
Tidak sempat mengenakan seragam karena terburu-buru menghampiri Ashley, ada untungnya bagi Alais. Di area pelacuran tersebut, seorang kesatria tidak akan diijinkan masuk. Memiliki perjanjian tertulis dengan otoritas setempat, hanya utusan rajalah yang mampu mengabaikan aturan tersebut.
Berdiri sejenak di depan sebuah bangunan dengan pencahayaan lebih terang dibanding yang lain, Ashley menengok ke kanan dan ke kiri. Dilihatnya bangunan lain disekitaran sana, memastikan ia tidak berada di tempat yang salah.
Berniat masuk tanpa menghiraukan dua orang penjaga yang bertugas mengecek senjata di depannya, Ashley berjalan begitu saja sambil memperhatikan lorong pendek menuju aula.
Salah satu penjaga itu kemudian menghentikan Ashley dengan merentangkan tangannya yang membawa pedang. Hampir saja wanita itu spontan memukul pergelangan tangan penjaga tersebut guna merebut pedang yang dibawanya.
Bisa-bisanya ia menyodorkan gagang pedangnya kepada musuh.
Diliriknya kemudian laki-laki yang bermahkotakan kulit kepala tersebut oleh Ashley. Menganggap sebuah tongkat juga adalah senjata, penjaga itu hendak meminta tongkat Ashley. Terlebih lagi, tidak biasanya seorang wanita membawa tongkat sebagai aksesoris.
Sedikit mengangkat gaun tidurnya, Ashley sengaja menunjukan kaki palsu yang ia kenakan. Kemudian, dipukulnya pelan kaki kayu tersebut menggunakan tongkat sambil berujar,
"Ga gampang pake beginian."
"Gua bantu kalo lo mau coba."
Mengerti jika wanita itu membutuhkan tongkatnya, penjaga itu pun menurunkan tangannya tanpa mengatakan hal lain. Setelah memberikan pedang yang dibawa Alais, ketiganya pun masuk ke aula tengah.
Mata Ashley memindai ke seluruh sudut ruangan, memperhatikan furnitur dan penataan ruang yang terlihat asing baginya. Bangunannya masih sama, beberapa hal juga masih terlihat sama, namun selebihnya berbeda.
"Vas ini awalnya ga ada, kan?" Tanya Ashley menunjuk sebuah vas besar dengan ukiran indah yang terlihat cukup mahal di sampingnya.
Bellena yang juga pernah datang ke sana pun mengiyakan. Ia juga mengangguk saat Ashley memastikan apakah vas itu benar-benar mahal. Dan lagi bukan hanya satu, di aula itu saja terdapat 6 vas yang sejenis.
Melihat perubahan itu, Ashley berpikir, bisakah seseorang mendapat uang sebanyak itu dalam waktu singkat?
Menghampiri seseorang yang terlihat seperti penjaga, Ashley pun menanyakan apakah tempat itu benar milik Guilherme, bos Harun. Namun bukannya menjawab, laki-laki itu justru menatap Ashley dengan penuh kecurigaan.
Merasa tidak sabar karena ingin segera menemui kenalannya, emosi wanita itu mulai terpancing.
"T-tunggu Nona. Mungkin dia hanya waspada."
"Saya pun akan bersikap demikian jika ada yang bertanya tentang Nona."
Mendengar ucapan Bellena yang memang ada benarnya, membuat kekesalan Ashley sedikit mereda. Akan tetapi, 'kewaspadaan' yang mereka tunjukan memang sedikit berlebihan.
__ADS_1
Tanpa disadari, beberapa orang yang lain telah berkumpul mengelilingi Ashley dan kedua bawahannya. Layaknya melihat kedatangan orang yang tak diundang, mereka menunjukan wajah tak bersahabat yang sangat menguji kesabaran.
Alais kemudian merentangkan tangannya, mencoba melindungi Ashley dari dua sisi yang tidak terhalangi oleh Bellena. Ia tahu, daripada Ashley, Bellena lah yang seharusnya dilindungi. Akan tetapi, keselamatan Ashley adalah prioritas tertingginya, bahkan bila itu berarti harus mengorbankan rekannya.
Sebagai sesama bawahan yang mengabdi kepada Ashley, Alais yakin jika Bellena pasti juga memikirkan hal yang sama.
Tentu saja tidak.
Saat Ashley hanya diam memperhatikan tangan Alais yang berani menghalangi pergerakannya, Bellena disibukkan dengan pikiran lain.
Kepercayaannya terhadap kemampuan Ashley sangatlah tinggi, hingga mampu membuat gadis yang mudah panik itu sama sekali tidak merasa terancam. Di sisi lain, ia justru lebih khawatir jika Ashley tidak bisa dihentikan karena terlalu marah. Kemarahan nonannya di kediaman Midgraff beberapa saat lalu masih menyisihkan trauma di dalam diri Bellena.
