
Berjalan dengan diikuti Alais dari belakang, Ashley memasuki bangunan yang baru saja ia tinggalkan beberapa saat lalu. Pergi dengan raut wajah bahagia, wanita itu kembali dengan ekspresi dingin bercampur kesal, layakanya seorang pelanggan yang menjadi korban penipuan.
Tidak seperti sebelumnya, Ashley masuk ke sana dengan mudah sekarang. Tidak lagi menghalang-halangi, para pekerja di sana justru memberinya hormat karena status wanita itu tiba-tiba melambung setara dengan bos mereka.
Melihat kedatangan Ashley dari kejauhan, penjaga yang berada di depan ruangan bos mereka langsung memberitahukan hal tersebut kepada atasannya.
Dibukakanlah pintu itu kemudian atas izin dari pemilik ruangan.
"Kau melupakan sesuatu? Jangan membuatku berpikir kalau kau merindukanku." Sambut petinggi area hiburan malam tersebut.
Berjalan masuk kemudian duduk di kursi yang sebelumnya ia tempati, Ashley terlihat seperti sedang mempertimbangkan sesuatu. Di saat bersamaan, pintu di belakangnya pun kembali ditutup, membiarkan kesatria yang mengawal wanita tersebut tertinggal di luar.
Sejujurnya hal itu sangat membuat Alais tidak tenang. Namun demi kelangsungan urusan nonanya, ia hanya bisa menunggu dengan siap siaga.
"Gua mau mastiin sesuatu." Ucap Ashley bersandar pada pegangan kursi sembari mengusap bibirnya dengan ujung jari.
"Mulai sekarang gua bakal sering ke sini, kan?"
"Tidak perlu sering, sesekali saja tidak masalah." Jawab laki-laki di hadapannya.
"Jika tempatmu sudah siap kau bisa menetap. Tapi kalau kau ditempatkan di tempat lain, jangan lupakan orang yang membawamu masuk."
Ashley terdiam, sibuk mencari jawaban atas keraguannya. Jari telunjuk kirinya mengetuk-ngetuk pegangan kursi, menandakan ia sedang berpikir dengan terburu-buru.
Setelah beberapa detik, akhirnya bibir wanita itu kembali terbuka.
"Emang ga bisa." Ujarnya yang sedikit membuat rekannya bingung.
"Gua ga jadi masuk, balikin duit gua."
Dengan begitu entengnya, wanita tersebut mengatakan hal itu. Merasa sedikit tidak percaya, pria di hadapannya pun terkekeh.
"Kau bercanda?" Tanyanya sambil tersenyum tawar.
"Menurut lo gua bercanda?"
__ADS_1
Dengan wajah seriusnya, Ashley membuat senyuman lawan bicaranya itu memudar.
"Kau akan menyesal jika aku tidak menganggapmu bercanda."
"Lo yang bakal nyesel kalo nganggep gua bercanda."
Saling melempar jawaban yang mengandung ancaman, keduanya sama-sama tidak ingin kalah. Setelah beberapa saat melanjutkan perselisihan mereka melalui tatapan mata, akhirnya pria itu memutuskan untuk menuruti keinginan Ashley.
Diberikanlah sekantung uang yang wanita tersebut bayarkan tidak sampai 1 jam lalu. Melihat betapa mudahnya ia mendapatkan uang itu kembali, Ashley pun mengecek isi kantung tersebut terlebih dahulu. Tidak menghitung jumlahnya, ia hanya memastikan jika kantung tersebut tidak diisi dengan hal lain.
"Tapi, Nona Hazel." Sela pria itu kemudian, dengan memanggil nama palsu yang Ashley berikan.
"Tidakkah kaupikir kau sudah tahu terlalu banyak?"
Memandang orang di hadapannya dengan tatapan malas Ashley sudah menduga situasinya akan berakhir seperti ini.
Empat orang yang berada di samping dan belakang wanita itu pun mulai bergerak guna mengepungnya. Pria tersebut masih duduk di sana dengan begitu tenang, dan kedua pengawal di belakangnya juga masih tidak bergerak.
Dari tempatnya duduk, Ashley dapat melihat dengan jelas wajah kecewa dan marah si Kurir yang merasa terkhianati. Dari Guilherme sampai dirinya sendiri, entah kenapa banyak sekali orang yang marah kepadanya hari ini.
"Gua juga belom pengen ketauan."
Ditendangnya kursi kosong yang ada di sebelah kiri oleh Ashley, mendorong mundur salah satu pengawal yang mencoba menangkap wanita tersebut. Tidak bisa menghalangi keempat orang itu sekaligus, seseorang di belakangnya pun berhasil meraih pundak Ashley.
Pria itu berniat mendorongnya ke meja yang ada di depan Ashley, namun wanita itu lebih 'licin' dari orang pada umumnya. Menyembunyikan lengan kirinya agar tidak tertangkap, Ashley kemudian menggenggam tangan orang yang menyentuhnya dan menariknya ke depan.
