Cinderella Gila

Cinderella Gila
Mau tau rasanya?


__ADS_3

Berlari meninggalkan pengawalnya diamuk masa, Ashley menyusul Kalia yang tidak sengaja ia lihat dari kejauhan.


Berdasarkan rute terdekat yang mungkin dilalui Kalia saat ia hendak pergi ke pusat kota, Ashley menyiapkan hadiah untuk gadis itu di bagian timur kota. Namun anehnya, bukan sekedar menyelinap ke kota, Kalia justru menuju sisi barat kota Vinnas yang jelas berlawanan dengan arah kediamannya.


Rambut kemerahan bergelombang miliknya itu memang cukup menyita perhatian jika melewati jalan biasa. Karenanya, Kalia memilih untuk melewati jalan-jalan yang sepi. Gadis itu terbilang nekat mengingat ia sama sekali tidak memiliki bekal bela diri.


Entah apa yang hendak ia lakukan, namun gang yang hendak ia masuki jelas adalah berita buruk.


Ketika Ashley tiba di depan gang tersebut, ia terlambat untuk mencegah pertemuan gadis itu dengan orang-orang yang terikat takdir dengannya tersebut.


Ashley kembali bersembunyi di balik dinding sebelum mereka menyadari kehadirannya.


Siapa sangka hadiah kejutan yang hendak ia berikan kepada Kalia justru datang lebih awal?


Cukup mengejutkan sebenarnya melihat Kalia tidak berteriak dalam situasi tersebut. Tidak disangka gadis itu masih bisa menyadari hal yang akan membuat situasinya lebih berbahaya.


Dengan tongkat yang ia gerakan seolah sebagai alat bantu mencari jalan, Ashley memasuki gang tersebut dengan tatapan kosong. Jemari tangan kirinya meraba dinding seakan membiarkan tumpukan batu itu memandu jalannya.


"...hah? ...A-ashelia?"


Melihat siapa yang datang, Kalia spontan memanggil namanya, membuat orang-orang yang berada di sana kini juga menargetkan gadis yang baru datang tersebut.


"Oh? Kalia?"


Dengan wajah seolah tidak mengetahui apa-apa Ashley mengembangkan senyumannya. Bertingkah layaknya seorang tunanetra, ia menunjukan ekspresi 'senang bertemu denganmu di sini'.


Dilihatnya dengan jelas gadis itu tampak sangat ketakutan dikelilingi lima orang laki-laki berwajah jahat. Ekspresi wajah yang ditunjukan Kalia saat itu benar-benar membuat Ashley hampir tertawa lepas.


Bukannya menyimpan dendam atau apa pun terhadap gadis itu, namun ekspresi takut adalah hal yang mampu membuat Ashley merasa kegirangan. Jika ia tidak mengendalikan dirinya, wajah tawa polos yang ia tunjukan saat ini akan berubah menjadi sedikit psiko.


Dihampirinya gadis itu perlahan seakan tidak melihat lima orang lainnya di sana. Para penjahat itu sama sekali tidak mengatakan apa pun, sengaja membuat kehadiran mereka tidak terdeteksi.


Mereka benar-benar mengira Ashley tidak dapat melihat. Gadis normal mana yang akan terang-terangan menghampiri mereka dengan senyuman bahagia?

__ADS_1


Salah satu di antara mereka meletakan telunjuknya di bibir. Hendak bermain-main dengan pendatang baru tersebut, ia menyuruh semua orang untuk diam, termasuk Kalia.


Saat beberapa orang itu sengaja membuka jalan berniat mengepung Ashley, wanita itu berhenti dan bertanya,


"Kal? Ada orang lain?"


Aneh memang jika Kalia tidak mengeluarkan suara lagi setelah Ashley menghampirinya. Namun mana yang lebih aneh dengan melihat seseorang yang tiba-tiba berpura-pura buta sambil sengaja menghampiri bahaya?


Berpikir langkah mereka dapat didengar oleh wanita itu, mereka berhenti bergerak sambil menahan suara tawa mereka sendiri. Laki-laki yang berada di samping Kalia pun menyuruh gadis itu menjawab pertanyaan Ashley dengan jawaban tidak.


Tidak ingin berakhir disakiti, Kalia menurutinya, menyembunyikan fakta bahwa Ashley sebenarnya dapat melihat mereka semua dengan jelas.


Lucu sekali melihat orang-orang di depannya bertingkah bodoh berpikir mereka berhasil membodohi wanita itu. Namun dibanding itu, wajah kebingungan Kalia saat itu justru jauh lebih menghibur Ashley.


Wanita itu kembali menunjukan wajah polosnya, membuat Kalia sedikit merinding tidak paham bagaimana Ashelia bisa bersikap seperti itu di depan mereka. Seolah situasi mendebarkan yang saat ini mereka hadapi bukanlah masalah besar baginya.


