
Dua orang laki-laki berseragam dan berbekal sebuah pedang, berpapasan dengan Ashley. Seketika itu juga, setelah melihat wajah gadis yang di gendong Daryl, salah satu dari mereka berteriak memanggil teman-temannya.
"Aku menemukanya!"
Baik Ashley, Daryl, maupun Kalia, tidak ada satu pun dari mereka yang memberikan respon menentang. Melihat seragam dengan dominan warna ungu tua yang sangat familiar di matanya, membuat Ashley tidak jadi menarik pedangnya keluar.
Kesatria keluarga Derius.
Mereka sedang mencari Kalia. Mengetahui fakta tersebut, Ashley tidak langsung menyerang kedua kesatria tersebut. Akan tetapi, hal itu juga belum mampu menjamin keselamatan Kalia. Dengan memegang bagian tubuh tongkatnya, Ashley siap melakukan perlawanan jika perlu.
Tidak jauh berbeda, kedua kesatria tersebut juga menatap wanita itu dengan tatapan mengintimidasi. Jika bukan karena melihat Daryl mereka pasti sudah mengeluarkan pedangnya untuk melumpuhkan Ashley.
Jangankan mengeluarkan pedang, hanya dengan tatapan seperti itu saja sudah membuat Ashley sangat ingin beradu pedang dengan mereka berdua. Namun ia harus menahan diri, setidaknya ia harus melihat siapa yang menyuruh mereka terlebih dahulu.
Tak lama stelahnya, datanglah rombongan pawai bersenjata menghampiri mereka berlima. Orang-orang dengan seragam yang sama mulai berkumpul mengitari tiga buronan dadakan tersebut.
Jika ini benar sebuah konspirasi, maka itu adalah berita buruk. Dengan adanya beberapa penunggang kuda di antara mereka, akan sulit bagi Ashley untuk melarikan diri sambil melindungi Kalia.
Untungnya bukan.
Setelah kakak pertama Kalia mengatakan firasatnya buruk, bukan hanya kakak ke-duanya yang ikut dalam pencarian. Asteron, pangeran ke-dua yang menjadi salah satu tokoh penting novel tersebut bahkan ikut bersama mereka.
Diturunkanlah Kalia dari punggung Daryl setelah melihat ketiga anggota keluarga Derius datang bersama rombongan tersebut. Setelah gadis itu menginjakan kakinya di tanah, Daryl berniat untuk menegapkan kembali tubuhnya namun justru tercekik oleh tangan Kalia yang masih saja melingkar di lehernya.
Dilemparkanlah tatapan penuh kekesalan kepada gadis yang tidak bisa membaca situasi tersebut. Dengan wajah polos, Kalia hanya tertawa riang membalas tatapan tersebut.
Namun bukan hanya Kalia yang tidak dapat membaca situasi.
"Oh, you're as hot as they described." Ujar wanita berusia 29 tahun di dalam tubuh gadis 21 tahun tersebut.
__ADS_1
Kecuali dirinya dan Kalia, semua orang di sana adalah laki-laki yang tentu saja sudah mendapat edukasi dasar termasuk penggunaan bahasa internasional. Bukan hanya pemilihan katanya yang vulgar, namun kepada siapa ia menggunakannya juga tidak kalah membuat semua orang tercengang. Bahkan Kalia yang sama-sama tidak bisa membaca situasi, kini ikut dibuatnya terkejut.
Mata Ashley tertuju ke arah tiga orang pria yang baru saja turun dari kudanya untuk menghargai seorang 'Marquis'. Tentu ucapannya tidak diajukan kepada kedua kakak Kalia yang sudah pernah ia temui sebelumnya, melainkan kepada Asteron, pria dengan tiga orang anak yang sebentar lagi akan memiliki cucu.
"Totally my type." Lanjut Ashley kemudian, dengan senyuman menggoda.
Wanita gila.
Asteron memang terlihat lebih muda dari Vincent, dengan kharisma dan penampilan yang tidak kalah dari kedua putranya, ia memang masih menjadi pujaan wanita. Namun gadis mana yang bisa seterbuka Ashley? Gadis itu bahkan hanya satu tahun lebih tua dari anak bungsunya.
Terlepas dari daya tarik Duke Derius, jelas semua orang di sana berpikir jika wanita tersebut memiliki suatu masalah di dalam otaknya.
