Cinderella Gila

Cinderella Gila
Akan saya ambil


__ADS_3

Mempertanyakan apakah salah satu di antara para tawanan Ashley ada yang pernah melihat Far, semua orang kecuali satu hanya diam.


Semua kecuali satu.


Orang paling lugu dari kedua kubu tersebut.


Pandangan keenam orang lainnya pun secara serempak berpusat pada laki-laki itu. Bahkan rekan-rekan satu pekerjaannya dibuat terkejut tak menyangka.


Setelah itu, tanpa dosa dan dengan begitu polosnya, kurir itu justru bertanya,


"Siapa Far?"


Dari awal, niatnya mengangkat tangan memang untuk bertanya, dan bukannya menjawab Ashley.


Dikecewakan dengan apa yang mereka dengar, nenek pemilik tempat itu hanya memutar bola matanya. Sedangkan yang lain memasang ekspresi yang jelas meremehkan, seakan berkata 'sudah kuduga'.


Tak dapat dimungkiri jika bukan hanya Ashley yang penasaran dengan sosok Far yang begitu misterius.


Digenggamnya kemudian tangan yang masih teracung tinggi itu oleh Ashley. Perlahan menurunkannya sambil berjongkok di hadapan si lugu, wanita tersebut menampakkan senyumannya. Sebuah ekspresi ramah yang justru akan membuat orang yang melihatnya merinding.


Kecuali si kurir kedua tentu saja, yang masih bisa membalas senyuman Ashley.


Mengambil pisau yang tersembunyi di panggul belakang, wanita itu kemudian menusukkannya ke paha kurir ketiga tanpa aba-aba. Ya, bukan orang yang sedang tersenyum kepadanya, namun si kurir ketiga yang duduk di sisi kiri pria lugu tersebut.


Sebelum orang itu sempat berteriak kesakitan Ashley telah mencabut pisaunya kembali dan mengalihkan sasarannya ke leher. Merasakan rasa sakit dua kali lipat saat Ashley mencabut pisau tersebut, si kurir ketiga dipaksa berteriak dalam diam karena takut Ashley akan menggorok lehernya.


Darah menetes dari ujung metal tajam tersebut, seolah menjadi penanda bahwa detik telah berlalu saat semua orang hanya diam membeku.


Masih terus menatap si kurir kedua dengan senyuman abadinya, Ashley kemudian berkata,


"Cuma gua yang nanya, dan kalian cuma jawab, oke?"


Meski baru saja melihat apa yang Ashley perbuat, laki-laki itu masih bisa mempertahankan senyumannya, sebelum kemudian mengangguk menuruti Ashley.


Berdirilah wanita tersebut, sambil terus memandangi laki-laki di hadapannya. Ia berpikir, siapa yang gila di sini sekarang? Dirinya, atau orang yang ada di depannya.


Setelah menyarankan kepada kurir ketiga untuk menekan lukanya jika tidak ingin mati lebih cepat, Ashley melanjutkan sesi tanya jawabnya.

__ADS_1


"Gimana cara gua ketemu Far?"


Setelah menunggu beberapa detik dan tidak ada yang memberikan jawaban, Ashley kembali bersuara.


"Gua nerima saran dan masukan juga."


"Mulai dari lo." Lanjutnya sambil menunjuk kurir ketiga yang berada di ujung barisan.


Bingung harus berkata apa, laki-laki itu melirik ke arah rekan-rekannya yang juga hanya diam menatapnya balik. Ia lalu menatap wanita yang berdiri di hadapannya layaknya seorang tiran.


Matanya pun turun, terpaku pada logam tajam bernoda merah yang digenggam Ashley. Jawaban apa yang harus ia berikan agar benda itu tidak tertancap di dadanya kali ini?


Menyadari kegelisahan kurir tersebut, Ashley langsung melemparkan pisaunya jauh ke arah Bellena. Meski tidak membahayakan nyawa pelayannya, namun tindakan Ashley membuat gadis itu hampir terkena serangan jantung.


Jantung Bellena sudah berdebar saat nonanya melukai kurir tersebut. Belum sempat tenang, kini pisau bukti kejahatan itu tiba-tiba dilempar kearahnya, bagaimana ia tidak kaget?


Membuka kedua tangannya, Ashley kemudian berkata jika kurir tersebut tidak perlu khawatir dan bisa mengatakan apa saja yang ia mau.


