
Seorang putri pejabat yang selalu menjadi korban perundungan Kalia, akhirnya tidak tahan lagi dan melakukan pembalasan yang berupa pembunuhan berencana.
Begitulah tuduhan yang ditujukan pada Ashelia atas kematian Kalia.
Ashley tidak yakin ada berapa putri pejabat yang dirundung oleh Kalia, namun ia tidak bisa mempertaruhkan nyawanya pada hal yang tidak pasti dengan berharap jika terdakwa tersebut bukanlah Ashelia.
Terlebih lagi, berbeda dengan naskah aslinya, Ashley terang-terangan melawan Kalia. Dari menjejalkan kue yang sudah jatuh ke lantai, menamparnya secara tidak langsung, dan juga menciderai pergelangan tangannya. Semua itu semakin menguatkan asumsi 'pembalasan' yang akhirnya akan menjerat Ashley.
Dengan demikian, tidak peduli ada berapa gadis yang dirundung oleh Kalia, posisi sebagai tersangka utama tetap akan jatuh kepada Ashley.
Bukan hanya itu, ia bahkan juga sempat mengancam akan mencelakai Kalia dan kakaknya jika tidak mau membayar 3000 koin emas.
Wanita itu mendongak sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ditekannya kuat kedua tangannya tersebut, menekan rasa frustasi yang keluar dari dalam dirinya.
"Wait, wait..." Ucap wanita itu sambil sedikit membuka tangannya karena teringat sesuatu.
Yang tentunya bukan hal baik.
"Holy ****!"
Kini kedua telapak tangannya berpindah ke daerah pelipis. Matanya menatap meja kosong yang ada di depan sofa.
Ashley teringat dengan apa yang ia ucapkan kepada putra pertama Asteron. Meski niatnya adalah memberi pria itu peringatan mengenai masa depan mereka, namun Ashley sadar jika ucapannya justru terdengar mengancam. Ancaman yang tepat ditujukan kepada Kalia.
100%.
Dengan begini wanita itu 100% akan di hukum mati atas kematian Kalia. Tidak berhenti di sana, Ashley akhirnya teringat akan sesuatu yang membuatnya semakin tidak habis pikir.
Bukan melalaui hukuman eksekusi, Ashelia justru menutup usianya terbunuh di tangan orang lain, saat gadis itu berusaha menghindari hukumannya. Fakta yang hanya tertulis sepanjang 1 kalimat itu, benar-benar membuatnya heran. Seakan takdir tidak ingin membiarkannya hidup.
Jika ada hal yang paling membuat Ashley bersorak kegirangan, maka kematian Ashelia adalah salah satunya. Hal yang mungkin mampu membuatnya berpesta selama seminggu penuh.
Namun sayangnya, bukan hanya melindungi Kalia, ia juga harus melindungi gadis yang kematiannya sangat ia nantikan.
Wanita itu tertawa.
Ia tertawa dengan rasa kesal yang tersirat di dalamnya. Ia tidak tahu bagaimana lagi ia harus menanggapi situasi yang sangat menyebalkan itu. Saat ia berpikir akhirnya takdir telah berpihak kepadanya, semua itu hanyalah kesalahpahaman belaka.
__ADS_1
Ia merasa seolah terjerat di dalam benang kusut.
Dalam gema tawa wanita itu, Bellena terbangun. Disaksikannya nona barunya tersebut bertingkah layaknya ratu iblis. Dengan tawa keras disertai kebencian yang memenuhi matanya, Ashley membuat seisi ruangan itu terasa begitu mencekam. Sangat penuh tekanan hingga mampu mengakibatkan seseorang sulit bernapas.
Hanya beda beberapa detik, dan ruangan itu sudah kembali sunyi. Tidak ada lagi suara sekecil apa pun yang terdengar. Ashley menatap jauh ke depan dan wajahnya berubah menjadi sangat serius.
Menyadari seseorang tengah menatapnya, Ashley melirik ke arah Bellena yang langsung membuat gadis itu merinding.
Sambil berjalan menuju ranjangnya, wanita itu berkata,
"Kalia mati bentar lagi, dan gua mati kalo dia mati."
Setelah mengkonfirmasi Bellena bukanlah targetnya, Ashley mulai menaruh kepercayaan kepadanya dan berbagi informasi. Setidaknya informasi yang paling mendasar.
Terkejut sekaligus bingung dengan hal yang diucapkan Dewi Kehancuran itu, Bellena tidak memberi respon. Selagi melihat Ashley melepas gaunnya, gadis itu mencoba memproses informasi mencengangkan tersebut.
"Apa Nona Derius juga bukan targetnya?" Tanya Bellena sambil berdiri untuk mengambil gaun yang ditinggalkan Ashley di lantai.
