Cinderella Gila

Cinderella Gila
Jauhi Daryl


__ADS_3

Sedikit tak menyangka ia akan mendengar jawaban tersebut, Will pun bertanya untuk yang terakhir kali.


"Jika Anda benar-benar tidak peduli, kenapa Anda terlihat marah saat saya menyebut nama Eva?"


Sedikit memiringkan kepala, Ashley memgernyitkan dahinya, menunjukan ekspresi wajah penuh penghinaan. Senyuman meremehkan yang wanita itu kenakan sangatlah menguras kesabaran.


"Cuma karna timingnya pas, lo langsung berimajinasi seenak lo sendiri." Ucap Ashley kemudian.


"Seriously. I don't give a f*ck about one stranger. Do whatever you want."


Tertunduk diam tak percaya, Will tidak tahu lagi harus berbuat apa. Satu-satunya orang yang ia pikir dapat membantunya, ternyata hanyalah seorang bangsawan egois seperti kebanyakan.


Secercah cahaya yang sempat menghidupkan kembali harapannya kini lenyap. Karena tidak mampu melindungi seseorang yang berada di luar jangkauannya, setidaknya, ia harus berhasil melindungi orang yang ada di dekatnya.


"Jauhi Daryl." Ucap pria itu saat Ashley sudah beberapa langkah meninggalkan tempat tersebut.


Menoleh ke belakang sambil terkekeh, jawaban wanita itu bahkan tidak ingin didengar oleh Will.


"Lo tau banyak-"


"Wanita sepertimu tidak layak berada di dekatnya."


"-orang asing, ya?" Lanjut Ashley setelah sempat terpotong karena mendengarkan ucapan laki-laki di hadapannya.

__ADS_1


Berbeda dengan wanita yang terlihat tidak terpengaruh dengan hinaan tersebut, Will merasa kesal setiap kali Ashley menyebutkan kata 'orang asing'.


"Gua gatau kenapa lo suka salah paham, tapi dia yang ngejar gua. Kenapa malah gua yang ngejauh?"


"Jika kau wanita bermartabat, seharusnya kau menjauhi orang yang sudah bertunangan."


Wait, what?


Terus membahas mengenai Daryl dan Eva yang sudah bertunangan, ekspresi Will perlahan menunjukan kesan meledek. Hal itu dipicu oleh raut wajah Ashley yang nampak sedikit bingung setelah mendengar perkataannya.


Ashley awalnya hanya menyangkal karena waspada terhadap pria yang mengetahui hubungannya dengan Eva tersebut. Ia tidak ingin terperangkap jebakan Far yang mungkin sudah tersebar di mana-mana.


Berbeda dengan penjahat kelas teri yang baru saja dibunuhnya, Will memiliki kesan yang sedikit menginginkannya kepada si Kurir.


Tidak lagi terlihat berbahaya, laki-laki di depan Ashley kini justru terkesan seperti seorang kakak yang berusaha menjauhkan adiknya dari seorang wanita jahat. Terlanjur berkata tidak peduli, Ashley tidak bisa merubah opininya dalam sekejap. Dan lagi, mendengarkan Will yang terus menghinanya memang lumayan mengesalkan.


Thalistine ini, Thalistine itu, saat Ashley menjawabnya dengan sepatah dua patah kata, pria itu terus membicarakan mengenai betapa besarnya rasa suka Daryl terhadap Thalistine alias Eva.


Tidak dapat menyangkal karena mengetahui sifat kedua orang tersebut, Ashley pun yakin jika Daryl akan menyukai Eva. Namun entah mengapa, wanita itu menjadi semakin kesal.


Mungkin karena cara bicara Will, atau karena merasa kalah meski tidak pernah mencoba mendapatkan Daryl, atau mungkin juga karena hal lain yang tidak ia sadari.


Hingga akhirnya rasa kesal itu mendorongnya untuk mengatakan hal yang cukup kelewatan.

__ADS_1


"But that Thalistine is now gone." Satu kalimat tersebut mampu membuat Will menutup mulutnya seketika.


"And I never give a damn about her man." Lanjut wanita itu.


Perlahan, raut wajah Will berubah menjadi sangat marah. Tangannya terkepal seolah siap melayangkan tinjunya kapan saja. Namun masih berusaha menahan diri, pria itu kemudian mengancam,


"Jika kau berani mendekati Daryl, aku tidak akan segan menyakitimu."


Tidak peduli siapa dan sekuat apa, pria itu akan berusaha sekuat tenaga menjauhkan Daryl dari kejamnya manusia-manusia di kerajaan Durman.


Beranjak pergi dari sana, Will pun meninggalkan Ashley yang hanya menatapnya dingin sejak beberapa saat lalu.


Setelah berdiri diam seorang diri selama beberapa saat, wanita itu akhirnya kembali bergerak. Membalik tubuhnya ke arah yang berlawanan, Ashley pun beranjak pergi.


Berjalan beberapa langkah dengan begitu tenang, tiba-tiba wanita tersebut menendang tempat sampah besar yang berada di tepi jalan. Suaranya begitu keras hingga terdengar di sepanjang lorong.


Entah apa yang mengusiknya, Ashley merasa luar biasa kesal. Meski telah berusaha menekan amarah tersebut sekuat tenaga, ia tetap berakhir melampiaskannya terhadap kotak sampah yang kini terpental jauh.


Meninggalkan sampah-sampah yang berserakan karena ulahnya, Ashley pun kembali melanjutkan perjalanannya. Tidak lagi berniat menemui Harun, ia hendak kembali ke rumahnya.


Perasaan cemas yang ia rasakan sejak pagi tadi karena ingin sesegera mungkin menolong Eva telah sirna, bersamaan dengan rasa pedulinya terhadap orang-orang di dunia tersebut.


Tidak ingin peduli dan terlibat dalam masalah yang tidak berhubungan dengan misinya, Ashley kembali memfokuskan dirinya terhadap target balas dendam Ashelia.

__ADS_1


.................. Bersambung .................


__ADS_2