
Tidak mampu berkata-kata, kesatria yang diutus untuk mengawal Ashley hanya bisa menatap nonanya. Gadis yang ia pikir selama ini hidup dengan mudah tanpa tanggung jawab apa pun, ternyata sedang mati-matian melindungi diri dan ayahnya.
Pewaris tunggal dari keluarga yang seharusnya pria itu lindungi dengan nyawanya, kini bahkan tidak bisa bersandar kepada siapa pun. Kecurigaan wanita itu terhadap dirinya menandakan bahwa musuh yang dilawannya bukan hanya orang luar. Hal yang kemudian nemaksa nonanya harus berdiri dengan kakinya sendiri.
"Saya..."
Hendak mengatakan bahwa ia bukanlah musuh, pria itu kembali menutup mulutnya. Dalam situasi seperti yang nonanya alami, tidak mungkin ucapannya akan dipercaya.
Namun ini bukan masalah dipercaya atau tidak. Ia adalah seorang kesatria Midgraff. Orang yang bertugas menjaga keselamatan keluarga tersebut.
Saat Ashley yang bahkan seorang wanita, berani bangkit meski telah kehilangan kakinya, berani mengangkat pedangnya tinggi meski dengan tangan kecil kurusnya, pria itu ingjn berdiri di depan nonanya, menjadi perisai sekaligus pedang baginya. Bukan hanya karena terikat kontrak, atau karena sekedar memenuhi tugas, karena seorang kesatria juga memiliki hak untuk memilih siapa 'tuan' yang akan dilayaninya.
Tidak mampu berlutut karena berada di bawah kuncian Ashley, kesatria itu hanya mampu menunjukan kesungguhannya melalui tatapan mata.
"Saya, Alais Mitzrael,"
"Di bawah nama Kerajaan Durman, menjunjung nama para leluhur keluarga Mitzrael,"
"Akan menyerahkan jiwa dan raga saya untuk menjadi perisai sekaligus pedang bagi Ashelia Rosanna Midgraff."
Bellena menutup mulutnya dengan kedua tangan saat mendengar sumpah kesatria tersebut. Sebuah sumpah yang mungkin hanya dilakukan oleh kesatria di lingkungan keluarga kerajaan. Hal yang sangat jarang terjadi karena bayarannya adalah kebebasan.
Namun Ashley hanya tersenyum sinis setelah mendengar hal itu. Bukan karena menganggap remeh sumpah pria itu, melainkan karena sasarannya adalah 'Ashelia' yang jelas-jelas bukan dirinya.
Dilepaskannya Alais kemudian. Lalu, bukannya berdiri, pria itu justru berlutut sambil menundukan kepalanya. Ia menunggu jawaban dari wanita yang bahkan tidak mengetahui adat tersebut.
Masih tidak sepenuhnya percaya, Ashley hanya menatapnya diam. Ia memikirkan apakah ada sesuatu dalam kata-kata sumpah pria itu yang nantinya bisa diputar balik.
Rasanya sama seperti saat pertama kali bertemu Bellena, sangat sulit mempercayai orang asing dalam kondisi di mana ia tidak tahu siapa musuhnya.
Namun satu hal yang pasti. Hal yang akan langsung membuat sumpah itu tak ada artinya.
"Gua bukan Ashelia." Ucap Ashley tanpa ragu yang langsung membuat Alais mengangkat kepalanya.
__ADS_1
"I'm the one who's gonna kill her."
Wanita itu tersenyum, menatap ke bawah melihat pria yang berkata ingin melindungi Ashelia. Dari sorot mata Ashley tergambar jelas kesungguhannya yang ingin membalas dendam. Alais bahkan merasa seakan ia terhisap ke dalam lubang hitam kebencian yang ditunjukan wanita tersebut.
"Jadi kita slesein di sini."
Kembali mengangkat pedangnya dan mengacungkan bagian ujungnya ke depan wajah Alais, Ashley menantang pria yang masih berlutut itu untuk berduel. Namun berbeda dengannya, pria itu sama sekali tidak ingin melawan Ashley. Ia justru sedang memikirkan hal lain.
Benarkah nonanya itu bukanlah Ashelia? Atau ia hanya ingin berubah dan meninggalkan dirinya yang lama?
Di satu sisi, wanita di hadapan Alais memang terasa lebih seperti iblis yang merasuki tubuh manusia. Namun di sisi lain, amarah yang Ashley tunjukan saat ia mencurigai Vincent, keberanian wanita itu memerangi musuhnya, dan perasaan kompleks yang tersimpan jauh di dalam diri Ashley, adalah alasan mengapa kesatria tersebut mengucapkan sumpahnya.
