Cinderella Gila

Cinderella Gila
Berenti nangis, berisik


__ADS_3

Rasa ngilu yang menjalar di seluruh tulang Ashley membangunkan wanita tersebut dari tidur paksanya.


Terbaring di lantai dalam keadaan terikat sangatlah tidak nyaman. Namun itu masih lebih baik daripada harus tidur menggantung dengan kedua tangan terangkat.


Melepas rantai yang justru dimanfaatkan oleh wanita tersebut sebagai senjata, orang-orang gudang itu kemudian menggantinya dengan tali tambang. Guna mengantisipasi kemampuan melarikan diri Ashley, mereka mengikat kedua tangan dan kaki kanan wanita tersebut menjadi satu di belakang. Membuatnya terlihat seperti daging siap bakar.


Samar-samar, Ashley mendengar orang-orang gudang itu tengah mempeributkan sesuatu. Meski tak terlalu jelas, tapi ia masih bisa mendengar bahwa mereka baru saja menangkap orang penting lainnya dan berniat untuk memindahkan dirinya ke tempat lain.


"Tidak bisakah dia tetap di sini? Aku tidak ingin dekat-dekat dengan wanita itu." Ujar salah seorang dari mereka saat membuka pintu.


"Jika benda yang di sana masih ada, mungkin bisa." Jawab yang lain sambil menunjuk menggunakan ibu jarinya ke arah dinding yang dirusak Ashley.


Hanya mampu membuka mata kirinya karena yang sebelah kanan dibuat bengkak, Ashley melihat adanya dua orang yang memasuki ruangan tersebut.


"Lagipula dia sudah terikat. Bisa apa dia?"


Layaknya orang yang belum cukup dihajar, wanita itu tertawa saat mendengar seseorang meremehkannya. Dipandanginya kemudian, wanita gila tersebut oleh kedua laki-laki di sana.


"Dia seratus persen akan menggigit sampai kulitmu sobek." Ucap laki-laki kurus yang sejak awal tidak ingin mendekati Ashley.


Setuju dengan pendapat rekannya kali ini, pria yang satunya pun merasa harus mengamankan gigi wanita liar itu.


"Aku akan menahannya, kau tutup kepalanya." Ucap laki-laki tersebut sembari memberikan kantung goni yang ia bawa.


"Kenapa aku yang menutup?"


Terlepas dari protes yang ia utarakan, si Kurus tetap menjalankan rencana temannya karena mereka memang harus memindahkan Ashley.


Berjalan mendekati wanita yang terbaring lemas di sana, si Bongsor langsung menendang perut Ashley sebelum wanita itu berhasil menggigit kakinya yang lain. Diinjaknya kemudian tanpa belas kasih, lengan Ashley yang bagian pundaknya mengalami dislokasi.


Saat wanita tersebut mengeratkan giginya menahan rasa sakit, saat itulah si Kurus memasukan kepala Ashley ke dalam karung yang dibawanya.

__ADS_1


Diangkatlah tubuh wanita itu kemudian, lalu dipikul di pundak oleh pria besar yang baru saja menendangnya. Memegang paha kanan Ashley yang terikat, ia membuat tubuh tawanan tersebut terdongak menjauhi punggungnya.


Saat hendak berjalan keluar, mereka terhentikan oleh kedatangan sang tawanan baru yang digiring memasuki ruangan. Sama-sama terbungkus karung pada bagian kepala, baik Ashley maupun si Anak Baru tidak mengetahui apa yang terjadi.


"Belum juga dipindah?" Ujar salah seorang penjaga gudang yang baru saja datang tersebut.


Melirik pria itu dengan tatapan tidak suka, si Bongsor pun berlalu dari sana sambil berkata,


"Aku tidak ingin mati konyol seperti teman-temanmu."


Mengetahui adanya pertikaian internal di tempat tersebut, membuat Ashley tidak mampu menahan tawanya. Meski itu hanya tawa lihir karena tidak memiliki tenaga, hal itu tetap membuat si Tawanan Baru menoleh ke arahnya.


Mendengar suara wanita di tempat seperti itu memang bukanlah yang lumrah. Terlebih lagi karena tawa dengan nada meledek tersebut terdengar sedikit familiar.


Setelah berjalan beberapa saat, sampailah mereka pada area luas yang dipenuhi kandang-kandang berjeruji besi.


