
Saat terkena demam, kemudian tidur, apa kau pernah merasa seperti terangkat ke tempat yang tinggi dengan cepat? Seperti terdorong oleh benda datar dengan lebar hanya sekitar setengah meter, dan tanpa pengaman yang akan melindungimu dari jatuh?
Seperti itulah hal yang dirasakan Ashley saat berpindah dari tubuh satu ke yang lain. Setelahnya, barulah kemudian kelima indera wanita itu berangsur kembali berfungsi.
Merasa telah dipermainkan berkali-kali, wanita tersebut menjadi sangat kesal. Ia sama sekali tidak mempedulikan keadaan yang ada di hadapannya, pikirannya masih dipenuhi dengan rasa gusar karena selalu dipindahkan secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan.
Hingga beberapa saat kemudian Ashley tersadar.
Bukan tersadar bahwa dirinya tengah terikat di kursi di sebuah gedung, namun tersadar bahwa ia seharusnya merasa senang karena bisa kembali kembali ke dunianya.
Mengangkat kepalanya, dilihatlah pria yang kini sedang berdiri di hadapan Ashley itu. Matanya kemudian turun ke tangan kiri pria tersebut, dan mendapati sebuah pistol yang tergenggang di sana.
Mengerutkan dahinya, wanita itu pun kembali mengumpat karena selalu berada dalam keadaan sulit saat kembali ke dunianya. Apanya yang senang kalau baru saja kembali nyawanya langsung terancam hilang?
Geram melihat tingkah Ashley yang sama sekali tidak ia pahami, pria itu pun mendorong kening Ashley dengan kasar menggunakan pistolnya.
"Fokus dengerin gua ngomong, kalo lo gamau mati." Ancam laki-laki tersebut sambil mendekatkan wajahnya.
Namun bukannya mengindahkan ancama tersebut, Ashley hanya mengangkat satu alisnya sambil memasang wajah bingung.
"Hah? Mainan plastik mana bisa ngebunuh orang, dungu."
Ditembakkannya kemudian pistol tersebut tepat di samping telinga Ashley, hingga membuat telinga wanita itu sakit dan mendengung keras.
"Gua ga main-main."
Di lain tempat, di atas atap sebuah gedung yang masih berada di wilayah yang sama, dua orang laki-laki tengah mengintai mereka.
Dengan berbekal sebuah M82, salah satu dari mereka siap membidik target sasarannya kapan saja. Sedangkan pria yang satunya lagi, bertugas mengamati keadaan dan mencari sasaran mereka sambil menghitung jaraknya.
Menggunakan teropong termal, mereka dapat melihat posisi Ashley dan pria yang menyanderanya melalui suhu tubuh.
__ADS_1
Akan tetapi, spotter itu masih tidak yakin dengan target yang harus mereka eliminasi. Dengan perawakan yang hampir sama, ia tidak bisa membedakan mana Ashley dan yang mana musuhnya.
Jika itu bukan Ashley, sudah jelas sasaran mereka adalah orang yang sedang berdiri. Namun Ashley yang sedang dibicarakan di sini. Sangat memungkinkan bagi wanita itu untuk membalik keadaan dan bertukar posisi dengan orang yang menyerangnya.
Tanpa mengetahui fakta bahwa Ashley baru saja kembali ke tubuhnya saat sudah terikat tanpa senjata, tentu membuat laki-laki tersebut juga menempatkan bossnya sebagai salah satu pilihan sasarannya.
Tidak cukup dibingungkan dengan hal itu, ia juga dikejar oleh waktu. Setiap detik sangatlah krusial, karena jika tidak cepat menentukan pilihan, nyawa Ashley bisa terancam. Memang memungkinkan jika bossnya membalik keadaan, namun itu juga belum bisa dipastikan. Masih ada kemungkinan jika Ashley adalah yang duduk di sana.
Tanpa mengalihkan pandangannya sedetik pun, kedua orang itu harus terus fokus.
"Ayo, satu aja. Satu aja cukup. Kasih petunjuk boss."
Dengan mata terbelalak Ashley menatap pria di hadapannya. Suara dengungan di telinganya masih berlangsung cukup lama.
Melihat wajah panik tersebut, membuat pria di hadapan wanita itu sedikit merasa puas. Senyuman terangkat bersamaan dengan sorot matanya yang melembut.
