
"Gua udah nunda sehari buat manggil lo, awas kalo gagal." Ucap seorang gadis yang tengah berjalan menyusuri kota.
Pernah satu kali berkeliling kota saat malam hari, kini ia ingin melihat apa yang dimiliki kota tempatnya tinggal saat siang hari.
Disampingnya, seorang pria berjalan mendampinginya. Masih berusaha mendapatkan hari kencan pertamanya, ia berniat menemani wanita itu hingga kembali ke kediamannya dengan selamat.
"Jangan khawatir. Kita juga membeli barang yang pernah Kalia berikan padaku-"
Perhatian mereka berdua teralih saat seorang anak laki-laki tiba-tiba berlari keluar dari gang lain dan menabrak Daryl.
"Ma-maaf."
Ditatapnya kedua orang dewasa yang berdiri di depannya. Hawa dingin menjalar ke seluruh tulang dalam tubuhnya Tatapan kedua orang itu sangatlah dingin dan terasa begitu menekan.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya seorang pria di antara mereka, merubah kesan menakutkan yang sebelumnya ada pada dirinya.
Sambil sedikit menundukan badannya untuk menyamakan tinggi mereka, Daryl mengulurkan tangannya. Belum sempat menyentuh pundak anak di depannya, anak laki-laki tersebut langsung membungkukkan badannya. Ia meminta maaf sekali lagi kemudian berlari melewati pria itu seperti sedang terburu-buru.
Tentu saja ia buru-buru.
Berdiri di belakang Daryl, Ashley mengangkat kaki kanannya ke samping. Wanita itu mengangkatnya cukup tinggi hingga anak yang berlari melewati Daryl langsung menabraknya.
Ditahannya perut anak itu dengan tulang kering, kemudian dilemparnya kembali ke depan Daryl menggunakan kaki tersebut.
Jatuh dengan keras di atas paving jalan, baik anak itu maupun Daryl dibuat sangat terkejut oleh tindakan Ashley.
Wajah anak itu mulai panik merasakan aura mengancam yang keluar dari sorot mata wanita di depannya. Ia sadar jika triknya tidak berhasil mengelabuhi gadis pirang tersebut.
"Balikin."
Hanya dengan satu kata itu Daryl langsung mengerti alasan dari tindakan Ashley. Diceknya kantung uang di dalam saku bajunya yang memang telah lenyap sejak beberapa saat lalu.
Berusaha pergi secepat mungkin, anak itu kemudian bangkit dan mencoba untuk berlari ke arah yang lain.
Sayang usahanya gagal.
__ADS_1
Kaki kirinya telah berhasil digapai oleh Ashley.
Ditariknya kaki anak itu hingga wajahnya terantuk jalan. Untuk mengurangi rasa sakit akibat terseret, anak itu berbalik, membiarkan sisi kiri badannya tergesek kasarnya batu paving.
Saat kaki kanannya yang masih terbebas berusaha menendang tangan Ashley untuk melepaskan diri, Daryl mangangkat tubuh kecilnya. Wanita itu pun melepaskan pegangannya, mengetahui anak itu telah berhasil mereka tangkap.
"Lepaskan aku! Sedang apa kalian!?" Teriak bocah itu berlagak tidak tahu apa-apa sambil terus meronta.
Dipegangnya anak berusia sekitar 7 tahun itu dengan satu tangan. Kemudian, tangan Daryl yang lain menggeledah setiap kantung pakaian anak tersebut dan menemukan adanya kantung uang dengan ukuran yang cukup familiar baginya.
"Hey! Itu uangku kembalikan!"
Tidak menghiraukan sandiwara anak itu, Daryl menjauhkan kantung uangnya dari jangkauan pencuri kecil tersebut. Diguncangnya kantung itu pelan dan terdengarlah suara gemerincing uang yang entah kenapa tidak terdengar saat anak itu mengambilnya.
Masih ingin terus berpura-pura sebagai korban, anak laki-laki tersebut berteriak dengan keras.
"Tolong! Aku dirampok!"
Tidak habis pikir dengan sikap yang anak itu tunjukan, Daryl menatapnya heran. Tak lama, pandangannya kemudian tertuju ke depan, mendengar adanya orang yang datang dari luar gang dan gang asal anak itu muncul.
