Cinderella Gila

Cinderella Gila
Mandilah


__ADS_3

Kereta kuda mewah tampak berjalan dari kejauhan. Tanpa ditemani pelayan ataupun asistennya, pria yang duduk di dalam sana terlihat murung dengan tatapan kosong.


Meski perjumpaannya dengan ayahnya hanya sesaat, namun perjalanan yang harus ia tempuh sangat memakan waktu. Setibanya ia di kediamannya, hari sudah larut.


Tanpa mempedulikan kepala pelayan yang menyambutnya, ia langsung pergi ke ruang kerjanya. Ekspresi Daryl yang kembali seperti semula, kini justru membuat pria tua itu sedih. Ia sudah terbiasa dengan wajah cerah Daryl selama seminggu ini.


Mungkin masih sempat untuk menemui Ashley, namun ada banyak hal yang harus ia urus saat itu. Karena keputusan ayahnya, Daryl harus melakukan banyak perubahan dan membuat laporan mengenai perpindahan ayahnya.


Semalaman penuh hingga pagi, Daryl masih berada di ruang kerjanya mengurus berkas-berkas.


Menyadari tuannya tidak berada di kamar, pelayan pribadi Daryl menduga jika tuannya pasti sedang bekerja. Karena itu, ia tidak berani mengganggunya.


Saat asistennya mengetuk pintu pun, laki-laki yang sudah bekerja semalaman itu tidak menjawab. Tanpa menunggu lebih lama, Will langsung membuka pintu dan masuk ke dalam. Hanya dia yang berani melakukan itu.


Sama seperti sebelum-sebelumnya, hari-hari di mana laki-laki itu belum bertemu dengan Ashley. Ia hanya fokus bekerja dan bekerja tanpa mempedulikan sekelilingnya.


Bukan karena suka tentu saja. Karena ia merasa itu adalah kewajibannya dan juga tidak ada yang ingin ia lakukan.


"Duke Grekstine mengatakan sesuatu?"


Will menunggu jawaban atas pertanyaannya selama beberapa detik sebelum Daryl menjawabnya.


"Dia pindah ke barat." Jawab laki-laki itu tanpa rasa hormat sedikit pun saat menyebut ayahnya.


Will yang juga mengetahui sifat pangeran ketiga tidak terlalu terkejut. Yang membuatnya bingung sekarang adalah posisi Daryl yang tidak stabil.


Jika Daryl menjadi pihak netral, tentu hal itu bukan masalah. Namun ayahnya tidak akan merelakan putranya semudah itu, ia paski akan ikut membawanya.


Masalahnya, Daryl bertempat tinggal di wilayah faksi timur. Jika ayahnya mengajak Daryl bergabung ke barat, itu sama saja dengan menetap di wilayah musuh.


Semua aktivitasnya akan dapat dipantau dengan mudah, dan pergerakannya pasti akan dipersulit.


Perpecahan anggota keluarga memang bukanlah hal baru lagi di sana, namun Will yang mengenal Daryl dan pangeran ketiga, tahu jika ayah dan anak ini tetap akan berada dalam kubu yang sama. Apa pun yang terjadi.


Tanpa diberi tahu oleh tuannya, Will sudah paham dengan rencana Duke Grekstine.


"Sudah kuubah semua yang di kiri, kau tinggal menyesuaikan."


Daryl memijat bagian hidung atasnya, tepat di bawah alis. Mencoba mengembalikan titik fokus pandangannya yang mulai kacau.


"Istirahatlah. Anda sudah bekerja semalaman." Tebak Will melihat tuannya masih mengenakan baju yang sama seperti kemarin.


Mengikuti saran asistennya, Daryl berniat sejenak mengistirahatkan matanya. Ia kemudian berdiri dari kursinya meninggalkan 2 tumpukan kertas tinggi di meja kerjanya.

__ADS_1


Ia pun membaringkan tubuhnya di sofa dan memejamkan matanya. Tidak butuh waktu lama sebelum akhirnya ia tertidur.


Sekitar satu jam kemudian seorang pelayan mengetuk pintu untuk mengantarkan sarapan. Karena Daryl sedang tidur, ia pun kembali lagi dan membawa makanan itu bersamanya.


Di sana, hidangan dingin dianggap tidak layak untuk dikonsumsi. Hanya untuk standar bangsawan dan restoran. Karena itu, mereka lebih memilih membawanya pergi daripada membiarkannya dingin.


Kurang lebih 3 jam Daryl tertidur, sebelum ia bangun dan melanjutkan pekerjaannya.


Terus menerus berkecimpung dengan tumpukan kertas-kertas itu membuat mereka bahkan tidak makan seharian.


