Cinderella Gila

Cinderella Gila
Pernah liat?


__ADS_3

Selama seminggu menjaga nonanya, atau lebih tepatnya memastikan wanita itu tidak menyelinap keluar, membuat kesatria Ashley merasa kasihan terhadap 'tahanan' tersebut. Melihat Ashley berulah dan mengganggu para pekerjanya saat masa rehab bahkan sangat ia maklumi.


Terlepas dari buruknya sikap Ashley terhadap orang lain, kesatria itu masih bisa menemukan hal lucu dan kekanakan dari dalam diri nonanya. Seperti saat melakukan ritual berjalan keluar gerbang contohnya.


Akan tetapi, setelah melihat tindakan Ashley saat berada di luar, kesatria itu tidak bisa memakluminya lagi. Ia bahkan setuju jika wanita liar itu tidak pernah dilepaskan ke luar. Apa sebenarnya yang ada di dalam pikiran wanita tersebut hingga terus membuat masalah?


Bahkan tadi, saat kesatria itu berhasil mencegah laki-laki di bawahnya untuk melukai Ashley, wanita tersebut justru menunjukan rasa kesal dan kecewa. Setelah itu, barulah ia sadar jika Ashley memang sengaja melakukannya.


Agar dirinya mendapat masalah? Agar gelar kesatrianya dicabut? Apakah masalah yang terjadi pada pengawal Ashley yang sebelumnya juga adalah ulah wanita itu sendiri? Kenapa?


Saat kepalanya masih diselimuti pertanyaan, kekuatan tangan dan kakinya tidak melemah. Ia masih menekan pria paruh baya yang terus meronta itu dengan sungguh-sungguh. Berusaha tidak melukainya lebih dari ini dan sekaligus tidak membiarkannya melukai Ashley.


Mencoba sekuat tenaga melepaskan diri namun tidak bisa, laki-laki yang berada di bawah kuncian kesatria itu hanya bisa menatap Ashley dari bawah. Bagaikan hewan buas yang siap menerkam kapan saja saat memiliki kesempatan, sorot matanya sangat haus akan darah.


Tidak bergeming, Ashley pun menatapnya dengan tatapan yang tidak kalah mengancam. Wanita itu masih merasa kesal karena kemampuan kesatrianya kali ini cukup mengganggu. Ia juga tidak habis pikir jika dalam jarak sedekat itu pun, laki-laki asing tersebut masih bisa gagal melukainya.


Berlanjut ke tahap berikutnya, Ashley kemudian menanyakan hal apa yang sebenarnya membuat dirinya repot-repot berjalan kaki mengelilingi wilayah barat Vinnas.


"Orang pake baju aneh, pernah liat?"


"Hah?"


Mendengar pertanyaan dadakan yang entah datang dari mana tersebut, membuat pria tidak bersahabat itu bingung.


Namun, jawaban yang ingin didengar Ashley hanyalah 'ya' atau tidak', bukan yang lain. Diayunkanlah kaki kayu miliknya yang kemudian menghantam keras tepat mengenai wajah laki-laki tersebut.


Setelahnya, ia kembali bertanya,


"Pernah liat?"


Terkejut dengan apa yang nonanya lakukan, kesatria Ashley sampai kehabisan kata-kata dan hanya menatap wanita itu dengan tatapan tidak percaya.


Seakan dipukul menggunakan tongkat baseball, laki-laki paruh baya itu terdiam sejenak terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Ditatapnya kembali wanita itu kemudian, dengan amarah yang meluap-luap tidak mengindahkan pertanyaan Ashley.


"J*lang sial-"


Mengulang hal yang sama, wajah pria itu pun langsung mendapatkan tendangan kedua, membuatnya tidak sempat menyelesaikan sumpah serapahnya.


Mengetahui sebuah penentangan dari salah satu bawahannya atas apa yang ia lakukan, Ashley langsung melirik ke arah pengawal barunya. Ia melirik ke arah pria tersebut tepat sebelum kesatria itu mengutarakan perasaannya.


Tatapan yang seolah melarang pria tersebut untuk ikut campur itu terlihat sangat serius. Ashley telah memperingatkan dirinya untuk tidak menghalangi wanita itu, dan ini adalah salah satunya. Dengan terpaksa, ia pun mengikuti kemauan nonanya.


Di sisi lain, korban Ashley tengah merasakan rasa nyeri yang begitu hebat di dalam kepalanya. Rasa sakit yang memang sudah ia rasakan dari awal itu, kini semakin tak tertahankan.

__ADS_1


Setelah memberikan hadiah kedua kepada pria tersebut, Ashley pun berjongkok di hadapannya. Melihat laki-laki yang kesakitan itu, wanita tersebut tetap tidak menunjukkan tanda-tanda jika ia akan bertindak lebih lembut setelah ini.


