
"Sial."
Tidak menyangka mereka akan ketahuan saat hanya sejenak menurunkan kewaspadaan, Will merasa telah melakukan kesalahan bodoh.
Memang tidak ada tempat persembunyian di lorong tersebut, namun jika ia menyadarinya lebih awal, ia bisa menunggu di balik dinding dan melakukan penyergapan saat mereka menampakkan diri.
Harusnya tidak seperti ini. Jika seperti ini nyawa Eva akan berada dalam bahaya. Bahkan hanya satu orang gadis yang membawa senjata di antara mereka.
Apa yang harus ia lakukan untuk menghindari kepungan? Baik terkepung di sana ataupun tersesat karena melarikan diri dengan rute lain, sama-sama akan mengantarkan mereka pada kematian.
Saat pikiran pria itu dipenuhi dengan pertimbangan-pertimbangan dalam tiap milidetiknya, sesuatu melintas dengan cepat dari sisi kirinya.
Suara langkah kaki berseling dengan ketukan kayu. Rambut panjang keemasan yang terurai, menari di udara mengikuti irama langkahnya. Dengan kibasan mantel bernuansa laut dalam dan sebilah pedang di tangan, sang malaikat maut menyeringai.
Melihat tawa wanita gila yang tengah menjadi topik perbincangan hangat teman-temannya, membuat si Pengawas Gudang bergidik.
"Tunggu-"
Mengejar musuh di dalam markas mereka adalah hal yang ceroboh. Jika orang itu berlari menghampiri temannya, maka Ashley akan terkepung sendirian.
Mengejar dan berniat menghentikan gadis liar tersebut, Will kemudian mengganti targetnya setelah beberapa langkah berlari. Merasa ia tidak akan mampu menghentikan Ashley, ia pun memutuskan untuk mengalahkan petugas tersebut sebelum orang itu melukai gadis pirang di depannya.
"TOLOONG!"
Beresiko memang, tapi melihat musuhnya sangat ketakutan membuat Will merasa memiliki peluang. Dan lagi, jika ia berhasil mengalahkan petugas tersebut, ia juga bisa mendapatkan senjata.
Mempercepat gerakannya, Will berlari mendahului Ashley. Dengan tujuan berbeda, tenaga yang ia kerahkan pun berbeda.
Sebelum laki-laki itu bergabung dengan komplotannya, dan sebelum bala bantuan datang, aku harus-
Waktu melambat. Suara pun mulai berubah menjadi dengungan berat. Semua pergerakan, dari yang terkecil hingga yang terbesar mulai terlihat dengan jelas.
Konsentrasi Will meningkat. Setiap kali ia dikejutkan oleh sesuatu, hal ini selalu terjadi. Seolah-olah, ia ingin merekam semua kejadian tanpa ada satu pun yang terlewat. Kinerja otak yang meningkat pesat, mengijinkannya memikirkan segala sesuatu hanya dalam hidungan detik.
Dan faktor yang menjadi pemicu fenomena itu adalah,
__ADS_1
...Ashelia?
melihat Ashley melewatinya dari sisi kiri dengan melompat bak dalam film laga.
Ia sudah mendengarnya. Rumor yang menceritakan mengenai hal-hal gila yang dilakukan Ashley. Bahkan Daryl pun mengakui kemampuan wanita itu hingga sering merasa berkecil hati.
Memang karena itu ia meminta tolong kepadanya untuk membantu membebaskan Eva, namun melihatnya secara langsung tetaplah sangat mengejutkan.
Ringan seperti kupu-kupu. Cepat seperti burung elang. Dan mematikan seperti gorila.
Gorila? Kenapa gorila? Karena kebrutalan Ashley sangatlah tidak menawan.
Setelah melompat guna memperpendek jarak mereka, Ashley memutar tubuhnya di udara lalu melayangkan sebuah tendangan. Memanfaatkan kaki kayunya yang keras, ia menendang sisi kanan kepala petugas tersebut sekuat tenaga, menghantamkan tengkorak pria malang tersebut ke dinding batu yang tak kalah lembut.
Bukan lupa membawa pedang, ia hanya tidak merasa perlu menggunakannya. Hal yang ia lupakan justru kaki kayunya yang sudah tidak dalam kondisi baik.
Mendarat dengan sedikit kasar setelah berakrobat ria, Ashley mengecek keadaan kaki palsunya yang kini sedikit bengkong.
