
Merasa energinya mulai pulih, Ashley memutuskan untuk istirahat sedikit lebih lama. Setidaknya sampai rasa sakit di sekujur tubuhnya membaik. Mengetahui besar kemungkinan baginya untuk kembali bertarung, wanita itu harus benar-benar mempersiapkan diri.
Sempat tidak sadarkan diri dua kali, Ashley tidak tahu sudah berapa jam ia terkurung di tempat tersebut. Sedangkan Eva yang sudah terlebih dahulu berada di sana sejak beberapa hari sebelum kedatangannya, apakah benar baik-baik saja?
"Mereka... ngelakuin sesuatu?"
Kebiasaan Ashley yang suka mengawali dan merubah topik secara tiba-tiba membuat Eva berpikir sejenak. Lalu setelah menangkap maksud pertanyaan si Pirang, ia merasa sedikit ragu untuk menjawabnya.
"...aku sudah biasa melakukan itu, jadi bukan masalah."
Benar. Itu memang hal yang sudah biasa Eva lakukan. Lalu apa yang membuatnya berbeda kali ini?
Memalingkan wajah ke samping, Ashley mengeratkan giginya menahan amarah yang bergejolak dalam dirinya. Dadanya terasa begitu sakit saat ia berusaha keras menekan perasaan tak nyaman yang sangat sulit ia kendalikan.
Hingga lengan Eva kemudian memeluknya lembut.
"Aku baik-baik saja."
"Membayangkanmu akan memberi mereka pelajaran sudah membuatku puas."
Memiliki marga yang sama dengan Ashley membuat Eva semakin menganggap wanita pirang tersebut sebagai adiknya. Dan kakak mana yang tahan jika melihat adiknya bersusah hati?
"Daripada itu, bagaimana kau mengenal Daryl? Dia bukan orang yang suka bersosialisasi, kan?"
Melihat ke arah Eva yang tersenyum polos setelah secara terang-terangan mengalihkan pembicaran, Ashley hanya bisa menghela napas.
Mengikuti arus pembicaraan wanita tersebut, si Pirang perlahan mulai bertanya mengenai Daryl. Mulai dari sifatnya yang dulu, teman-temannya, apa yang tidak ia sukai, hingga tentang keluarganya.
Bukankah aneh? Bagi orang seperti Ashley menanyakan hal-hal pribadi yang tidak ada hubungannya dengan rencana mereka? Ia terkesan seperti hanya ingin tahu lebih banyak mengenai pria itu.
"Apa kau menyukainya?" Tanya Eva sebelum menjawab pertanyaan terakhir Ashley.
"Ya."
Dijawab dengan begitu cepat dan tanpa ragu, Ashley membuat Eva semakin terkejut. Ia pikir orang yang tidak pernah ingin terlihat lemah tersebut akan mengelak. Terlebih saat wanita itu baru saja mengira Eva adalah tunangan Daryl.
__ADS_1
Tidak lagi merasakan sesak dalam dadanya saat Eva membicarakan tentang sang Marquis, Ashley paham. Terserah apa yang dirasakan orang lain terhadap pria itu, ia hanya bereaksi pada perasaan Daryl kepada wanita lain.
Lagipula tidak ada gunanya mengelak. Bisa memiliki atau tidak juga bukan masalah baginya. Toh ada batasan antar dunia yang tidak bisa ia lewati.
Ia hanya ingin sedikit lebih mengenal Daryl.
"Tapi, jika mengenai keluarganya... kupikir lebih baik Daryl sendiri yang menceritakannya." Jelas Eva kemudian.
"Dia ga bakal jawab."
"Bagaimana kau tahu?"
Mendengar dari ceritanya, Eva yakin bahwa Daryl sangat menyukai Ashley. Jika wanita pirang tersebut menanyakannya langsung kepada orang yang bersangkutan, Daryl sudah pasti akan menjawabnya.
"Mungkin." Lanjut Ashley yang mulai berpikiran sama.
"Gaenak juga gua nanya begituan."
"Aku pun merasa tidak berhak untuk menceritakannya."
"Tapi sebagian orang tidak menyukainya."
Bersikukuh mempertahankan moralnya, Eva tetap tidak ingin mengatakan apa pun yang seharusnya menjadi privasi orang lain.
"Jadi lo mau ngasi tau apa ga? Gua coret lo dari Miller."
"Tentu saja akan kuberi tahu." Jawab Eva cepat tanpa pikir panjang.
Hey, hey Eva, ke mana perginya keteguhan hatimu yang menjunjung tinggi nilai moral barusan?
Nama belakang Daryl sebenarnya adalah Grekstine, namun kemudian berubah menjadi Ristoff karena diambil dari nama ketiga ayahnya 'Ristoff Grekstine'. Pangeran ketiga melakukan hal itu untuk menjauhkan putranya sejauh mungkin dari garis keturunan kerajaan.
