
Hampir 24 jam setelah hadiah dikirim, Ashley masih belum juga mendapatkan surat balasan dari calon sahabatnya.
Seperti orang yang pengakuan cintanya ditolak, ataupun pelamar pekerjaan yang tidak juga mendapat balasan setelah menunggu 2 bulan lamanya, Ashley pun memutuskan untuk melanjutkan ke rencana B.
Menemui orang yang bersangkutan dan menanyakannya.
Sangat simpel, dan langsung pada intinya. Hal yang mungkin hanya dilakukan oleh orang yang tidak tahu malu sepertinya.
Sampailah wanita itu bersama dengan pelayan pribadinya di sebuah kafe yang pernah ia datangi sebelumnya. Tempatnya pertama kali mengharumkan namanya sebagai pianis di dunia novel tersebut.
Melihat kereta kuda keluarga Derius berada di luar bersama deretan kereta kuda lainnya, membuat Ashley yakin jika Kalia berada di dalam. Tentu saja Bellena yang memberitahunya. Bagaimana wanita itu bisa membedakan lambang keluarga satu dan yang lain?
Tak lama kemudian, keluarlah mereka berdua dari tempat itu dan berjalan menuju kereta kuda Kalia.
"Mana Kalia?" Tanya Ashley kepada kusir yang berjaga di kursi depan kereta.
Mereka keluar tanpa hasil. Wanita itu sudah mencari ke seluruh sisi kafe namun Kalia tidak berada di sana. Orang-orang di dalam kafe tersebut bahkan mulai merasa gelisah karena Ashley terlihat seperti orang yang hendak membuat masalah.
Karena alasan itu pula, kusir kereta kuda Kalia sempat ragu untuk memberitahu keberadaan nonanya. Namun apa yang lebih berharga dari keselamatannya sendiri? Mati sekarang atau nanti, jika akhirnya sama saja tentu ia lebih memilih untuk sedikit menundanya.
Sebuah restoran yang berada tidak jauh dari sana, menyambut kedatangan Ashley. Hal yang kemudian mereka sesali kurang dari satu menit setelahnya.
Mata wanita itu memindai ke seluruh ruangan, mencari seseorang di antara para pelanggan yang memenuhi lantai tersebut. Tidak mendapatkan hasil, pandangannya kini berpindah ke lantai atas seraya digerakkannya kedua kaki Ashley menuju lantai dua restoran tersebut. Bellena yang setia, mengikutinya dari belakang, begitu pula pelayan restoran yang bertugas melayaninya.
Tidak menjawab saat ditanyai, pihak restoran pikir Ashley hendak mencari kursinya sendiri sambil melihat suasana. Siapa yang mengira jika ia hanya datang hanya untuk mencari seseorang?
Sampai di atas, batang hidung Kalia masih juga tidak terlihat. Matanya kemudian melirik ke arah salah satu pintu ruangan VIP yang berada di paling ujung. Ia yakin Kalia pasti berada di dalam salah satu ruangan-ruangan tersebut.
Lalu bagaimana ia mencarinya jika jendela pintu tersebut tertutup oleh tirai dari dalam?
__ADS_1
Dibuka.
Semudah itu.
Tampaklah wajah terkejut dari para pelanggan resto yang membayar lebih untuk mendapatkan privasi tersebut. Bukan hanya mereka, Bellena dan pelayan yang mengikuti Ashley pun dibuat tidak kalah terkejut. Hanya Ashley satu-satunya orang yang memasang wajah tanpa dosa.
Mata pengunjung lain pun mulai terpusat pada tingkah laku tidak sopan wanita itu tersebut. Saat para penghuni ruangan itu mulai mengkomplain pihak restoran, Ashley masih terus membuka satu persatu pintu di sana, tidak menghiraukan kegaduhan yang telah ia sebabkan.
Bukan lagi satu, kini beberapa pelayan yang khawatir dengan tindakan Ashley juga ikut mengikutinya.
Bukan hanya kegiatan makan siang, beberapa orang sengaja menyewa ruangan tertutup untuk alasan tertentu. Saat itulah tugas Bellena dimainkan. Demi menjaga rahasia, Bellena menyuap para pelayan yang ikut melihat hal tersebut dan meninggalkan uang kompensasi untuk pelanggan yang dikejutkan Ashley.
