
Ashley, yang biasanya pergi ke tempat bermain barunya sat menjelang matahari terbenam, kini hanya bersantai di kamarnya menikmati suasana.
Suasana yang mengingatkannya dengan kejadian sebelum ia tersambar petir. Hari di mana hujan turun dengan derasnya dan petir menyambar di sana sini.
Jantungnya berdegup kencang, mengingat kejadian yang menjadi awal mula perubahan hidupnya. Kegelisahan yang bersemayam di dalam dirinya, tercampur dengan perasaan tidak sabar menunggu hasil dari penyergapan kereta kuda Marion.
Wanita itu terus menunjukan senyum jahatnya, akibat kekesalan sekaligus kesenangan yang tidak tertahankan.
Bellena, yang tiba-tiba menjadi gadis ceria 2 hari lalu, kembali menjadi gadis yang bersahabat dengan kegelisahan.
Seharian penuh ia menemani Ashley yang terus menampakkan senyuman menakutkannya dari sejak hujan turun. Nonanya juga selalu mengumpat setiap kali petir menyambar, membuat Bellena beberapa kali salah mengira bahwa ia telah melakukan kesalahan.
Langit telah menjadi gelap. Sinar matahari yang tadinya hanya terlihat samar karena tertutup awan mendung, kini tidak tampak sama sekali. Meski begitu, Marion, atau siapapun yang membawa kabar kematian Marion belum juga menampakkan diri.
Tidak lama kemudian, Ashley mendengar kegaduhan di luar, yang sedikit terselimuti oleh suara hujan.
Ia hanya melirik ke jendela, sebelum akhirnya meminta Bellena untuk mengeceknya. Wanita itu tidak ingin mendekat ke jendela sedikit pun saat petir masih terus menyambar-nyambar.
"Itu kereta Nyonya!?"
Meski seharusnya Bellena tahu hal apa yang akan menimpa Marion hari ini, ia tetap terkejut melihat keadaan kereta Marion yang rusak di sana sini dan salah satu sisinya tidak lagi memiliki pintu.
Setelah mengkonfirmasi siapa yang datang, Ashley kemudian beranjak dari sofa tempatnya duduk, dan langsung pergi menuju pintu utama.
Bellena terus memperhatikan kereta tersebut, menantikan orang yang akan keluar dari sana.
Seseorang wanita yang mengenakan pakaian yang dikenakan Marion siang tadi pun keluar. Namun Bellena merasa aneh, ia merasa wanita itu bukanlah Marion.
Menyadari Ashley sudah turun ke bawah meninggalkannya. Bellena pun berlari menyusul nonanya.
Sesampainya di bawah, Ashley telah mulai memainkan sandiwaranya. Wanita itu berperan seakan tidak mengetahui apapun dan dibuat kebingungan dengan pemandangan yang ia lihat di aula utama.
__ADS_1
Pakaian mereka semua basah kuyup kecuali pakaian pelayan pribadi Marion yang hanya basah sedikit.
"Tidak ada masalah apa-apa, Nona." Jawab pelayan pribadi Marion yang justru mengenakan gaun ibu tiri Ashelia.
Ashley tercengang mendengar jawaban wanita itu.
Dari balik punggung pelayan itu, seorang wanita yang bertukar pakaian dengannya terlihat pucat dan lemas. Jelas menunjukan bahwa terjadi sesuatu dalam perjalanan mereka.
Mereka bahkan membatalkan keberangkatan mereka dan kembali ke rumah. Keadaan kereta kuda mereka juga rusak, hingga orang yang menungganginya basah kuyup.
Terlebih lagi, pelayan itu bahkan sampai bertukar pakaian dan gaya rambut dengan Marion. Hal yang tidak akan pernah terjadi karena gaun seorang bangsawan di sana dianggap sebagai harga diri sekaligus kehormatan seseorang.
Orang-orang yang menjunjung tinggi status sosial itu tidak akan mau bertukar pakaian, dan para pekerja mereka juga tidak akan berani melakukan hal demikian.
Kecuali,
jika mereka dihadapkan dalam pilihan hidup dan mati.
"Lo bercanda?"
Langkah pelayan yang hendak mengantarkan Marion masuk itu terhenti. Ia yang juga ikut hadir saat Ashley mendeklarasikan kekuasaannya, tidak bisa memungkiri rasa takutnya terhadap Ashley.
