Cinderella Gila

Cinderella Gila
Cek


__ADS_3

Berjalan di jalanan sepi dengan sederet pertokoan kosong karena telah melewati jam beroperasi, Ashley dan kedua bawahannya hendak menghampiri salah satu titik pengambilan obat. Di bawah sinar rembulan, ketiganya pun berhenti di depan salah satu kafe pada wilayah tersebut.


Melangkah mendekati pintu, Ashley kemudian berjongkok dan mengambil sebuah kunci yang terselip di bawah keset. Sebuah tempat penyimpanan yang menurutnya sudah terlalu bayak diketahui.


Mungkin saja di dunia Ashelia hal itu masih terbilang baru.


"Gua ngecek, kalian cegat dari luar." Ucap wanita pirang itu sambil membuka pintu kafe yang terkunci.


Namun,


"Ijinkan saya, Nona."


Alais tidak bisa merelakan Nonanya masuk ke tempat asing yang belum jelas keamanannya seorang diri.


Menengok ke belakang, Ashley mendapati kesatrianya tengah membungkuk dan mengajukan sebuah permohonan. Ketimbang menggunakan sikap kesatria pada umumnya, Alais selalu mengikuti standar sikap yang ditetapkan nonanya.


Demi keselamatan nonanya, diajukanlah sebuah usulan untuk menggantikan Ashley masuk ke dalam oleh Alais. Tidak melihat adanya perbedaan, wanita itu pun menyetujuinya.


Melangkah ke samping, mempersilahkan Alais melewati pintu tersebut, Ashley kemudian berpesan,


"Lantai atas, kabinet di sebelah pintu, nomer 2 dari kanan."


"Gua kunci dari luar. Ketok 2 x 2 kalo mau keluar." Lanjutnya sambil mempraktikkan.


Menjawab instruksi Ashley dengan anggukan, pria itu pun masuk ke dalam dengan kewaspadaan penuh. Lalu, setelah mengunci pintu tersebut, Ashley dan Bellena beranjak mencari tenpat persembunyian.


Buruanmu tidak akan datang jika kau berkeliaran di sekitar jebakanmu, kan?


Bandar kecil seperti bangsawan yang ditemui Ashley siang tadi, hanya perlu menuliskan barang yang diminta, jumlahnya, dan kode lokasi pengiriman yang diinginkan pada secarik kertas berwarna kuning. Selanjutnya, kertas itu 'dibuang' ke dalam tempat sampah yang membagi sampah kertas dengan sampah lain.


Meninggalkan sejumlah uang pada lokasi yang tertera, sekitar satu sampai dua hari kemudian, barang yang diminta akan datang dengan sendirinya, menggantikan uang yang diletakkan di sana.


Tidak mengetahui kapan dan di mana 'kurir' tersebut akan muncul, Ashley pun terpaksa mencari secara manual di titik-titik pertukaran yang disebutkan oleh calon koleganya. Karena bangsawan itu baru saja mengisi ulang stoknya, ia tidak bisa membantu Ashley memancing salah satu pengirim untuk datang.

__ADS_1


Alhasil, Ashley saat ini sedang mencari 'uang' yang ditinggalkan oleh bandar lain. Lalu, setelah menemukannya, ia berniat memantau wilayah tersebut guna menemui si 'kurir gaib' yang tidak pernah dilihat oleh para bandar.


Melihat ke sekeliling dan belum menemukan tempat persembunyian yang cukup dekat dengan pintu kafe, Ashley dan Bellena sudah dibuat kehabisan waktu. Wanita pirang dengan antena pendeteksi musuh itu menangkap sebuah pergerakan.


Tidak sempat bersembunyi, mereka berdua hanya memiliki opsi untuk bersandiwara. Namun apa yang dilakukan dua orang gadis di tempat sepi seperti itu? Terlebih lagi, salah satu dari mereka adalah seorang bangsawan. Peran apa yang harus mereka ambil?


Mencabut paksa kancing baju luar yang ia kenakan, Ashley kemudian melepas jas tersebut dan memberikannya kepada Bellena.