Pelayan kemudia datang untuk membuatkan teh dan membawakan makanan untuk mengisi perut mereka, namun Daryl tidak menyentuhnya. Tanpa mempedulikan tuannya, Will memakan semuanya, bahkan milik Daryl juga.


Ia memang kadang sedikit kurang ajar.


Ketika hari mulai sore, Will melirik Daryl sesekali, namun tuannya masih tetap fokus dengan pekerjaannya.


"Anda tidak ingin pergi menemuinya hari ini?"


Daryl masih tetap menulis.


Kemudian ia tersadar dengan maksud Will dan berhenti. Sorot mata suram laki-laki itu tiba-tiba menghilang. Will hanya menggelengkan kepala tidak habis pikir. Ia menjadi semakin penasaran dengan wanita yang bisa memainkan tombol on/off Daryl.


Daryl kemudian menatap Will seakan bertanya apa yang harus ia lakukan.


"Aku akan pergi setelah ini selesai."


"Tuan Daryl." Panggil Will sedikit tegas.


Dengan wajah polosnya yang baru saja kembali, Daryl sekali lagi menatap asistennya.


"Anda belum membersihkan diri dari kamarin. Mandilah."


"Anda tidak ingin dicap sebagai si Bau, kan?" Lanjutnya dengan wajah penuh penghinaan.


Will memang orang yang suka meledek seperti Ashley. Namun ekspresi wajahnya kali ini terlihat sungguhan, bukan hanya sekedar meledek.


Daryl langsung mengendus badannya sendiri, mengecek apakah bau badannya sudah separah itu.


"Aku tidak terlalu mencium baunya." Ucapnya sambil mengecek.


"Hidung Anda terlanjur rusak karena sudah terbiasa." Jawab Will santai sambil melanjutkan pekerjaannya.


Dengan sedikit kesal ia pun menuruti ucapan asistennya.

__ADS_1


Meski Will dari dulu terlihat seperti anak nakal, namun ia sebenarnya sangat pengertian. Daryl pun sangat menyadari hal itu.


Sambil berjalan menuju pintu, laki-laki itu berkata,


"Jika kau ingin sesuatu, katakan saja. Akan kulakukan."


"Libur 2 bulan." Jawab Will cepat, yang kemudian hanya direspon dengan suara tutupan pintu.


"Libur dua bulan!!!"


Daryl tetap berpura-pura tidak mendengar teriakan Will yang masih terdengar meski ia sudah berada jauh dari ruang kerjanya.


...****************...


Selesai bersiap-siap ia langsung pergi ke kasino, tempatnya biasa bertemu dengan Ashley.


Satu jam, dua jam, ia masih tetap menunggu. Namun wanita itu tetap tidak kunjung datang.


Hari itu tidak hujan, jadi masih ada kemungkinan Ashley akan datang. Ia pun berpikir, apakah karena cara bermainnya membaik sehingga wanita itu merasa bosan? Namun suasana hati Ashley tetap terlihat baik 2 hari lalu.


Ia terus berspekulasi karena tidak ada informasi yang dapat menjawab pertanyaannya. Ia pun mulai merasa jika mungkin Ashley tidak datang karena kemarin wanita itu sudah menunggu Daryl, namun ia tidak kunjung datang.


Tentu itu hal yang mustahil. Namun pikiran laki-laki itu sedang tidak terkontrol.


Setelah menunggu hingga tengah malam, ia pun kembali ke kediamannya dengan wajah lesu.


Karena lampu ruang kerjanya mati, ia yakin Will sudah menyelesaikan semua tumpukan kertas itu. Namun, bukannya kembali ke kamarnya, ia justru menggebrak kamar asistennya.


"Apa-apaan, kau!?" Protes Will yang mengabaikan tata krama saat jam kerjanya selesai.


Dengan terpaksa, ia pun mendengarkan kegundahan hati Daryl dan semua spekulasinya mengenai tidak datangnya Ashley.


"Itu karma, kau tahu?" Ejek Will, mengacu pada kejadian sore tadi.


"Sepertinya kau ingin pekerjaan tambahan." Ancam Daryl yang langsung menghapus senyum di wajah asistennya itu.


Agar tidak diberi limpahan pekerjaan dengan gaji tetap, ia pun mencoba meyakinkan Daryl jika itu bukan salahnya. Ia juga mengatakan jika mungkin besok Ashley akan kembali lagi.


Sayangnya, misi Ashley di kasino itu sudah selesai kemarin. Sedangkan hari ini, saat Daryl menunggu kedatangannya, Ashley tengah menunggu orang lain di tempat yang lain.


"Oh, gua kira lo gagal." Sapa wanita itu.


^^^Bersambung...^^^

__ADS_1


__ADS_2