Cinderella Gila

Cinderella Gila
Sebenernya gua lebih milih kaki lo


__ADS_3

Jika memungkinkan untuk menyelesaikan ini secara damai, Daryl lebih memilih untuk melakukannya. Bukan hanya kalah jumlah, mereka juga berada dalam posisi terkepung. Ia tahu Ashley memang hebat dalam bertarung, namun tangan wanita itu kini sedang cedera.


Terlepas dari pengakuan Ashley yang berkata ia sudah sembuh total, wanita itu memegang tongkatnya di sebelah kiri, saat ia biasanya menggunakan tangan kanannya. Karena Daryl menyadari kebohongan Ashley, ia tidak ingin wanita itu memaksakan diri dan memperparah cederanya.


Akan tetapi, wanita pendendam tersebut tidak pernah menyukai jalur damai jika tidak memberinya keuntungan nyata.


"Orang yang berani nyuri dari gua harus bayar dua kali lipat."


Atas dasar pemikiran bahwa Daryl akan mengganti uang belanjanya, Ashley telah menganggap uang tersebut sebagai miliknya.


Tidak peduli sekutu atau musuh, bagi Ashley, semua orang di dunia Ashelia bukanlah orang yang bisa ia pandang sebagai 'teman'. Sambil melirik ke arah anak yang masih berada dalam kendali Daryl, Ashley mengancam akan memotong satu tangannya sebagai ganti rugi.


Wajah canggung pria pirang itu pun berubah menjadi lebih serius dan sedikit khawatir. Sama seperti saat ia mengejutkan Bellena, wajah Ashley terlihat begitu serius. Hal yang mampu membuat teman perempuannya yang menyukai hal menantang menjadi sedikit waspada kepada Ashley.


Kemudian, dikatakanlah hal yang tidak pernah terlintas di pikiran wanita itu. Hal yang tidak mungkin dilakukan oleh orang-orang busuk di dunia novel tersebut.


"Biar aku yang menggantikannya."


Ashley melirik ke arahnya. Dilihatnya wajah seorang pria dengan keteguhan yang kuat di dalam hatinya. Ekspresi wajah yang sangat disukai oleh Ashley. Untuk sesaat, wanita itu merasa ia ingin merekrutnya.


"Gitu cara lo nawar ke orang yang posisinya lebih tinggi?"


Sempat terdiam sejenak, pria itu pun akhirnya menuruti persyaratan Ashley. Ia berlutut di depan para anak buahnya. Hal yang mampu membuat seorang pemimpin merasa begitu terhina.


Namun, bukan penghinaan yang tergambar di raut wajahnya saat itu. Sebuah ekspresi yang mampu membuat siapa pun yang melihatnya merasa kagum. Meski ia telah membuang 'harga' dirinya, kehormatannya justru meningkat.


Akan tetapi, hal itu tetap tidak akan menyelamatkannya dari kehilangan satu tangannya. Tangan yang telah ia relakan untuk menebus kesalahan salah satu bawahannya. Pengorbanan yang mungkin mampu menyelamatkan masa depan seorang bocah berusia 7 tahun.


Dengan wajah yang tak kalah seriusnya, Ashley melangkah maju mendekati pria itu. Dipindahnya tongkat yang ia pegang ke tangan kirinya, kemudian tangan kanannya ia letakkan di bagian pangkal.


Anak yang sedari tadi meronta dan berteriak menunjukan keberaniannya, hanya bisa diam. Setelah Ashley memukulnya, ia semakin yakin jika wanita itu bukanlah tandingannya. Wanita menakutkan itu bahkan tak gentar saat melihat bala bantuan yang ia panggil.

__ADS_1


Hingga akhirnya, pemimpin merekalah yang mengatakannya secara langsung jika wanita tersebut adalah teman dari bos besar mereka. Untuk orang di luar kelompok yang sampai dianggap teman oleh bosnya, jelas wanita itu adalah orang yang berbahaya.


Kemudian karena kesalahan yang ia buat, atasan yang sangat ia sukai harus berlutut di hadapan banyak orang dan mengorbankan satu tangannya.


Tanpa mampu mengatakan apa pun akibat rasa takutnya, anak itu menangis tanpa suara. Air mata terus mengalir keluar dari matanya mewakili perasaan bersalah yang begitu besar di dalam hatinya. Tubuhnya gemetar, tak dapat ia kendalikan.


Sebesar apa pun penyesalan yang ia rasakan, rasa takut anak itu juga sama besarnya. Mau bagaimana pun, ia hanyalah seorang anak yang belum mampu menghadapi kekejaman dunia sepenuhnya.


