
Ashley membaca isi buku harian Ashelia, terutama beberapa halaman yang terus mengulang nama Bellena.
"Bellena, Bellena, Bellena, Bellena." Ucap Ashley sambil membolak balik halaman yang sudah ia baca dan hanya dipenuhi dengan nama Bellena.
Matanya kemudian melirik ke arah gadis itu. Bellena merinding saat matanya bertemu dengan mata Ashley yang seakan menghakiminya sebagai penjahat.
Ashley beranjak dari sana setelah meletakan buku itu di sofa. Sambil membawa tongkat eksekusinya ia berjalan perlahan menuju Bellena yang wajahnya sudah pucat pasi.
Gadis itu merasa sangat ingin melarikan diri, namun kakinya tidak dapat bergerak sama sekali. Tubuhnya membeku seketika saat Ashley melirik ke arahnya, layaknya terkena sebuah mantra.
Batinnya menjerit meminta ampun. Namun bibirnya pun tidak mampu ia gerakkan. Jika mampu pun, mungkin itu tetap tidak akan ada gunanya. Tidak peduli seberapa keras ia memohon kepada Ashley untuk mengampuni nyawanya, wanita itu akan tetap membunuhnya.
Karena misi Ashley di sana adalah membunuh target Ashelia agar bisa kembali.
Pupil mata Bellena bergetar, melihat Dewa Kematian tengah berjalan mendekatinya.
Sampailah Ashley tepat di depan gadis itu. Kedua mata Bellena langsung terpejam dengan kuat saat Ashley hendak mengangkat tangan kanannya. Namun bukannya mendarat di sarung pedang yang ia bawa, tangan itu justru ia letakkan di atas pundak Bellena.
Sambil melangkahkan kakinya, Ashley maju mendekati telinga Bellena.
"Congratulation."
"Lo bersih." Bisiknya di telinga gadis yang ketakutan setengah mati itu.
Mata Bellena kembali terbuka bersamaan dengan dilepasnya pundak gadis itu dari tangan Ashley. Dilihatnya punggung wanita itu yang kini sudah berjalan kembali ke sofanya.
Ada perasaan yang tiba-tiba meluap seakan tiba-tiba terlepas. Amarah karena terus dipermainkan oleh Ashley bercampur dengan rasa lega karena akhirnya ia keluar dari daftar hitam wanita itu. Rasa cemas, khawatir, takut, dan waswasnya terlepas secara bersamaan.
Bruk
Ashley menoleh ke belakang dan mendapati gadis yang sengaja ia takut-takuti itu kini tergeletak lemas di lantai, tidak sadarkan diri. Tanpa memberinya perhatian lebih Ashley melanjutkan aktivitasnya, membiarkan pelayan pribadinya memeluk lantai yang dingin.
Sambil duduk bersandar di sofanya, ia mengambil buku yang ada di sampingnya dan membacanya lagi.
__ADS_1
Ia terkekeh saat melewati bagian yang membahas Bellena. Ashelia benar-benar menganggap pelayan pribadinya itu sebagai satu-satunya teman yang ia punya. Terlebih setelah kematian ibunya.
Dimulailah masalah Ashelia setelah itu.
Nama Marion mulai disebut satu tahun setelahnya. Tanpa memberi tahunya terlebih dahulu, ayah Ashelia tiba-tiba kembali bersama seorang wanita muda yang dikenalkannya sebagai ibu baru Ashelia. Dalam situasi seperti itu, anehnya Ashelia tidak marah ataupun kecewa dengan keputusan sepihak Vincent.
Namun yang mengejutkan adalah,
Marion dituliskan sebagai pribadi yang baik dan ramah.
Ashelia sama sekali tidak mempermasalahkan kehadiran ibu tirinya itu. Marion jutru memperlakukan gadis tersebut dengan sopan. Hal yang bahkan tidak dilakukan oleh para pekerja di rumahnya.
Lalu, sifatnya mulai berubah setelah 2 minggu.
Awalnya ia hanya sesekali terlihat marah namun tidak pernah benar-benar menunjukannya. Kemudian seiring berjalannya waktu, Marion menjadi lebih terang-terangan dan kedua orang itu pun tidak pernah berbincang lagi seperti sebelumnya.
Hingga beberapa bulan setelahnya, Ashelia yang terbiasa mendapatkan hukuman fisik harus berakhir kehilangan kakinya.
Setelah membuat keributan di sebuah perjamuan teh salah satu bangsawan, Marion menjadi sangat marah dan sengaja membuat Ashelia terjatuh dari lantai 2.
