
Bertahun-tahun menjadi teman putra tunggal pangeran ke-3, ia tahu betul kebiasaan Daryl.
Dari yang awalnya hanya berteman karena perintah orang tuanya dan berakhir menjadi sahabatnya, dari yang menemaninya saat di akademi sampai menjadi asistennya setelah diangkat sebagai marquis, laki-laki berambut merah itu hanya pernah melihat Daryl bersemangat saat hendak bertemu dengan ibunya.
Namun setelah kepergian ibunya, Daryl tidak pernah tersenyum lagi. Kemudian setelah memiliki jabatan sendiri, ia hanya fokus pada pekerjaannya.
Karena itu,
"Kau bisa istirahat. Lanjutkan lagi besok."
"Anda mau kemana?"
"Aku masih belum menyerah, kau tahu."
perubahan sifat yang teman masa kecilnya tunjukan itu membuatnya merasa aneh.
Seorang penggila kerja sepertinya, yang tidak akan berhenti sebelum ia mendapat hasil, tiba-tiba sering sekali berhenti di tengah jalan.
Sebenarnya laki-laki itu sangat penasaran dengan apa yang dilakukan tuannya, namun ia menahan diri untuk tidak mengganggunya. Sudah lama sejak terakhir kali tuannya menjadi antusias terhadap sesuatu.
...****************...
Sesampainya di sana, Daryl mencari dengan lebih berhati-hati menelusuri setiap ruangan untuk mencari gadis yang mempu membuat jantungnya berdegup cepat karena rasa takut.
Hingga akhirnya ia berada di antara kerumunan itu. Ia mencoba menerobos masuk setelah mendengar suara seorang wanita. Suara seseorang yang terdengar lumayan familiar di telinganya.
"Hey, ga perlu sungkan-sungkan. Atau,"
"Kemampuan lo emang ga sebagus yang gua kira?"
Wanita yang ia cari kini berada di hadapannya. Dengan setelan celana rapi sekaligus elegan. Ia baru menyadari jika Ashley mengenakan tongkat dan kaki palsu di kaki kirinya. Ia pun sadar jika orang yang kemarin ia kira sebagai orang lain itu sebenarnya memang Ashley.
Meski penampilan wanita itu berbeda dan wajahnya tertutup topeng, Daryl bisa mengenali suara dan juga kedua matanya. Mata yang menatapnya tajam seolah hendak membunuhnya saat itu. Terlebih lagi, mata dengan bercak kehijauan juga bukanlah warna mata yang umum dijumpai.
"Kupikir kau datang untuk menyumbang. Kenapa berusaha menang?" Tanya laki-laki yang menjadi lawan Ashley.
"Hah? Mana ada gua berusaha?" Jawab Ashley dengan nada menghina yang disambut dengan tawa oleh lawannya.
"Jangan bilang kemarin kau sengaja membiarkanku mengalah dan menang untuk mengetesku?"
Ashley tersenyum, kemudian membuka kartunya, menunjukan kepada siapapun yang ada di sana kalau dialah yang memenangkan permainan itu.
__ADS_1
"Gua suka orang yang cepet paham kesalahannya."
Meski kalah dan kehilangan 200 koin emas, laki-laki itu masih terlihat tenang. Ia justru terhibur dengan ledekan yang diberikan oleh Ashley.
"Bagaimana bisa seseorang menjadi sesombong ini dalam semalam?" Ucapnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Oh, don't get me wrong."
"Gua sombong dari awal." Lanjut Ashley.
Setelah bermain cukup lama, permainan mereka pun berakhir dengan kekalahan pada Ashley yang kehilangan semua uang yang ia bawa hari ini. Orang-orang pun menjadi sangat antuasias dan ingin mencoba bermain karena merasa lebih hebat darinya.
Lawan Ashley menundukan wajahnya sambil tersenyum. Meski menang, ia sadar bahwa ia justru berhutang pada Ashley. Wanita yang telah membantunya meningkatkan antusias penonton di sana.
Saat salah seorang dari mereka hendak duduk di kursi yang baru saja ditinggalkan Ashley, seseorang menarik kerah belakang orang itu, mencegahnya untuk duduk.
Memang bukan hanya dia yang berebut kursi, namun akhirnya ialah yang berhasil duduk di sana. Ia kemudian meletakkan 500 keping koin yang setara dengan 1,250 koin emas di meja.