Tarikan tangan Ashley ditambah dengan dorongan laki-laki itu, menguatkan gaya dorong si pengawal hingga mampu membuatnya terperosok ke sela-sela meja dan kursi. Dengan kaki terayun di udara, orang itu sedikit kesulitan untuk kembali berdiri.
Saat sibuk mengurus satu pengawal, pengawal lain juga tidak bisa Ashley abaikan. Berhasil menghambat 2 pengawal, orang yang juga berada di belakang Ashley langsung memanfaatkan momen lengah wanita tersebut.
Dikuncinya leher Ashley menggunakan lengannya yang kekar. Menggenggam tongkatnya, wanita itu pun menusukkan bagian ujungnya beberapa kali ke perut kiri orang yang menangkapnya. Namun seolah tidak memberi efek, laki-laki tersebut tidak bergeming dan justru semakin menguatkan kunciannya.
Wajah Ashley mulai terasa terbakar karena peredaran darahnya terhambat. Tidak memiliki banyak waktu, diambillah pisau belati yang baru dibelikan pelayannya tadi siang. Memiringkan kepalanya ke samping sekuat tenaga, Ashley berusaha membuat celah agar pisau itu bisa mengarah ke leher lawannya.
Melihat sebuah benda berkilau mengarah ke wajahnya, pria tersebut berusaha menghindar ke samping. Namun sialnya, hal itu justru membuat tusukan Ashley yang seharusnya sedikit meleset di rahang, menjadi tepat sasaran karena ia membuka lehernya.
__ADS_1
Menarik pisau yang tertancap tersebut ke samping, Ashley membuat leher lawannya terkoyak.
Terlepaslah kuncian tersebut, membebaskan Ashley dari krisis. Kemudian, dengan cepat Ashley memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berlari ke arah pintu.
Melihat wanita itu mengeluarkan pisaunya, 'mantan rekan' Ashley dibuat terkejut. Benar memang dirinya dan Alais melewati tempat pemeriksaan senjata. Namun saat ia kembali lagi, tidak ada yang berani mengeceknya.
Alhasil, kelima pengawal yang lain pun lebih memprioritaskan untuk menghalangi Ashley mendekati bosnya, ketimbang menghalanginya kabur.
Kini 2 orang yang lain, yang sebelumnya hanya diam di belakang bos mereka juga ikut turun tangan.
"Kau pikir kau bisa lari? Orang-orangku sudah menunggumu di depan pintu."
"Sejak awal, keputusanmu-"
Ucapan si Pemilik Ruangan terhenti saat Ashley tiba-tiba tertawa. Bukan berusaha lari, wanita itu pergi ke satu-satunya pintu keluar di sana justru untuk menghalangi siapa pun melarikan diri.
Menegar jawaban tersebut, tentu si Bos merasa ada yang salah dengan otak Ashley. 1 banding 5, meski menggunakan senjata tetaplah hal yang sangat sulit di lakukan.
Sejujurnya Ashley tidak ingin mengeluarkan senjatanya terlebih dahulu sebelum mereka menunjukan benda apa yang akan mereka gunakan. Namun setelah melihat Ashley menggunakan pisau pun mereka masih ingin bertarung dengan tangan kosong?
Tanpa menunggu tawa laki-laki paruh baya yang sok tenang di hadapannya selesai, Ashley langsung melemparkan pisau yang digenggamnya.
Tertancap tepat di dada pengawal yang berada di samping si Kurir, pisau itu tidak langsung merenggut nyawa targetnya. Namun di sisi lain, benda itu mampu membungkam tawa orang yang sedari tadi hanya duduk diam di kursinya.
Mulai menunjukkan amarahnya, orang itu pun akhirnya berdiri. Mendekati pengawalnya yang terluka, ia kemudian membungkuk. Bukan untuk membantunya, berterima kasih, ataupun memberi penghormatan. Orang itu hanya ingin mencabut pisau Ashley, membuat pengawal yang meregang nyawa tersebut semakin terluka dan memperparah pendarahannya.
Menyaksikan tindakan tersebut, si Kurir hanya bisa mengeratkan giginya. Dari situ Ashley mulai mengerti ketidak seimbangan yang ingin dirubah kurir itu.
Dengan membawa pisau Ashley, bos mereka kemudian melemparkan pisau tersebut. Mengarahkan lemparannya ke satu-satunya orang yang menjadi targetnya, ia pikir ia mampu mengakhiri hidup Ashley.
Namun layaknya orang yang sedang bermain-main, pisau itu jatuh seperti lempengan baja biasa. Tidak menyentuh Ashley dan tidak menancap di mana pun. Pria itu pikir, semua orang bisa melempar pisau.
Tidak ada yang tertawa ataupun meledek, Ashley bahkan terlalu terkejut untuk merespon, namun pria tersebut menjadi jauh lebih kesal dari sebelumnya.
"Bunuh dia!!!"
__ADS_1
.................. Bersambung .................