Cinderella Gila

Cinderella Gila
This kid, really


__ADS_3

"Kenapa lo ngawasin gua dari awal gua main?"


Terbiasa diawasi oleh orang-orang yang mencoba mencari kesalahannya, indera Ashley menjadi sangat sensitif. Ia dapat merasakannya saat ada seseorang yang tengah mengawasinya.


Benar bahwa ialah yang memegang kendali atas kota yang ia kuasai. Namun, masih ada orang-orang yang menentang kerjasama antara pemerintah dan mafia dalam menjaga keamanan. Ada pula para ketua dari kota lain yang masih berada di bawah kepemimpinan ayahnya, namun meragukan kemampuannya. Belum lagi para pesaingnya dari kelompok lain yang mengincar posisi Ashley karena kota yang ia kuasai adalah kota bisnis.


Para manusia itu tidak akan melepaskan mata mereka dari gerak gerik wanita dengan reputasi buruk tersebut. Hal itu pun membuatnya marah sekaligus tertantang setiap ada orang yang mengawasinya, apa pun alasannya.


"Jawab. Atau gua buat lo ga bisa ngomong." Ancam Ashley setelah menunggu beberapa detik dan Daryl masih tidak memberi jawaban.


Daryl kesulitan mencari alasan karena ia tidak pernah membayangkan akan berakhir mempertaruhkan nyawanya di tangan wanita itu. Ada kalanya mengatakan hal yang sejujurnya justru lebih terdengar seperti mencari alasan.


"Itu, karena... em..."


Ia memutar otaknya, mencoba mencari alasan yang cukup meyakinkan. Namun, alasan-alasan yang muncul di dalam pikirannya sangatlah meragukan. Ia tidak tahu lagi harus berkata apa.


"Lo ga bakal bilang, lo suka sama gua, kan?"


Otot Daryl menegang saat mendengar ucapan Ashley. Ia memang penasaran dengan Ashley karena sifatnya yang sangat menantang. Ia juga merasakan banyak emosi seperti rasa takut, tegang, dan senang di saat bersamaan ketika berada di dekat wanita itu.


Bagi Daryl, hal-hal tersebut sangatlah menarik. Karena itu, ia ingin tahu lebih banyak mengenai gadis yang mampu membuatnya merasa demikian.


Namun kata 'suka' yang Ashley ucapkan tentu bermakna berbeda, dan itu adalah hal yang tidak pernah terlintas di benak laki-laki itu sebelumnya. Ia bahkan tidak memahami apakah yang ia rasakan adalah rasa suka atau bukan. Ia pikir, ia hanya sekedar penasaran.


Setelah memikirkan kemungkinan bahwa ia memang menyukai Ashley, wajahnya memerah.


"Apa? Lo mau bilang cewe kek gua ga bakal bisa lo temuin di tempat laen, makanya lo maksa buat deketin gua?"

__ADS_1


"Do I make your heart race like crazy and you like that?"


"Or do you get addicted to the tense and excitement when you're around me?"


Setiap pertanyaan yang Ashley lontarkan sangat relevan dengan apa yang Daryl rasakan dan membuatnya semakin malu. Wajahnya terasa sangat panas.


Ia mencoba menahan diri untuk tidak memegang topeng yang ia kenakan, seakan topeng tersebut tidak bisa menyembunyikan wajah merahnya. Kedua pegawai kasino itu pasti bisa melihat ekspresi malu Daryl jika ia tidak memakai penutup wajah.


Kini Daryl semakin tidak bisa mengatakan apa pun karena terlalu malu untuk mengakuinya. Usianya 25 tahun, namun saat ini ia bertingkah seperti seorang gadis 15 tahun yang berhadapan dengan cinta pertamanya.


Ashley sebenarnya menanyakan semua itu karena alasan-alasan tersebut tidak akan bisa ia terima. Namun respon yang ia dapatkan justru tidak sesuai dengan apa yang ia bayangkan.


