Cinderella Gila

Cinderella Gila
Gua kan juga pengen deket sama ibu baru gua


__ADS_3

Di pagi hari, yang seharusnya menjadi pagi yang tenang bagi seseorang, justru dibuat tidak bisa bersantai karena ulah putri tirinya.


Didobraknya pintu kamar putrinya yang tidak terkunci tersebut dengan keras. Suara hantaman pintu yang terbentur ke dinding menggema di seluruh ruangan.


"Ashelia!" Teriak Marion yang tidak kalah kerasnya.


"Apa mak- sudnya gosip itu?"


Ucapan wanita itu melambat saat Ashley melirik ke arahnya. Namun karena kedatangan Marion memang sudah ia tunggu, ia memberikan sedikit kelonggaran kepada wanita yang datang dengan heboh tersebut.


Melihat Ashley tidak bereaksi, ia kembali melanjutkan niatnya datang ke sana.


"Bisa-bisanya kau menghamburkan uang untuk berjudi!"


Dalam keadaan normal, Marion akan mengatakan hal itu sambil menampar Ashelia. Namun kali ini ia sangat menjaga jarak dan berhati-hati dengan tindakannya. Ia yakin kekerasan yang ia lakukan hanya akan kembali kepadanya.


"Belanja besar-besaran, menyewa satu restoran penuh, teater, pameran, untuk apa semua itu!?"


Memang ia belanja besar-besaran minggu lalu, dan berita lama itu menguak seiring dengan meningkatnya ketenaran Ashley. Ia juga pergi ke restoran kemarin, namun tidak menyewa satu gedung penuh.


Saat beberapa gosip itu sengaja dibesar-besarkan, gosip yang lain adalah fakta yang disalah sasarkan kepadanya. Entah kenapa, semua tindakan hedonisme orang lain juga menjadi miliknya.


Marion yang juga selalu melihat Ashley saat pulang dari kasino, siap menggunakan kesaksiannya jika Ashley mencoba untuk mengelak.


Meski sebagian besar gosipnya salah,


"Ngapa emang?"


tapi Ashley sama sekali tidak mengelak.


"Itu uang gua." Jelasnya singkat.


Marion yang memang tidak mengetahui apakah ada tagihan atas nama Ashelia yang masuk ke kediaman mereka atau tidak, tidak mampu menyangkalnya. Ia tidak dapat membuktikan bahwa uang yang digunakan Ashley bukanlah uang pribadi Ashelia.


Tentu itu uang Ashley. Uang hasil menjual perhiasan Ashelia, yang kemudian dikembangkan dari hasil judi. Uang yang Ashley dapatkan adalah uangnya, dan uang bulanan Ashelia juga adalah uangnya.


Terserah padanya mau diapakan uang tersebut, karena itu adalah uangnya. Namun bagi seseorang yang merupakan bagian dari keluarga seorang tokoh yang disorot banyak orang, segala tindakan yang ia ambil akan berpengaruh pada tokoh tersebut.


"Apa kau tahu apa yang akan terjadi akibat tindakan borosmu itu!?"

__ADS_1


Tentu Ashley tidak peduli. Hidupnya di sana hanyalah sementara. Ia juga tidak peduli dengan reputasi baik. Satu-satunya pendangan yang selalu ia jaga adalah rasa takut orang lain akan dirinya.


Bellena yang memahami maksud Marion sekaligus mengetahui jika sebagian besar gosip itu tidaklah benar, mencoba membela Ashley dan menjelaskannya kepada Marion.


Namun hal itu justru membuat Marion marah. Memang tidak ada peraturan tertulis jika pelayan tidak boleh menyuarakan pikirannya, namun para bangsawan dengan harga diri mereka tidak menyukai hal itu.


Mereka merasa terhina saat seorang pelayan berani bicara tanpa ditanya terlebih dahulu. Hal itu membuat mereka merasa seakan-akan pelayan tersebut telah menyamakan derajat mereka dengannya.


Dengan topik yang sedikit melenceng, kini Marion justru beradu mulut dengan Bellena. Bukan adu argumen yang seimbang tentunya, mengingat Bellena juga tidak berani menentang Marion.


Gadis itu hanya membela Ashley karena nonanya tidak berniat menjelaskan. Jika kesalahpahaman tersebut berlanjut, jelas ia juga akan mendapatkan imbasnya.


Seiring dengan semakin meningginya suara Marion, mental Bellena semakin menurun. Bukan lagi tentang Ashley, keributan itu kini hanya terisi dengan hinaan dari Marion kepada Bellena.


Prang!


Suara pecahan kaca yang terdengar di dekat mereka itu, mampu membungkam mereka berdua. Mereka sebenarnya sudah berhenti saat melihat sesuatu terbang melintas di depan mereka.