"Ahaha gua kira ada orang lain."


Seolah gadis pirang itu tengah berkata, 'lihat apa yang bisa ku perbuat'.


"Mau tau rasanya?"


Mendengar pertanyaan yang terdengar tidak wajar tersebut, tawa mereka memudar. Belum sepenuhnya menghilang, Ashley langsung mengubah wajah bahagia mereka menjadi waspada karena serangan dadakannya.


Di hunuskan pangkal tongkatnya ke arah laki-laki yang ada di sisi kanannya. Melihat pergerakan tiba-tiba tersebut, orang itu spontan mundur dan berusaha menghalau tongkat Ashley. Kalah cepat, tongkat tersebut menyelip melewati jemari laki-laki itu dan langsung tepat mengenai mata kirinya.


Disambungnya serangan berikutnya yang ditujukan kepada orang di sisi kiri Ashley. Seiring dengan teriakan kerakitan dari teman satu kelompoknya, laki-laki di sisi kiri Ashley langsung mengeluarkan pisaunya. Namun belum sempat menyerang wanita tersebut, ujung tongkat Ashley telah menyodok paha kanannya. Tepat di bagian atas lutut.


Meringkuklah ia merasakan rasa sakit tak tertahankan di kaki kanannya.


Sedikit memutar tubuhnya ke kiri, wanita itu melancarkan serangan berantainya pada target ke-3. Di tendangnya kuat dada laki-laki yang berada di belakang Kalia hingga membuatnya terdorong ke belakang.


Ashley berniat menyerang lehernya namun jarak orang itu terlalu jauh bagi Ashley untuk melakukan itu.

__ADS_1


Melanjutkan gerakan kaki kanannya, wanita itu menariknya secara horizontal dan langsung mengait pinggang belakang Kalia. Dilemparkannya kemudian gadis itu ke sisi belakangnya, menjauhi para penjahat tersebut.


"Lari!" Perintahnya tegas setelah membuat Kalia tersungkur dengan keras.


Bagian dagu dan telapak tangan gadis itu terluka akibat tergores jalan, namun itu tidak sepadan dengan resiko yang diambil wanita yang menolongnya. Merasa tidak bisa meninggalkan Ashley, ia hanya diam melihat di sana setelah bangkit.


Seseorang yang berada di sisi kiri Ashley berusaha menusuknya sesaat setelah wanita itu menarik Kalia menjauh dengan kakinya. Dengan sigap wanita itu menangkis pergelangan tangan orang tersebut dengan tongkatnya.


Jelas sekali orang akan selalu mengincar punggung musuhnya.


Saat Ashley berhasil menahan serangan yang dapat terbaca dengan jelas tersebut, orang yang lain sudah siap menyerangnya lagi. Tanpa melepaskan tangkisan dengan dua tangan tersebut, Ashley menendang alat ******** orang yang hendak menyerangnya.


Tidak puas, ia memberinya tendangan tambahan dengan tumitnya saat orang itu spontan membungkuk kesakitan. Tendangannya tepat mengenai sisi kanan kepala laki-laki tersebut dan berhasil menjatuhkamnya.


Setidaknya saat ini.


Mengetahui ia berada di posisi yang tidak menguntungkan jika terus beradu tenaga dengan seorang laki-laki, Ashley mencoba membalikkan keadaan.


Pikirannya yang sangat yakin jika Ashley pasti tidak akan kuat terus menahan serangannya, membuat orang tersebut sangat terpaku pada kekuatan dorongannya. Memanfaatkan keseriusan orang itu untuk menusuk Ashley, wanita tersebut melangkah ke samping sambil sedikit mengubah arah tongkatnya.


Karena tidak adanya hal yang menahan serangannya, laki-laki tersebut hampir terjerembab. Akan tetapi ia berhasil menyeimbangkan diri.


Dengan cepat Ashley kemudian menendang tubuh orang yang masih membungkuk tersebut ke samping, menabrak teman-temannya yang hendak menghampiri Ashley.


5 lawan 1 tetaplah menyusahkan. Terlebih lagi tangan wanita itu sedang cedera.


Jika ingin menyelesaikan urusan dengan mereka, setidaknya bukan di situ, di sarang mereka. Salah-salah ia justru harus berhadapan dengan lebih banyak orang.


Berhasil menghambat pergerakan kelompok tersebut untuk sesaat, Ashley langsung berbalik dan berlari secepat mungkin meninggalkan mereka.


"Ngapain!? Lari!" Bentaknya kesal melihat Kalia yang ternyata masih berada di sana.


Melihat kedua gadis itu melarikan diri, tentu saja kelima pejantan yang harga dirinya telah terinjak-injak itu tidak akan berdiam diri.

__ADS_1


..................... Bersambung .....................


__ADS_2