
Dua orang pria dan wanita melakukan sebuah pertemuan rahasia di sebuah gang buntu. Seminggu telah berlalu sejak mereka pertama bertemu. Setelah sekian lama menahan rasa tidak sabar ingin bertemu, akhirnya takdir mempertemukan mereka.
Takdir yang direncanakan.
Pertemuan mereka pun menimbulkan rasa riang dalam diri keduanya. Sang pria yang tidak sabar untuk mengambil uangnya, dan sang wanita yang tidak sabar ingin mendengar hasil pengetesannya.
"Jadi apa yang lo dapet?"
"Kau pasti sudah tahu jika operasi mereka gagal."
Tidak menyadari jika gadis di depannya adalah putri tiri Marion, ia mencoba menyampaikan keselamatan wanita tersebut. Sudah 3 hari berlalu sejak penyergapan, jika Marion berhasil di bunuh maka tidak mungkin jika tidak ada kabar apa pun seperti saat ini.
"Kesatria itu lumayan hebat. Dia bisa mengatasi mereka semua tanpa korban dari pihaknya."
"Kuakui aku terkesan, karena dia harus melindungi 3 orang di situasi seperti itu." Lanjut laki-laki itu.
Ashley tidak terlalu yakin dengan penilaian orang di depannya. Benar memang kesatria itu berhasil melindungi mereka meski dalam keadaan yang sangat tidak diuntungkan, namun Ashley pun tahu, orang-orang yang ia suruh juga tidak sehebat itu.
Daripada menyewa pembunuh bayaran yang sudah ahli, ia seperti menyewa sekumpulan preman untuk melawan ahli pedang.
Mana ada pembunuh ahli yang kumpul terang-terangan seperti mereka?
"Juga, tidak ada bala bantuan dari mana pun."
"Aku sengaja menunggu lama setelah mereka pergi, tapi tetap tidak ada yang datang mengecek mayatnya."
Ashley melihat ke bawah dan berpikir sejenak. Tidak mungkin tidak ada satu pun dari mereka yang menjual informasi tersebut. Jika Marion memiliki sekutu, seharusnya mereka datang untuk membantu atau pun mengecek siapa yang berusaha menyerang Marion.
'Emang dari awal ga ada, atau...'
Laki-laki di depannya kemudian merogoh saku di dalam bajunya, membuat Ashley memutus lamunannya dan fokus kepada orang itu.
Dikeluarkannya sebuah kalung permata berwarna merah tua dari sana, sebagai alat tukar untuk uang muka yang telah Ashley janjikan. Wanita itu tersenyum.
__ADS_1
"Udah gua tambahin 200 di situ." Ucapnya sambil mengulurkan tangannya, menerima kalung tersebut.
Di tatapnya kalung itu sejenak. Masih sama, detilnya masih sama persis, menandakan laki-laki itu tidak menjualnya dan menggantinya dengan yang palsu. Ashley tidak mengerti, entah terlalu percaya dengan pelanggannya, atau laki-laki itu terlalu naif.
"Urusan kita beres kalo gitu."
"Senang berbisnis denganmu." Ucap laki-laki itu sebelum Ashley berjalan melewatinya.
"Maron~ Marion~ Why are you so-"
Ashley dengan cepat memutar pingganggnya sembari mengeluarkan pedang dari dalam tongkatnya.
Begitu tenang, cepat, dan senyap.
"-unlucky."
Laki-laki yang baru saja dikejutkan oleh fakta bahwa ia telah ditipu, kini tidak mampu berbuat apa-apa. Kantung emas yang terkubur di sana, hanya berukuran setengah dari yang seharusnya. Namun saat ia menyadari hal itu, kepalanya sudah terjatuh di tanah, menatap badannya sendiri yang ambruk secara terpisah.
Wanita yang baru saja menebas lehernya kemudian merobek baju pria itu dengan pedangnya. Sekantung uang pun menggelinding keluar dari sana.
Diambilnya kantong tersebut, yang kemudian ia hitung jumlah koin emas di dalamnya. Hanya 97 koin dari total keseluruhan 100 koin yang wanita itu cari.
Ia menyadari hal itu karena orang yang ia temui terlihat seperti sedang melarikan diri dari sesuatu. Tentu kemudian orang itu akan membawa semua uang yang ia punya dan mengenakan jubah untuk menutupinya. Termasuk uang yang ia ambil dari mayat kelinci percobaan Ashley, uang yang wanita itu gunakan sebagai uang muka mereka membunuh Marion.
