Cinderella Gila

Cinderella Gila
Nganggur, ya?


__ADS_3

Jam menunjukan pukul 10 malam dan hujan baru saja reda. Dengan kereta kuda keluarganya, Ashley pergi ke kasino.


Ia menduga jika Daryl pasti sudah tidak berada di sana. Namun sejak awal, tujuannya bukanlah untuk menemui pria itu. Ia hanya memanfaatkan uang Daryl untuk mengisi kantung uangnya kembali.


Selama tiga hari berturut turut, kereta keluarga Midgraff selalu terlihat di kasino tersebut. Hal itu tentu menarik perhatian khalayak umum.


Biasanya kereta itu terlihat di sana lebih awal, hingga lebih banyak di ketahui orang. Namun kini ia datang lebih larut, layaknya memberitahu para pengunjung malam yang belum pernah menyadari kehadirannya.


Tidak ada yang tahu siapa yang memakai kereta itu, karena tidak ada satu pun dari mereka yang pernah melihat sosok yang turun ataupun naik ke kereta tersebut.


Awalnya mereka pikir itu adalah Vincent, namun keyakinan orang-orang yang mengidolakannya, menepis rumor tersebut. Pilihan pun jatuh kepada Marion dan Ashelia.


Memang ada banyak orang yang pernah melihat Ashelia saat pergi ke toko tongkat, namun skalanya kini jauh lebih besar. Orang-orang itu kini hanya terhitung 'segelintir' dan jelas tidak akan mampu meyakinkan masyarakat luas yang memiliki pemikiran berbeda, masyarakat yang masih beranggapan bahwa gadis itu tidak mungkin keluar dari rumah.


Marionlah yang kemudian mendapatkan tuduhan tersebut. Wanita dengan latar belakang biasa, yang menikahi laki-laki tua kaya, kini bersikap layaknya parasit dengan menghambur-hamburkan harta orang tersebut. Martabat Marion pun semakin jatuh di mata masyarakat umum dan juga para bangsawan.


Di dalam kasino, wanita yang secara sengaja memberikan bahan gosip itu, sedang bermain dengan pria yang sudah menunggunya berjam-jam.


"Kukira kau tidak datang hari ini."


"Ujan. Gua ga suka basah."


Berbeda dari biasanya, Ashley hanya diam sepanjang permainan. Ia tidak meledek Daryl atau mencoba membuat laki-laki itu tidak fokus.


Kini ia juga menggunakan sarung tangan, meski sebelumnya tidak pernah. Sarung tangan itu sebenarnya ia pakai untuk menutup tangannya yang memar karena memukul pintu. Namun Daryl pikir, mungkin itu karena dingin, karena hujan baru saja reda beberapa saat lalu.


Karena tidak ada percakapan di antara mereka, Daryl mulai merasa canggung. Ia mencoba mencari topik pembicaraan, namun ia juga tidak tahu harus membahas apa. Daryl bukanlah orang yang suka bersosialisasi. Ia juga tidak terbiasa memulai percakapan.


"Lo,"


Ashley tiba-tiba mulai bersuara setelah sekitar satu jam terdiam.


"Nganggur, ya?"


Pertanyaan Ashley menusuk tepat di jantung Daryl. Ia yang selama ini hanya bekerja dan bekerja, akhir-akhir ini memang sering menunda pekerjaannya untuk bertemu Ashley.


Melihat aktivitas Vincent yang tiada hentinya, bahkan hingga malam hari, membuat Daryl yang selalu ia temui saat setelah matahari terbenam, terlihat memiliki banyak waktu. Bahkan laki-laki itu sempat menunggunya hingga larut malam.


Daryl berusaha mencari alasan, karena tidak mungkin baginya untuk mengatakan jika ia sengaja menunda pekerjaannya demi menemui gadis itu.


"Aku menyelesaikan semuanya lebih awal."


"Hmm." Jawab Ashley mengiyakan tanpa berniat memperpanjang percakapan mereka.


Setelah beberapa jam bermain,

__ADS_1


"Waktu anda sudah habis, Nona."


Ashley langsung mengambil sisa koinnya dan berdiri meski permainan mereka belum selesai. Daryl hanya menatapnya bingung sebelum mengikutinya pergi.


"Apa terjadi sesuatu?" Tanya Daryl yang hanya dibalas lirikan oleh Ashley.


"Kau tidak bermain seperti biasanya."


Ashley tertawa mendengar seseorang sedang mengkhawatirkannya.


"Gitu juga lo masih kalah." Ledeknya kemudian.


Mulut Daryl terbungkam karena tidak bisa menepis fakta tersebut. Ekspresi khawatirnya berubah menjadi ekspresi terbully. Bagi Ashley, ekspresi wajah itu lebih cocok untuk Daryl.