"Bagus kalo dia targetnya, gua bisa balik sebelum dihukum mati."
Setelah membaringkan tubuhnya, Ashley menutup matanya dan berkata,
Bellena dibuat semakin tidak mengerti dengan penjelasan setengah-setengah nonanya itu. Sifat Ashley yang tidak suka menjelaskan kadang membuat Bellena harus mempelajari semuanya sendiri.
Dalam posisi tidak mengetahui apakah Kalia adalah targetnya, Ashley tidak bisa melakukan apa pun terhadap gadis itu karena nyawanya yang jadi taruhan. Saat ia harus menjaga Kalia tetap hidup, ia harap bukan gadis itulah yang menjadi targetnya,
karena itu berarti ia harus terjebak di sana seumur hidup akibat ketidakpastian tersebut.
Melihat Ashley memejamkan matanya untuk istirahat, Bellena pun kembali ke kamarnya dengan sejuta pertanyaan yang masih belum terjawab.
...****************...
Keesokannya, seisi kediaman Midgraff dibuat heboh karena kedatangan ajudan dari keluarga Derius. Bukan berniat menyampaikan pesan beserta buah tangan kepada Vincent seperti biasanya, ia datang dengan tujuan menyampaikan permohonan maaf Asteron.
Meski tidak datang secara pribadi, hal ini sudah dianggap sebagai menghargai keluarga Midgraff.
Dengan membawa 3000 koin emas, dan sepucuk surat permohonan maaf untuk Ashley dan juga Vincent, ajudan tersebut datang ke kediaman Midgraff. Mereka bahkan menyiapkan hadiah untuk Vincent juga.
__ADS_1
Daripada permohonan maaf, itu lebih seperti uang damai.
Tentu Ashley tidak mempermasalahkannya, karena ia sendiri yang menawarkan hal tersebut.
Mengetahui putrinya terluka, Vincent langsung menyuruh dokter baru mereka untuk memeriksa Ashley. Meski memiliki perkerjaan yang sudah menunggunya, Vincent masih menyempatkan diri untuk melihat putrinya. Sekaligus mengawasi dokter tersebut, memastikan ia tidak macam-macam.
Retak ringan.
Mendengar hal itu, Vincent terlihat sangat marah. Meski Asteron telah memberinya kompensasi seperti yang diminta Ashley beserta bonusnya, pria itu masih merasa itu belum cukup untuk membayar perlakuan putra ke-dua Duke Derius terhadap Ashley.
Ashley melirik ke arah Vincent, melihat pria yang mirip dengan ayahnya itu tengah membelanya.
Sebenarnya awalnya hanya retak lembut. Namun setelah merobek buku Ashelia dengan paksa, retakan itu sedikit melebar. Menyadari hal itu, Ashley tidak bisa sepenuhnya menyalahkan putra Asteron.
"Ini bukan apa-apa, 2 minggu pasti sudah sembuh." Ucap Ashley mencoba menenangkan Vincent sambil melihat lengan kanannya yang telah terbalut perban rapi.
Setelah menatap putrinya sejenak, Vincent berjalan mendekatinya dan kemudian menepuk kepala Ashley dengan lembut.
"Seorang Duke sekalipun tidak boleh meremehkan Midgraff."
"Katakan jika kau butuh apa pun."
Sentuhan tangan di kepalanya itu membuat Ashley terdiam. Ia merasakan sesuatu di dalam dadanya. Sesuatu yang sangat kuat dan bukan perasaan yang menyengkan.
Perasaan seperti tersayat dengan begitu dalam.
Setelah itu, Vincent berkata jika ia harus pergi karena masih ada banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan hari ini. Berjalan meninggalkan kamar Ashley, langkahnya tiba-tiba terhenti setelah mendengar Ashley memanggilnya. Nama panggilan yang sudah lama tidak ia dengar lagi.
"Pa."
Vincent terdiam sesaat sebelum menoleh melihat putrinya tertunduk tanpa mengatakan apa pun. Ashley mencari kata yang tepat untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan. Namun beberapa detik kemudian raut wajahnya kembali tenang sebelum ia mulai membuka mulutnya.
"No, it's nothing. Terimakasih sudah meluangkan waktu Anda."
Wanita yang juga sudah lama tidak memanggil ayahnya dengan panggilan papa itu pun memilih untuk tidak mengatakan apa pun. Meski ia tahu jika Vincent bukanlah Anthony, ia tetap tidak bisa sepenuhnya menganggap pria itu sebagai orang lain.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia baru merasakan bagaimana rasanya memiliki ayah yang penuh kasih.
__ADS_1
^^^Bersambung...^^^