Bukannya 'hanya menggunakan 3 koin emas', tapi ia pasti sudah berfoya-foya dengan semua uang hasil rampasannya, hingga 'keseluruhan uangnya tinggal 97 emas'.
Ashley memasukan uang itu ke dalam kantung uang yang ia kubur, kantung yang hanya berisi 500 emas. Ia kemudian menggunakan kain kantung itu untuk mengelap darah di pedangnya.
Selesai, ia pun mengambil kantung uangnya, sebelum aliran darah orang itu mengenainya. Dibuangnya kantung kosong bekas lap darah itu di samping jasad laki-laki tersebut, meninggalkan kesan perampokan di kemudian hari saat ada yang menemukannya.
Profesional dan keadilan memiliki arti lain di dunia yang Ashley tahu. Ia tidak peduli dicap seperti apa oleh orang lain.
Ia hanya tidak suka saat uangnya diambil.
__ADS_1
Wanita tersebut berjalan keluar gang sambil terus meningkatkan kewaspadaannya, berjaga-jaga jika orang yang baru saja ia bunuh sebenarnya membawa teman. Namun, tidak ada apa pun yang terjadi. Ia hanya sedikit bingung karena yang ia lakukan terlalu mudah, lancar tanpa kendala.
Ia pun mengambil rute yang sama seperti saat ia masuk tadi. Akan terlalu menarik perhatian jika membawa sekantung besar uang di keramaian.
Sesampainya di depan restoran, ia melemparkan kantung itu kepada orang yang bertugas membuka pintu keretanya.
"Masukin." Perintahnya singkat.
Tanpa menunggu hal lain, orang itu langsung memasukannya ke tempat penyimpanan yang ada di belakang kereta, tempatnya biasa duduk. Ia melihat bercak darah pada kantung yang baru saja ia masukan, namun ia berpura-pura seperti tidak melihatnya.
Di dalam otaknya kini penuh dengan omongan tidak bermakna karena sedang berupaya untuk mengalihkan pikirannya, melupakan hal yang mungkin sebaiknya tidak pernah ia tahu.
Begitu memasuki restoran melalui pintu depan, orang-orang di sana jelas ia buat kebingungan. Bagaimana bisa wanita itu masuk dari luar restoran saat mereka bahkan tidak melihatnya keluar.
Karena sadar tubuh Ashelia masih belum sanggup, ia memilih untuk tidak mengambil rute keluarnya. Tidak masalah jika ketahuan, toh tidak ada yang tahu pasti kapan ia keluar. Berbohong pun tidak ada yang bisa membantahnya.
Saat membuka tirai di ruangannya, ia menyaksikan Bellena yang sedang makan sambil menangis. Semua makanan di sana sudah lenyap tak tersisa. Yang Ashley lihat saat itu adalah suapan terakhir Bellena.
Bukan terharu karena tidak pernah makan enak, Bellena justru sedang melampiaskan kesedihan dan kekesalannya. Rasa tidak tenang sehari-hari, terus khawatir tanpa mengenal siang dan malam, membuatnya sangat stres.
Bellena seketika cegukan saat melihat nonanya kembali. Ia kemudian bangkit dan membungkukkan badannya, masih dengan mulut penuh dan cegukan yang menyertainya.
"Ayo." Ajak nonanya pergi sambil tertawa.
Setelah minum, ia pun pergi mengikuti Ashley keluar dan mengurus pembayaran. Sebenarnya ia sedikit puas, karena makanan yang ia makan sangat enak. Cukup mengobati stresnya hari ini.
Di saat yang bersamaan, gosip yang sudah meluas, akhirnya sampai ke telinga Marion. Gosip mengenai aktivitas Ashelia yang suka berfoya-foya. Rencana yang memang sengaja dilakukan Ashley untuk menyudutkan Marion agar bertindak, tidak peduli ia suka atau tidak.
Saat tengah bersantai menikmati waktu luangnya, suara langkah kaki yang cukup keras terdengar di lorong depan kamar Ashley. Tanpa aba-aba, seorang wanita membuka pintu kamarnya.
"Ashelia!"
^^^Bersambung...^^^
__ADS_1