Didominasi oleh hewan-hewan liar yang laku di pasaran, tempat tersebut juga menyimpan beberapa manusia dari berbagai wilayah yang ditempatkan pada 3 kandang besar. Satu berisi pria, satunya wanita, dan yang satu lagi berisi tangkapan khusus mereka. Orang yang juga harus tetap 'utuh' hingga saat Far datang untuk melihatnya langsung.


Dilihatnya oleh wanita itu, dua orang pengurus gudang yang datang dengan seorang tahanan baru. Mata yang awalnya hanya melirik tak acuh tersebut seketika membulat saat melihat siapa orang yang mereka bawa.


Tubuhnya gemetaran. Semakin dekat petugas itu, semakin ia tidak mampu mengelak.


Menutup mulutnya dengan kedua tangan, Eva tidak mampu mengatakan apa pun meski pikirannya dipenuhi dengan banyak pertanyaan.


"Jadi mereka memang saling kenal?" Ucap si Kurus kepada rekannya sambil menyeringai melihat respon yang ditunjukkan Eva.


"Apa tidak masalah?" Lanjutnya bertanya.


Menjawab keraguan rekannya yang masih berpikir Ashley bisa melarikan diri, pria bongsor itu pun menjawab,


"Kita hanya menjalankan tugas."

__ADS_1


"Bukankah Tuan Far ingin melihat mereka langsung? Akan lebih mudah seperti ini."


Seorang wanita, dengan kaki terpotong, dan rambut pirang. Ciri-ciri yang sudah terlampau jelas itu semakin membuat Eva takut untuk menghadapi kenyataan.


"Diam di sana." Perintah si Kurus memperingatkan wanita di dalam kandang tersebut untuk tidak bergerak saat ia membuka pintu.


Bagaimana bisa? Kenapa? Kenapa? Kenapa-


Ekspresi wajah Eva seketika berubah marah, begitu marahnya sampai air mata mengalir di pipinya. Mata wanita itu terkunci kepada orang yang hendak membuka pintu.


Begitu pintu tersebut terbuka, berlarilah Eva ke arah si Kurus dan langsung menyerangnya. Ditendanglah perut wanita itu kemudian oleh laki-laki tersebut, mendorongnya mundur dengan paksa.


Sebelum Eva sempat kembali menyerang, si Bongsor langsung melemparkan Ashley ke dalam, membuat perhatian wanita itu teralih dan lebih fokus untuk menangkap tubuh Ashley. Tidak mampu sepenuhnya menangkap si Pirang, setidaknya Eva berhasil mengurangi benturan tubuh Ashley yang sudah penuh dengan luka.


Kembali dikuncinya pintu kandang tersebut oleh si Kurus. Dengan wajah kesal karena kakinya tercakar cukup dalam oleh Eva, ia dan si Bongsor pun pergi dari sana.


Suara isak tangis Eva memenuhi tempat tersebut. Setelah melepas kantung yang menutup kepala Ashley, tangisnya semakin menjadi.


Disentuhnya perlahan wajah penuh luka itu yang ia letakkan di atas pangkuannya. Dengan tangan gemetar ia terus memanggil Ashley yang hanya diam dengan mata terpejam.


Sejujurnya, tidak berbeda dengan Eva, Ashley juga takut membuka matanya. Ia takut hal yang dialaminya juga terjadi kepada wanita tersebut, atau bahkan lebih buruk.


Merasakan tetesan air mata Eva yang terus menetes di pipinya, Ashley pun memberanikan diri. Sambil mengutuk semua orang di tempat itu dalam hati jika terjadi sesuatu kepada Eva, ia membuka matanya perlahan.


Meski hanya setengah terbuka, namun ia bisa melihat cukup jelas. Ia mampu melihat dengan jelas jika Eva dalam keadaan baik-baik saja dan tanpa kurang apa pun.


Ujung bibirnya tersungging tidak mengatakan apa-apa dan membuat Eva kembali menangis meski sempat berhenti.


"Berenti nangis, berisik." Ucap si Pirang kemudian dengan wajah malas yang langsung membuat Eva menahan tangisannya.


Wajah wanita mungil itu terlihat begitu lucu hingga Ashley kembali tertawa lirih. Eva masih begitu penurut seperti biasanya.

__ADS_1


"Di kalung gua ada piso. Tarik." Lanjut Ashley.


.................. Bersambung .................


__ADS_2