Cinderella Gila

Cinderella Gila
Ngikut aja napa


__ADS_3

Memasuki gedung berlantai 4 yang berada di tengah kota dengan letak paling strategis untuk mengakses seluruh isi kota, Ashley dikejutkan oleh perubahan yang terjadi di sana.


Sesaat ia merasa jika ia telah salah memasuki gedung lain. Ia menoleh ke belakang melihat pemandangan area depan gedung yang selalu ia lihat setiap hari sebelum berpindah dunia.


Kenny dan Joan yang berjalan di belakangnya menjadi sedikit bingung saat Ashley menoleh ke belakang. Mereka pikir ia sedang mencari mereka berdua.


Ashley kembali melihat ke depan dan disusul oleh mereka berdua yang kini berada tepat di belakangnya.


"Kenapa, Bos?"


"Hai Ash, udah balik?" Pertanyaan Joan terabaikan saat ada seseorang yang menyapa Ashley di waktu yang bersamaan.


Anak buah Ashley yang memiliki jabatan tinggi dan sering berinteraksi dengannya memang cara bicaranya lebih santai ketimbang yang lain. Seperti Kenny dan Joan misalnya.


Namun,


Saat Ashley hanya melirik ke arahnya, tinju Joan langsung melayang tepat mengenai hidung orang itu.


orang itu bukan termasuk satu di antara mereka.


Rasa takut dan rasa hormat, adalah dua hal yang selalu Ashley tanamkan dalam diri anngotanya. Dengan begitu ia akan lebih mudah mengatur mereka semua.


Semakin besar kelompoknya maka rasa takut mereka akan berakumulasi dan memperdalam tekanan bagi setiap anggota baru. Sehingga tanpa harus menunjukannya pun, tiap anggota baru itu sudah otomatis akan takut kepada Ashley.


Begitu pula dengan para petinggi di sana. Mereka juga takut terhadap Ashley, dan rasa takut itu seimbang dengan rasa hormatnya. Bedanya adalah, rasa kagum mereka yang jauh lebih besar.


Orang-orang yang pernah bersama-sama mempertaruhkan nyawa dengan bosnya itu, tidak dapat memungkiri rasa takjub yang datang menyelimuti mereka. Yang bahkan mampu menutupi rasa takutnya.


Meski begitu, ada peraturan tidak tertulis yang tidak berani dilanggar siapa pun meski hanya coba-coba.


Dilarang memanggil namanya.


Joan memukuli orang itu berkali-kali di hadapan Ashley. Para anggota yang lain, yang sebelumnya sibuk dengan urusannya sendiri, hingga bahkan tidak menyadari kedatangan Ashley, kini pengalihkan perhatian mereka kepada Joan. Meski sudah melihat Ashley berdiri di sana, mereka tetap tidak melakukan apa pun dan hanya diam.


Meninggalkan Joan dan orang yang wanita itu pukuli di sana, Ashley berjalan menuju ruangannya.


"Panggil Marc." Perintahnya pada Kenny sambil berjalan pergi.


Kenny pun bergegas mencari keberadaan orang yang di minta menghadap bosnya itu. Setelah Ashley memasuki lift, anggota yang lain mencoba menghentikan Joan yang masih menghajar orang tersebut.


"Capt! Berhenti! Anda kenapa!?"

__ADS_1


Joan tiba-tiba berhenti saat pintu lift Ashley tertutup. Ia melihat ke arah pintu itu sambil berpikir.


Karena sikap Ashley sudah kembali seperti biasanya setelah tertembak, Joan pikir wanita itu sudah kembali menjadi bosnya yang ia kenal selama ini.


"...belom balik, ya?" Gumam wanita itu.


Ia pun bangkit dan langsung berjalan menuju lift hendak menyusul Ashley.


"Tunggu, kenapa saya dipukuli?" Tanya laki-laki itu bingung dengan sikap Kapten Divisi Informasi Lapangan tersebut.


"Lu mati kalo bos yang turun tangan."


Hanya dari sikap dan jawaban Joan mereka pun sadar. Bos mereka yang tiba-tiba bersikap aneh, sudah tidak ingin melanjutkannya.


Ashley memang terkadang melakukan sesuatu yang aneh demi kesenangannya. Karena itu, mereka pikir kali ini pun Ashley sedang ingin bersenang-senang dan sudah mencapai titik jenuh setelah 2 minggu.


