Cinderella Gila

Cinderella Gila
Kalo gua bilang ya, lo percaya?


__ADS_3

Seorang Marquis, ditempatkan pada bagian perbatasan suatu kerajaan untuk menghalau ancaman yang datang dari luar. Karenanya, Marquis memiliki posisi yang lebih tinggi dari seorang Count. Namun Daryl sedikit berbeda.


"Ayahku menjadikanku seorang Marquis untuk membantu pekerjaannya."


"Satu-satunya hal yang si tua s**lan itu tahu hanya bekerja."


Karena wilayah pangeran ketiga berada di tengah kerajaan, Daryl pun ditempatkan di perbatasan yang paling dekat dengan wilayah tersebut, bersebelahan dengan Lozan. Meskipun wilayah perbatasan, namun kerajaan yang bersebelah dengannya hanyalah kerajaan kecil yang terbilang miskin.


Maka dari itu, pekerjaan Daryl didominasi oleh masalah penyelundupan barang dan imigran gelap.


Tidak pernah menggunakan pedangnya dan hanya mengurus tumpukan dokumen,


"Aku bahkan mendapat julukan pedang kertas."


Karenanya, Daryl tidak bisa langsung membayangkan medan perang yang dilihat oleh Ashley hanya dalam sekali lihat.


"Tapi kau berbeda." Lanjutnya.


Seolah-olah 'memori' yang dilihat wanita itu bukanlah memori dari lukisan tersebut, melainkan memorinya sendiri.


"Saat kau menutup dirimu dari dunia luar. Kau seperti pergi ke dimensi lain..."


"Dan melakukan banyak hal tanpa diketahui oleh siapa pun."


Benar memang, tapi kata 'pergi' itu lebih tepat diganti dengan 'datang' dari dimensi lain. Ashley datang dari dunia dan kehidupan yang berbeda dengan Ashelia, dengan kenangan yang berbeda pula. Hal yang tidak mungkin membuat orang lain tidak menyadari perubahan sifat tersebut.


"Kau juga lebih muda dariku, tapi pengalaman dan pengetahuanmu selalu mengejutkanku."


"Aku terus berpikir, apa mungkin kau datang dari lini waktu yang berbeda?"


"Seseorang yang telah melihat masa depan." Lanjutnya sambil menoleh ke arah Ashley


Entah kepekaan pria itu yang berada di luar nalar, atau memang imajinasinya saja yang terlalu liar.


Mata mereka bertemu saat Ashley juga menoleh ke samping, namun kedua orang itu hanya saling menatap untuk beberapa saat. Daryl tidak melanjutkan ucapannya karena masih menunggu jawaban Ashley. Hal yang sudah pasti dijawab 'tidak' itu tetap ingin ia dengar langsung dari mulut wanita tersebut.

__ADS_1


Namun jawaban Ashley kali ini juga sama tidak masuk akalnya dengan pertanyaan yang ia lontarkan.


"Kalo gua bilang ya, lo percaya?"


Daryl tidak menjawab dan hanya terdiam beberapa detik. Ia sama sekali tidak menyangka Ashley akan berkata demikian. Akan tetapi, sama seperti sebelum-sebelumnya, tidak ada setitik pun rasa ragu di dalam hatinya saat mendengar hal tersebut.


"Kau juga tahu. Meskipun itu bohong, aku tidak bisa tidak mempercayai ucapanmu."


Ya, Daryl memang seperti itu.


Tawa sinis pun ditunjukan oleh Ashley kemudian. Bukan karena meragukan ucapan Daryl namun karena ia juga tidak bisa mengendalikan waktu ataupun melihat masa depan.


"That'll be nice. If I really can do that."


Jika Ashley bisa melakukannya, nama 20 rekannya di masa lalu tidak akan terukhir di punggung wanita itu dan meninggalkan luka yang sangat dalam di hatinya. Ia lebih memilih untuk dipukul 20 kali oleh Anthony, daripada harus menyaksikan 20 rekannya terbunuh satu persatu demi menjaganya tetap hidup.


Bahkan setelah menyelesaikan misinya dan membunuh seluruh musuhnya pun, wanita itu tidak merasa lebih baik. Menjadi satu-satunya yang keluar hidup-hidup justru membutnya semakin sadar, jika semua temannya tidak akan pernah kembali, selamanya.


Sejujurnya, harga itu terlalu mahal untuk sebuah kemenangan.


Menyibak lembut kemudian menyelipkan rambut wanita itu ke belakang telinga, Daryl menatap wajah Ashley yang kini terlihat dengan jelas menampakkan kesedihannya.


"Aku akan selalu mengikutimu." Lanjut pria itu tersenyum sambil menyodorkan bunga kuning yang masih terus dibawanya.


Hal yang kemudian mampu membuat sudut bibir Ashley terangkat.