Mengeluarkan sedikit umpatan untuk mengekspresikan perasaannya, Ashley kemudian berjalan menghampiri musuhnya.
Pingsan dalam keadaan bersimbah darah, tidaklah cukup untuk memastikan ia tidak akan menyerang lagi nanti. Meski jika dibiarkan orang tersebut akan berpulang, namun wanita pirang itu tidak ingin mengambil resiko dengan membiarkan seorang penyintas.
Melihat darah segar menyembur bebas di samping seorang gadis yang tengah membersihkan pisaunya tanpa terganggu, mengingatkan Will akan pembicaraan orang-orang yang menangkapnya. Meski tidak secara detail, namun kesan tak nyaman yang mereka tunjukkan sangatlah jelas, seolah Will datang di waktu yang tidak tepat.
Bukan kesatria, bukan penjagal, bukan pula pembunuh bayaran, lalu sebutan apa yang tepat untuk seorang putri bangsawan yang terbiasa melakukan hal seekstrim ini?
Menoleh ke belakang Will teringat dengan keberadaan Eva.
Akan tetapi, wanita itu sama sekali tidak menunjukkan adanya keterkejutan di raut wajahnya. Meski tidak biasa melakukan, namun Eva sudah terbiasa menyaksikan hal semacam ini. Fakta yang membuat Will tidak tahu apakah ia harus merasa lega atau sedih.
Terlepas dari itu,
"Kau tahu tindakanmu sangat beresiko?" Ujar satu-satunya pria bernyawa di sana.
"Jika mereka mengepungmu-"
__ADS_1
"Stop chickening out." Sela Ashley tidak peduli.
Terkejut dengan pemilihan kata Ashley saat ia hanya berusaha melindungi wanita tersebut, Will dibuat kesulitan mencari kata-kata.
"You're too reckless." Ungkap pria itu kemudian, sambil mengernyitkan dahinya.
"Apa kau sadar kau juga menempatkan Eva dalam bahaya?"
"Kalian terlalu santai sejak awal. Seriuslah sedikit." Tambahnya.
Bangkit perlahan sambil mengambil barang jarahannya, Ashley kemudian memberikan tatapan tak gentar miliknya. Dengan ekspresi wajah serius ia berkata,
"Lo pikir gua ke sini buat makan-makan?"
Melarikan diri dari penyekapan hingga babak belur, membebaskan Eva dari kandang, mencari sekutu dengan mendatangi orang yang baru saja tertangkap, adalah bukti nyata keseriusannya. Meski ia memang mendapatkan banyak kemudahan seolah telah ditakdirkan untuk lolos, bukan berarti Ashley melakukannya tanpa usaha keras.
Will pun sadar akan hal itu, tapi baginya, Ashley tetap terlalu nekad.
Entah karena Daryl, atau karena Ashley seorang wanita. Mungkin karena Eva atau karena Ashelia lebih muda darinya. Namun tak dapat dimungkiri, jika Will merasa ia harus melindungi mereka.
"There's no way we get outta here without fighting."
Berjalan melewati jasad yang telah berhenti kejang, Ashley melangkah mendekati Will dengan satu pedang baru di tangan kanannya.
"If you got no guts, scram." Tambahnya sambil berlalu melewati pria pirang di sana dan menghampiri Eva.
Jika sekutu yang ia dapatkan ternyata tidak memiliki harapan, maka lebih baik mereka pergi sendiri. Ia masih bisa menggunakan informasi mengenai Will yang melarikan diri meski berpisah jalan.
Setidaknya itu bisa mengurangi setengah personel dari komplotan yang harus ia lawan.
Menoleh ke belakang, dilihatnya oleh Will, Ashley yang kini menyerahkan pedang tersebut kepada Eva. Bukan sebagai senjata untuk melawan namun senjata untuk bertahan.
"Ga perlu dipake. Cuma perlu keliatan bisa."
Memanfaatkan akting Eva yang tak kalah dari Bellena, orang-orang yang telah melihat kemampuan Ashley pasti akan berpikir dua kali sebelum mendekati Eva. Lalu, mengetahui Will tidak akan meninggalkan Eva, sasaran pertama musuh mereka pasti akan berpindah kepada satu-satunya orang yang tak bersenjata.
__ADS_1
Sang 'Orang Penting' yang tersesat.
............... Bersambung ...............