Kadang sangat membingungkan untuk mengikuti permainan wanita itu, karena resikonya yang sangat tinggi.


Di dalam ruangannya, Ashley berjalan menuju sebuah meja. Dibukanya salah satu laci meja itu dan diambilnya sebuah kotak kayu dari sana. Dari dalam kotak itu, ia mengambil sebuah revolver kuno buatan Rusia.


Sambil bersandar di meja kerjanya, ia menunggu kedatangan anak buah yang ia panggil.


Tak lama kemudian, orang itu muncul di depan pintu yang sengaja tidak Ashley tutup. Bersamaan dengan Kenny dan Joan, Marc masuk ke dalam ruangan Ashley.


"May your sins and foolishness be forgiven."


Ashley bukan orang yang taat beragama. Bahkan tidak ada yang tahu apakah ia memiliki agama atau tidak. Namun, ada saatnya di mana ia mengucap doa.


Tangannya bergerak. Kedua tangannya kini berada di depan, menggenggam Nagant M1895 miliknya. Layaknya sebuah upacara, sikap yang ia tunjukan seolah ia sedang berkabung.


Mengetahui apa maksud dari tindakan Ashley mereka bertiga langsung menjadi panik.


Grace.


Nama senjata yang ia bawa saat itu adalah Grace. Senjata yang ia gunakan untuk mengakhiri penderitaan seseorang. Senjata yang telah merenggut 4 nyawa anak buahnya yang sekarat. Senjata yang mereka anggap sebagai kehormatan terbesar.


Mereka lebih memilih mati di tangan Ashley menggunakan Grace daripada terbunuh di tangan musuh. Namun tentu saja bukan berarti mereka ingin cepat mati meski tidak terjadi apa-apa.


"Tunggu- Bos! Bos!!"


"Praise be to the man who strives for the sake of his family and friends." Lanjut Ashley sambil berdiri, berjalan mendekati mereka.

__ADS_1


"Bos! Kita bicarakan dulu!"


"Hemat peluru, Bos! Marc ga pantes buat Grace!"


"Hah!?" Protes Marc pada Joan yang langsung mendapat pukulan di belakang kepala oleh Kenny.


"Ngikut aja napa."


Hanya tinggal satu kalimat sebelum wanita itu akhirnya melepaskan peluru tersebut. Sambil mengangkat tangannya dan menodongkan senjata itu pada Marc, Ashley melanjutkan.


"Let me bear all your burdens and-"


Mengeratkan gigi dambil menutup mata, Marc hanya bisa pasrah. Sedangkan Kenny dan Joan tetap berusaha menutupi Marc dari todongan Ashley.


"-explain." Lanjut Ashley mengganti lanjutan kalimat yang seharusnya.


Bukan hanya tidak berusaha mengambil Grace, atau menahan tangan Ashley, mereka bahkan tidak melarikan diri dan justru saling menutupi. Ashley kadang dibuat heran oleh loyalitas mereka.


Ashley yang memang belum menarik hammer revolver-nya membuat mereka percaya jika bosnya masih bisa dihentikan.


Sambil berjalan kembali ke meja kerjanya, ia meminta Marc untuk memberinya penjelasan. Namun sampai setelah ia memasukan Grace ke dalam kotak penyimpanannya, laki-laki itu masih belum mengatakan apa pun.


Ashley menoleh dan memberinya tatapan marah.


"Saya tidak mengerti maksud Anda, Bos!" Ucap Marc panik.


"Tugas lo apa b***ngan."


Melihat Ashley yang mulai berjalan ke arahnya, laki-laki yang seumuran dengan Ashley itu semakin dibuat kebingungan dengan apa yang harus ia jelaskan.


"A-anda sendiri yang meminta mereka bersikap seperti itu!" Jelasnya yang beralih membuat Ashley bingung.


"Kalau Anda tiba-tiba berubah pikiran tolong beri tanda-tanda dulu!"


Ashley yang merasa janggal, mulai berpikir. Ia merasa jika waktu di duniannya seakan tidak berhenti saat ia pergi.


"...waktu gua kesamber petir, lanjutannya gimana?"


Dengan wajah ragu mereka bertiga pun saling menatap satu sama lain, sebelum akhirnya kembali menatap bos mereka dan menanyakan apa maksud ucapannya.


"Petir?"

__ADS_1


Tidak pernah ada petir apa pun di dalam memori mereka.


^^^Bersambung...^^^


__ADS_2