
Mengintip perlahan dari balik dinding bagian bawah, Will mencoba tidak menarik perhatian siapa pun. Bahkan setelah mengkonfirmasi kegiatan para penjaga dan pengelola gudang, ia tetap mempertahankan kewaspadaannya.
Pandangannya menelusuri setiap sudut ruangan, mengabsen satu-persatu orang yang tengah sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing.
Sebagian di antaranya tidak bersenjata, atau mungkin menyimpan senjata tersembunyi. Beberapa orang meninggalkan pedang mereka bersama dengan busana mereka. Sedangkan beberapa yang lain masih berpakaian lengkap dengan senjata di pinggang.
Meski demikian, para wanita penghibur yang hadir berhasil sepenuhnya mengunci perhatian seluruh pekerja, meninggalkan celah yang cukup besar bagi Will untuk menyelinap dan mengambil senjata mereka.
Dengan diikuti Eva, sembari menjaga jarak, ia melangkah memasuki sarang musuh.
Saat letak pedang yang tergeletak tanpa pengawasan berada di area tengah aula, Will tidak memiliki pilihan lain selain harus merebut senjata dari pinggang seseorang.
Telah menetapkan orang yang akan menjadi sasarannya, Will kemudian memberi tanda kepada Eva untuk menunggu di jarak yang aman. Sedangkan Ashley, telah menghilang entah ke mana. Ia harap wanita itu tidak berbuat nekat seperti yang sudah-sudah, mengingat ada begitu banyak musuh yang mengelilingi mereka.
Berjalan setenang mungkin, mengelabuhi siapa saja- bahkan dirinya sendiri dengan berpikiran bahwa ia adalah bagian dari para pengurus gudang, seorang pria berambut pirang menghampiri targetnya.
Semakin dekat dan semakin dekat, namun laki-laki di depannya masih tidak menyadari keberadaan Will. Begitu pula orang-orang di sekitar sang target yang sama sekali tak acuh dengan kehadiran orang lain.
Tentu karena mereka tidak melihat wajah orang yang datang menghampiri mereka dengan penuh percaya diri.
Menampakkan punggungnya yang terbuka lebar sambil menyilangkan kedua tangan, sang target seolah meminta seseorang untuk menyergapnya dari belakang.
Hampir bersebelahan dengan target tersebut, tangan Will bersiap menjalankan perannya. Pria pirang itu berencana merebut pedang incarannya dengan cepat begitu mendapatkan posisi yang tepat.
Namun rencana hanyalah rencana. Tidak ada yang bisa memastikan apa yang akan terjadi di masa depan.
__ADS_1
Mendengar teriakan seseorang yang begitu keras, Will sangat yakin bahwa itu adalah ulah Ashley. Sebuah indikasi tanpa konfirmasi yang seolah berkata, "lakukan sekarang atau tidak untuk selamanya."
Spontan menyambar gagang pedang incarannya saat mendengar nyanyian penderitaan tersebut, usaha Will berhasil digagalkan oleh sang pemilik.
Merasakan seseorang tengah menarik pedangnya keluar, ia dengan sigap mengarahkan sarung pedangnya ke arah yang berlawanan. Berhasil menghentikan laju benda tajam tersebut, ditatapnya kemudian, laki-laki mana yang berani mengambil pedang miliknya tanpa ijin.
Bagaikan adegan romantis dalam drama, pertemuan empat mata itu terasa abadi dan meninggalkan kesan yang sangat mendalam. Begitu dalam hingga kedua laki-laki tersebut merasa harus sesegera mungkin mengambil tindakan.
Melayangkan tendangan ke belakang lutut si pemilik menggunakan punggung kaki, Will berusaha menumbangkan keseimbangan tubuh lawannya.
Namun berhasil membaca pergerakan sang pelarian, laki-laki berjenggot tersebut langsung memutar tubuhnya ke samping dan memperkuat pijakan kakinya. Bersamaan dengan tertangkisnya serangan Will menggunakan sisi luar paha pria tersebut, sang pemilik pedang berusaha meraih gagang pedangnya yang telah berpindah tuan.
Terikat pada sabuk yang melingkari pinggangnya, membuat sarung pedang yang digenggamnya tidak dapat terlepas dengan mudah. Jika tidak, ia akan langsung menarik sarung itu mengikuti arah tarikan Will, menutup pedangnya kembali agar mendapat kontrol yang lebih baik, lalu merebut senjatanya dengan mudah.
