Cinderella Gila

Cinderella Gila
Jadi benar kau sudah tahu


__ADS_3

Pelayan yang bertugas memanggil Ashley akhirnya sampai di ruang makan. Pelayan itu kemudian memberitahukan kepada penyaji jika nona mereka tidak ikut sarapan bersama hari ini.


Saat itu, hanya Marion yang ada di sana. Bukan hal yang biasa bagi Marion untuk datang seorang diri dan tidak bersama Vincent.


Apa boleh buat? Vincent memintanya untuk pergi ke ruang makan terlebih dahulu karena ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh suaminya itu.


"Ah, maaf kau jadi menunggu."


Tidak sampai 10 menit, Vincent pun tiba. Para pelayan kemudian mulai menyajikan makanan untuk mereka berdua. Meski jadwal makan sudah ditetapkan, mereka tidak akan mulai hingga saat kepala keluarga mereka hadir di sana. Karena itu, biarpun Marion sudah sampai lebih dahulu, ia masih harus menunggu Vincent.


Selesai menyantap hidangan pembuka, para pelayan mulai mengganti piring mereka dengan hidangan utama. Waktu telah berlalu cukup lama, namun putrinya tidak kunjung datang.


Vincent melihat ke arah pintu sebelum akhirnya bertanya kepada para pelayan di sana. Mata para pelayan yang lain melirik ke pelayan yang bertugas memanggil Ashley, mereka sama penasarannya dengan Vincent.


"N-Nona Ashelia masih istirahat di kamarnya."


Vincent berhenti meotong daging yang ada di piringnya sejenak. Ia tidak tahu pukul berapa biasanya Ashelia bangun sebelumnya karena mereka sudah tidak pernah makan bersama. Namun kebiasaan gadis itu tiba-tiba berubah, dan membuatnya terbiasa dengan sikap baru putrinya.


Ia bahkan berpikir 'itu bukanlah sifat bangsawan yang seharuanya' saat mendengar putrinya masih tertidur. Namun mengingat kebiasaan Ashelia sebelumnya, ia pun tidak terlalu memikirkannya lagi. Sejujurnya, perubahan Ashelia yang begitu drastis membuatnya merinding sekaligus khawatir. Apa yang membuatnya berubah sebanyak itu?


...****************...


Bulan sudah meninggi namun matahari masih bersinar di balik gunung. Saat kegiatan manusia mulai beralih dari dunia siang ke dunia malam, Ashley baru saja bagun dari tidurnya.


Hari itu menjadi hari yang cukup tenang bagi Bellena, terlepas dari apa yang terjadi pagi tadi. Ia sama sekali tidak melakukan apapun kecuali menunggu nonanya bangun.


Dari berjalan berkeliling rumah hingga bersantai di bangku taman, ia merasa seolah ia sedang berlibur.


Sesekali, ia kembali dan mengecek apakah nonanya sudah bangun atau belum. Ia hanya sedikit membuka pintunya dan kembali menutupnya saat melihat nonanya masih tertidur di ranjangnya.


Saat sedang menikmati indahnya langit sore sambil melihat bunga-bunga di hadapannya, ia mendengar seseorang menyapa satu-satunya nona di keluarga Midgraff.


Terkejut melihat nonanya sudah rapi Bellena bergegas menghampirinya. Ia memberi salam dengan sedikit gugup, takut nonanya sudah mencarinya sejak tadi.


"Maaf saya tidak tahu Nona sudah bangun."

__ADS_1


Tanpa merespon ucapan maaf Bellena, Ashley memintanya menyiapkan kereta, dan tanpa menanyakan apapun, Bellena langsung menjalankan tugas yang nonanya berikan.


Ashley pun menunggu di bangku taman tempat Bellena duduk sebelumnya.


Bellena kembali tidak lama setelahnya, menghampiri nonanya yang sedang duduk sambil mendongakkan kepalanya dengan mata terpejam. Ia kemudian bertanya apakah Ashley membutuhkan hal lain.