Ditariknya rambut orang itu kuat, memaksanya mendongak menatap kedua mata Ashley dan mendengarkan pertanyaannya yang masih saja sama.


"Liat apa ngga?"


Sambil menutup sebelah matanya menahan rasa sakit di kepala, pria itu menjawab,


"Mana kutau."


Tanpa basa basi, kepalan tangan Ashley melayang menghantam wajahnya kali ini. Begitu keras namun tidak terlalu kuat untuk mematahkan hidungnya.


"Kulit gelap. Baju aneh." Jelas wanita itu menyebutkan ciri-ciri orang yang dicarinya.


Namun seakan tidak terpengaruh dengan siksaan Ashley, jawaban pria itu masih saja ketus. Ia tetap tidak takut dan tidak peduli dengan apa yang diinginkan wanita tersebut.


"S*alan! Cari saja sendiri!"


Ia pikir ia masih tetap bisa menahan semua pukulan Ashley.


Dengan ekspresi dingin dan sorot mata yang begitu gelap, dihantamkanlah wajah laki-laki itu ke tanah berkali kali oleh wanita tak berhati nurani yang ada di hadapannya.


"Agh-"


"Ugh-"


Tiga.


"Tung-"


Empat.


"Hent-"


Lima.


Tanpa memberi jeda, Ashley terus membenturkannya tanpa ampun. Meski wajah laki-laki itu telah hancur berlumuran darah, hal itu juga belum cukup baginya. Wanita itu hanya akan berhenti saat ia telah merasa puas.


"Tol-"


Enam.


Setelah membantu pria tersebut memberikan ciuman kasih sayang terhadap jalanan kota Vinnas untuk ke enam kalinya, Ashley berhenti. Laki-laki yang berkali-kali tidak sempat menyelesaikan kata-katanya tersebut, akhirnya dibiarkan bernapas dengan rasa sakit di seluruh wajahnya.

__ADS_1


"Liat?"


Sekali lagi, dilontarkanlah sebuah pertanyaan yang masih belum terjawab sedari tadi. Hanya bedanya, kali ini pria itu mau bekerjasama dan menjawab pertanyaan tersebut.


"Y-ya, sepewtinya..."


Menatap wajah pria malang yang semakin terlihat malang tersebut, dihantamkannya sekali lagi wajah itu ke tanah oleh Ashley. Bukan jawaban dengan keraguan yang ia inginkan, namun sebuah jawaban pasti.


Untungnya, satu benturan terakhir itu cukup untuk membuat pria tersebut yakin. Mau tidak mau.


"Ya! Ya, pewah- pewnah lihat..." Dengan ucapan yang sudah tidak terlalu jelas, ia mencoba meyakinkan Ashley.


Spontan melanjutkan pertanyaannya dan tanpa memberikan bonus kekerasan lain, wanita itu bertanya,


"Di mana?"


Kali ini pria itu benar-benar bisa diajak bekerjasama. Meski sulit untuk bicara, ia tetap berusaha memberikan informasi yang Ashley inginkan.


"D-di- mwengingap gi sana... gua owang- laki-laki..."


"Pendek, wajah sombong, satunya bawa pedang, rambut sebahu?" Tanya Ashley memastikan mereka benar adalah orang yang ia cari.


"Y-ya... ya, meweka."


Terkonfirmasi.


Meski pengawal Joseph sebenarnya adalah perempun, namun bentuk wajah dan tubuhnya memang dapat menyamarkan hal tersebut. Suaranya juga cukup berat untuk ukuran perempuan.


Jika bukan karena novel yang ia baca, Ashley mungkin juga tidak akan menyadarinya. Hal yang bahkan mampu membuat informan kepercayaannya ikut terkecoh.


Berbeda dengan adat kerajaan Durman, di negara asal Joseph wanita memang bisa menjadi seorang kesatria. Meski begitu, hal itu tidak menghapus fakta bahwa kesatria wanita tetap dipandang sebelah mata.


Kembali berdiri setelah mendapat apa yang ia mau, Ashley pun meminta pengawalnya untuk melepaskan laki-laki tersebut.


Sembari melihat ke arah penginapan yang tidak terlalu jauh darinya, sebuah senyuman perlahan mengembang di sudut bibir Ashley. Wanita itu sedang memikirkan cara, bagaimana ia akan menyapa Joseph dan kesatrianya.


Duo yang berani menggores lehernya tempo hari.


Melihat mereka kini sedang bersih keras mencari Ashley, jelas sekali, laki-laki itu juga masih menyimpan dendam terhadapnya.


Wanita yang berani menentangnya terang-terangan di hadapan tunangannya.


.................. Bersambung .................

__ADS_1


__ADS_2