Lagi lagi, semua orang kecuali Daryl.
Bukannya merasa aneh, ia justru merasa seolah kalah telak dari pamannya. Ditatapnya ayah Kalia itu dengan tatapan dingin penuh kebencian oleh Daryl.
"And who's this discourteous young lady?" Sindir Asteron saat melihat Ashley bahkan tidak menyapanya terlebih dahulu.
Karena wanita itu menggunakan bahasa asing di wilayah kerajaan Durman, pria itu pikir Ashley adalah orang asing dari negara bebas di luar sana.
"Who knows?"
Dengan cepat tangan Ashley menarik Kalia mendekat dan tangannya yang lain mengambil pisau yang ia selipkan di belakang. Dalam sekejap, Kalia telah menjadi sandera dari orang yang baru saja menolongnya.
"Someone who'll slit her throat before you, maybe?" Lanjut wanita itu dengan ekspresi wajah yang mampu menguji kesabaran.
Tampaklah ekspresi wajah terkejut dari ketiga Derius tersebut yang kemudian berubah menjadi amarah. Tidak pernah terpikir oleh Asteron, seseorang yang sudah terkepung seperti itu akan memiliki keberanian untuk bertindak sembrono. Kesatria yang mengelilingi Ashley dan Daryl juga kalah cepat dari wanita itu.
Wajah Kalia terlihat sangat kebingungan karena tidak tahu apa yang sedang di lakukan Ashley, berbeda dengan Daryl. Wajah laki-laki itu tetap terlihat tenang meski di dalam hati sebenarnya ia juga sama kagetnya.
__ADS_1
Ayah Kalia, yang masih mempertanyakan kehadiran Daryl di sana akhirnya berasumsi bahwa keponakannyalah yang menjadi otak dari tindakan Ashley. Sangat aneh baginya melihat pria yang terkenal tidak menyukai keluarga Derius itu justru sedang bersama putrinya.
"Apa yang kau rencanakan kali ini Tuan Ristoff?" Tanya Asteron melirik ke arah Daryl, yang merupakan kaki tangan adiknya selama ini.
Tanpa perlu menjawab pertanyaan salah sasaran tersebut, Ashley sudah menyelanya.
"Shut your mouth, I'm pissed enough, already."
Tidak lagi bermain-main, wajah wanita itu berubah menjadi sangat serius. Ia merasa sangat kesal karena hampir benar-benar gagal. Ia tidak mengira jika kematian Kalia bahkan datang lebih awal dari rencana alibi yang tengah disiapkannya bersama Harun.
Hanya menjaga seorang gadis yang bahkan tidak bisa bela diri saja tidak mampu. Gerombolan kesatria yang mengelilinginya itu benar-benar ia anggap tidak berguna. Ditambah dengan 3 orang pahlawan kesiangan di hadapannya, lengkaplah sudah.
Jika bukan karena tidak sengaja dilihat Ashley, gadis itu pasti akan ditemukan tak bernyawa oleh sekelompok orang-orang tak berguna tersebut. Lalu keesokannya, Ashley akan diberikan sebuah 'gelar' yang dapat membuatnya terpenggal sebelum sempat memenggal target balas dendam Ashelia.
Apa gunanya para laki-laki terlatih itu jika mereka tidak ada saat benar-benar dibutuhkan? Apa gunanya peringatan yang Ashley berikan agar mereka lebih waspada?
Ditatapnya kakak pertama Kalia oleh wanita penuh amarah tersebut.
"Lo. Gua repot-repot kasi peringatin buat ngawasin adek lo, tapi apa?"
"Kaya sekarang, kewaspadaan lo ga ada. Gatau? Nyawa adek lo bisa ilang meski lo cuma kedip?" Lanjutnya menceramahi laki-laki yang berani menyepelekan ucapannya.
Sejujurnya, Ashley merasa kecewa. Inikah orang-orang yang berani meninggalkan egonya lalu mengorbankan nyawanya demi mengejar orang-orang yang memanfaatkan lematian Kalia? Mereka adalah satu-satunya keluarga fiksi yang Ashley sukai di novel tersebut.
"Ujung-ujungnya, lo semua cuma bisa nyesel trus mati konyol."
Meski tidak terlalu terlihat, namun ada sedikit kesedihan dibalik kata-kata Ashley barusan.
..................... Bersambung .....................
__ADS_1