Tanpa mengatakan apa pun, Ashley hanya melirik ke arah mereka berdua setelah melemparkan cangkir tehnya. Daripada menggunakan mulut, wanita itu lebih suka menggunakan tangannya.


Bellena langsung menundukan badannya dan meminta maaf. Ia kemudian pergi menyiapkan teh baru untuk Ashley sebelum membersihkan pecahan cangkir tersebut.


Marion yang masih terkejut, tidak mengatakan apapun. Ia bahkan tidak mampu marah atau membalas karena ia merasa itu adalah ide yang buruk.


Selagi Bellena menyeduh teh untuknya, Ashley memulai pembicaraannya dengan ibu tiri Ashelia itu.


"Lo terlalu pasif, Mar."


Bukan inti kalimatnya, namun cara Ashley memanggilnyalah yang membuatnya tercengang. Ashelia yang yang selalu memanggilnya Nyonya atas perintahnya, tiba-tiba berubah. Bukan hanya memanggil nama depannya, Ashley bahkan memanggilnya begitu saja tanpa imbuhan apa pun.


"Gua jadi yang harus mulai duluan karna lo selalu ngindarin gua."


"Gua kan juga pengen deket sama ibu baru gua." Lanjut Ashley sambil menyeringai ke arah Marion.


Mereka bertiga tahu jika hal itu hanyalah kebohongan besar. Marion pun tersenyum kaku.


"Bukankah memukul seseorang justru memberi efek yang sebaliknya?" Sindir Marion tentang kejadian saat mereka bertemu di ruang anggur.


"Oh. Gua pikir itu cara lo nunjukin kasih sayang." Ucap Ashley dengan wajah polos.

__ADS_1


"Sorry if I'm mistaken." Lanjut wanita itu yang kini memasang wajah bengisnya.


Bellena yang sesekali melirik saat mendengarkan percakapan mereka, semakin memfokuskan diri menyiapkan teh untuk nonanya saat melihat Ashley memasang wajah polos.


Bulu kuduknya merinding setiap kali mendengar ucapan Ashley yang sangat bertolak belakang, dan dibumbui dengan sikap yang berubah-ubah dengan begitu mudahnya.


Wanita itu kemudian berdiri, membuat jantung Bellena semakin berdegup kencang karena merasa akan terjadi sesuatu.


'Apa pun itu, tolong, kumohon, jangan sakiti Nyonya!'


Teriakan tidak berdaya makhluk lemah itu menggema hingga ke surga. Suara rintihan ketulusan hati seorang pelayan.


Atas keselamatannya sendiri, tentu saja.


Sambil berjalan mendekati Marion, Ashley berpikir. Mengapa orang yang jelas takut kepadanya itu kini berdiri di sana memancing pertikaian dan berusaha menceramahinya? Nyali Marion bahkan sempat menciut saat Ashley hanya meliriknya setelah menggebrak pintu.


Tindakannya jelas sangat membingungkan. Ashley bahkan tidak mengerti alasan apa yang Marion punya hingga harus memaksakan diri seperti itu.


Bukan Vincent yang memanggil Ashley dan bertanya mengenai gosip tersebut, namun Marion yang datang kepadanya. Salah satu kecurigaannya menguat.


Kepala keluarga yang lebih berhak bertindak justru hanya diam, dan istri barunyalah yang langsung mengambil tindakan meski tidak memiliki bukti jelas.


Mungkin ia sempat membicarakannya dengan Vincent. Namun entah kenapa, pembicaraan tersebut jelas tidak dibicarakan dengan serius oleh salah satu pihak.


"Lo terlalu pasif buat jadi tokoh utama." Ucap Ashley yang kini berada tepan di depan Marion.


Ibu tiri Ashelia itu spontan melangkahkan satu kakinya ke belakang saat Ashley mendekatkan wajahnya ke depan.


"Daripada sekutu, lo lebih kaya budak."


Hinaan Ashley tepat mengenai sasaran. Mata wanita di depannya membesar saat mendengar ucapan tersebut, mengkonfirmasi spekulasi Ashley yang berpikir jika Marion hanyalah pion kecil seseorang.


Hal itu memang satu-satunya hal yang dapat menjawab keanehan Marion. Sikap seakan dipaksa mengikuti perintah seseorang. Bahkan ia tidak dapat mengantisipasi saat rencananya mengalami kegagalan.


Sama halnya seperti saat pertama kali Ashley melakukan serangan balik, Marion yang kini terpojok tidak berusaha menyangkal atau pun melakukan hal lain. Ia terlihat seperti hendak mengatakan sesuatu sebelum akhirnya pergi meninggalkan kamar Ashley.


"Kalo udah puas nguping, sini." Ucap Ashley tiba-tiba sesaat setelah Marion pergi.


Seseorang kemudian muncul dari balik pintu.

__ADS_1


^^^Bersambung...^^^


__ADS_2