
Say, for whom did you come here?
"-HOW DARE YOU!!!"
Bagai raungan hewan buas, suara Ashley menyentak setiap insan yang mampu mendengarnya. Tergema hingga ke dalam jiwa, teror yang menyisip masuk mampu mengikat mereka layaknya hewan buruan.
Kedatangan Ashley ke sana adalah demi Eva. Ia memasuki sarang musuh dan menepis pikiran rasionalnya demi membawa wanita itu keluar. Pertanyaan yang tiba-tiba muncul di kepala Ashley, seolah terucap hanya untuk menamparnya dengan fakta.
Mengetahui sang predator telah menepatkan pandangannya ke arah mereka, seketika menciutkan nyali pera penjaga yang mengincar nyawa Eva. Perspektif mereka yang masih memandang tinggi Ashley cukup memberi pengaruh buruk, meski posisi orang-orang tersebut sebenarnya lebih diuntungkan.
Sebagian dari para pengurus gudang lebih memilih mengikuti insting bertahan hidup mereka, dengan buru-buru menjauh mencari tempat perlindungan. Meyakini bahwa tidak akan bisa menang melawan Ashley, mereka lebih memilih untuk menyingkir.
Kemudian sebagian yang lain, secara naluri menoleh ke belakang dan memasang posisi defensif. Mereka mengantisipasi kedatangan sang predator yang seolah telah berada tepat di balik punggung mereka.
Begitu pula pria yang baru saja menangkis serangan Eva. Ia dengan cepat berbalik memunggungi sang target, lalu mengangkat pedangnya guna menghalau setiap serangan yang mungkin datang.
Meski berada paling jauh dari jangkauan Ashley, namun teror yang diberikan wanita tersebut melalui suara, sudah lebih dari mampu untuk membuyarkan pikiran mereka.
Di lain sisi, pria berambut cepak yang terlanjur mengayunkan pedang setengah jalan, tidak mampu menghentikan serangannya. Namun bukan berarti juga ia ingin berhenti.
Teriakan Ashley sempat mengganggunya sesaat. Membuat pria itu ragu dan mempengaruhi ayunan pedang miliknya. Membayangkan Ashley telah berada tepat di belakangnya, membuat si Cepak bergidik.
Dengan membawa harapan rekan-rekannya, ia merasa harus menyelesaikan misi untuk membunuh Eva. Menghapus keraguan yang hampir menghentikan dirinya, laki-laki tersebut kembali menyerang.
Berusaha mengejar tempo serangannya yang sempat tertinggal, justru membuat ayunan pedang pria itu menjadi terburu-buru. Alhasil, ketidak stabilan tersebut meningkatkan peluang hidup Eva yang semula sudah jatuh hingga 0%.
Seolah terdorong oleh suara adik perempuannya, Eva menarik tubuhnya ke belakang, menjauhkan dirinya sejauh mungkin dari maut yang melintas di depan mata.
Tergores. Pedang yang semula dapat membunuhnya, kini hanya meninggalkan sayatan di lengan Eva. Tidak terlalu baik, namun lebih dari cukup untuk disyukuri.
__ADS_1
Jatuh ke lantai, Eva kembali membuka mata untuk melihat serangan kedua yang mungkin datang menyusulnya. Akan tetapi, ia justru disuguhkan oleh sesuatu yang lebih mengejutkan.
Sambil memegang luka di lengan, dilihatnya cairan berwarna merah yang melayang di udara. Terciprat dan tersembur keluar dengan paksa, Eva sadar jika darah tersebut bukan berasal dari lengannya.
Sosok yang tak asing baginya tampak berdiri di sana. Di antara dua pria yang sesaat lalu berusaha membunuhnya, orang itu hadir melukis udara dengan warna merah terang. Rambut keemasannya bahkan memperlihatkan warna yang berbeda di beberapa titik.
Bertatapan wajah dengannya, Eva dibuat tercengang. Punggung yang selama ini terlihat begitu kokoh dan membuatnya merasa terlindungi, akhirnya menampakkan sisi lain dirinya. Sisi depan yang selama ini tersembunyi dari pandangan Eva.
Dingin.
Kejam.
Juga penuh amarah dan kebencian.
