Cinderella Gila

Cinderella Gila
Ngapain ga turun?


__ADS_3

Sampailah mereka di kediaman keluarga Midgraff tanpa ada kendala atau halangan apa pun.


Turun dari kereta, Bellena kemudian bergegas menuju kamar Ashley untuk mengambil kaki palsu nonanya. Kesatria keluarga Derius yang telah selesai memenuhi tugasnya untuk mengawal Ashley sampai tujuan pun pamit untuk kembali.


Tinggallah wanita itu yang masih duduk di dalam alat transportasi pribadi milik keluarganya, menatap seseorang yang juga hanya duduk diam di depannya.


"Ngapain ga turun?"


"Aku harus menemani calon istriku setid-"


Dengan cepat tangan Ashley membekap mulut pria tersebut dan menekannya kuat-kuat.


"Ngomong sekali lagi gua robek mulut lo."


Daryl mengangguk sambil menunjukan senyuman di matanya. Ashley yang menggunakan istilah itu hanya untuk bermain-main dengan Daryl, kini merasa risi sendiri setiap kali pria itu mengucapkannya.


Setelah dilepasnya bekapan tersebut, nampaklah senyum di bibir Daryl yang tidak sirna meski Ashley terus menatapnya dingin. Ia tidak paham lagi dengan cara pikir pria itu.


Awalnya ia hanya membiarkan pria itu melakukan hal yang ia mau karena Ashley terus teringat pada Kenny saat melihatnya. Dari menggendongnya, mengambil tongkatnya, hingga ikut pulang bersamanya dalam satu kereta.


Bukan hanya Bellena, kusir dan kernetnya pun sangat terkejut melihat nona mereka yang hanya diam saat digendong dan sangat menoleransi semua tindakan Tuan Ristoff.


Begitu pula yang dirasakan kedua orang yang bekerja untuk Daryl. Melihat tuannya yang terlampau bahagia, mereka dibuat hampir salah mengenalinya. Lalu sesuai dengan perintahnya, kereta kuda Daryl pun mengikuti kereta Ashley dari belakang, kosong tanpa penumpang.


Dengan disebutnya kata 'calon suami' dan 'calon istri' oleh Daryl berulang kali, kesalahpahaman yang awalnya hanya dirasakan oleh kesatria keluarga Derius pun akhirnya menyebar ke semua orang yang mendengarnya.


Setelah itu, rumor mengenai hubungan mereka pun meluas secara cepat dan menjadi topik hangat. Tentu saja hal itu tidak lepas dari kesaksian para tamu yang melihat Daryl membela Ashley, kesatria yang mengawal wanita itu, kedua bawahan Daryl, dan juga dua bawahan Ashley.


Terlepas dari apa yang akan terjadi keesokan harinya, Ashley sebenarnya tidak mengingat siapa Daryl. Ia bahkan tidak ingat nama orang yang ditantangnya di toko tongkat.


Yang ia tahu, Daryl adalah si pengangguran, dan Ristoff adalah si gagun, alias ga guna. Ia tidak mengira jika si pengangguran dan si gagun adalah orang yang sama. Hal yang sebenarnya justru membuat kesan pria itu menjadi 2 kali lebih buruk.

__ADS_1


Setelah menyebutkan mengenai Ashley yang membohonginya dan menggunakan nama Bellena, barulah wanita itu sadar. Tak heran jika suara laki-laki itu terdengar familiar baginya.


"Lo-"


Daryl mengangguk sebelum Ashley menyelesaikan ucapannya. Wanita itu kemudian terdiam sejenak dan berpikir.


"Jadi lo-"


*Kali ini Daryl menggelengkan kepalanya sebelum Ashley selesai bicara. Ia berasumsi jika Ashley mencurigainya sengaja mengikuti wanita itu ke kasino karena tantangan tersebut.


Ashley kemudian menyipitkan matanya ragu dan hanya dibalas dengan senyuman olehnya*.


Bellena hanya bisa ikut tersenyum melihat percakapan tidak tuntas yang anehnya saling dipahami oleh kedua orang di sana.


Setelah mengetahui siapa Daryl, toleransi Ashley justru meningkat. Mungkin karena kemiripannya dengan Kenny, atau karena ia dengan polosnya menyukai wanita seperti Ashley, atau mungkin karena ia terlihat seperti anak kecil bagi wanita itu. Yang pasti bukan karena jabatannya yang lebih tinggi dari Vincent.