Sempat ragu, akhirnya laki-laki itu pun memberanikan diri untuk berkata jujur.


"...caranya ...mungkin tidak ada. Kau tidak akan bisa menemuinya."


Melirik dan melihat reaksi kedua rekannya, ia pun semakin terdorong untuk mengungkap realita yang ia percaya.


"Itu faktanya!"


"Kau tidak akan bisa menemuinya! Jika semua orang bisa bertemu dengannya aku pasti juga sudah melakukan itu!" Lanjutnya kembali menatap Ashley.


"Bawahannya saja tidak ada yang pernah melihatnya. Pasti ada alasan di balik itu. Seperti misalnya... kau bisa mati."


Sedikit membumbui pernyataannya dengan sebuah resiko tinggi. Ia mencoba membuat informasinya cukup berguna.


Hanya saja, ia melewatkan satu hal.


Memberikan senyuman ceria, Ashley pun berterimakasih atas informasi penting yang orang itu sampaikan. Kemudian, karena telah memberinya jawaban, kurir tersebut ia ijinkan untuk keluar dan pulang ke rumah.


Tidak menyangka semuanya akan berakhir semudah itu, pria tersebut kembali menatap rekannya yang juga tidak kalah dikejutkan. Melihat ke arah pisau yang tergeletak di dekat Bellena, ia pun mulai ragu. Ia khawatir jika Bellena yang akan menyerangnya saat ia berjalan mendekati pintu.

__ADS_1


Menghela napas, Ashley kemudian memerintahkan Bellena untuk membuang pisau tersebut jauh.


Tidak yakin dengan perintah nonanya, Bellena mencoba memastikan terlebih dahulu.


"...pisau Anda, Nona?"


Melihat anggukan Ashley, barulah Bellena mengambil senjata tersebut. Meski masih menyimpan sedikit keraguan, namun tidak menuruti perintah nonanya jauh lebih beresiko baginya.


Membuka pintu keluar di belakangnya, dilemparkanlah benda tersebut jauh-jauh.


Tercengang dengan tindakan Bellena yang semakin tidak bisa ia baca, Ashley hanya diam tidak bisa berkata-kata. Bukan benar-benar membuangnya jauh, yang ia maksud hanya menendang pisau itu menjauh.


Melihat ekspresi Ashley yang tidak puas dengan 'hasil kerjanya', Bellena dibuat berkeringat dingin. Berinisiatif untuk memperbaiki kesalahannya, gadis itu pun hendak berlari keluar.


"Akan saya ambil-"


"Diem di situ." Perintah Ashley menghentikannya dari segala usaha.


Kembali menghadap ke depan, Ashley tidak lagi menghiraukan Bellena. Ia akan mengurus gadis itu nanti. Hal yang tentu saja membuat pelayannya semakin tidak bisa tenang.


Sedikit menggerakan kepalanya, Ashley memberi tanda kepada kurir ketiga jika ia boleh meninggalkan tempat itu sekarang.


Mengawali pergerakannya dengan sedikit keraguan, laki-laki itu pun berdiri. Setelah menatap Ashley yang sama sekali tidak bereaksi, ia kemudian berjalan perlahan menuju pintu keluar.


Dengan langkah tertatih-tatih ia menunjukan punggungnya kepada wanita yang beberapa saat lalu membuat nyawanya terancam. Sejatinya, mempercayai ucapan Ashley sepenuhnya saat ia hanyalah 'orang asing' adalah sebuah kesalahan besar.


Saat laki-laki itu pikir wanita tersebut tidak lagi bersenjata, saat itulah sabit sang Dewa Kematian menyambutnya.


Menarik keluar pedang yang tersembunyi di dalam tongkatnya, Ashley langsung mengayunkan benda mematikan tersebut, memutus tali kehidupan si kurir ketiga.


Orang yang takut mati, tidak akan berani mengusik bisnis Far.


Ashley sudah masuk terlalu jauh untuk merasa khawatir dengan resiko kematian.


Yang ingin ia dengar adalah cara untuk menemukan identitas Far, atau setidaknya hubungan Far dengan Ashelia. Ia tidak butuh jawaban yang dibatasi asumsi dan dibumbui peringatan seperti tadi.


Dengan menunjukan tatapan yang begitu mencekik, wanita itu kemudian berucap,

__ADS_1


"Pertimbangin lagi pertanyaan gua."


.................. Bersambung .................


__ADS_2