Dari sorot mata pria tersebut, Eva dapat melihatnya dengan jelas. Rasa sedih dan frustasi yang bergejolak dari dalam.
Ia bahkan tidak berani untuk sekedar memanggil namanya.
Ada rasa takut yang begitu asing muncul dalam diri Eva. Entah ia takut Will berubah menjadi orang yang tidak ia kenal, atau takut dengan adanya jarak di antara mereka. Hal yang ia tahu pasti hanyalah, ia tidak memiliki keberanian untuk memastikannya.
Saat kekhawatiran yang tak diperlukan tersebut mulai memeluk Eva, ia melihat kedua bola mata Will bergerak. Mata yang semula tampak menakutkan itu kini terkunci padanya, menatap wanita tersebut dengan cara sama yang selalu ia lakukan selama ini.
Tatapan mata tajam yang juga lembut secara bersamaan.
Ia masih sama. Orang yang sama, yang selalu melindunginya. Pria yang sama, yang selalu bisa ia andalkan. Will yang sama, yang telah membuatnya jatuh hati.
Raut wajah cemas sekaligus bersyukur yang tidak mampu terekspresikan dengan bebas tersebut membuat Eva tersadar.
Waktu dan keadaan bisa merubah seseorang. Akan tetapi itu bukan berarti mereka telah menghilang. Mereka masih orang yang sama.
__ADS_1
Orang yang sama yang ia kenal.
Terbantu oleh suara penuh ancaman Ashley, Will mampu melepaskan diri dari kedua orang yang menahannya. Memanfaatkan momen saat mereka terintimidasi oleh Ashley, Will langsung mendorong keduanya menjauh.
Si Pejuang Tangguh yang telah berada di ujung hayatnya, tidak sanggup bila harus mengejar Will. Sedangkan pria yang satunya lagi, lebih memilih bertahan dari serangan Ashley sambil membantu rekannya menepi.
Berlari secepat mungkin menghampiri Eva, Will mengabaikan musuh-musuhnya. Ia tidak peduli, karena target yang harus ia singkirkan terlebih dahulu adalah dua orang pria yang berada tepat di depan Eva.
Terkejut karena mengira Will adalah Ashley, salah satu dari mereka yang telah siap bertahan, berhasil menangkis serangan Will. Melanjutkan pertarungan, situasi pun kembali ke titik awal namun dengan misi yang berbeda. Yakni membukakan jalan bagi Eva untuk keluar dari sana.
Meski tidak ada lagi yang membantu Will melemahkan mental lawan, namun pria itu tidak merasa terbebani. Berbeda dengan sebelumnya, musuh yang harus ia hadapi tiba-tiba menurun secara drastis.
Tidak lagi terlihat bersenang-senang, Ashley tampak bagaikan iblis yang baru saja keluar dari neraka. Dengan serangan yang lebih serius, wanita itu menunjukkan betapa marahnya ia, membuat orang-orang semakin enggan untuk mendekatinya.
"No one."
Seolah mampu mendengar detak jantung makhluk hidup, Ashley menancapkan pedangnya menembus punggung salah seorang pengurus gudang. Diam menelungkup di samping jasad si Pengkhianat yang tewas kehabisan darah, pria itu berusaha mengelabuhi Ashley dengan berpura-pura mati.
Sayang kebohongannya berubah menjadi kenyataan.
Tatapan setengah kosong yang haus akan pembantaian, berpadu dengan raut wajah dingin tak berperasaan. Sambil mengeratkan gigi berusaha untuk tidak lepas kendali, Ashley melanjutkan,
"No one lives, after messing with my people."
Meninggalkan pedang yang tertancap cukup dalam di lantai, Ashley bangkit perlahan tanpa senjata di tangan. Jejak kematian tragis para korbannya, menghiasi tubuh wanita tersebut, membuatnya tampak menakutkan meski tidak berbekal senjata.
Sebenarnya keadaan mereka tidaklah berbeda dari sebelumnya, namun ancaman Ashley jauh lebih terasa kini. Bahkan fakta bahwa Eva bukan lagi ancaman pun ikut teredam oleh kehadirannya.
...............Bersambung...............
__ADS_1