Membiarkan keluarga Grekstine berakhir dalam satu generasi saja, pangeran ketiga ingin setidaknya Daryl hidup satu langkah lebih aman. Lalu, karena mengetahui hal tersebut, Daryl selalu mengikuti perintah ayahnya terlepas dari rasa tidak sukanya terhadap Duke Grekstine.
Hidup di dunia yang penuh perselisihan dan mencintai pertikaian, kedua ayah dan anak tersebut hanya bisa mengawasi punggung satu sama lain.
__ADS_1
Dalam novel yang dibaca Ashley, pangeran ketiga adalah orang yang licik, oportunis dan dianggap pengecut karena selalu melarikan diri saat masalah membesar. Mengingat Daryl tidak banyak disinggung dalam perselisihan tersebut, rencana Duke Grekstine dalam mengamankan putranya pasti berjalan dengan lancar.
Sifatnya sebagai pelindung bertopeng penjahat tersebut sangat mirip dengan Ashley yang juga diam-diam menjaga keluarga para bawahannya yang telah gugur. Alasan mengapa terdapat dokumen silsilah keluarga di ruangannya, dan alasan kenapa ia pernah menghajar salah satu anak buahnya hingga sekarat.
Bukan tanpa pemicu, pangeran ketiga melakukan hal itu setelah kasus kematian istrinya. Saat berada di area kediaman Duke Derius, setelah selesai berbincang dengan pangeran kedua, wanita kesayangan keluarga Grekstine tersebut terbunuh karena disangka sebagai Duchess Derius.
Penjagaan yang kurang, penanganan yang lamban, dan pelaku yang tidak dapat ditemukan adalah alasan mengapa hubungan kedua saudara tersebut pecah. Hal yang kemudian menumbuhkan rasa benci di dalam hati ayah Daryl karena menduga kakaknya juga ikut andil dalam kejadian tersebut.
Semakin lama mendengar cerita tersebut, Ashley semakin dibuat tak menyangka. Buku fiksi yang ia baca saat kecil itu sudah sangat penuh dengan konflik, namun setelah mendengar cerita yang bahkan tidak tercantum di dalamnya tersebut, kompleksitas dari novel tersebut menjadi sangat terasa.
Membuatnya semakin merasa jika dunia yang ia tinggali saat itu memang ada dan bukanlah dunia fiksi belaka.
Setelah mendengar latar belakang Daryl, Ashley menjadi ingin segera menemui pria tersebut. Beginikah rasanya merindukan seseorang?
Cukup lama mereka bercerita. Meski tidak tidur, energi Ashley telah sepenuhnya kembali. Begitu pula dengan rasa sakit di tubuhnya yang tidak lagi terasa mengganggu.
Meyakini bahwa ini adalah saatnya untuk pergi sebelum terlambat, Ashley pun menjelaskan rencana yang akan mereka lakukan untuk keluar dari tempat itu.
Berbeda dengan Bellena yang selalu ketakutan dan tidak percaya diri di awal, Eva sangatlah antusias saat Ashley memberinya sebuah peran.
...****************...
Mendengar suara wanita yang berteriak-teriak memanggil bantuan, salah satu penjaga gudang pun menghampiri 'tangkapan' mereka guna memastikan apa yang terjadi.
Masuk ke area penyimpanan, didapatinya wanita mungil di sana bersimbah air mata meminta tolong kepada sang penjaga untuk menyelamatkan rekannya.
Melirik ke arah wanita pirang yang tergeletak lemah tak bergerak tersebut, laki-laki itu pun menjadi sedikit khawatir. Akan gawat jika salah satu tawanan khusus tersebut mati sebelum Far sempat melihatnya.
Melihat kondisi wanita itu, ia berguman dalam hati. Bagaimanapun juga, ia adalah seorang wanita. Para rekannya bertindak terlalu berlebihan dengan menghajarnya hingga seperti itu.
Memperhatikan Eva yang terlihat panik dan hanya memikirkan keselamatan Ashley, penjaga tersebut pun percaya jika mereka berdua tidak sedang merencanakan sesuatu. Maka dibukalah pintu kandang tersebut oleh sang penjaga. Dengan sebuah pedang yang ia genggam erat di tangan kirinya untuk berjaga-jaga, ia masuk ke sana.
Berjongkok di depan Ashley, laki-laki itu kemudian menyentuh lengan si Pirang dan membangunkannya. Tidak mendapat respon, satu-satunya petunjuk yang ia punya hanyalah suhu tubuh Ashley yang begitu dingin. Dia tidak mati, kan?
Mengulurkan tangannya hendak mengecek denyut nadi di leher si Pirang, perhatiannya teralih oleh bayangan Eva. Mengeluarkan pedangnya dan langsung mengarahkannya pada wanita tersebut, ia tidak sadar bahaya mana yang seharusnya lebih ia waspadai.
__ADS_1
.................. Bersambung .................