Tidak menanggapinya dengan serius, wanita itu justru membalas dengan candaan untuk meledek Daryl. Mengesalkan memang, tapi Daryl tidak keberatan, karena itu pertanda Ashley telah kembali seperti biasanya.


Tidak lagi mengikuti mereka berdua, Will dan Alais memutuskan untuk kembali setelah keluar dari Galeri. Melihat Ashley dan Daryl yang kali ini memang terlihat seperti sedang 'kencan', mereka bedua merasa tidak seharusnya membuntuti pasangan tersebut.


Melanjutkan tujuan ke destinasi berikutnya, Daryl membawa Ashley ke area pedesaan. Menumpang pada kereta barang milik penduduk lokal, mereka pergi menuju padang rumput luas yang letaknya tidak jauh dari sana.


Awalnya Ashley hampir mengeluarkan komentar menentang, namun melihat Daryl yang sangat bersemangat seperti anak kecil yang ingin memeperlihatkan lokasi harta karunnya, wanita itu pun menahan diri dan mengikuti rencana Daryl.


Mengajak seorang gadis memasuki hutan hanya berdua saja, awalnya Daryl merasa ragu. Ia tidak ingin Ashley berpikir yang tidak-tidak mengenai dirinya.

__ADS_1


Namun sepertinya, ialah yang terlalu khawatir. Ashley bahkan mengikutinya tanpa bertanya dan terlihat sangat tidak keberatan akan hal itu.


"Kecuali aku, jangan ikut jika orang lain mengajakmu masuk ke hutan." Ucap Daryl yang beralih mengkhawatirkan sikap kooperatif Ashley.


"Kenapa? Lebih gampang nyingkirin mereka kalo ga ada yang liat."


Mendengar jawaban santai tersebut, Daryl seketika menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah wanita itu. Apakah karena itu Ashley tidak keberatan? Karena ia bisa membunuh Daryl tanpa diketahui siapa pun jika terjadi sesuatu? Inikah rasanya berdampingan dengan psikopat yang tidak bisa dibaca pikirannya?


Setelah berjalan beberapa menit, sampailah nereka pada sebuah danau yang dikelilingi pepohonan. Tempat yang tidak disangka cukup nyaman untuk menghabiskan waktu. Sebuah harta karun yang ingin Daryl tunjukan kepada Ashley.


Airnya danaunya memang bersih, namun tetap memberikan kesan untuk 'jangan masuk ke sana' bagi siapa pun yang melihatnya. Udaranya juga terasa lebih sejuk dan suasananya menenangkan.


Duduklah mereka di tepi danau, di bawah sebuah pohon yang sangat rindang.


Ashley sedikit heran, dengan adanya tempat seperti itu, kenapa tidak banyak orang yang datang ke sana untuk bersantai? Apakah karena bersantai adalah 'barang mahal'? Atau karena ada sesuatu yang berbahaya?


"Karena ini tanah keluarga kerajaan." Jawab Daryl begitu santainya.


Ashley tertegun melihat wajah tak berdosa pria itu, sebelum akhirnya wanita itu melepaskan tawanya. Untuk pertama kalinya ia tidak menyangka Daryl akan melakukan hal yang melanggar hukum.


Meski Daryl tetap berada dalam silsilah keluarga besar kerajaan, ia tidak lagi menyandang posisi keluarga kerajaan karena telah memiliki marganya sendiri. Ia bahkan bukan lagi bagian dari marga ayahnya, pangeran ketiga.


"So we're trespassers?" Tanya Ashley meyakinkan di sela tawanya.


Dengan wajah senang pria itu hanya mengangguk seakan tidak mengerti hukum masuk tanpa ijin. Terlebih lagi properti keluarga kerajaan.


"Ha, this is so fckin hilarious. I like it." Respon Ashley yang masih tidak habis pikir.


"Masih ada satu lagi, tempat yang mungkin kau sukai." Ujar Daryl penuh percaya diri.


Matahari mulai terbenam saat mereka sampai di sana, namun tempat yang mereka tuju buka hingga malam hari. Kembali ke kota, di wilayah yang cukup tersembunyi, Daryl mengajak Ashley masuk ke dalam sebuah kafe yang tidak memiliki pengunjung lain selain mereka berdua.


Namun sebelum melihat hal apa yang akan ditunjukan oleh Daryl, Ashley tiba-tiba merasa aneh. Perasaan tidak nyaman yang begitu familiar baginya mendadak datang. Kelima inderanya melemah dan membuatnya hampir terjatuh dari kursinya.


Ditangkapnya gadis itu oleh Daryl yang mulai terlihat panik.

__ADS_1


"...T ...Tuan Ristoff...?" Ucap gadis itu dengan wajah kaget sekaligus bingung.


.................. Bersambung .................


__ADS_2