Cinderella Gila

Cinderella Gila
You'll be sorry if you don't take out your weapon


__ADS_3

Suara perintah yang dilancarkan dengan sungguh-sungguh tersebut terdengar sampai ke luar ruangan. Meski tidak mengetahui detil kejadiannya, Alais dan kedua penjaga yang berjaga di luar sudah memahami apa yang terjadi di dalam dan apa yang harus mereka lakukan.


Saling bertatapan, ketiga orang itu langsung merubah status teman menjadi musuh hanya dalam satu detik.


Dari balik pintu, Ashley dapat mendengar kegaduhan yang mulai terjadi di luar. Alais pasti sedang berusaha menghalangi dua penjaga di luar- atau mungkin sebaliknya.


Melihat si Kurir yang tidak ikut maju mendekati Ashley bersama ketiga orang lainnya, bos mereka pun bertanya,


"Apa yang kau lakukan? Habisi dia!"


Menjawab dengan muka malas, kurir itu berkata bahwa ia sengaja menetap di depan bosnya untuk berjaga-jaga jikalau Ashley kembali melemparkan pisaunya ke arah laki-laki paruh baya tersebut.


Teringat dengan betapa mematikannya lemparan piasu Ashley, laki-laki kaya itu pun menengok ke samping, melihat tubuh salah satu pengawalnya yang kini sudah tak bernyawa lagi. Atas dasar itu, ia pun menyetujui tindakan si Kurir.


Hanya saja, yang membuat kurir itu sedikit kesal adalah, bosnya jelas-jelas mengetahui jika ia tidak bisa bertarung tapi masih menyuruhnya maju ke 'medan perang'.


Si Kurir memang mengenakan pakaian yang sama dengan para pengawal lainnya, namun ia memiliki tugas lain yang tidak berkaitan dengan pertarungan langsung. Selain menjadi pengawas, ia juga bertugas mengamati dan membagi informasi mengenai tamu yang datang ke sana.


Dari 6 orang pengawal, tersisalah 3 orang yang maju melawan Ashley.


Satu di antaranya kemudian mulai mengambil tindakan pertama. Tidak ingin menghalangi, kedua orang lainnya pun memberikannya ruang.


Memutar tubuhnya kesamping, pria itu pun melancarkan tendangan dengan arah yang berlawanan, berniat membuat pisau yang baru saja diambil Ashley terlepas.


Menyesuaikan tempo yang tepat dengan lawannya, wanita tersebut lalu menarik tangannya menjauh sambil memutar tubuhnya. Kaki kayu Ashley yang keras pun melaju dengan cepat ke depan wajah orang di hadapannya.

__ADS_1


Berhasil menangkis tepat waktu, ditangkaplah kaki wanita itu oleh sang lawan. Berusaha membuat Ashley terjatuh, ia kemudian menarik kaki tersebut mundur.


Tidak ingin berakhir dipermainkan, wanita itu pun melompat dan menendang tubuh pengawal tersebut dengan kaki kanannya kuat-kuat. Jatuh dalam posisi kaki terjulur, membuat Ashley berada di situasi yang kurang menguntungkan.


Saat dua orang pengawal lainnya hendak menangkap wanita tersebut, Ashley terlebih dahulu melempar kakinya ke belakang melewati atas kepala. Dengan tumpuan kedua telapak tangannya, ia berhasil melompat mundur seperti pemain sirkus.


Berada lebih dekat dengan pintu keluar, Ashley dapat mendengar keributan dari luar dengan lebih jelas.


Ia yakin bahwa Alais bisa mengatasi dua orang penjaga pintu tersebut. Namun jika mengulur waktu lebih lama lagi, kesatria itu pasti akan dikepung oleh seluruh pekerja yang ada di sana. Mengingat betapa setianya pria tersebut, mati pun Alais tidak akan lari meninggalkan nonanya.


Yang artinya, Ashley harus segera mengakhiri urusannya di ruangan tersebut.


Disekalah kemudian, pisau yang 'ternoda' itu menggunakan pakaiannya sendiri, sebelum memasukannya kembali ke sarung di belakang pinggulnya.


Tidak ada yang mendekati Ashley saat ia membersihkan belati berdosa tersebut. Mungkin mereka sedikit waspada karena bisa saja wanita itu tiba-tiba melemparkannya.


