
Ada beberapa informasi yang Asteron ketahui mengenai Ashelia, seperti tentang perundungan putrinya kepada gadis itu di pesta ulang tahun Kalia. Juga tentang Ashelia yang menggoda putra pertamanya di depan para tamu.
Lucu mengingat sekarang target gadis itu justru berpindah dari anak ke ayahnya.
Seingat Asteron, baru beberapa jam lalu ia membaca surat Ashelia yang meminta keringanan hukuman untuk Kalia. Namun saat sedang mempertimbangkannya, ia justru mendapat kabar jika Kalia menghilang. Kemudian setelah beberapa jam menelusuri kota, ditemukanlah Kalia bersama dengan gadis tersebut dan juga keponakannya yang luar biasa ramah.
Meski telah mencoba memikirkannya, ia masih tidak bisa mendapatkan hubungan yang masuk akal dari pola tersebut.
Cara bicara Ashley yang aneh, sikap dan tindakan yang sulit dipahami, keterbukaan yang tidak pandang bulu, mampu menggunakan bahasa asing, dan memiliki kemampuan yang tidak perlu dipertanyakan, benar-benar merupakan hal yang sangat mencolok. Bukankah wanita itu telah memenuhi kriteria sebagai gadis gila yang akan mengejutkan siapa saja?
Apa yang direncanakan Vincent dengan menyembunyikan semua itu dan malah membangun image putrinya sebagai anak tunggal bodoh yang tidak berguna?
Terus menatap gadis yang beranjak pergi bersama keponakannya, pikiran Asteron masih dipenuhi pertanyaan. Ditatapnya balik Duke tersebut oleh Ashley dengan sorot mata yang tidak menunjukan rasa takut sama sekali. Wanita itu bahkan tidak merasa canggung meski terus saling menatap tanpa mengatakan apa pun.
Hingga saat kuda yang ia tunggangi berpapasan dengan pria tersebut, barulah sebuah kalimat terucap dari bibir Ashley.
"Ini bukan cuma perang lo."
Mata Aateron terbelalak saat mendengar hal itu. Tidak salah lagi, Ashelia adalah kartu yang telah disiapkan diam-diam oleh Vincent.
Tentu saja bukan.
Saat Asteron pikir perang yang wanita itu maksud adalah mengenai Klaus si calon kaisar, sebenarnya, Ashley mengarah pada ketidak-beruntungannya karena harus terlibat dengan masalah kematian Kalia.
Beranjak pergi meninggalkan gerombolan manusia berlabel 'Derius' itu, Ashley beserta Daryl sama sekali tidak mengucapkan salam perpisahan. Mereka benar-benar bersikap tak acuh, bahkan pada gadis yang baru saja mereka tolong. Hal yang membuat Kalia hanya bisa mengelus dada.
"Ngomong-ngomong, aku juga lebih tua darimu." Ucap Daryl tiba-tiba yang langsung membuat Ashley spontan menoleh ke samping karena tidak paham dengan topiknya.
"Aku juga kepala keluarga." Lanjutnya kemudian.
Masih tidak paham, wanita itu pun kembali menghadap ke depan mengabaikan pria di belakangnya.
Menyadari bahwa Ashley mengabaikannya, membuat Daryl merasa sedikit kecewa. Namun kekecewaan tersebut seketika tersapu karena menaiki kuda bersama Ashley sudah membuatnya sangat senang.
__ADS_1
"Temanmu... yang waktu itu, bagaimana kau mengenalnya?"
Teman? Wanita yang tidak merasa memiliki teman di dunia Ashelia tersebut mencoba mengingat siapa orang yang pria itu maksud. Hingga teringatlah ia pada hal yang terjadi kemarin, saat ia tengah menyusuri kota bersama Daryl.
"Harun?"
"Di arena? Oh bukan. Di pelacuran." Lanjut Ashley santai, berbanding terbalik dengan orang yang mendengarnya.
Karena terlalu terkejut Daryl bahkan sampai kesulitan untuk merespon. Bagaimana Ashley bisa tahu tempat itu, kenapa ia pergi ke sana, apa yang ia lakukan di sana, dengan siapa ia pergi ke sana, tidak tahu mana yang harus diucapkan terlebih dahulu pria itu hanya tergagap tanpa benar-benar menanyakannya.
"J-jangan pergi ke sana lagi!"
Alhasil, hanya inti keresahannyalah yang keluar.
"Jangan. Sekali pun. Tidak boleh."
