
Duduk di kursi kerjanya, seorang wanita terlihat tengah serius memikirkan sesuatu. Sudah hampir 3 jam ia terdiam di sana, memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk melindungi Kalia.
Bukan hanya tidak mengenalnya, Ashley juga tidak tahu rutinitas dari gadis itu. Bagaimana caranya ia harus melindungi orang yang tidak berada di dalam radarnya?
Di sisi lain, ia tidak bisa mengirim seseorang untuk terus terus mengawasi gadis itu karena kemungkinan akan disalah artikan sebagai mengirim pembunuh. Ia juga tidak bisa menyebar orang untuk mencari informasi mengenai Kalia, salah-salah, hal itu justru bisa dianggap sebagai mencari timing yang tepat untuk membunuh putri Asteron tersebut.
Wanita itu terus memutar otaknya mencari alternatif lain. Namun semua hal itu tetap bisa berbalik kepadanya saat Kalia terbunuh.
Matanya terpejam, menguatkan diri untuk mengikuti satu-satunya rencana yang terus ia tepis.
Memperbaiki hubungannya dengan Kalia.
Wajarnya, orang yang berusaha memperbaiki hubungan adalah pihak perundung, bukan yang dirundung. Layaknya seseorang yang berusaha mengambil hati penjahat agar tidak menjadi korban, situasi yang dihadapi Ashley memaksanya melakukan hal itu.
Lucu jika dilihat dari perumpamaannya, mengingat Ashley lebih pantas disebut penjahat dibandingkan Kalia.
Namun masalahnya adalah, Ashley tidak tahu bagaimana caranya berteman.
Ia hanya tahu cara mengancam, menakut-nakuti, membuat orang salah paham, membolak-balikan ucapan, menyakiti, dan membunuh. Yang mana semuanya adalah hal negatif.
"Ga bisa emang." Ucap Ashley sambil kembali memejamkan matanya.
Kemudian tiba-tiba ia menyambar kotak tinta yang berada di atas mejanya dan langsung melemparkannya ke depan. Tepatnya ke arah buket bunga anyelir putih yang terpajang jelas di atas meja kecil di samping sofa.
Buket bunga besar yang dikirim Daryl untuk mendoakan kesembuhan Ashley, dan kemudian disalahartikan oleh para pekerjanya sebagai tanda cinta tulus.
Di sisi lain, wanita yang tidak tertarik dengan bunga itu hanya membiarkannya tanpa merasa tersentuh atau apa pun. Setelah itu, Bellena menaruhnya di samping sofa untuk menghargai usaha Daryl.
Namun hal itu justru mengganggu Ashley. Pikirannya terusik setiap melihat sesuatu yang tidak normal baginya tersebut. Tidak pernah ada bunga di kantor atau ruangannya, dulu. Hal itu membuat wanita itu terus menatapnya karena merasa janggal. Terlebih lagi buket itu sangat besar hingga dapat dipeluk.
"Pindah ke tempat yang ga gua liat."
Tanpa menunggu lama, Bellena langsung mengangkat meja kecil nan tinggi beserta benda di atasnya itu menjauhi jarak pandang Ashley. Berjalan perlahan ke sisi lain kamar nonanya, ia berhenti di dekat jendela.
Diletakkannya meja itu di samping jendela yang ada di belakang Ashley.
__ADS_1
Ashley hanya menatapnya dan membuat Bellena agak ragu meninggalkan meja itu.
Benar, memang wanita itu tidak akan melihatnya jika diletakkan di sana. Namun ia merasa Bellena sekarang sedikit berubah. Ia tidak setakut dulu. Jika itu adalah Bellena yang dulu, ia tidak akan menggunakan trik seperti itu, ia akan langsung membawa bunga itu pergi atau membuangnya.
Meski mengesalkan, tapi keputusan Bellena pun tidak salah. Ashley kembali menghadap ke depan, mengabaikan apa yang baru saja dilakukan pelayan pribadinya itu.
Matanya kemudian melirik ke sebuah buku tak bersampul yang berada di dekatnya.
Jika ia bisa menyelesaikan misinya sebelum Kalia mati maka tidak akan ada masalah. Namun kembali lagi ke permasalahan awal, targetnya tidak diketahui.
Ashley sebenarnya mendapat sedikit petunjuk pada bagian akhir, sebelum Ashelia berhenti menulis dan tiba-tiba merubah topiknya. Sangat jelas tertulis disana,
saat Marion hamil anak pertamanya, maka semuanya sudah berakhir.
Ada beberapa bagian yang mungkin membahas targetnya yang sebenarnya, namun bagian itu telah dirobek oleh Ashelia dengan alasan yang tidak Ashley pahami. Alhasil, buku itu hanya meninggalkan beberapa jejak yang perlu wanita itu pelajari sendiri.
Karena Vincent bukan Anthony, Ashley bisa saja mulai bertindak agresif dan memaksa Marion menyebutkan nama atasannya. Namun ia memiliki alasannya sendiri mengapa tidak melakukan hal itu.