"Daripada mikirin yang lain, mending lo lakuin hal-hal yang ga bakal lo seselin."


"Siapa tau lo kesamber petir trus pindah ke dunia lain, kan?" Ucap Ashley seakan menertawakan takdirnya sendiri.


Mendengar candaan gadis di sampingnya, Daryl tertawa.


"Itu terlalu mustahil."


Ashley hanya tersenyum menatap jauh ke depan. Memikirkan ucapannya memang sangat tidak masuk akal. Begitu pula takdir yang menimpanya.


Setelah menukarkan koinnya, seperti biasa, wanita itu langsung menghilang padahal sedari tadi ia berada di samping Daryl. Memahami kemisteriusan wanita itu, Daryl hanya tersenyum.


Ia kemudian teringat dengan rencana penyergapan wanita itu tempo hari. Rencana yang dengan sengaja tidak ia beritahukan kepada Vincent karena tidak menyukainya meski berada dalam faksi yang sama.


Apakah karena gagal? Namun ia pun tahu niat asli Ashley hanya untuk menyelidiki sesuatu terkait Nyonya Midgraff.


Mengingat Marion, ia pun teringat dengan sepatu Ashelia. Sama halnya dengan Ashley, Ashelia kini juga memakai kaki palsu.


"Apakah kaki palsu sedang tren sekarang?"


Ia kemudian memikirkan kemungkinan jika mereka berdua adalah orang yang sama. Daryl menggelengkan kepalanya, mencoba menepis pemikiran tersebut.


Bawahannya memang berkata jika Ashelia telah berubah menjadi preman. Namun sifat Ashley sangat berbeda dengan Ashelia yang ia tahu. Ia juga masih meyakini jika Ashley adalah orang yang datang dari negara lain.


Pikirannya pun berlanjut ke sana dan kemari tanpa benar-benar mendapatkan jawaban. Topiknya berubah-ubah hingga berakhir ke pekerjaannya yang tertunda.


Ia kemudian memejamkan matanya, mencoba tidur agar otaknya mendapat istirahat.


...****************...


Di hari berikutnya, kegiatan judi mereka pun terulang.

__ADS_1


Seperti sebuah kebiasaan, Daryl akan menyudahi pekerjaannya saat matahari mulai terbenam lalu bersiap-siap pergi ke kasino.


"Daryl."


Asisten Daryl selalu memanggil nama Daryl jika ia sedang kesal dengan tuannya. Menyadari hal itu, Daryl berhenti dan mencoba mendengarkan.


"Kau sangat boros akhir-akhir ini."


Layaknya anak kecil yang tertangkap basah melakukan kesalahan, asistennya dapat membaca ekspresi laki-laki itu dengan jelas.


"Apa kau, sedang dekat dengan seseorang?"


Mendengar pertanyaan tersebut, tatapan Daryl berubah sinis. Ia tidak menyukai jika satu-satunya hal yang ia suka, juga masih dicampuri oleh orang lain.


"Memangnya kenapa?"


Mengetahui Daryl tersinggung dengan ucapannya, asisten itu menghela nafas dan berusaha menyampaikan kekhawatirannya selembut mungkin.


"Sudah lama Anda tidak bersemangat dalam hal apapun. Saya tidak ingin ia hanya memanfaatkan status Anda."


"Dia tidak tahu siapa aku."


"Apa semua pengeluaran itu bersangkutan dengannya?"


"Itu uang simpananku."


Asistennya hanya diam mendengar jawaban keras kepala tuannya. Ia kemudian memalingkan wajahnya dan berkata,


"Sebagai asisten Anda. Saya minta Anda berhati-hati."


Daryl berbalik tanpa menjawabnya dan berjalan keluar pintu.


"Sebagai temanmu, aku ingin mengatakan-"


Mendengar hal itu, sekali lagi Daryl menghentikan langkahnya dan menengok ke belakang, mencoba mendengarkan apa yang temannya ingin katakan.


Asistennya kemudian menoleh ke arahnya sambil tersenyum. Bukan senyuman hangat atau meledek. Itu adalah senyuman yang akan diberikan seorang kakak laki-laki untuk menyemangati adik laki-lakinya. Senyuman yang akan diberikan seorang teman yang mendukungnya sepenuh hati.


"Have fun, man." Lanjutnya kemudian.


Daryl terdiam sebelum akhirnya ikut tersenyum karena dukungan dari sahabat sekaligus kakaknya itu.


"Thanks, Will." Ucapnya yang kemudian pergi untuk menemui gadis yang mampu membuatnya kembali menikmati hidup.


Setelah Daryl tidak terlihat. Asistennya pun mengambil mantelnya dan pergi mengikuti Daryl. Rasa penasarannya kini sudah tidak tertahankan.

__ADS_1


^^^Bersambung...^^^


__ADS_2