Cinderella Gila

Cinderella Gila
Hey, you forget this


__ADS_3

Selama beberapa menit diobati oleh Aram, Ashley hanya diam menatap jendela di belakang kursi kerjanya. Bahkan saat Aram memancing amarahnya pun, ia langsung mengabaikan wanita itu lagi.


Ada sesuatu yang masih mengganjal di pikirannya.


Vincent dan Anthony yang sifatnya sangat bertolak belakang, apakah benar adalah orang yang sama?


Awalnya ia sangat percaya jika mereka mungkin memanglah orang yang sama, tapi setelah melihat Anthony secara langsung, ia pun menjadi ragu.


Sama seperti ketika melihat sesuatu yang menyerupai wujud aslinya, orang akan bertanya apakah itu asli atau palsu. Namun ketika melihat sesuatu yang asli, tanpa bertanya pun mereka akan tahu jika itulah yang asli.


Selesai menjahit luka Ashley, Aram mengambil plester yang digunakan untuk menutup luka pasiennya.


"Akhir-akhir ini, apa Ketua keliatan beda?" Tanya Ashley tiba-tiba, setelah diam sedari tadi.


Bola mata Aram melihat ke arah kiri atas mengingat-ingat hal apa yang berbeda dari ketua tertinggi mereka.


"Iya! Otot dada Ketua makin, uhh..." Jawab wanita itu yang diikuti oleh tawa senangnya.


Tentu bukan itu yang dimaksud Ashley, tapi dari respon yang diberikan Aram, sepertinya memang tidak ada perubahan dalam sikap Anthony.


Jika orang lain, mungkin mereka akan berbohong atau sengaja menutupinya, namun Ashley tahu sifat Aram. Sifat kejujuran mutlak yang dikarenakan tidak bisa membedakan mana yang baik dan buruk.


"Ngomong soal berubah, bukannya lu lebih dipertanyain?" Ucapnya sambil menempelkan plester di luka Ashley.


Selesai dengan tugasnya, ia pun beranjak dari kursi dan berniat langsung pergi menyusul Anthony.


"Gue masih gatau alesan lu, tapi lu jadi cewe normal itu aneh banget." Ledeknya sambil berjalan keluar ruangan.


"Hey, you forget this." Sela Ashley dari belakang.


"Hm?"


Begitu ia menoleh ke belakang, ia dibuat sangat terkejut karena sesuatu yang sangat keras tiba-tiba menghantam wajahnya.


Rasa terkejut yang sama, juga dirasakan oleh Kenny yang mengira Ashley tidak berani macam-macam dengan anggota kelompok inti.


Cukup sekali pukul dan wanita itu langsung terjatuh. Bagi orang yang tidak bisa berkelahi sama sekali sepertinya, pukulan Ashley pasti terasa sangatlah menyakitkan.


Saking menyakitkannya, ia butuh waktu untuk menyadari apa yang terjadi.

__ADS_1


Saat masih terkejut sambil menatap Ashley yang kini berdiri di depannya, darah mengalir dari hidungnya. Saat itulah ia sadar jika Ashley baru saja memukulnya.


"Ma-mana boleh mukul orang yang lebih tua!" Protes Aram sambil menjepit hidungnya.


Ashley tertawa mendengar Aram mengakui dengan mulutnya sendiri jika ia lebih tua darinya. Wanita dengan paras layaknya gadis berusia 25 tahun itu sejatinya berusia 6 tahun di atas Ashley. Karena hal itu juga, Aram sering memalsukan umurnya.


Ashley kemudian berjongkok di depan wanita itu dan langsung mencengkram lehernya. Tawa di wajahnya seketika menghilang dan tergantikan oleh ekspresi serius.


"Cuma gua yang boleh ngatain bawahan gua, paham?" Ancam Ashley yang sebenarnya mendengarkan ucapan Aram sejak awal.


Ia tidak tersinggung ataupun membahas persoalan saat Aram meledeknya karena Ashley tidak merasa melakukannya. Tentu saja tidak, karena bertingkah seperti itu adalah Ashelia.


Tanpa rasa takut, percaya jika Ashley tidak akan berani membunuhnya, Aram justru menantang balik.


"Ngapa emang? Lu bakal bunuh gue?"


