
Kembali ke dunianya dalam keadaan di tengah baku tembak dengan musuh, Ashley berniat mempertanyakan apa yang terjadi di plaza kepada Kenny dan Joan. Namun saat sampai di markasnya, ia diperlihatkan sesuatu yang jauh lebih mengganggu pikirannya.
Saat ia berupaya menerapkan standar bawahan yang sama di dunia Ashelia, anak buahnya di dunia asalnya justru mengabaikan standar tersebut.
Bukan hanya bersikap seperti teman, mereka juga mengabaikan kehadirannya. Jelas tatanan itu sangatlah berantakan di mata Ashley.
Dipanggillah orang yang bertugas menertibkan mereka, Marc. Hampir saja ia di hukum mati, mempertanggungjawabkan gagalnya tugas yang diberikan Ashley kepadanya.
Merasakan kejanggalan atas kejadian dan perubahan yang tidak mungkin terjadi tiba-tiba, Ashley memberi kesempatan kepada Marc untuk menjelaskan alasannya.
Bukannya sebuah konspirasi diam-diam, laki-laki itu justru berkata bahwa Ashleylah yang meminta mereka bersikap demikian.
Karena tangan kanan mereka semua masih berada pada tempatnya dan baik-baik saja, Ashley pikir waktu di dunianya berhenti selagi ia pergi. Namun, mendengar penjelasan Kenny dan Marc, ia merasa jika waktu di dunianya masih tetap berlangsung seperti biasa tanpa kehadirannya.
Waktu tidak berhenti, dan ia juga tidak jatuh koma.
"Waktu gua kesamber petir, lanjutannya gimana?"
Seakan tidak memahami maksud Ashley, mereka justru balik bertanya.
"Petir?"
"Waktu gua dorong lo habis dari tempat Bulldog." Jelas Ashley menyebutkan nama panggilan yang ia berikan kepada pengusaha itu.
Hanya dari satu kalimat itu, mereka mengerti kejadian mana yang dimaksud oleh bosnya. Kejadian yang terjadi sekitar 2 minggu lalu. Kejadian yang menjadi awal perubahan sikap Ashley.
Raut ragu kembali tergambar di wajah mereka. Namun kali bukan karena tidak tahu, melainkan karena khawatir dengan respon yang akan Ashley berikan.
"Anda... tidak ingat?"
Sebuah pajangan meja berbentuk kuda tiba-tiba terbang ke arah Marc, dan tanpa menghindar, pria itu langsung menangkapnya seperti sedang bermain lempar tangkap.
"Gua gatau makanya nanya, s*alan! Jawab. Gausah berbelit-belit."
Tidak ingin memperburuk keadaan, Marc si pembawa payung pun, memulai ceritanya.
Tidak ada petir atau apa pun pada saat itu. Memang cuaca sedang hujan berpetir, namun tidak ada kilat ataupun petir yang menyambar ke arah mereka. Karena itu, ia sangat terkejut saat Ashley tiba-tiba saja mendorongnya menjauh.
Anehnya bukan dirinya yang terjatuh, melainkan bos yang mendorongnya. Wanita itu terjatuh seakan-akan ia kehilangan tenaganya. Tentu saja itu membuat semua anak buahnya terkejut sekaligus panik.
Namun lebih terkejut mereka dibuatnya, saat Ashley justru terlihat lebih kaget.
__ADS_1
"Lalu tiba-tiba Anda teriak seperti perempuan."
Marc berhenti sejenak menyadari ucapannya yang terdengar aneh. Ashley memang perempuan.
Ketiga orang di sana hanya diam menatap laki-laki itu, namun raut wajah mereka terlihat seolah sedang mengatainya.
"Maksud saya, sangat melengking. Seperti itu."
Ketiga anak buahnya kemudian menatap Ashley, melihat apakah wanita itu tersingung dengan cerita tersebut. Namun Ashley hanya diam tak berkomentar. Marc pun melanjutkan ceritanya.
Seperti seorang wanita biasa, saat itu Ashley berteriak ketakutan melihat segerombolan orang dengan fisik besar dan wajah menakutkan berkumpul mengelilinginya. Ia bahkan menangis sambil meminta ampun agar tidak disakiti.
Semakin jauh cerita itu berlanjut, Marc semakin berhati-hati dalam memilih kalimatnya. Salah-salah, bukan pajangan yang lain, tapi Jackson yang bosnya lemparkan berikutnya.
Tidak ada yang berani mendekati Ashley saat itu karena ia terus berteriak saat seseorang bergerak mendekatinya. Namun anehnya, Ashley tidak terlihat takut saat Kenny yang berjalan mendekatinya.