Sayangnya, hal yang seharusnya mencegah 'kejadian yang tidak diinginkan', kini justru menjadi penghalang bagi sang pemilik pedang. Beda halnya dengan Will yang tentu saja memanfaatkan keterbatasan tersebut.
Menyusulkan sebuah pukulan yang ia arahkan tepat ke wajah lawan, Will menunjukan apresiasinya yang terdalam.
Sebagai respon, tangan yang hanya menggenggam udara itu pun dilihkan guna menangkis pukulan si Pirang. Meski sejenak, sentuhan tersebut sangat berarti bagi sang pemilik pedang. Hal yang kemudian mengajarkannya untuk lebih baik mengabaikan satu pukulan demi hasil yang lebih baik.
Melihat peluang yang hadir bersama dengan sebuah kegagalan, Will pun manfaatkan kesempatan tersebut. Meski hanya sekejap, namun imbasnya sangatlah fatal.
Menarik bebas pedang yang telah berada dalam kendalinya, Will kemudian tanpa ragu mengembalikan pedang tersebut kepada pemiliknya. Melewati ulu hati, menembus daging hingga ke punggung. Merenggut nyawa laki-laki yang sekedar mencoba menggenggam tangannya.
Tak mampu beristirahat setelah menyingkirkan satu lawannya, Will kembali dihadapkan dengan ancaman lainnya. Menyaksikan adanya tamu tidak diundang, tentu membuat penjaga yang ada di sekitar Will bereaksi.
__ADS_1
Sembari menarik keluar pedang barunya dari tubuh sang pemilik lama, Will menangkis tebasan pedang yang mengarah kepadanya. Berhasil menangkis tepat waktu, dilayangkanlah kemudian sebuah tendangan keras ke area vital sang lawan.
Curang? Pengecut? Sama seperti Ashley, saat Will telah menetapkan prioritasnya, cara seperti apa pun bukan masalah baginya.
Saat musuhnya spontan meringkut kesakitan, saat itulah ia menambahkan sebuah tendangan dengan kaki yang lain pada bagian kepala korbannya. Tidak berhenti di sana, Will pun melayangkan satu tebasan terakhir, memberi makan pedang barunya dengan 2 nyawa manusia kurang dari 1 menit.
Tidak merasakan adanya orang yang mendekati dirinya lagi, Will mengangkat kepalanya. Menoleh kebelakang, ia mencoba memastikan Eva masih dalam keadaan aman.
Didapatinya seorang wanita kecil di sana, menatap ke sekeliling dengan tatapan seorang penguasa.
Pedang pemberian Ashley tertancap di hadapannya. Dengan kedua tangan yang bertumpu pada ujung gagang pedang tersebut, Eva berdiri layaknya kesatria penjaga yang siap bertindak jika diperlukan.
Tidak akan ada yang menyangka, bahwa kedua tangannya gemetaran saat membayangkan ia harus melayangkan benda tajam itu, memotong daging makhluk bernyawa.
Merasa janggal dengan kegaduhan orang-orang yang seharusnya mengepung mereka, Will pun sejenak mengalihkan pandangannya dari Eva.
Melihat ke sekeliling, matanya memindai setiap warna emas yang ada di aula tersebut. Bukan mencari harta karun, namun mencari si pembuat onar yang memulai pertikaian sebelum dirinya.
Ashley.
Tidak sulit mencari wanita pirang tersebut. Selain penampilannya yang mencolok, perangainya pun terlampau antik. Sama seperti saat ini contohnya, ketika Will berperan sebagai umpan guna menarik perhatian lawan, Ashley seharusnya menjaga Eva sembari menyelinap keluar. Atau setidaknya membuka jalan bagi wanita itu untuk keluar, bukan justru sebaliknya.
Berdiri di depan pintu keluar, wanita pirang tersebut menyeringai layaknya serigala yang berhasil menangkap segerombolan domba.
Tampak jelas, sejak awal, bukannya 'tidak bisa keluar tanpa bertarung', namun ia sendirilah yang tidak berniat membiarkan para penjaga di sana keluar.
__ADS_1
"Benar-benar." Gumam Will tak habis pikir.
.................. Bersambung .................