Laki-laki yang sebelumnya terlihat lumayan tenang itu kini hanya diam mematung. Dari belakang, Ashley bisa melihat bagian telinga dan leher Daryl yang memerah.


Tentu suhu dingin bisa menjadi pemicunya, namun sebelumnya telinga Daryl tidak semerah itu.


Ashley tidak lagi mengarahkan mata pedangnya ke leher pria itu, tapi ia juga tidak langsung memasukan senjatanya ke dalam tongkat. Ia masih tidak mengerti dengan situasi yang belum pernah ia alami tersebut.


Tidak ada konfirmasi ataupun penolakan dari pria yang tengah tenggelam dalam rasa malu tersebut. Sedangkan Ashley belum yakin dengan apa yang harus ia lakukan.


Sesekali ia melihat punggung Daryl yang tidak bergerak sebelum kembali berpikir. Entah siapa yang berlebihan di antara mereka, Daryl yang dibutakan oleh rasa penasarannya atau Ashley yang mudah mencurigai seseorang.


Sambil menunduk, wanita itu meletakan tangan kanannya yang masih menggenggam pedang di pinggang dan menutup kedua matanya dengan punggung tangan yang satunya. Ia benar-benar dibuat tidak habis pikir oleh laki-laki itu.


'This kid, really.' Batin Ashley.


Memutuskan untuk percaya, Ashley mengeluarkan sapu tangan untuk membersihkan noda darah yang ada di pedangnya. Kemudian dimasukannya kembali pedang itu ke dalam tongkat.

__ADS_1


Tanpa mengatakan apa pun, wanita itu berjalan ke tengah ruangan. Ia pun duduk di salah satu kursi yang memang disediakan untuk para pemain.


Suasana tegang di ruangan itu berubah menjadi sangat canggung bagi Daryl. Namun tidak bagi Ashley.


Setelah mengetahui niat orang yang mengajaknya bermain, Ashley bersikap seakan tidak pernah ada masalah apa pun sebelumnya.


"Hey. Ambilin P3K." Perintah Ashley kepada salah satu dari kedua petugas kasino itu.


Saat petugas wanita itu hendak pergi, Ashley berkata,


"Cuma. P3K."


Ia terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk, mengerti Ashley tidak ingin ada informasi yang keluar. Ia hanya menyuruhnya mengambil p3k bukan memanggil bala bantuan ataupun membuat perencanaan untuk menyerangnya.


Mata Daryl mengikuti pegawai itu keluar karena bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Ia tiba-tiba merasa seperti terdampar di tempat asing.


Ashley kemudian mengetuk meja di sampingnya dengan jari telunjuknya untuk mendapatkan perhatian Daryl. Ia menatap laki-laki yang masih berdiri di dekat pintu itu dan menyuruhnya duduk dengan isyarat kepala.


Meski sedikit canggung, Daryl menurutinya dan duduk berseberangan dengan Ashley. Tidak ada suara apa pun yang keluar setelah itu. Tidak ada pertanyaan atau perbincangan apapun. Mereka hanya duduk diam tanpa melakukan apapun.


Bahkan petugas pengawas di sana mulai ikut merasa canggung. Ia tidak tahu apakah ia harus memberi mereka berdua ruang untuk bicara atau tidak.


Ashley yang duduk menghadap pintu sesekali menengok ke arah laki-laki yang duduk di ujung meja di sampingnya. Melihat laki-laki itu sangat mengingatkannya dengan seseorang yang ia kenal. Memang wajahnya tidak terlihat namun gerak geriknya lumayan mirip.


Keheningan itu pun pecah saat seorang wanita yang beberapa saat lalu keluar atas permintaan Ashley, telah kembali dengan kotak obat.


Ashley beranjak dari tempat duduknya dan menarik kursinya mendekati Daryl. Ia kemudian duduk tepat di hadapannya dengan jarak kurang dari satu meter dan membuat laki-laki itu kebingungan.

__ADS_1


^^^Bersambung...^^^


__ADS_2