"Lu tau, kan? Gue dokter terbaik di sini. Ketua ga bakal diem aja." Ucapnya penuh percaya diri meski Ashley masih menggenggam lehernya.


Wanita di depannya pun kembali tertawa. Ia tidak menyangka dokter gila itu masih sangat percaya diri. Bahkan berpikiran jika Anthony akan terus melindunginya.


Ashley menengadahkan tangan kirinya di samping, meminta sesuatu kepada Kenny. Pria itu pun meletakkan pistol yang ia bawa di atas tangan Ashley.


"Kalo nomer satu ga ada, si nomer 2 jadi nomer 1, kan?" Jelas Ashley sederhana sambil menunjukan senyum jahatnya.


Aram yang merasakan nyeri di pelipisnya sadar jika Ashley tidak sedang bercanda. Wanita yang tidak kalah gilanya itu kini menempelkan ujung pistolnya di pelipis Aram, berniat menghabisi nyawa dokter di hadapannya.


"Okay! I get it! I get it! I'm sorry!"


Wanita itu memejamkan matanya sambil mengangkat kedua tangannya. Tanpa menjauhkan pistolnya dari kepala Aram, Ashley menarik lehernya mendekat.


"Jangan pernah ngomong apa pun di depan gua lagi,"


"Atau gua jait mulut lo."


Aram mengangguk dengan cepat menuruti kemauan wanita yang kini tengah menggenggam hidup dan matinya.


Dilepaskanlah leher Aram serta dijauhkannya pistol itu dari kepala wanita tersebut. Ashley berdiri sambil berkata jika Aram sudah boleh pergi.


Dengan cepat wanita itu bangkit dan langsung berlari keluar.

__ADS_1


***


Di dalam sebuah mobil hitam yang terparkir di sebuah gang kecil, seorang pria yang duduk di kursi belakang terus menatap buku jarinya. Darah yang menempel di sana masih ia biarkan tak terseka.


Melihat dari kaca spion tengah, sopir dari pria dengan wajah garang itu pun bertanya,


"Apa perlu mampir, Pak?"


Pria itu kemudian menatapnya balik melalui kaca yang sama. Ia sekali lagi melihat buku jarinya sebelum menoleh ke samping menyadari ada seseorang yang datang.


"Ga perlu. Dia pasti bales sendiri." Jawab Anthony menyadari sifat pendendam putrinya.


Seorang wanita muda kini berdiri di samping pintunya. Sopirnya pun membuka kaca penumpang agar mereka bisa berkomunikasi dengan lebih leluasa.


Melihat wajah wanita itu tidak dalam kondisi yang sama seperti saat ia pergi, pria itu menanyakan apa yang terjadi kepadanya.


"Hanya perdebatan kecil. Ashley masih seperti biasanya."


"Atau mungkin lebih menakutkan sekarang." Lanjutnya setelah berpikir sesaat.


Mendengar ucapan Aram, Anthony terlihat lega. Tidak ada masalah lagi jika Ashley memang masih sama seperti dulu.


Awalnya ia juga menduga jika wanita itu hanya berpura-pura, namun kegagalan 3 misinya sangatlah tidak wajar. Karena itu Anthony merasa khawatir jika benar putrinya telah melunak.


"Melihat siapa orang tuanya, saya ragu ada yang mampu melunakan Ashley." Ucap wanita yang juga mengetahui kehebatan ibu Ashley itu.


Anthony tertawa mendengar kata-kata Aram. Bukan tawa pada umumnya, hanya tawa kecil yang justru terlihat seperti meremehkan.


"Gua rasa lo juga udah cukup dapet pelajaran."


"You're too cocky lately." Lanjut Anthony yang langsung membuat Aram merinding karena takut.


Wanita itu langsung membungkukkan badannya dan meminta maaf sebelum akhirnya Anthony pergi meninggalkannya.


Aram baru menyadarinya. Alasan Anthony menyuruhnya mengobati Ashley bukan hanya karena ia lebih ahli namun juga untuk memberinya hukuman secara tidak langsung.


Di tempat lain, tempat yang beberapa saat lalu hampir menjadi lokasi pembunuhan, ditemukanlah sebuah buku terkutuk yang Ashley pikir sudah ia buang sejak dulu.


Novel dengan judul "The Throne of Discord."

__ADS_1


^^^Bersambung...^^^


__ADS_2