"You'll be sorry if you don't take out your weapon." Ucap Ashley memperingatkan.


Memasuki mode serius, Ashley hanya berdiri diam dengan tongkat yang tergenggam di tangan kirinya. Majulah kemudian, salah satu dari ketiga pengawal di sana saat wanita itu hanya menatap mereka tanpa berkedip.


Berniat mengawali serangannya dengan tendangan untuk memperjauh jangkauan, Ashley dengan mudah menghindari serangan laki-laki tersebut. Melangkahkan kaki kirinya mundur, Ashley membiarkan kaki tersebut lewat di depannya. Tepat setelah menginjakan kakinya, wanita itu langsung menarik pedangnya keluar dan menebaskan benda tajam tersebut ke tubuh pria di hadapannya.


Terkena serangan telak, tidak ada lagi yang bisa pengawal itu lakukan selain menunggu kematian. Tidak berniat mengambil resiko dengan membiarkan orang tersebut mati perlahan, diayunkannya kembali pedang Ashley memotong sambungan badan dan kepala korbannya.


Pisau memang cukup berbahaya, namun pedang adalah hal yang berbeda karena jangkauannya yang lebih panjang. Terkejut tidak menyangka tongkat wanita itu ternyata menyimpan pedang, tiga orang selain Ashley dan si Kurir dibuat tidak berkutik.

__ADS_1


Disalahkanlah sang pengawas yang seharusnya mengetahui hal tersebut oleh bos mereka. Namun, masih tidak menunjukan kepeduliannya terhadap atasannya, kurir itu justru berkata bahwa ia juga tidak tahu. Hal yang jelas-jelas kebohongan karena ia telah melihat Ashley menggunakan pedang tersebut.


Sejujurnya wanita itu tidak menyangka jika si Kurir masih terus menyembunyikan kartu-kartu Ashley.


Melihat keadaan yang semakin serius namun tidak ada satu pun dari mereka yang mengeluarkan senjata, akhirnya Ashley memahami alasan mereka. Hal yang terlalu konyol untuk dipercaya.


Sedari awal, mereka memang tidak ada yang berbekal senjata. Karena bos mereka bahkan tidak bisa mempercayai bawahannya, ia sengaja membuat ruangan tersebut bebas senjata. Mungkin hanya dirinya seorang yang membawa senjata.


Mulailah Ashley berganti peran menjadi penyerang setelah mengonfirmasi hal tersebut.


Dengan cepat wanita itu memperpendek jaraknya dengan pengawal yang satu lagi. Tidak memiliki benda lain untuk menangkis, digunakanlah kedua tangan pengawal tersebut untuk menghalau serangan Ashley.


Mungkin karena orang itu terlanjur percaya bahwa tangan kosong tidak dapat mengalahkan pedang, pengambilan keputusannya pun menjadi kacau. Alhasil, bilah tajam itu tetap berakhir merenggut nyawa pria tersebut dalam dua serangan setelah berhasil memotong satu tangannya.


Berusaha menyerang saat Ashley sibuk dengan rekan kerjanya, pengawal yang satunya lagi bergegas menghampiri wanita itu.


Saat Ashley mencabut pedangnya kembali dari tubuh korban keempat, dihunuskanlah tongkat yang tergenggam di tangan kirinya ke perut laki-laki tersebut. Lalu, ditusukkannya baja panjang itu ke dada sang pengawal terakhir.


Menendang tubuh pria yang tak bergerak tersebut, Ashley menarik pedangnya keluar.


Kini hanya tinggal Ashley, si Kurir, dan bosnya yang masih bernapas di sana. Tak pernah terpikir sebelumnya oleh si Pemilik Ruangan, jika ruangan tersebut akan berakhir menjadi medan pembantaian.


Ia terus melihat ke arah pintu, berharap rombongan anak buahnya akan membuka pintu tersbut dan menyelamatkan dirinya dari wanita gila yang bermain-main dengan benda tajam.


Namun dalam waktu sesingkat itu Ashley telah membunuh 5 orang pengawalnya, apakah bawahannya yang lain mampu sampai tepat waktu sebelum ia kehilangan nyawa?

__ADS_1


.................. Bersambung .................


__ADS_2