Cinderella Gila

Cinderella Gila
Seminggu?


__ADS_3

Terbiasa tidur dengan setengah kesadaran terjaga, Ashley merasa ada yang salah saat ia benar-benar 'tidur'. Mungkin karena tubuhnya yang terlalu lelah? Atau karena ia belum makan seharian ini? Atau mungkin keduanya?


Saat kuda yang wanita itu tunggangi berhenti di depan pintu utama, barulah kesadaran Ashley kembali. Ditatapnya laki-laki berseragam kesatria yang telah membangunkannya tadi. Melihat wajah orang itu, Ashley baru ingat kalau ia tadinya pergi bersama seorang kesatria gadungan. Orang yang ia tinggalkan begitu saja dihajar para pemabuk.


Turunlah Daryl yang masih merasa kesal dengan laki-laki tersebut. Diliriknya kesatria pengganggu itu dengan tatapan dingin yang begitu menusuk, sebelum Daryl membantu Ashley turun perlahan.


Pertama, kesatria itu kehilangan jejak nonanya. Kedua, setelah mengikuti saran pengawal Marion untuk menunggu di sana, ia justru tidak sengaja membangunkan singa yang tertidur. Ketiga, pria yang datang bersama Ashley juga kini marah kepadanya. Lalu keempat, kenapa penampilan nonanya jadi seperti itu hanya dalam beberapa jam? Apa itu darah!?


Dengan sedikit ragu-ragu karena takut, kesatria itu pun memberanikan diri untuk bertanya, dan tanpa memberi salam kepada seorang Marquis yang berdiri di depannya terlebih dahulu.


"N-nona dari mana saja? Saya mencari Anda ke mana-mana."


Kelima, Ashley tidak pernah salah.


"Lo yang dari mana? Gua cari muter-muter."


Terlebih saat tidak ada yang tahu apakah hal yang diucapkan oleh wanita itu adalah fakta atau kebohongan.


"Gua sampe dikejar orang-orang jahat. Kalo bukan karna Daryl, gua mungkin ga bakal pernah balik." Lanjut Ashley dengan menunjukan wajah sedih.


Terkejut kesatria itu dibuatnya, saat mendengar apa yang terucap dari mulut nonanya. Di tatapnya kemudian laki-laki di samping wanita tersebut, yang kini wajahnya sedikit menunjukan ekspresi bangga menuju sombong. Hal yang secara tidak langsung membuat laki-laki tersebut mempercayai kebohongan Ashley.


Kegelisahan mulai terlihat di raut wajahnya, membayangkan hukuman apa yang akan didapatnya jika Vincent mengetahui hal ini. Dijatuhkanlah kedua lututnya ke tanah. Sambil memelas, pria itu memohon kepada nonanya untuk tidak melaporkan kejadian tersebut kepada Vincent.


Lalu dengan mudahnya,


"Tentu." Jawab Ashley singkat dengan wajah ramah.


Rasa syukur pun datang menyinari kerisauan hati pria tersebut,


"Tentu gua bakal bilang. Sedetil mungkin. Sampe berapa jumlah helai rambut gua yang kepotong."

__ADS_1


Sebelum wanita itu menghancurkan harapan palsu tersebut berkeping-keping.


Selesai sudah. Kini ia percaya alasan mengapa pekerja di sana menyuruhnya berhati-hati terhadap Ashley. Wanita itu benar-benar tidak mengenal apa itu kata 'iba'. Ia bukanlah orang yang akan memaafkan kesalahan sekecil apa pun hanya dengan kata maaf.


Ashley menengok sekilas ke arah Daryl sebelum kembali tak mengacuhkannya dan berjalan masuk. Melihat wanita itu berjalan masuk seorang diri, Daryl hendak memanggilnya dan menawarkan bantuan. Namun hal itu mungkin kurang sopan. Dan lagi, jelas Ashley akan menolaknya mentah-mentah.


Berjalan melewati laki-laki yang masih berlutut di sana dengan tatapan kosong, Ashley menambahkan,


"Bilang ke atasan lo, lain kali cari orang yang bisa ekting."


Dari kata-kata tersebut, barulah pria itu sadar, sejak awal Ashley memang sudah mempermainkannya. Dari menyuruhnya mengantar surat, membuatnya dihajar sekumpulan orang mabuk, hingga mendapat hukuman karena gagal mengawal, semua dilakukan wanita itu dengan sengaja.


Namun nasi telah menjadi bubur, kini, ia hanya bisa mengharapkan belas kasih Vincent atas dirinya.


Sesaat setelah membuka pintu, Daryl memanggil Ashley yang pergi tanpa mengucapkan apa pun kepadanya.


"Selamat beristirahat." Ucap pria itu sambil tersenyum sebelum ia kembali menaiki kuda di belakangnya.


