
Selesai mengobati Daryl, Ashley menatap laki laki yang 4 tahun lebih tua dari Ashelia namun lebih muda 4 tahun darinya itu.
"You better good at this."
Ashley berdiri dan menyeret kursinya kembali ke tempatnya semula. Daryl yang belum 100% paham dengan maksud Ashley hanya diam. Matanya mengikuti gadis itu kembali ke sisi lain meja, seakan menunggu penjelasan lebih lanjut tentang maksud ucapannya.
"Taruhan gua, satu huruf tiap kalah. 7 huruf total." Lanjut Ashley setelah kembali duduk di kursinya.
Mengerti bahwa Ashley masih berniat bermain bersamanya, Daryl tersenyum.
Ia kemudian mengambil 2 koin dan meletakannya di atas meja. Ia sengaja menggunakan jumlah minimal untuk mengantisipasi kekalahannya.
Benar, dalam 11 kali permainan melawan wanita di depannya, Daryl hanya berhasil menang 1 kali.
"Gua kira lo tau cara main." Ejek Ashley yang membuatnya semakin frustasi karena selalu kalah.
Permainan mereka pun berlanjut. Beberapa kali, Daryl merasa bahwa ia akan menang, namun Ashley selalu bisa mengubah keadaan dengan memainkan kartunya dengan benar.
"Lo boong waktu bilang lo orang penting, kan?"
"Pasti cuma bocil yang ga pernah keluar lebih dari gerbang rumah."
"Bocil?" Tanya Daryl yang baru pertama kali mendengar kosa kata tersebut.
"A brat." Jelas Ashley dengan wajah merendahkan.
"I'm not a brat!"
"See? That's how a brat responds."
Daryl mencoba tetap tenang, berusaha fokus pada permainannya meski terus-terusan diledek oleh Ashley. Untuk beberapa alasan, Ashley memang merasa terhibur dengan respon yang laki-laki itu berikan.
Selama berjam-jam mereka memainkan permainan yang sama berulang kali. Ashley yang mulai bosan menjadi lebih sering menjahili Daryl. Kadang meledek, kadang menipu, kadang menjerumuskan. Kedua pegawai kasino di sana bahkan heran kenapa Daryl terus saja percaya dengan ucapan Ashley yang jelas-jelas hanya untuk mencari hiburan.
Setelah perjuangan pantang menyerahnya, dan kehilangan total 88 koin atau setara dengan 220 koin emas, pada pertandingan ke-51, Daryl akhirnya mendapatkan huruf terakhir yang dipertaruhkan Ashley.
__ADS_1
Dengan wajah berseri yang sayangnya tertutup topeng, Daryl merangkai ketujuh huruf tersebut dan menjadikannya sebuah nama.
"Bellena?" Tanyanya memastikan.
Ashley mengangguk berusaha sekuat tenaga menahan tawa. Itulah alasan kenapa ada 7 huruf dan bukannya 6.
Hal ini tidak bisa dikatakan curang, karena sejak awal Ashley tidak berkata ia akan mempertaruhkan namanya.
Pertama, ia hanya mengiyakan ajakan Daryl dengan tujuan interogasi. Kedua, ia hanya mengatakan bahwa ia akan mempertaruhkan total 7 huruf, bukan namanya.
Tanpa mengetahui fakta tersebut, Daryl terlihat puas dan itu semakin membuat Ashley ingin tertawa. Laki-laki di hadapannya berusaha sangat keras, bahkan kehilangan 200 lebih koin emas hanya untuk nama pelayan pribadinya.
Jika dilihat dari ketulusan Daryl, tindakan Ashley memang cukup jahat. Namun di mata wanita itu, manusia tidaklah lebih dari segumpalan daging yang saling memanfaatkan. Terlebih lagi dunia novel yang ia tempati saat ini penuh dengan jiwa-jiwa busuk yang perlu disucikan.
Karena taruhan mereka berakhir di sana, Ashley tidak memiliki alasan lagi untuk tinggal lebih lama. Ia kemudian berdiri dan berniat mengakhiri kegiatannya hari ini. Melihat wanita itu beranjak pergi, Daryl pun mengikutinya dan bertanya apakah Ashley akan datang lagi besok.
Awalnya Ashley datang dengan tujuan untuk menghabiskan 300 koin emasnya, namun kini ia justru kembali dengan 220 koin emas yang lain. Tentu hal itu membuatnya sangat puas dan bangga atas dirinya sendiri.