"Kalau memang demikian,"
Di peganglah pedang Ashley oleh pria tersebut, yang kemudian diarahkan ke jantungnya sendiri. Darah di telapak tangannya mulai menodai pedang tersebut. Darah yang keluar karena Ashley sempat sedikit menarik pedangnya secara spontan.
Kembali mendongak untuk melihat sosok wanita yang akan menjadi 'hidup'nya, dan tanpa melepas genggamannya, Alais melanjutkan ucapannya.
"Ijinkan saya mendampingi pribadi yang tengah berdiri di hadapan saya saat ini."
Senyuman Ashley telah menghilang. Aura kebencian dan hasrat balas dendamnya juga telah menghilang. Namun itu juga tidak bisa dikatakan sebagai hal baik, karena kesan dingin yang terpancar dari wanita itu sangatlah kuat.
Ashley sebenarnya adalah orang yang cukup emosional dan sangat peka. Ia sengaja menutup hatinya dan bersikap gila untuk menghalangi orang-orang menipunya. Akan tetapi, orang-orang seperti Alais tetap bermunculan. Entah apa yang ada di dalam otak mereka, hingga begitu mudahnya menyerahkan nyawa mereka kepada wanita tersebut.
Seperti 4 regu yang ia pimpin pertama kali.
Jika akhirnya tetap mati, kenapa tidak sekarang saja? Sebelum kematian itu menjadi lebih sulit diterima?
Perlahan, Ashley menekan pedang yang ada di tangan kanannya. Mengetahui hal itu, kesatria tersebut kemudian melonggarkan genggamannya, membiarkan Ashley berbuat semaunya.
Tanpa terhambat oleh apa pun logam tajam tersebut mulai menusuk kulitnya, menembus seragam tebal yang ia kenakan. Alais sama sekali tidak melakukan perlawanan, namun ia juga mulai merasa ragu.
Bukan keraguan akibat menyesali tindakannya, namun karena ia tidak tahu apakah ia harus tetap diam atau menghentikan tindakan Ashley. Tujuannya adalah melindungi Ashley, namun jika ia justru mati dan akhirnya Ashley harus kembali berjuang sendirian, itu tidak akan ada bedanya.
__ADS_1
Saat ia menutup kedua matanya, berharap Ashley memberinya kesempatan,
"Jantung lo punya gua."
wanita itu berhenti.
Sempat tertegun dan kembali menatap nonanya saat menyadari Ashley telah menerimanya, Alais kemudian menundukan kepalanya.
"Seluruh hidup saya milik Anda, Nona." Jawabnya tanpa ragu.
Meski akhirnya kematian orang itu akan menjadi lebih sulit diterima seiring berjalannya waktu, Ashley masih ingin melihatnya hidup.
Setidaknya, ia ingin orang yang berani mengorbankan nyawa mereka demi dirinya, bisa hidup 1 hari lebih lama.
Langsung berbalik dan mengambil tongkatnya, Ashley melanjutkan langkahnya menuju kereta kuda mereka. Lalu, melihat Ashley yang telah menerima kesatria tersebut, Bellena pun ikut menganggapnya sebagai 'rekan' kembali.
Perlahan berdiri dan mengikuti langkah kaki Ashley, Alais melirik ke arah Bellena yang mengulurkan sapu tangan ke arahnya. Dapat dilihatnya sapu tangan tesebut telah diolesi minyak yang memang membantu membersihkan sekaligus menutup luka.
"Terimakasih." Ucapnya sambil tersenyum yang hanya dibalas anggukan oleh Bellena.
Sambil menekan luka di bawah rahangnya menggunakan sapu tangan Bellena, ditatapnya gadis pirang yang berjalan dengan begitu tegap di depannya. Raut wajah Ashley masih terus terngiang dalam benaknya.
Meski hanya sekejap, namun kesedihan di mata Ashley saat itu terlihat begitu jelas. Seperti duka mendalam yang tidak mampu ia lepaskan sepenuhnya.
...****************...
Sesampainya di kereta kuda, Ashley langsung masuk ke dalam.
'Balik', hanya satu kata perintah itu yang terdengar setelahnya. Tidak ada lagi, bahkan hingga hari mulai berganti.
Bukan hanya Alais, Bellena pun dapat merasakan api semangat Ashley yang biasanya terus meluap, kini pergi entah ke mana. Ashley hanya memutuskan untuk istirahat selama seharian penuh.
Lalu keesokan harinya, ia lupa jika ia memiliki janji untuk kencan dengan seseorang. Si anyelir putih pengangguran tidak berguna yang sudah menunggu di lantai bawah.
__ADS_1
.................. Bersambung .................