
Menutup mulut dan hidungnya, Kalia menatap ke arah tembok, memalingkan pandangannya dari jejak pembantaian yang ditinggalkan oleh Ashley.
Akan tetapi, bau anyir yang begitu kuat masih terus membuatnya teringat dengan kejadian berdarah yang sempat ia saksikan langsung di depan matanya tersebut. Masih tergambar jelas dalam benaknya dan terus terulang-ulang setiap kali ia memejamkan mata.
Karena itu Kalia terus membuka matanya lebar-lebar melihat susunan batu di depannya, mencoba mengalihkan bayangan mengerikan yang ada di balik kelopak matanya.
Tubuhnya masih gemetar, napasnya juga masih tersenggal-senggal, air matanya masih terus mengalir karena sesuatu dalam dirinya masih terselimuti rasa takut yang luar biasa. Kendati demikian, ia harus memaksa dirinya untuk tenang tak peduli bagaimana pun caranya.
Bukan hanya dirinya, namun nyawa gadis yang saat itu bersamanya juga tengah dipertaruhkan. Ashley telah masuk ke dalam bahaya demi dirinya, lalu setelah berusaha melarikan diri, kini mereka justru terjebak di sana dan Ashley juga harus mengatasi semuanya seorang diri.
Tak pernah terpikir olehnya sama sekali jika itu semua adalah hal yang sebenarnya sudah direncanakan oleh Ashley.
Kecuali kedatangan tamu tak diundang di akhir pertunjukan, tentu saja.
Kalia tidak pernah tahu kapan Ashelia mempelajari semua serangan dan pertahanan tersebut, mantan temannya itu benar-benar seperti berubah menjadi orang lain. Satu hal yang ia tahu pasti adalah, saat ini dirinya hanyalah sebuah 'beban'.
Karenanya, hal yang mampu dilakukan Kalia adalah diam dan tenang, agar setidaknya tidak memperburuk keadaan.
Menyebalkan memang menyadari betapa tidak berdayanya ia saat itu, hanya mampu bergantung pada gadis yang selalu ia tolak pertemanannya beberapa hari terakhir ini. Kemudian kenyataan tak terelakan itu adalah hal yang harus tetap ia terima.
Lagi pula, seseorang juga harus menyadari keterbatasan mereka, sebelum berusaha melampauinya.
Lalu, dalam sela ketegangan tersebut, terdengarlah suara pria yang cukup familiar di telinga Kalia. Suara kakak sepupu yang ia sukai melebihi kedua kakak kandungnya.
Perasaannya langsung tenang hanya dari mendengar suara orang tersebut, tapi peluang kehadiran orang tersebut sangatlah kecil, atau bahkan mendekati nol.
Menoleh ke arah sumber suara yang perlahan menjauh, Kalia berusaha mendengarkannya dengan seksama, membandingkan suara orang itu dengan kakaknya. Ia kemudian mencoba berdiri namun kakinya masih terasa tak bertenaga. Dalam diam mulai muncullah pertanyaan-pertanyaan di kepalanya.
Jika itu benar, maka Ashelia tidak mungkin menyerangnya, kan? Bukankah ia masih menyukainya? Bahkan rumor yang beredar mengatakan hubungan mereka sangat baik. Tidak mungkin ia datang ke tempat ini tiba-tiba, kan?
__ADS_1
Mengumpulkan seluruh tenaga dan keteguhan hatinya, Kalia mencoba bangkit sekali lagi. Ia ingin mencoba mendengarkannya sekali lagi, suara laki-laki yang kian menjauh tersebut.
Melangkah perlahan sambil berpegangan pada tembok, gadis itu berjalan menuju ujung dinding.
Berbahaya. Ia sangat tahu jika yang ia lakukan adalah tindakan berbahaya, namun suara laki-laki itu sangatlah mirip dengan Daryl. Semakin dipikirkan, ia semakin ingin memastikan hal tersebut.
Kakak sepupunya datang menyelamatkan dirinya, adalah hal terakhir yang akan terlintas di pikirannya. Namun, hal itu juga adalah hal yang paling ia harapkan selama ini.
Sebuah keajaiban ataupun kebetulan, ia tidak peduli. Ia hanya ingin meyakinkan dirinya lagi jika Daryl tidak membencinya.
Dari balik dinding, dilihatnya Ashley yang masih terus menekan mundur orang yang ada di depannya. Tidak terlihat siapa ia karena mereka telah melewati tikungan berikutnya.
