudah sejalan. Tak ada yang perlu ditanyakan lagi saat wanita itu sudah yakin dengan keputusannya.


Berlari maju, didorongnya dada pria kekar itu oleh Ashley. Hanya bisa menggunakan satu tangan, Guilherme pun jatuh tanpa pertahanan. Tidak jatuh sendirian, Ashley dengan sigap menyesuaikan posisinya dan duduk di atas perut pria tersebut.


Dengan wajah yang sangat berdekatan, keduanya bisa merasakan napas masing-masing yang mulai terengah.


"Segini cukup?" Ucap Ashley sambil sedikit menekan leher laki-laki tersebut.

__ADS_1


Ia memiliki alasan mengapa tidak mengincar leher Guilherme sejak awal seperti saat melawan orang lain.


"...ya." Jawab pria itu sambil menutup mata dan melemaskan otot-otot pada tubuhnya.


Bukan demi Eva atau karena setia terhadap Far, Guilherme juga terus berdiri karena Far tidak akan menerima alasan kegagalannya dengan mudah. Tugasnya mengeliminasi penyusup bernama "Hazel", atau yang lebih ia kenal dengan sebutan El tersebut, kini gagal dengan sempurna.


Tak lama setelah dilumpuhkannya Guilherme, Alais kembali dengan perasaan lega. Ia juga mendapatkan beberapa luka namun rasa sakit itu tidak sebanding dengan perasaan senangnya saat melihat Ashley baik-baik saja.


Saat kedua pasangan kriminal tersebut hendak meninggalkan tempat kejadian berdarah itu, Ashley memastikan terlebih dahulu jika Guilherme mampu bertahan dan akan segera mendapat pertolongan.


Tertawalah laki-laki tersebut, tidak menyangka Ashley menjadi begitu penyayang terhadapnya. Namun tawanya tidak bisa lepas karena rasa sakit yang kembali ia rasakan saat ototnya tergerak. Sejujurnya itu mengganggu, dan Ashley juga tahu seberapa mengesalkannya hal tersebut.


"Kau tahu? Kadang ada hal yang lebih baik tidak kauketahui." Ucap Guilherme tiba-tiba.


Terdiam sejenak, ia kemudian melanjutkan.

__ADS_1


"Lupakan Eva. Berhenti mencari tahu tentang Far."


.................. Bersambung .................


__ADS_2