Cinderella Gila

Cinderella Gila
He's way too invincible


__ADS_3

Mengatakan bahwa ia tahu siapa yang bisa membuat Ashley bertemu dengan Far, kini si Kurir harus mempertanggungjawabkan ucapannya.


Disebutkanlah ciri-ciri tempat yang akan mereka kunjungi. Sama-sama berada di area pelacuran, namun orang yang hendak mereka temui memiliki jabatan yang berbeda.


Mengetahui tempat yang memiliki deskripsi serupa, Ashley pun bertanya, berniat memastikan apakah itu adalah tempat yang sama. Sebuah bangunan yang berlokasi tepat di samping rumah bordil Guilherme.


"Kau mengenalnya? Yah, tidak heran, sifat kalian sama."


"Tapi kusarankan jangan terlalu percaya dengan orang itu. "


Mendekatkan wajahnya ke wajah Ashley, laki-laki itu kemudian menutup sisi kiri mulutnya, seakan ia tidak ingin ada yang membaca pergerakan bibirnya.


"Dia juga salah satu bawahan Far." Lanjutnya lirih.


Tidak memberikan reaksi berlebih, Ashley hanya menatap kurir tersebut.


Sambil menunjukan senyuman seperti biasanya, laki-laki itu kembali menjauh perlahan. Ia terlihat puas, seolah provokasinya akan memberikan sebuah perubahan. Namun tidak seperti perkiraannya, Ashley sama sekali tidak dibutakan oleh kata 'Far'.


"What makes you think that you're different?" Balas Ashley kemudian.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan yang jelas tidak bisa ia jawab, senyuman kurir itu langsung berubah canggung.


Far memiliki banyak bawahan yang ditugaskan untuk menjadi pengawas. Identitas dan jumlahnya tidak diketahui, namun keberadaan mereka memang layaknya oksigen. Bukan karena menyejukkan tentu saja, namun karena mereka ada di mana-mana. Dari mengawasi kebocoran informasi hingga kelangsungan bisnis, tugas setiap pengawas pun berbeda-beda.


Lalu, memiliki informasi bernilai tinggi dan pintar mengelabuhi orang lain, adalah bukti bahwa kurir tersebut merupakan seorang pengawas.


"...tapi sisi baiknya aku memberi tahumu tentang orang ini."


"Hal yang tidak dilakukan Guilherme." Lanjut pria itu mencoba memperbaiki situasi.


Namun hal itulah yang sebenarnya masih mengganjal di hati Ashley. Alasan mengapa seorang pengawas justru menjual informasi kepada orang luar.


Tidak mengatakan apa pun, Ashley masih menatap si Kurir, memaksanya untuk mengatakan alasan yang sebenarnya. Jika nyawanya memang penting, ia seharusnya tidak berkhianat.


Melihat betapa terstrukturnya bisnis dan organisasi Far, sangat memungkinkan bagi mereka untuk menemukan seorang pengkhianat dengan mudah. Ini bukan masalah mati duluan atau nanti, tapi mana yang lebih menyakitkan.


Dari situ saja, sangat tidak mungkin bagi kurir tersebut untuk memilih 'mati nanti', karena Far pasti akan memberinya hal yang lebih 'menyakitkan' dari kematian.


Jadi apa yang ia inginkan dari Ashley?

__ADS_1


Memalingkan pandangan, pria itu kemudian menghela nafas. Ekspresi wajahnya pun sedikit berubah. Tidak lagi berkelakar seperti tadi, ia kemudian menjawab,


"Aku hanya bosan."


Jika mendengar kata-kata tersebut, jelas orang pasti mengira jika ia sedang bercanda, atau mungkin hanya menjawab ala kadarnya. Namun ekspresi dan sorot matanya yang melihat ke lantai begitu jujur.


"He's way too invincible. Far, I mean."


"Semua berjalan terlalu sesuai rencananya. Aku ingin melihat perubahan. Sesuatu yang tidak ia prediksi."


Mendengar ia dengan santainya menyebutkan nama Far saat orang lain berhati-hati dengan hal tabu itu, adalah bukti bahwa ia tidak sepenuhnya berada di sisi organisasinya.


"Aku ingin melihat sampah-sampah itu kualahan." Tambahnya sambil menunjukan ekspresi yang lebih kompleks.


Kembali menatap wanita tak berperasaan yang berani menerobos masuk ke dalam organisasinya dengan bekal kekerasan, kurir tersebut pun melanjutkan,


"I wonder if you're the one I've been waiting for."


.................. Bersambung .................

__ADS_1


__ADS_2