Wanita itu sebenarnya berniat menghambur-hamburkan uang selama seminggu ini. Namun jika siklus 'uang kembali' ini terus berjalan, maka ia tidak perlu mengeluarkan uang tambahan dan tetap bisa mencapai tujuannya.
"Mungkin."
Ia berniat membuat Daryl sebagai sumber uangnya selama operasi ini berlangsung.
"Kalo main lo bagus mungkin gua dateng tiap hari." Ledeknya mengakhiri perbincangan mereka.
Dengan alasan mereka masing-masing, kedua orang itu pun kembali ke kediaman mereka dengan perasaan puas.
Meski Ashley bahkan tidak mengingat nama Daryl, namun ia menjadi orang pertama yang melihat sisi kekanakan pria itu setelah ibunya meninggal. Walaupun sebenarnya kedua petugas kasino itu juga melihatnya.
Sisi itu jugalah yang menjadi salah satu alasan Ashley senang mempermainkan Daryl.
Setelah itu, masih di malam yang sama, kehebohan terjadi karena tuan besar kediaman mereka lehernya terbalut perban.
Daryl memang sudah kembali sebelum memasuki tengah malam, namun biasanya para pekerja di rumahnya sudah beristirahat setelah pukul 9. Kepala pelayan Daryl yang merasa sedikit khawatir dengannya, sengaja menunggu pria itu hingga ia kembali.
__ADS_1
Meski hanya satu orang, namun pria tua itu mampu menciptakan suasana heboh seakan terdapat sekitar 10 orang di sana.
Berbeda dengan kepala pelayan pada umumnya yang menjunjung tinggi ketenangan, kepribadian orang tersebut sangat ceria dan penuh semangat, seperti seorang gadis muda.
Melihat Daryl bertingkah tidak seperti biasanya, membuat pria tua itu khawatir jika tuan kesayangannya telah terjerumus dalam hal-hal berbahaya. Kini, dengan mata kepalanya sendiri, ia melihat orang yang ia khawatirkan kembali dengan perban di leher. Tentu ia menjadi sangat heboh.
Ia menanyakan apa yang terjadi, namun tanpa memberi ruang pada Daryl untuk menjawab, ia langsung minta Daryl menunggu di kamarnya selagi ia pergi untuk memanggil dokter pribadi mereka.
Baru satu langkah pergi, pria tua itu berbalik dan berkata akan mengantar Daryl ke ruangannya terlebih dahulu. Namun kemudian ia berpikir hal itu akan memakan waktu lebih, membuatnya memutuskan untuk kembali ke rencana awal.
"Tenanglah sedikit." Ucap Daryl kesal.
Ia baru saja berurusan dengan para penjaga yang sama kagetnya saat melihat Daryl kembali, dan sekarang ia harus menenangkan pria tua itu juga.
"Ini bukan apa-apa, hanya tergores."
"Bagaimana bisa Anda tergores di leher?"
"Tuan, meski Anda bosan tolong jangan lakukan hal-hal berbahaya!" Lanjutnya memarahi laki-laki yang sudah seperti putranya itu.
Asisten Daryl yang mendengar kegaduhan mereka pun menampakkan diri. Melihat adanya kesempatan, Daryl menarik asistennya dan memintanya mengurus kepala pelayan tersebut agar ia bisa istirahat.
Melihat tuannya pergi, kepala pelayan tersebut menyarankannya menemui dokter terlebih dahulu.
"Tidak perlu. Besok saja. Aku ingin istirahat sekarang." Jawab laki-laki itu sambil berjalan menaiki tangga.
Sebenarnya, jauh dalam hatinya, ia hanya ingin membiarkan karya Ashley bertahan sedikit lebih lama.
Kemudian di lain tempat, seperti biasa, saat Ashley tiba di rumahnya, ia dapat merasakan seseorang tengah mengawasinya dalam kegelapan. Ashley pun dengan sengaja melempar tangkap kantung uangnya, menunjukan ia baru saja kembali setelah berfoya-foya.
Tidak pernah terbayang oleh wanita yang tengah memantaunya itu, jika dua hari ke depan, sesuatu yang buruk akan menimpanya.
Di bawah derasnya hujan yang diiringi dengan gemuruh petir, kematian tengah mengintai kereta kuda Marion.
^^^Bersambung...^^^
__ADS_1