Karena tidak berani memberikan kesaksian yang sebenarnya, dokter pribadi merekalah yang harus menanggung kejahatan Marion. Akibatnya, dokter yang telah lama mendedikasikan dirinya kepada keluarga Midgraff itu harus rela kehilangan kedua tangannya.
Hasil akhirnya, Ashelia justru yang merasa sangat bersalah.
Ashley berhenti dan berpikir sejenak. Marion pasti yang telah memperdalam rasa bersalah Ashelia dengan melemparkan semua kesalahan kepada gadis itu dengan kata-kata manipulatifnya.
Entah bagaimana ibu tiri Ashelia itu menjelaskan semua kejadian tersebut kepada Vincent, tapi yang pasti ia selalu selamat. Dari semua kejadian itu, wajar jika Marion menjadi orang yang paling di benci Ashelia.
Ashley pun kembali merenungkan keputusannya menghapus Marion dari daftar hitamnya.
Matanya kembali melirik buku harian tersebut. Kini pandangannya berhenti pada nama seseorang yang juga disebutkan beberapa kali di sana.
Seorang gadis yang diceritakan sering berbuat buruk kepada Ashelia. Jika dirumahnya ada Marion maka di luar rumah ada gadis tersebut.
__ADS_1
Si ketua perundung, Kalia.
Ashley sedikit tidak habis pikir, bagaimana Ashelia bisa takut dengan gadis seperti Kalia. Mungkin karena Marion sudah benar-benar merusak mentalnya?
Terlepas dari itu, jika Kalia adalah target Ashelia, maka ia tidak perlu berbuat apa-apa karena takdir pun akan membantunya. Wanita itu tersenyum, mengingat takdir yang selalu menyulitkannya kini tengah berpihak kepadanya.
"Tau gitu gua ga bilang." Gumamnya mengingat peringatan yang ia berikan kepada kakak Kalia.
Pikirannya pun sedikit menerawang lebih jauh. Asteron memang satu-satunya tokoh yang ia pandang baik di dalam novel. Setidaknya setelah kepergian putrinya.
Namun Ashley tidak pernah mengira jika putri Asteron yang terbunuh itu sebenarnya suka merundung orang lain.
Setelah tragedi itu, Asteron tidak lagi memikirkan politik ataupun statusnya. Ia sadar, meski Kalia bukanlah penerusnya dan tidak akan bisa membantu urusan politiknya kecuali melalui pernikahan, hatinya tetap hancur saat mengetahui putrinya telah tiada.
Dibuanglah semua egonya itu dan pergi membalas dendam setelah resmi menunjuk putranya sebagai menerus. Kedua kakak Kalia yang juga merasa kehilangan pun akhirnya bergabung setelah mengetahui rencana diam-diam ayahnya. Itu lah yang kemudian menyebabkan wilayah Westilon dipimpin oleh seorang Duchess yang dikenal berhati dingin.
Ashley sebenarnya ingin sedikit membantunya menghindari takdir menyedihkannya tersebut, karena pada dasarnya Asteron memanglah orang yang masih memiliki kepedulian ketimbang bangsawan lain. Akan tetapi, takdir masih menginginkan alur tersebut.
Wanita itu pun kembali mengingat-ingat apa yang menyebabkan kematian Kalia.
"Sesama faksi?"
Bukan. Kesalahpahaman itu hanyalah rencana yang telah di atur oleh pihak lawan mereka dengan memanfaatkan keadaan tidak terduga. Dengan kata lain, Kalia terbunuh tanpa rencana siapa pun.
Kemudian setelah mengaitkan motif pembunuhannya, ditetapkanlah para tersangka. Setelah dilanjutkannya penyelidikan dan persidangan, hukuman mati pun jatuh pada putri seorang pejabat dalam faksi yang sama.
Ashley tiba-tiba bangkit dari kursinya dengan wajah tegang. Matanya terbelalak meski tidak ada hal yang mengejutkan dari arah pandangannya. Hal yang membuatnya terkejut bukan datang dari matanya, namun datang dari memorinya. Memori mengenai hal tidak penting yang tiba-tiba menjadi sangat penting.
Fakta bahwa Ashelialah gadis malang yang akan menjadi kambing hitam mereka,
gadis yang akan tereksekusi karena menggantikan perbuatan orang lain,
dan Ashley adalah orang yang harus menghadapi karma itu.
__ADS_1
^^^Bersambung...^^^