Semua orang di sana bisa merasakan kekesalan Ashley yang melebihi biasanya. Mereka merasakan suasana mencekam yang wanita itu timbulkan hanya dari kata-kata yang keluar dari mulutnya. Mau tidak mau, kesatria yang mengawal Marion pun meningkatkan kewaspadaannya.
Ia hanya mendengar desas desus mengenai perubahan Ashelia. Namun tidak pernah terbayang olehnya, jika perubahan itu bukan hanya sekedar rumor yang dilebih-lebihkan.
Itu juga yang dirasakan oleh Marion, yang tidak langsung percaya 100% saat pelayan pribadinya memberitahukan hal itu kepadanya. Namun wanita itu menjadi percaya ketika melihatnya secara langsung dengan kedua matanya.
Pelayan di depan Marion hanya diam tertunduk. Mungkin ia hanya tidak ingin kejadian ini didengar para pekerja lain dan akhirnya tersebar keluar.
Namun, bukannya mencari jawaban lain untuk menutupi kejadian yang sebenarnya, ia justru berkata tidak ada apa-apa saat jelas-jelas ada sesuatu.
__ADS_1
Saat Ashley melangkahkan kakinya menghampiri pelayan tersebut, kesatria Marion hampir menarik pedangnya keluar karena merasakan hawa membunuh Ashley.
Namun sebelum ia benar-benar menggerakan tangannya, laki-laki itu sadar dengan posisinya sebagai kesatria keluarga Midgraff. Tugasnya adalah melindungi Marion, tapi Ashelia juga adalah Nona yang harus ia lindungi.
Orang lain tidak akan menyadari kesalahan yang hampir ia lakukan. Namun Ashley, berhenti dan melirik ke arahnya dengan tatapan yang begitu tajam.
"Barusan lo-"
Kata-kata Ashley sengaja tidak ia lanjutkan karena tidak merasa perlu. Meski begitu, kesatria itu paham dengan apa yang hendak Ashley ucapkan. Ia terkejut dengan fakta bahwa Ashley menyadari tindakan pengkhianatan sekejap yang barusan ia lakukan.
Sama halnya dengan kepala pelayan, kesatria itu dapat melihat sosok Vincent dalam sorot mata Ashley. Sosok marah tuannya yang tidak banyak diketahui orang lain.
Kekesalan Ashley saat itu berada pada puncaknya. Semua alasan yang dapat membuatnya kesal, hari itu berkumpul menjadi satu.
Ia sudah cukup kesal karena hujan turun. Kesal dengan petir yang terus menyambar. Kesal karena terjebak di dunia itu. Kesal karena meski sudah mendisiplinkan bawahannya, tetap ada orang yang membangkang. Kesal karena ia harus terus menahan diri. Kesal karena harus menata semuanya dari awal. Ditambah, seseorang yang bekerja di bawahnya, baru saja berniat menyerangnya.
Seakan tidak mau mengakui kesalahannya dan berpura-pura tidak tahu apa-apa, kesatria itu hanya diam saat Ashley berbelok menghampirinya. Ia lebih meningkatkan kewaspadaannya lagi karena Ashley terlihat sangat serius.
Orang-orang yang berkumpul di sana tidak berani bergerak, bahkan untuk sekedar memberikan handuk kepada Marion dan pelayan pribadinya.
Ashley yang sudah berada di depan laki-laki itu dengan cepat memutar badannya dan menyerang sisi kanan kepala kesatria tersebut dengan tumitnya. Dengan sigap kesatria itu dapat menangkis serangan Ashley.
Wanita itu kemudian melancarkan serangan keduanya dengan cepat. Bersamaan dengan menyentuhnya kaki kanan Ashley di lantai, ujung tongkatnya sudah berada tepat di depan kesatria tersebut.
Lagi-lagi, kesatria itu berhasil menggagalkan serangan Ashley dengan menangkap tongkat tersebut. Ashley langsung menariknya ke atas, membuat dagu laki-laki itu berbenturan dengan ujung tongkatnya.
Masih memegangi tongkat Ashley, ia mencoba menahan pergerakan kayu berlapis ornamen dari metal tersebut. Namun entah mengapa, ia merasa bahwa mencoba menahan pergerakan tongkat itu adalah pilihan yang salah.
Tidak ada keraguan dalam mata Ashley, wanita itu kemudian menarik pedangnya keluar dan mengejutkan kesatria tersebut.
^^^Bersambung...^^^
__ADS_1