Menyadari ketidakberdayaan anak yang ia bawa di sisi kanannya, Daryl merasa semakin perlu menghentikan Ashley. Namun ia juga tidak tahu apa yang mampu membuat wanita itu berhenti.


"Nona Ashelia."


"Don't call me that!"


Semua orang tersentak karena Ashley tiba-tiba membentak dengan suara penuh amarah. Daryl yang biasanya tidak berefek dengan intimidasi Ashley pun kali ini dibuat tidak mampu bergerak. Ia merasa mungkin keterlaluan baginya untuk memanggil nama depan Ashley meski ia bukanlah siapa-siapa.


Ashley sebenarnya tidak masalah seseorang memanggilnya demikian karena ia memang berada di dalam tubuh Ashelia. Namun di beberapa saat tertentu, ia sangat tidak suka saat orang memanggilnya dengan nama gadis yang sangat ingin dibunuhnya. Seperti saat ia marah, atau saat seseorang mencoba menghentikannya.


"Lo masi maen di sana?" Tanyanya merujuk pada judi sabung orang di arena bawah tanah.


"...ya."


"Lo pikir bisa menang cuma pake satu tangan?"


Ada jeda sebelum pria itu menjawab pertanyaan Ashley. Ia sendiri pun sadar jika hal itu akam sangat sulit atau bahkan mustahil untuk dilakukan. Meski begitu, ia tidak bisa membiarkan Ashley menyulitkan kehidupan seorang anak dengan masa depan yang masih panjang.


"Aku akan mencari cara." Jawabnya sambil meyakinkan dirinya sendiri.


Ashley sedikit menyeringai. Ia kemudian berjongkok di depan pria itu dan kembali berbicara.


"Pukulan lo itu lemah." Ucap wanita itu yang kemudian melihat ke arah kepalan tangan kirinya sendiri.

__ADS_1


"Kek cewek." Lanjutnya sambil memukulkan tangannya ke wajah pria itu.


Melihat hal tersebut spontan para anak buah pria itu langsung melangkah maju tidak peduli lagi dengan posisi Ashley sebagai 'teman' bos mereka.


Namun tidak dengan pria di depannya. Ia mengangkat tangannya, memberi isyarat kepada mereka untuk berhenti. Baginya, yang baru saja menerima pukulan dari tangan kiri wanita itu, merasa ucapan Ashley tidaklah salah.


Ia yang juga mengetahui sifat tak kenal takut Ashley meski berada di lingkungan mencurigakan dan di tengah orang-orang mencurigakan, merasa jika wanita itu tidak akan berhenti sampai ia merasa puas. Bahkan jika wanita itu akhirnya harus menjadi musuh bos mereka, ia yakin wanita itu tidak akan gentar.


Karena hal itu, ia tidak ingin ada pertumpahan darah yang sia-sia.


Melihat pria di depannya berusaha bertindak tenang meski ia memukulnya, sejujurnya Ashley terkesan. Untuk seseorang yang hidup di lingkungan sosial berisi para manusia busuk yang saling memanfaatkan dan gila kekuasaan, sikap yang pria itu tunjukan sangat memuaskan.


Kembali melihatnya setelah sekilas melirik para bawahan laki-laki itu yang terlihat menahan amarah sekuat tenaga, Ashley bertanya,


"Siapa nama lo?"


Jelas sekali wanita itu tidak akan ingat siapa namanya, dan entah kenapa pria itu tidak terkejut. Begitu pula Daryl yang juga pernah merasakan hal yang sama.


"Harun."


Tanpa marga, hanya satu kata. Seperti yang Ashley pelajari, itu adalah hal yang umum bagi seorang rakyat biasa.


"Sebenernya gua lebih milih kaki lo,"


"Tapi tangan kanan juga lumayan. Dominan, orang ngapain aja pake tangan kanan, kan?"


Pria itu merinding mendengar hal yang keluar dari mulut wanita di hadapannya. Harun berasumsi bahwa wanita itu berencana untuk menghancurkan hidupnya dengan mengambil hal yang paling ia banggakan. Namun karena perjanjiannya adalah tangan, maka Ashley memilih tangan kanan yang menjadi alat gerak dominannya.


Tidak sepenuhnya salah, Ashley memang mengincar tangan dominan pria itu.


Namun seperti biasa, ia memiliki maksud terselubung yang lain.

__ADS_1


^^^Bersambung...^^^


__ADS_2