"Be-bentar! Bentar! Ngomong baik-baik bisa, kan? Haha ga perlu pake kekerasan." Bujuk Ashley kemudian.
"Liat? Ashley sang Dewi Kehancuran? Gila, nangkep lo emang butuh usaha. Dan sebutan lo norak banget."
Ya, Ashley pun tidak menyukai sebutan itu, dan setelah terkena 'sial' karena nama tersebut, ia menjadi semakin tidak menyukainya. Namun Ashley tidak boleh marah sekarang hanya karena ledekan tersebut.
"Sebenernya gua ga mau berselisih, tapi bounty nyingkirin lo bener-bener ga main-main."
"Jadi gimana? Lo masukin gua ke tim inti Anthony dan gua jual nama-nama orang yang minta gua buat nyerang lo?" Lanjutnya mencoba bernegosiasi dengan si Dewi Kehancuran tersebut.
Memasang wajah bingung dengan kesan memelas, wanita itu pun menjawab lirih tawaran yang diberikan kepadanya.
"Itu... agak sulit. Lo tahu kan? Beliau orang yang pilih-pilih. Meski itu gua, gua ga yakin bisa nyeyakinin Beliau."
Ya, semua orang juga mengetahui hal itu. Namun bukan itu yang ingin didengar pria tersebut. Apa gunanya bernegosiasi sambil menyekap Ashley seperti ini jika ia harus melewati jalur 'normal'?
__ADS_1
Menodongkan kembali pistolnya, pria itu kemudian memberikan tatapan yang seakan berkata 'nyawamu ada di tanganku' kepada Ashley.
"Jangan ngerendah, lo tau pengaruh lo sebesar apa." Ancamnya memaksa Ashley untuk berusaha.
Melihat ke arah kiri bawah, Ashley bertingkah seperti orang yang sedang mencari alasan. Yang tentu saja sedikit membuat pria itu menjadi kesal dan tidak sabar. Tanpa melihat laki-laki di depannya, Ashley kemudian berkata,
"Te-tetep aja, gua ga bisa... bawa orang yang-"
"Ga berkompeten kaya lo masuk." Lanjutnya melirik orang itu dengan ekspresi meremehkan.
Mendengar guyonan Ashley yang tidak berada pada tempatnya, membuat pria itu benar-benar naik darah. Meluruskan lengannya untuk menekankan kesan bahwa ia bisa membunuh Ashley saat ini jika ia mau, pria tersebut kembali mengancam.
"B***sat lo mau mati!?"
Tertawa. Melihat reaksi yang ditunjukan lawan bicaranya, wanita itu justru tertawa keras hingga suaranya memenuhi seisi ruangan besar tersebut. Sebuah tanda bukti atas kegilaan yang baru saja dilakukannya.
Dari awal, Ashley sama sekali tidak peduli akan kematian yang bisa datang menjempunya kapan saja. Daripada membujuknya, pria itu seharusnya mengakhiri hidup Ashley sesegera mungkin dan mendapatkan hadiah yang dijanjikan kepadanya. Wanita dengan selera humor 'luar biasa' itu hanya akan membuat orang yang ikut menjadi gila.
Kemudian, bagi orang-orang yang sedang mengintai mereka berdua, itu dapat dijadikan sebuah petunjuk.
Tertawa? Apakah orang itu tertawa?
Melihat sosok orang yang duduk di kursi tersebut mendongak seperti sedang tertawa terbahak-bahak, dan orang yang berdiri justru terlihat tegang, pria yang mengintai mereka pun mendapatkan pentunjuk yang telah ia tunggu selama ini.
Dalam keadaan hidup dan mati, tidak banyak orang bisa tertawa selepas itu. Dan lagi, jika itu Ashley, wanita tersebut tidak akan terpancing oleh provokasi lawannya. Yang artinya, target mereka sudah jelas.
Suara tawa tidak lagi terdengar setelah itu. Melihat pria yang menjadi lawan bercandanya sudah tergeletak tak bernyawa dengan lubang di kepalanya, membuat Ashley tidak memiliki alasan untuk tertawa lagi.
"Told ya you can't kill me."
.................. Bersambung .................
__ADS_1