Seolah dibantu oleh takdir, Ashley kemudian melihat sosok laki-laki yang tidak asing baginya dari kejauhan. Orang dengan tubuh besar yang baru saja melintas di lantai atas dengan beberapa kliennya.
"Hey Gui!" Panggil Ashley dengan lantang.
Suara wanita itu sangatlah keras hingga mampu didengar oleh seluruh orang di tempat tersebut. Pria itu seketika menoleh ke bawah, melihat ke arah sumber suara.
Bukan hanya kerasnya suara tersebut yang mampu membuat Guilherme menoleh ke arah Ashley, namun juga karena hanya segelintir orang yang berani menggunakan nama panggilannya.
"Lihat siapa yang datang?" Ucapnya sambil menuruni tangga.
Dengan sorot mata yang menunjukan pertentangan, Ashley juga membuka kedua tangannya, namun dengan arti yang berbeda. Sebuah isyarat yang mempertanyakan mengenai sikap penyambutan yang didapat oleh wanita itu.
Menatap sederet laki-laki yang berani mengepung Ashley, ekspresi Guilherme pun berubah mengancam.
"Apa yang kalian lakukan pada pelanggan setiaku?"
Pelanggan setia?
Sama halnya dengan Harun, pria itu juga menganggap Ashley sebagai temannya, kenapa kali ini pelanggan setia? Saat Ashley bahkan tidak pernah menggunakan jasanya.
Mendengar hal yang diucapkan pria tersebut, orang-orang yang mengelilingi Ashley pun mulai memberikan ruang. Setelah membungkukkan badan, mereka pun pergi meninggalkan wanita itu bersama atasan mereka.
Dilihatnya kemudian oleh pria besar itu, kenalannya yang kali ini datang hanya dengan gaun tidur berlapis sebuah mantel panjang.
"Kau terlihat... berbeda."
__ADS_1
"Ayo masuk." Ajaknya kemudian tanpa basa basi.
Melihat senyuman di wajah wanita tersebut, pria itu pun mengambil kesimpulan bahwa Ashley telah memaafkannya. Direntangkanlah satu lengannya untuk mempersilahkan, dan yang satunya lagi menunggu Ashley.
Begitu wanita tersebut melangkah maju, pria itu langsung merangkulkan tangannya di pundak Ashley. Lalu ditariknya leher itu mendekat oleh Guilherme karena gemas, sambil mengungkapkan seberapa senangnya ia melihat Ashley datang.
Di saat bersamaan, matanya melirik menatap salah satu penjaga tadi, memberinya tatapan penuh amarah karena berani bertindak seenaknya.
Memasuki ruangan Guilherme, Ashley dan kedua bawahannya langsung dipersilahkan duduk. Setelah menutup pintu agar tidak ada gangguan, ditawarkanlah minuman beralkohol kepada mereka bertiga.
Tidak ada orang lain di sana selain mereka berempat. Hal yang cukup aneh bagi Ashley, karena Guilherme selalu memperlakukan bawahannya seperti teman.
"Naik pangkat tapi otoritas turun." Ucap Ashley sebelum meminum minuman yang disuguhkan kepadanya.
Mendengar ucapan yang sangat tepat sasaran tersebut, pria besar itu tertawa terbahak-bahak. Ia tidak punya opsi lain selain setuju dengan kata-kata Ashley.
"Kemana orang-orang lo?" Tanya Ashley kemudian, yang menyadari orang-orang tadi bukanlah bawahan asli Guilherme.
"Kuusir." Jawabnya singkat.
Sambil melihat air di dalam gelas yang digenggamnya, pria itu hanya tersenyum.
Kembali melihat ke depan dan bertatapan dengan Ashley, ia terkekeh. Wanita itu hanya duduk bersandar menyilangkan kaki sambil menikmati minumannya, namun sorot matanya menantikan sebuah penjelasan.
Diberikanlah sebuah penjelasan singkat oleh pria itu.
"Karena sesuatu, aturan di sini sedikit berubah. Mereka sudah tidak cocok lagi bekerja di sini, jadi aku mengusir mereka."
"Selain itu, semuanya sama." Lanjutnya kemudian.
Diletakkanlah kembali gelas Ashley yang tak disangka sudah kosong dengan begitu cepat. Kemudian, saat pria itu tengah menuangkan minumannya sambil menanyakan kenapa wanita itu terburu-buru, Ashley menyebutkan sesuatu yang langsung membuat Guilherme terdiam.
"Far."
"Sesuatu yang lo maksud, juga karna dia?"
.................. Bersambung .................
__ADS_1