Mempertimbangkan peluang kegagalan dan waktu yang ia punya, Ashley perlu fokus mengamankan Kalia terlebih dahulu sebelum melanjutkan misinya. Dengan kata lain, melaksanakan operasi 'berteman'.
Kembali mengingat masa lalunya, teman sekelas Ashley pun secara otomatis menjadi temannya karena mereka ada di kelas yang sama, sekolah yang sama, dan melakukan hal yang sama. Apa yang harus ia lakukan untuk berteman dengan Kalia saat mereka tidak memiliki kegiatan yang sama?
Setelah mendengar penjelasan Bellena mengenai rutinitas Ashelia sebelum ia mempelajari ilmu hitam, rasa takjub muncul dari dalam diri wanita itu.
Ia takjub akan bagaimana Ashelia tetap bisa hidup tanpa rasa bosan meski tidak melakukan hal apa pun. Ia juga lebih takjub saat mengingat gadis yang 'tidak melakukan apa pun' itu bisa merusak organisasinya.
Bellena kemudian melanjutkan dengan menyebutkan tempat-tempat yang mungkin digunakan bangsawan lain untuk menghabisakan waktu.
"Nona Ashelia selalu menghindari tempat-tempat itu karena Nona Derius biasanya ada di sana." Lanjut Bellena yang langsung membuat Ashley menoleh ke arahnya.
"Kenapa ga bilang dari awal ***ing." Ucap Ashley kesal sambil mengerutkan dahinya.
Bukan salah Bellena, Ashley sendiri yang tidak menjelaskan rencananya kepada gadis itu.
Wanita itu pun beranjak dari kursinya dan langsung meminta Bellena untuk mengantarnya ke sana. Bertemu di tempat yang sama cukup natural untuk mengawali sebuah pertemanan.
__ADS_1
Sayangnya, Ashleylah yang tidak natural. Kenaturalannya berada pada aspek yang lain.
Bukan hanya tidak pernah punya teman selain teman sekelas, wanita yang hampir 30 tahun itu hanya terbiasa berkumpul dengan orang-orang bengis.
Sambil menatap ke bawah, melihat gadis yang duduk di depannya, Ashley menyeringai. Dengan raut wajah angkuh yang tidak terlihat ramah sama sekali, ia menyapa gadis itu.
"Look who's this? Ga keberatan kan kalo gua gabung?"
Tanpa memberi Kalia kesempatan untuk menjawab, Ashley langsung duduk di kursi kosong yang berada di seberang meja. Layaknya orang yang tidak memiliki tata krama, wanita itu memakan makanan ringan yang sudah dipesan Kalia.
Tak lama kemudian seorang pelayan datang melayani wanita itu.
Bellena terlihat gugup berdiri di belakang Ashley yang sudah menjadi pusat sorotan sejak memasuki kafe. Berbeda dari restoran yang ia datangi sebelumnya, kafe ini cukup terkenal karena sering didatangi anak-anak pejabat. Lalu dari semua anak pejabat itu, ketenaran Ashleylah yang paling tinggi saat ini. Tidak heran jika mereka menjadi penasaran sengan sosok wanita itu.
Kalia hanya menatapnya diam dengan tatapan tidak suka. Begitu pula pelayan pribadinya yang berdiri di belakang gadis itu.
Sambil meneguk tehnya yang baru saja disajikan, Ashley memberi wanita di belakang Kalia sebuah tatapan tajam yang lebih mematikan daripada pisau belati. Wanita itu pun langsung menundukan kepalanya merasa sangat terintimidasi oleh aura superior Ashley.
Tatapan mata Ashley kemudian sedikit bergeser, berpindah ke arah gadis yang menjadi taget operasinya. Sambil perlahan meletakkan cangkir tehnya, Ashley tersenyum. Ia berusaha tersenyum seramah mungkin. Namun karena terlalu memaksa, raut wajahnya justru terlihat seperti rentenir yang sedang mencoba menagih hutang.
"Ngapa diem aja? Kemaren semangat-"
"Astaga, Nona Ashelia, kau pikir begitu?" Sela Kalia tiba-tiba dengan topik yang tidak ia pahami.
Suara gadis itu terbilang keras hingga seisi kafe dapat mendengarnya. Ashley hanya diam mencoba mendengarkan, setidaknya alasannya harus cukup bagus karena ia berani menyela omongan wanita itu.
"Padahal menurutku lumayan bagus." Ucapnya sambil melihat ke arah seorang pria yang bermain piano.
Semua mata itu pun beralih ke arah pemain piano di sana untuk sesaat, sebelum kembali lagi ke meja Ashley dan Kalia. Berbeda dengan Ashley yang masih diam menatap pria yang kini berhenti bermain tersebut.
Jelas sekali, ia mengerti maksud tindakan Kalia.
"Kalau begitu coba mainkan satu lagu."
"Aku ingin dengar bagaimana jika ahlinya yang bermain." Lanjut Kalia memprovokasi.
__ADS_1
Gadis itu masih belum jera.
^^^Bersambung...^^^