Alhasil, beberapa pelanggan tidak merasa terganggu dan sebagian lagi pergi setelah mengajukan keluhan ringan. Namun ada salah satu dari mereka yang terus mengeluh tanpa henti seakan meminta kompensasi lebih secara tidak langsung.
Tentu Bellena tidak bisa melakukannya karena akan meninggalkan rasa tidak adil yang pada akhirnya juga akan berimbas buruk untuknya. Dihalang-halanginya jalan orang yang berusaha menggapai Ashley tersebut dengan bantuan para pelayan yang telah disuap Bellena.
Empat orang memenuhi ruangan tersebut sebelum seseorang yang tidak diundang menerobos masuk tanpa ijin.
"F*ck it Kal. Bukannya ga ngasi balesan agak keterlaluan?"
Sama sekali tidak menaruh perhatian pada orang yang duduk di depan gadis itu, mata Ashley hanya terkunci pada Kalia. Berjalan ke tengah ruangan, kemudian meletakan tangan kanannya di atas meja, Ashley sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Sepupu lo bahkan ikut bantuin gua. Lo tau dia sesibuk apa?" Ucap wanita itu meski ia sendiri masih berpikiran bahwa Daryl adalah pejabat pengangguran.
"Dan ngapa lo kaya orang yang baru nangis?"
Tanpa membiarkan siapa pun merespon tindakannya terlebih dahulu, Ashley langsung menghujani Kalia dengan keluhannya.
Keempat orang itu berhasil dikejutkan oleh Ashley hingga tidak mampu berkata-kata. Namun kalimat terakhir wanita itulah yang paling membuat Kalia kelabakan berusaha untuk menutupi fakta tersebut.
__ADS_1
Matanya terlihat sangat merah dan pipinya juga masih terlihat basah. Bahkan pelayan pribadi Kalia juga terlihat seperti menahan amarahnya saat Ashley membahas hal yang sempat terhenti akibat kedatangannya itu.
"Is this d*ckhead bully you?"
Ashley menoleh ke belakang menatap laki-laki yang duduk di depan Kalia dengan wajah tak acuh, yang kemudian berubah saat mendengar hinaan darinya.
Sebilah pedang kemudian menyentuh leher wanita itu tanpa aba-aba. Ditatapnya tajam wajah laki-laki yang masih duduk di sana dengan angkuhnya saat orang lain yang harus menodongkan pedang untuknya.
Melihat keselamatan Ashley terancam oleh pengawal yang datang bersama orang itu, Kalia spontan bangun dari kursinya dan berusaha menenangkan pihak laki-laki tersebut.
"Tunggu, Yang Mulia-"
Nafas Ashley melambat. Jauh lebih lambat daripada biasanya hingga hampir terlihat tidak bernapas. Matanya menjadi sangat fokus, dan ia berikan fokus pandangannya itu kepada laki-laki tersebut. Ia kemudian berbalik dan berdiri dengan tegak.
Bukan rasa takut, laki-laki yang duduk di depan Ashley sangat menyadari jika bukan rasa takutlah yang saat itu Ashley tunjukan. Bisa dikatakan, mode serius.
Otaknya bekerja dengan jauh lebih cepat dan kepekaan semua indranya ditingkatkan. Rasa tenang yang begitu mendalam hingga membuatnya seakan melampaui waktu. Pikirannya untuk tidak melakukan gerakan yang sia-sialah yang mengakibatkan napasnya melambat.
Bukan hanya ketenangan yang luar biasa, pengawal orang itu juga merasakan sesuatu. Perasaan tidak asing yang sering ia rasakan saat menghadapi orang gila yang tidak takut mati.
Berbahaya.
Karena tidak takut mati, orang seperti itu akan berpikir dengan lebih rasional. Bahkan bila mereka harus mengorbankan bagian tubuhnya untuk merebut timing penyerangan yang paling efektif, mereka akan melakukannya tanpa ragu.
Mengabaikan Kalia yang berusaha menenangkan mereka, kedua orang tersebut sudah terlebih dahulu merasa ngeri. Merinding mereka dibuatnya begitu Ashley mulai membuka mulutnya kembali.
"Get your f*ckin' a** here."
..................... Bersambung .....................
__ADS_1