Masih sambil menutup matanya, Ashley menjawab dengan gelengan kepala dan berkata Bellena bisa istirahat hari ini.


"Boleh saya tahu Nona mau kemana?"


Bersamaan dengan datangnya kereta kuda keluarganya, Ashley bangkit.


"Ngabisin 800 emas gua." Jawabnya sambil tersenyum seakan merencanakan sesuatu.


Ia kemudian menaiki keretanya dan pergi bersama kusir dan si pembuka pintu. Sebelumnya, ada kesatria yang hendak pergi bersamanya namun Ashley menolaknya lagi. Selama status Marion masih menjadi tersangka, Ashley tidak bisa mempercayai para kesatria itu.


Dengan membawa 300 koin emas, Ashley hendak pergi menuju kasino yang ia datangi kemarin. Untuk bersenang-senang memang, selagi menunggu hasil percobaan mereka. Namun bukan sepenuhnya tidak ada sangkut pautnya dengan rencana Ashley.


Sebelum keluar dari gerbang, Ashley melirik ke salah satu jendela di lantai 3. Seorang wanita tengah memperhatikannya dari sana. Wanita itu berbalik dan bersembunyi di balik tirai saat menyadari Ashley hendak melihat ke arahnya.


...****************...


Ashley keluar dari keretanya, seakan sengaja menunjukan identitasnya namun dengan jawah tertutup topeng. Ia berjalan masuk tanpa diiringi oleh siapapun.


Ia kemudian berjalan menuju meja melingkar tempat penukaran uang untuk ditukarkan dengan keping koin yang mereka gunakan sebagai bahan taruhan. Chip judi di dunia itu, namun hanya memiliki 1 jenis nominal.


Meja konter di sana selalu terlihat ramai dikelilingi banyak orang. Meski begitu, ada cukup pegawai yang bertugas, membuat mereka tidak perlu mengantri.


Saat baru berjalan beberapa langkah menjauhi konter, seseorang sudah menyapa kehadirannya.


"Oh, lihat siapa ini? Kupikir kau tidak akan datang lagi setelah kekalahan pertamamu." Goda pria yang terlihat tidak asing bagi Ashley, lawan pertamanya di sini.


Ashley tersenyum lalu mengangkat kantung koinnya,


"Mau main?"

__ADS_1


Laki-laki itu bersandar pada sebuah pilar sambil menyilangkan tangannya, mengganti posisi berdirinya menjadi lebih santai.


"Kau tidak akan lari setelah kalah, kan?"


"Tenang. Gua main sampe koin gua abis."


Laki-laki itu tersenyum.


"Berapa lama? Aku bisa menghabiskan uangmu dalam 3 kali permainan jika kau mau." Ucapnya penuh kesombongan.


"Oh. Ga seru, kan? Bukannya kalian harus main selama mungkin?"


Ada jeda yang ia buat sebelum akhirnya tertawa mengetahui dugaannya mengenai Ashley ternyata benar.


"Jadi benar kau sudah tahu."


Tatapannya pun sedikit berubah. Ia menatap ke beberapa tempat berbada untuk sesaat, memberi tahu para koleganya yang lain untuk mengawasi Ashley. Termasuk orang yang baru saja melayani penukaran koin Ashley.


Ashley terkekeh.


"Why so tense, boy?"


"Tujuan gua kesini hari ini buat ngasi kalian duit."


Laki-laki yang usianya lebih tua dari Ashelia itu menatapnya sejenak.


"Duit ada buat dipake kan?" Lanjut Ashley.


Di saat yang lain. Dua orang laki-laki sedang sibuk dengan pekerjaan tulis menulis mereka. Tumpukan berkas-berkas dapat dilihat di kedua meja orang itu. Salah seorang dari mereka kemudian mengecek jam sakunya dan beranjak dari tempatnya duduk.


"Kau bisa istirahat. Lanjutkan lagi besok."


"Anda mau kemana?"


"Aku masih belum menyerah, kau tahu." Ucap Daryl sambil berjalan keluar meninggalkan asistennya.

__ADS_1


^^^Bersambung...^^^


__ADS_2