Orang-orang yang hendak protes karena merasa pria itu telah merebut kursi mereka, membungkam mulut mereka setelah melihat jumlah taruhan yang ia siapkan dalam 1 permainan. Lawannya pun dibuat tercengang olehnya.
Umumnya, pemain hanya menaruh 2-20 keping koin tiap satu kali permainan untuk menghindari resiko.
Hanya Ashley yang bertaruh hingga 50 atau bahkan 200 keping koin dalam sekali permainan. Itu juga karena dipancing oleh laki-laki itu saat Ashley bilang ia adalah orang baru, membuka kemungkinan bahwa wanita itu belum mengetahui kebiasaan di sini.
Namun kemudian,
"Nona." Panggil Daryl mencoba membuat Ashley kembali.
Ashley menoleh.
"Ajari aku bermain dan semua kemenanganku akan kuberikan padamu." Lanjutnya.
Dengan penuh percaya diri Daryl menyerahkan semua keuntungan yang akan ia dapat kepada Ashley. Seluruh orang di sana menantikan jawaban dari wanita itu, meski sebenarnya mereka yakin Ashley akan menerima tawaran tersebut. Orang bodoh mana yang akan menolak kesempatan seperti ini?
Ashley.
"Ga. Bye."
Dengan jawaban tersingkat yang bisa ia ucapkan.
Jawaban yang keluar dari mulut wanita itu membuat Daryl tercengang, begitu pula orang-orang yang ada di sana. Mereka kemudian berebut menawarkan diri untuk menggantikan Ashley menggajari Daryl.
__ADS_1
"Tunggu!"
Tanpa menghiraukan orang-orang itu, Daryl mengambil kembali koinnya dan pergi mengejar Ashley.
Namun kantong koin itu tertahan oleh tangan lawan bermainnya. Bukan berniat untuk menahan Daryl pergi, orang itu pun melepaskan tangannya.
"Hati-hati." Ucapnya memperingatkan Daryl sambil tersenyum.
Laki-laki itu merasa Ashley datang dengan sebuah alasan, bukan semata-mata ingin menghabisakan uangnya. Ia juga sangat yakin Ashley menyembunyikan senjatanya mengelabuhi orang-orang yang memeriksa senjata di balik pintu masuk. Pemeriksaan itu hanya mengambil senjata yang terlihat.
Memang hanya instingnya, namun insting laki-laki itu juga sama kuatnya dengan Ashley. Bagi para pemain hebat, bukan hanya strategi dan kecepatan tangan yang mereka butuhkan namun juga insting.
Benar, meski diperiksa, senjata Ashley tidak akan ditemukan, kecuali mereka menginspeksinya secara teliti.
"Nona, tunggu!"
Ashley menoleh dan melihat langkah kaki Daryl melambat mendekatinya.
"Bermainlah denganku."
"Chip gua abis. Lo liat sendiri. Now f*ck off." Jawabnya kemudian berbalik dan berjalan pergi.
"Kalau begitu pertaruhkan namamu."
"Maksudku- jika kau kalah sebutkan namamu. Nama panggilan saja tidak masalah." Jelasnya berusaha membuat Ashley tidak salah paham.
Ashley kembali berbalik sekali lagi sambil minyilangkan tangannya. Ia kini menatap Daryl sambil tersenyum. Wanita itu kemudian memiringkan kepalanya sedikit dan berkata,
"OK."
"No witness." Lanjutnya yang dijawab anggukan oleh Daryl.
Daryl pun pergi untuk menyewa ruangan. Ashley memastikan ia berada di posisi dimana ia tidak akan bisa diserang secara diam-diam, sebelum akhirnya memperhatikan Daryl dari kejauhan.
Tatapannya lurus tajam memperhatikan setiap gerakan yang Daryl lakukan. Meski hanya sedikit mengangkat jari kelingkingnya, atau jumlah kedipan matanya tidak akan luput dari pengawasan Ashley.
Laki-laki itu terus tersenyum sambil menunggu pegawai di depannya mencarikan ruangan yang belum disewa. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk meja konter karena terlalu bersemangat tidak sabar menunggu.
Namun gerakan itu justru diartikan berbeda oleh Ashley. Di mata wanita itu, setiap gerakan bisa berarti kode untuk menyampampaikan informasi kepada orang lain.
Setelah mendapatkan ruangan mereka, Daryl menghampiri Ashley untuk menginformasikannya.
__ADS_1
"Shall we go?" Ajak Daryl.
^^^Bersambung...^^^