Setelah menunggu beberapa saat bersama Daryl di dalam kereta, Bellena pun datang dengan dua kotak kayu besar. Sambil berlari, ia menghampiri Ashley.


Sembari mengatur napasnya yang terengah karena buru-buru, Bellena menyerahkan kotak itu kepada Ashley.


Disibaknya gaun panjang yang wanita itu kenakan dan dipasangnya kaki kayu tersebut. Selesai, Ashley pun bangkit dan berniat turun dari keretanya.


Menyadari hal itu, Daryl berbalik dan mengulurkan tangannya menawarkan bantuan. Ashley melirik ke arah laki-laki itu sebelum kemudian menyambut tangan Daryl.


Setelah Ashley turun dari sana dan menatapnya dengan tatapan seolah berkata 'apa lagi?', Daryl pun menunduk memberi salam dan pamit undur diri.


Raut wajah puas tergambar jelas di wajahnya. Ia terus tersenyum hingga saat ia memasuki kereta kudanya.


Ashley menggelengkan kepalanya heran seraya berjalan masuk diikuti Bellena yang membawa dua kotak kayu kosong.


Kembali ke tujuan utama, sesampainya di kamar, Ashley langsung menggeledah seluruh tempat mencari keberadaan buku harian Ashelia. Karena Bellena yang merupakan pelayan pribadi Ashelia pun tidak mengetahuinya, Ashley terpaksa harus mencari di seluruh sudut ruangan.

__ADS_1


Kecurigaannya terhadap Bellena pun meningkat karena hal itu. Mungkinkah Ashelia menyembunyikannya karena Bellena adalah targetnya yang sebenarnya?


Menyadari kecurigaan Ashley sekaligus tidak mampu membuktikan dirinya tidak bersalah, Bellena hanya bisa diam sambil berdoa. Ashley sengaja menyuruhnya diam karena khawatir jika Bellena menemukan bukunya lebih dulu, ia akan menyembunyikanya.


1 menit, 2 menit...


Setiap menit terasa begitu lama bagi Bellena yang nyawanya sedang dipertaruhkan di sana. Hingga hampir setengah jam kemudian, buku itu pun akhirnya ditemukan.


Di balik salah satu bingkai lukisan di kamarnya, sebuah buku polos dengan sampul biru muda yang tersegel dengan kunci berhasil ditemukan. Ashley kemudian berjalan menuju sofa, bersiap untuk membaca isi buku tersebut.


Kunci?


Tentu saja Ashley tidak memiliki kuncinya. Namun siapa yang membutuhkan kuncinya? Meski bagian sampul depan dan belakangnya dikaitkan dengan lempengan berbahan logam yang didesain untuk mengunci buku tersebut, sampul bukunya tetap terbuat dari kayu yang dilapisi kertas. Ia hanya perlu merobek bagian sambungan sampul dan punggung bukunya.


Mungkin akan lebih mudah jika menggunakan pisau surat, namun Ashley tidak merasa itu perlu. Setelah merobek sedikit bagian sambungan tersebut untuk pemicu, ia langsung merobek sampul buku harian Ashelia dengan kuat. Sangat kuat hingga kayu tipis itu patah dan tangannya tidak bisa digerakan karena terasa sangat sakit.


Daryl pasti marah jika melihatnya.


Namun kali ini Ashley benar-benar tidak sabar, dan setiap mengingat Ashelia ia menjadi sangat kesal dan sulit untuk menahan diri.


Dilihatnya halaman pertama buku tersebut yang kini terpampang dengan begitu jelas. Tidak ada kata lain yang tertulis di sana kecuali nama gadis yang sangat ia benci. Langsung disobeknya halaman pertama itu dengan tangan kirinya tanpa basa basi.


Dibuangnya kertas itu kemudian, saat mengetahui bagian belakang kertas yang tersobek itu juga hanya halaman kosong.


Ashley kemudian membuka bagian tengah buku itu, mencari halaman yang sekiranya menyimpan informasi yang ia butuhkan. Beberapa halaman terakhir di sana hanya dipenuhi nama Kenny. Curhatan yang ia tuliskan setelah kembali dari dunia Ashley.


Ditelusurinya halaman-halaman sebelum itu. Ada beberapa nama yang tertulis di sana. Di antaranya ada nama yang terus diulang berkali-kali.


Bellena.


^^^Bersambung...^^^

__ADS_1


__ADS_2