Ashley menengok ke belakang, melihat pria yang berani mengomelinya itu. Alisnya berkerut karena tidak paham kenapa Daryl menjadi sangat berisik. Ingin ia mendorong laki-laki itu ke belakang hingga terjatuh tidak peduli apa yang terjadi setelahnya. Namun tanpa menghiraukan rasa kesal wanita itu, Daryl masih terus berusaha melarangnya.
"Dont. Go. There." Ucap pria tersebut sambil perlahan mendekatkan wajahnya.
Lagi-lagi, ingatannya terhadap Kenny kembali menghentikan Ashley untuk menyakiti Daryl. Sedikit memudarkan kekesalannya, wanita itu kembali membelakangi laki-laki tersebut sambil mengiyakannya malas.
"Yayaya."
Mendengar ucapan tidak tulus itu pun cukup untuk membuat kerisauan hari Daryl perlahan sirna. Meski sebenarnya tidak mungkin Ashley akan menuruti kemauan laki-laki tersebut, namun ia tetap percaya. Seperti biasa, ia tidak pernah meragukan semua ucapan wanita itu. Hal yang juga selalu membuatnya kalah saat berjudi dengan Ashley.
Entah itu disebut tulus karena ingin terus mempercayai ucapan orang yang disukainya, atau disebut bodoh karena tidak belajar dari apa yang sudah sering terjadi.
Membicarakan hal itu, Ashley pun teringat dengan pencuri kecil yang hendak mencuri uang Daryl kemarin. Sebagai orang yang bekerja untuk kerajaan, membersihkan kejahatan di dalam masyarakat juga merupakan tugas pria itu.
"Kenapa lo lepasin bocah yang kemaren? Dia juga nyuri, kan?"
"Karena masih bocah?" Lanjut wanita itu dengan nada meledek.
__ADS_1
Ashley sering menggunakan anak kecil, atau merekrut anak di bawah umur untuk melakukan hal-hal tertentu agar lebih mudah menghindari hukuman. Hal yang juga kemudian berimbas kepadanya karena salah satu bawahannya salah memilih orang. Anak yang seharusnya ia lindungi justru mendapat masalah karena dirinya. Kemudian sebagai pelampiasan, ia hampir membunuh bawahannya tersebut.
Atas dasar itulah Ashley menjadi sinis saat berpikir pencuri kecil itu bisa lolos hanya karena usianya. Namun bukan itu alasan Daryl.
"Karena aku sedang bersamamu."
Ashley melirik ke belakang tanpa menggerakkan kepalanya mendengar jawaban yang tidak pernah ia perkirakan.
"Aku tidak ingin memikirkan pekerjaan saat sedang bersamamu."
Terdiam sejenak, Ashley kemudian menghela napas tidak paham dengan apa yang ada di dalam pikiran pria itu.
"What a boring answer." Ucap wanita itu sambil menyandarkan tubuhnya pada Daryl.
Perlahan, Ashley menutup ke dua matanya, tidak menghiraukan ketegangan orang dibelakangnya.
Gadis yang pria itu sukai sedang bersandar pada tubuhnya. Dengan tangan yang masih memegang tali kekang, membuat Daryl merasa seperti sedang memeluk Ashley. Jantungnya berdetak sangat kencang hingga ia khawatir akan terkena gagal jantung. Meski tidak dapat mendengar detak jantung pria tersebut, namun Ashley dapat merasakan otot Daryl yang menegang dan kedua tangannya yang gemetar.
Sambil memperlambat laju kudanya, pria itu mencoba merilekskan tubuhnya agar Ashley merasa lebih nyaman.
Benar, bukan hanya menutup mata dari kejahatan, ia bahkan menyukai seorang penjahat.
Setelah sekitar 45 menit berlalu, terlihatlah gerbang kediaman Midgraff dari kejauhan. Lamanya perjalanan mereka bukan karena jaraknya yang teramat jauh, namun karena Daryl melajukan kudanya begitu pelan agar Ashley tidak terbangun.
Lalu tiba-tiba,
"Nona Ashelia!"
Seseorang yang sedari tadi sudah menunggu di depan gerbang bersama penjaga lain langsung berteriak dan membuat wanita itu terbangun. Dilemparkanlah tatapan membunuh oleh Daryl kepada manusia yang tidak dapat membaca suasana tersebut.
Di sisi lain, Ashley yang baru saja terbangun masih terlihat terkejut. Bukan karena kesulitan mengumpulkan kesadaran, namun karena untuk pertama kalinya ia benar-benar 'tertidur'. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa kewaspadaannya benar-benar hilang?
Merasa telah melakukan kesalahan besar, mental wanita itu terguncang. Tidak berhenti di situ, hal yang sangat ia benci juga telah menantinya.
__ADS_1
.................. Bersambung .................