
Dihantamkannya tumit kaki Ashley ke sebuah kotak penyimpanan besar yang terbuat dari logam. Sama seperti sebelum-sebelumnya, Daryl berhasil menghindari serangan tersebut.
Namun ada sesuatu yang belum pria itu ketahui. Dibalik kaki palsu Ashley, terdapat sebuah pisau, atau bisa dibilang pedang pendek yang tersembunyi.
Sejauh ini, tidak ada yang tahu akan hal itu kecuali Ashley, Bellena, dan si pembuat tongkat itu sendiri. Wanita itu belum pernah menggunakannya selama ini karena tidak merasa perlu.
Dengan tombol pemicu yang berada di belakang tumit, serangan Ashley barusan membuat kunci penutupnya terbuka. Awalnya ia pikir akan ada sedikit kendala karena ia mengenakan celana. Namun ketajaman pisau tersebut mampu memotong kain celananya yang tertarik oleh berat kayu penutupnya.
Perdana.
Diayunkannya pisau besar tersebut ke leher Daryl, sebelum tiba-tiba seorang gadis menerobos masuk ke dalam situasi berbahaya tersebut.
Hampir saja terlambat. Ashley langsung menghentikan serangannya saat melihat kedua orang tersebut justru saling melindungi. Mata pisau di kakinya sudah hampir menyentuh tangan Daryl.
Entah kenapa Ashley tidak mendengar langkah kaki Kalia. Dan lagi, ia sangat tidak paham dengan tindakan gila yang selalu Kalia lakukan. Tidak bisakah ia sedikit lebih berhati-hati dengan nyawanya? Bukan hanya dirinya yang akan kehilangan nyawa jika ia mati, namun Ashley juga akan ikut kehilangan nyawanya.
Kalia yang sempat terkejut, karena Daryl justru berniat melindunginya lagi, langsung kehilangan tenaganya saat menyadari Ashley berhenti dan kakaknya masih bernapas. Daryl menangkap tubuh lemas Kalia sebelum kembali menatap Ashley yang perlahan menurunkan kakinya.
Benar memang Kalia tetap akan selamat karena Daryl telah melindunginya, namun hal itu jugalah yang menjadi alasan Ashley menghentikan serangannya. Bukannya menggunakan gadis itu sebagai sandera, Daryl justru mencoba melindungi Kalia meski kematian sudah ada di depan matanya.
Satu-satunya alasan Ashley menyerang pria itu adalah karena kecurigaannya terhadap keterlibatan Daryl dalam kasus kematian Kalia. Oleh karena itu, setelah pria tersebut terbukti bersih, tidak ada alasan lagi bagi Ashley untuk membunuhnya.
Bukan meresa lega karena orang yang ia kenal bukanlah musuh, wanita tersebut justru menyayangkan kesempatannya yang hilang. Kesempatan perdananya mencoba pisau tajam di kakinya.
Mau bagaimana lagi?
Bersandar pada kotak besar di sana, wanita itu kembali memasang penutup kakinya sambil bertanya,
"Yang 2 lainnya mati?"
Mendengar pertanyaan tersebut, Daryl sempat bingung. Pikirannya masih dipenuhi dengan pertanyaan apakah Ashley akan menyerangnya lagi secara tiba-tiba.
Mengesampingkan hal itu sejenak, ia mencoba memahami pertanyaan Ashley. Setelah teringat dengan 2 orang penjahat lainnya yang ia temui beberapa saat lalu, ia mengerti arah pertanyaan wanita itu.
"Ya. Salah satunya sudah mati saat aku bertemu mereka."
__ADS_1
Saat tengah berlari memasuki jalan buntu tersebut, Daryl bertemu dengan 3 orang laki-laki yang 2 di antaranya sudah terluka parah. Orang yang menggendong temannya yang sudah tidak bernyawa, dengan mudah ia singkirkan karena tidak mampu menghindar, melawan, atau bahkan bertahan.
Lalu yang satunya lagi mampu ia lawan tanpa masalah karena keterampilan tangan kirinya sangatlah buruk. Ashley benar-benar memberi Daryl keringanan dengan memotong tangan kanan orang itu.
Sengaja membiarkannya hidup sebagai sandera untuk menolong kedua gadis itu, laki-laki malang tersebut justru berakhir menjadi 'perisai hidup' untuk serangan tiba-tiba Ashley.
Kronologi itu pula yang telah diperkirakan oleh wanita tersebut.
Selesai memasang kayu penutup di kakinya, wanita itu beranjak dari sana.
"Diem di sini. Gua ambil tongkat gua."
Berjalan kembali ke ujung gang sambil memperhatikan punggungnya tanpa pertahanan, ditangkap oleh Daryl sebagai tanda bahwa Ashley tidak lagi memandangnya sebagai musuh.