Dengan jantung berdebar Kalia mempercepat langkahnya. Entah mana yang paling membuatnya jantungnya berdegup kencang, identitas pria tersebut atau ketegangan dengan pertaruhan nyawa tersebut.
Semakin lama, langkahnya semakin cepat. Keraguan dalam dirinya berangsur menghilang terbawa setiap militedik yang ia lalui.
Bahkan jika ini hanya angan-angan khayal, bisakah Kau merubahnya menjadi kenyataan?
Gadis itu mulai berlari. Dengan wajah penuh pengharapan, ia berlari menghampiri Ashley dan pria yang sedang wanita itu lawan. Kalia benar-benar yakin bahwa laki-laki tersebut adalah kakaknya.
Benar.
Suara hantaman tumit kaki kiri Ashley pada sebuah kotak logam besar yang entah apa isinya, seolah menjadi bel penanda jika jawaban Kalia benar.
Begitu pula Daryl, yang juga merasa telah mengambil keputusan tepat.
Laki-laki itu dibuat merinding mendengar betapa kerasnya suara benturan tersebut. Awalnya ia hendak menangkisnya, namun mengingat kaki tersebut terbuat dari kayu, dan bukan tulang dan daging, ia memilih menghindar. Ia tahu Ashley tidak main-main sejak awal tapi bukankah serangan wanita itu terlalu menakutkan?
Tepat setelah melihat Daryl, senyum Kalia merekah. Namun tidak sampai satu detik senyum tersebut kembali terhapus.
__ADS_1
Ia mengingat kejadian-kejadian yang mana setiap serangan dari Ashley selalu berakhir dengan darah. Korban pertama, ke dua, ke tiga, ke empat, tak ada satu pun dari mereka yang baik-baik saja.
Kembali berlarilah gadis itu menghampiri dua orang di depannya. Menghentikan pergerakan Ashley akan percuma, mengingat wanita itu selalu memiliki serangan antisipasi. Hal itu membuatnya tidak punya pilihan lain selain menghadang serangan Ashley.
Gambaran kematian Daryl bermunculan satu persatu di benak Kalia seiring dengan dilangkahkannya kedua kaki itu cepat. Meski pria itu datang untuk menyelamatkannya, ia merasa jika rencana tersebut terpaksa harus ia menggagalkan sendiri.
Melihat kematian kakaknya lebih tidak bisa ia terima daripada merasakan kematian itu sendiri.
Di sisi lain, Daryl yang masih tercengang dengan serangan Ashley barusan, kembali dikejutkan dengan kemunculan Kalia secara tiba-tiba dari balik punggung wanita itu.
Hanya sepersekian detik ia mengalihkan pandangan dari Ashley dan itu telah merenggut seluruh peluang hidupnya.
Dilihatnya dengan jelas Kalia yang berlari ke arahnya dengan raut wajah yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Begitu pula pisau panjang tajam yang perlahan merobek ujung celana Ashley hingga tengah betis.
Bukan benar-benar lambat, namun kejadian kurang dari 2 detik itu memang tiba-tiba melambat di mata Daryl.
Kayu yang sebelumnya menyembunyikan pisau tersebut terlepas dan hanya meninggalkan logam tajam berbahaya yang mengarah ke lehernya. Sangat mencengangkan mengetahui jika Ashley ternyata masih menyimpan kartu tersembunyi di balik kakinya.
Ah. Luar biasa.
Seperti tidak dapat membaca situasi, pria itu justru merasa terkagum-kagum.
Tidak akan sempat baginya untuk menghindari serangan tersebut. Ditambah lagi, adiknya sedang berlari ke arahnya dengan tujuan yang sudah terlihat jelas.
Didekapnya kepala Kalia saat gadis itu berhasil memeluk tubuhnya. Dengan cepat ia menariknya kesamping sambil sedikit memutar badannya, menjauhkan Kalia dari jalur lintasan serangan Ashley. Tangan kanannya terangkat berharap dapat sedikit memperlambat pisau besar tersebut.
Sambil menundukan kepala melindungi Kalia, ia memejamkan matanya.
Tidak merasakan rasa takut, sedih, ataupun kecewa sama sekali, pria itu justru merasa puas dengan kehidupan yang telah ia miliki. Terutama pengalaman dan perasaan baru yang ia dapat setelah bertemu dengan Ashley.
__ADS_1
Aku, tidak akan pernah menyesal mengenalmu.
..................... Bersambung .....................