Beberapa pria pun muncul dari balik sana. Melihat mereka, Daryl tidak mengatakan apa pun. Bukan karena malas memberi penjelasan seperti Ashley, namun karena ia tahu mereka adalah sekutu anak itu.
Tanpa menghiraukan adanya bala bantuan, Ashley mengayunkan tongkatnya ke arah tangan anak yang dibawa Daryl. Upaya anak itu untuk menggunakan sesuatu yang ada di dalam sakunya pun gagal.
Tangannya tertolak dan sesuatu yang digenggamnya langsung terlepas. Di saat bersamaan dengan terbangnya benda itu, tongkat Ashley dihantamkan kembali ke arah dagu anak tersebut. Begitu keras hingga membuat bocah yang tadinya berisik itu terdiam.
Benda yang terpental jauh hingga terbentur dinding itu pun menampakkan wujudnya.
Sebuah pesau berukuran kecil.
Mungkin tidak mematikan, tapi tetap saja berbahaya.
Melihat kawan kecil mereka diserang, para pejantan tangguh itu pun menjadi marah. Berbondong-bondong mereka berjalan mendekati dua sejoli tersebut.
Daryl tidak bergerak. Meski tidak pandai bela diri, nyalinya tidak kalah dengan para ahli. Hal yang membuatnya diam bukanlah rasa takut, namun karena mereka terkepung. Bukan hanya dari luar gang dan gang yang ada di sebelah kanan mereka, namun beberapa orang juga datang dari arah belakang mereka.
__ADS_1
Sisi mana pun yang berusaha Daryl halangi, akan tetap membuka sisi yang lain.
Di samping itu, cidera tangan Ashley menyebabkan dirinya tidak mampu menggenggam dengan kuat. Mengingat kekuatan genggaman pedang merupakan hal yang krusial, Ashley tidak punya cara lain selain menghindari adu kekuatan. Kali ini ia benar-benar harus bergerak dengan penuh perkiraan.
Saat ia tengah memperkirakan siapa yang akan ia serang terlebih dahulu, seseorang tiba-tiba menyela ketegangan di antara mereka.
"Hey! Berani sekali membuat keributan di wilayahku."
Seorang pria yang masa ototnya tidak lebih besar daripada orang-orang yang mengepung mereka pun muncul dari balik gang.
Sesaat kemudian, wajah angkuhnya berubah netral setelah melihat wanita dengan kaki palsu, tongkat, setelan baju, dan rambut pirang berdiri membelakanginya.
"El?"
Ashley menoleh ke belakang meski sebelumnya ia hanya mengabaikan kedatangan pria itu.
Ditatapnya laki-laki berambut pirang itu kemudian. Ia adalah salah satu anggota kelompok geng yang pernah Ashley temui dulu. Orang yang berhasil memenangkan pertandingan di tempat judi sabung dengan peluang 30%.
"Dasar bodoh dia itu temannya Boss!" Ucap laki-laki itu kemudian sambil memukul kepala pria yang badannya lebih besar darinya.
Mendengar apa yang laki-laki itu ucapkan, semua orang yang mengepung Ashley dan Daryl pun seketika membungkuk dan meminta maaf. Tradisi yang sama seperti dalam organisasi Ashley.
"Ah, maaf El mereka tidak tahu apa-apa." Jelasnya mewakili para bawahannya.
Namun Ashley meresponnya dengan sebuah tatapan sinis sambil berkata,
"Maaf?"
Matanya kemudian melihat ke bawah, menatap tongkat yang ia genggam dengan tangan kirinya. Sambil perlahan mengusap bagian pegangan tongkat tersebut, ia melanjutkan,
"Orang yang berani nyuri dari gua harus bayar 2 kali lipat."
Wajah ramah laki-laki itu pun berubah menjadi sedikit canggung setelah mendengar wanita di depannya mengucapkan hal yang tidak pernah ia sangka. Boss dan teman perempuannya memang pernah mengatakan untuk lebih waspada terhadap Ashley, namun ia tidak terlalu mempercayainya.
"Mungkin satu tangan cukup." Ujar wanita itu kemudian, sambil melirik ke arah anak laki-laki yang masih dipegang Daryl.
__ADS_1
Kini ia percaya, Ashley tidak seramah yang ia pikirkan.
^^^Bersambung...^^^