Dilepaskanlah helaan napas lega yang dianggap hal baru oleh Kalia. Laki-laki tersebut tidak pernah terlihat lengah sebelumnya.
"Kau... baik-baik saja?" Tanya Daryl melirik ke arah Kalia yang masih berada dalam rangkulannya.
Tanpa mengeluarkan suara, gadis itu mengangguk pelan. Kakinya masih terasa lemas dan tubuhnya belum berhenti gemetar, tapi setidaknya ia sudah merasa aman sekarang.
Dengan penampilan bersimbah darah, siapa pun yang melihatnya pasti akan merasa ngeri. Namun hal yang dirasakan Daryl sedikit berbeda.
Ditatapnya tangan kanan wanita itu. Tangan yang tergantung lemas tersebut telah terus dipaksa untuk digunakan meski seharusnya diistirahatkan.
Matanya kemudian naik menatap kedua mata wanita tangguh di hadapannya. Dengan tatapan tajam dan ekspresi dingin, tidak ada sedikit pun rasa takut yang tergambar di sana.
Dari balik kain celana yang terbelah itu, diperlihatkanlah kaki kayu Ashley dengan jelas di setiap langkahnya. Hal itu seolah mengingatkan Daryl dengan keterbatasan yang sebenarnya dimiliki wanita tersebut.
Bagaimana ia tidak jatuh hati dengan wanita sehebat itu?
Rasa takjubnya bercampur dengan rasa sedih dan penyesalan karena tidak sampai di sana lebih awal. Perasaan yang begitu kuat menyeruak dalam dirinya, rasa yang muncul bersamaan dengan rasa sesak di dadanya.
Perasaan ingin melindungi seseorang yang lebih kuat dari orang itu sendiri.
Kalia, yang masih terus memperhatikan Daryl, dapat merasakan perasaan gelisah dari napas yang tidak beraturan milik laki-laki tersebut. Ia pun akhirnya mempercayai rumor yang mengatakan jika Daryl dan Ashley adalah pasangan kekasih.
__ADS_1
Tentu sebenarnya itu tidak benar.
Keberadaan Daryl masih cukup transparan di mata Ashley. Semua perhatian wanita itu saat ini hanya tertuju pada Kalia. Ia tidak ingin melewatkan apa pun dan berakhir di bawah pisau guillotine.
Lucu melihat ketiga orang di sana saling melihat ke arah yang berbeda.
Menyadari Kalia masih belum mampu melewati traumanya sepenuhnya, Ashley bertanya kepada gadis itu apakah ia masih kuat berjalan atau tidak.
Tanpa memberikan jawaban pasti, Kalia menguatkan kedua kakinya. Sebelumnya, ia berhasil melakukannya, kali ini pun pasti bisa.
Begitu pikirnya.
Akan tetapi kedua orang lainnya yang juga melihat betapa ia memaksakan diri itu tahu, serangan Ashley barusan memberi dampak yang cukup besar bagi mental Kalia.
Berbeda dengan Bellena, Kalia sebenarnya adalah anak yang bermental lemah. Karena tidak ingin membebani mereka lebih dari itu, gadis itu pun mencoba berubah.
Ditataplah sang kakak oleh Ashley. Tanpa mengatakan apa pun dan hanya menggerakan kepalanya, wanita itu menyuruh Daryl untuk menggendong Kalia.
Seakan mengerti dengan kode yang diberikan Ashley, pria itu menunjukan ekspresi yang seolah betanya 'Aku?'. Siapa lagi jika bukan dia? Tentu saja wanita itu kembali menjawab pertanyaan tersebut tanpa suara, murni dengan sorotan mata.
Sejenak menatap adik sepupunya yang bahkan tidak berani memberi jawaban pasti, Daryl kembali menghela napas.
"Merepotkan saja, dasar."
Berbaliklah ia sembari perlahan melepas tangan Kalia yang masih menggengamnya untuk alat bantu berdiri. Berjongkok membelakangi gadis itu, Daryl tidak mengatakan apa pun setelahnya.
Kalia mengerti apa yang hendak laki-laki itu lakukan, namun ia tidak bisa mengikuti kemauan Daryl begitu saja. Ia tidak bisa membiarkan dirinya menjadi beban lagi.
Tidak peduli bagaimana keputusan akhirnya, Ashley mulai berjalan mendahului mereka.
"Ingin menunggu orang lain datang?" Tanya Daryl lelah menunggu.
Di sisi lain, hilangnya Kalia telah diketahui oleh kakak iparnya, yang tentu saja tersalur ke kakak pertamanya. Orang yang mendapat ancaman peringatan Ashley.
..................... Bersambung .....................
__ADS_1