Ya, kesatria malang yang masih diam mematung di sana memang sudah bagaikan tidak terlihat lagi bagi Daryl.


Keesokannya, kabar yang bahkan belum dilaporkan Ashley, sudah sampai ke telinga Vincent terlebih dahulu. Wanita yang paling tidak suka diganggu saat istirahat itu pun terpaksa harus menahan diri karena kali ini Vincentlah yang datang.


Dikejutkanlah pria itu oleh putrinya yang tidur tanpa mengenakan gaun tidur dan hanya pakaian dalam saja. Bukannya tidak mengetuk, namun Ashley memang langsung mengijinkannya masuk saat mendengar suara Vincent.


Langsung ditutuplah pintu itu oleh pria tersebut karena bukan hanya ia saja yang datang, melainkan dokter, kepala pelayan, juga pemimpin pasukan Kesatria Midgraff pun hadir di sana. Rasa canggung menghiasi wajah ketiga pria tersebut. Bukan hanya para lelaki, namun Marion dan dua pelayan wanita di sana pun dibuat tidak kalah terkejutnya.


Dengan panik, Bellena yang sebenarnya tidak berani mengganggu Ashley akhirnya masuk ke dalam untuk membantu wanita tanpa urat malu tersebut berpakaian.


Beberapa menit kemudian, terbukalah kembali pintu kamar Ashley yang masih membuat para lelaki di sana tidak berani langsung melihat ke dalam. Setelah memastikan Vincent mengijinkan mereka barulah mereka muncul dari balik dinding.


Diperiksalah kondisi tubuh wanita tersebut yang akhirnya menguak fakta bahwa Ashley telah memaksakan dirinya.

__ADS_1


Kakinya penuh memar karena menggunakan kaki palsunya secara berlebihan dan tanpa istirahat. Begitu pula lengan kanannya yang seharuanya ia istirahatkan agar pulih dengan cepat.


Vincent menghela napasnya dalam-dalam. Putrinya yang tiba-tiba kembali dengan sayatan di leher bukannya istirahat dan malah menambah luka yang lain. Apa sebenarnya yang ia lakukan di luar sana?


Setelah mendengar penjelasan Ashley yang tentu saja mengubah kronologi peristiwa sebenarnya, Vincent pun mulai mengambil tindakan.


Perubahan putrinya menjadi sedikit tidak terkendali dan itu membuatnya khawatir. Alhasil, dilaranglah wanita itu untuk meninggalkan kediaman mereka selama seminggu agar ia dapat benar-benar pulih.


Seminggu?


Begitu banyak hal terjadi dalam sehari, karena Ashley bukan tipe orang yang tahan menunggu dan berdiam diri. Ia adalah wanita yang sangat tidak sabaran karena baginya tiap detik yang berlalu sangatlah berarti. Dan lagi, otaknya yang 'hyperactive' itu tidak akan kuat 'beristirahat' lebih dari beberapa jam.


Meledak. Batinnya meronta, jiwanya menggila, otaknya berteriak, namun kepalanya mengangguk menuruti perintah Vincent.


Setelah menerima permintaan maaf dari pimpinan kesatria tersebut, tentu saja Ashley mendapatkan kesatria baru yang katanya lebih 'cekatan'. Dengan kata lain, penghalang baru yang lebih merepotkan.


Dimulailah siksaan satu minggu itu, yang bukan hanya berlaku bagi Ashley namun juga para pekerja lain karena tempramen nona mereka menjadi sangat buruk. Meski sudah terkenal akan kegilaannya, namun kini Ashley benar-benar terlihat hampir gila. Ia kadang tertawa atau marah secara tiba-tiba, kemudian diam seketika pada detik berikutnya.


Ia hanya terlihat normal saat berolah raga.


Setelah melalui 1 minggu panjang yang terasa seperti puluhan tahun, datanglah hari di mana Ashley kembali menginjakkan kaki keluar gerbang kediaman Midgraff.


Terbiasa hidup bebas meski sebenarnya masih memiliki banyak batasan, kini wanita itu paham dengan apa itu 'kebebasan' yang dimaksud orang-orang.


Kemudian tepat setelah ia bebas dari 'penjara', bersama dengan pengawal barunya, ia pergi ke kota meski tanpa alasan yang jelas. Lalu, di area alun-alun kota, seorang penjual kaki lima yang ia kenal, memanggilnya dari kejauhan.


"Nona, lama tidak bertemu. Kau sangat terkenal akhir-akhir ini." Ucap anak laki-laki itu dengan wajah ceria.


Mungkin itu hal baik jika datang dari orang lain, tapi saat seorang informan yang mengatakan hal demikian, itu bisa berarti buruk. Atau sangat buruk.


.................. Bersambung .................

__ADS_1


__ADS_2