Sampai ia berlutut dan menanyakan keadaannya pun Ashley tidak terlihat takut.
Di bawah derasnya hujan, wanita itu hanya menatap Kenny seolah ia sedang melihat sesuatu yang sangat berbeda.
Seolah,
Marc dengan cepat membungkam mulut Joan, mengetahui apa yang akan ia ucapkan selanjutnya.
sedang jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Orang yang tidak mengenali kami." Jelas Kenny melanjutkan ucapan Joan.
Mereka semua yang melihatnya tahu, bahkan Kenny pun sadar, saat itu bos mereka jatuh cinta kepadanya. Namun mereka berusaha berpura-pura tidak tahu.
Mungkin karena terlalu aneh, atau karena tidak terbiasa, mereka tidak bisa menerima hal itu. Setidaknya sampai Ashley mengatakannya sendiri.
"Kenapa 'dia' ga teriak waktu lo yang maju?" Tanya Ashley menggunakan sudut pandang orang ketiga karena mengetahui jika wanita itu bukanlah dirinya.
Namun di mata anak buahnya, Ashley menggunakan kata 'dia' karena tidak ingin mengakui sikapnya yang bertolak belakang itu.
"Mungkin karena Kenny selalu di dekat Anda, jadi tanpa sadar Anda sudah merasa aman." Jelas Marc mencari alasan yang logis untuk meyakinkan Ashley.
Mendengar Ashley memintanya melanjutkan, Marc pun kembali melanjutkan cerita tersebut.
Setelah kedatangan Kenny, Ashley memang menjadi tenang. Setelah beberapa saat berbicara dengannya, wanita itu pun akhirnya dapat menerima fakta bahwa mereka adalah anak buahnya.
__ADS_1
Tidak ingin berbohong kepada bosnya yang tidak suka saat ada orang yang menyentuhnya tanpa izin itu, Kenny menjelaskan jika ia setelah itu menggendong Ashley memasuki mobil dan menggendongnya lagi sampai ke kamar Ashley.
"Karna dia gabisa jalan?" Tanya Ashley.
Kenny mengangguk karena memang itu yang Ashley katakan saat itu. Hanya saja, bukan cuma itu yang ia lakukan. Ia juga membantunya mengganti pakaian karena Ashley masih menggunakan alasan yang sama.
Kenny sebenarnya sudah biasa melihat bosnya yang tidak memiliki urat malu itu telanjang, namun saat itu bosnya terlihat sangat malu. Ia pun memutuskan untuk tidak menyebutkan hal itu. Meski sebenarnya Ashley sudah mengetahuinya.
Ashley paham jika Kenny tidak mungkin pergi begitu saja setelah mengantarkannya ke kamar dalam keadaan basah kuyup. Namun, sadar siapa yang sedang memasuki tubuhnya, Ashley yakin Kenny pasti juga membantunya berganti pakaian.
Ashelia.
Dia tidak mati, namun bertukar tubuh dengan Ashley.
Tapi tidak masalah, karena kini Ashley telah kembali ke dunianya. Urusannya dengan Ashelia sudah selesai dan ia tidak perlu memikirkannya lagi. Layaknya badai yang telah berlalu.
Begitu pikirnya.
Setelah memastikan apa yang telah terjadi, ia pun membubarkan mereka. Ia meminta Joan memberinya semua data mengenai kelompok yang menyerangnya tadi. Joan yang mengetahui niat serangan balik Ashley pun menjadi sangat antusias dan bergegas mengumpulkan informasi.
Sedangkan Marc, ia diminta untuk menyelaraskan kembali tatanan kedisiplinan anggota mereka. Tentu saja dengan kekerasan. Meski ia memahami situasi mereka, namun setelah hampir di hukum mati, Marc merasa para bawahan itu pantas mendapat hukuman juga. Setidaknya 1 pukulan ramah untuk setiap orang.
Sedangkan 1 pukulan 'ramah' darinya sama seperti dipukul menggunakan tongkat besi.
Dengan senyum yang kembali menghiasi wajah Ashley, wanita itu duduk di kursi kerjanya.
"Jadi, gimana urusan yang laen?" Tanya Ashley kepada Kenny yang masih berada di sana.
Ia hanya pergi selama 2 minggu. Terlebih lagi, ada Kenny yang juga mampu mengatur urusannya.
"...Anda lebih baik lihat sendiri."
Kenny menunjukan hasil laporannya selama 2 minggu terakhir dan langsung menghapus senyum di wajah Ashley seketika.
"Wow."
"Gua ga pernah segini pengennya bunuh orang."
Badai yang lain, baru saja di mulai.
^^^Bersambung...^^^
__ADS_1