"Benerin itu." Perintahnya singkat yang membuat Bellena sedikit bingung.


"...saya tidak membawa alat jahit, Nona."


Melihat pelayannya dengan tatapan penuh amarah, Ashley membuat Bellena semakin kebingungan.


"Kenapa ga bawa!? Lo mau gua keluar pake itu!?"


Sedikit tersentak mendengar Ashley berteriak, Bellena merasakan sebuah kejanggalan. Nonanya sangat jarang berteriak, terutama kepada orang lain. Dan lagi, ia jelas-jelas melihat Ashley merusak baju itu dengan sengaja, kenapa sekarang sangat ingin memperbaikinya? Bagi orang yang sangat mengenal sifat nonanya tersebut, Ashley terlihat seperti sedang berpura-pura.


Dengan kata lain, ada yang datang? Si kurirkah?


Lalu tidak jauh dari mereka, seorang pria berjalan perlahan ke arah nona dan rekannya. Berpikir bahwa mungkin saja itu adalah si kurir, Alais pun bergegas keluar guna melindungi nonanya.


Namun langkahnya terhenti sebelum keluar melewati pintu ruangan tersebut.


Ia berpikir. Jika itu Ashley, wanita tersebut pasti telah mempersiapkan sesuatu. Sengaja mengunci kembali pintu depan kafe pasti juga bagian dari rencananya mengepung si kurir dari dua arah.


Kalau memang demikian, maka hal yang perlu dilakukan Alais adalah,


diam dan menunggu kedatangan tamunya.


Di waktu yang bersamaan, Bellena, setelah mengetahui kehadiran orang lain di sana, berusaha mengimbangi akting Ashley semaksimal mungkin.


Seorang pelayan yang berusaha keras memenuhi perintah nona kejamnya. Sambil berjongkok ia memegang pakaian mahal tersebut. Kebingungan dan rasa takut bercampur menjadi satu hingga membuat tangannya gemetar dan tidak sengaja menjatuhkan kancing yang dibawanya.

__ADS_1


Ini semua hanya akting. Begitu niat Bellena. Namun rasa gugupnya juga terlampau nyata. Sebuah sentuhan mental yang mampu membuat sandiwara tersebut semakin terlihat sungguhan.


Mereka sedang berhadapan dengan kelompok kriminal saat ini, bagaimana Bellena tidak gugup? Fakta yang cukup membuat gadis itu merasa berada di ambang bahaya besar.


Ia lupa, nonanya juga beberapa kali melakukan tindak kejahatan, dan tanpa Bellena tahu, Ashley sebenarnya adalah seorang bos besar yang memimpin para 'kriminal' di dunia asalnya.


Merangkak perlahan mengambil kancing yang menggelinding menjauh, Bellena kemudian tidak sengaja bertatapan dengan pria tersebut.


Melihat wajah gadis malang di depannya begitu ketakutan, pria tersebut beralih menatap ke arah Ashley. Ia tidak menyadari jika ialah alasan dari memucatnya wajah Bellena.


"Liat apa lo?" Bentak Ashley dengan sorot mata menantang.


Tidak menghiraukan 'bangsawan sombong' di sana, pria itu pun berlalu melewati kedua gadis tersebut. Tidak menunjukan tanda-tanda melambat, orang itu terus berjalan melewati kafe yang dimasuki Alais.


Bukan?


Saat Bellena hampir terkecoh, nonanya tiba-tiba saja membentak.


"Terserah! Gua mau balik. Dasar ga guna!"


Tidak percaya begitu saja, Ashley masih melanjutkan sandiwaranya. Bergegas memasuki sebuah gang dengan penerangan cukup, Ashley membuat dirinya terlihat seperti mencari jalan alternatif karena tidak ingin dilihat orang. Diikuti Bellena yang berjalan terhuyung-huyung, keduanya pun menghilang dari sana.


Menyamarkan suara kakinya agar terdengar seperti berjalan menjauh, Ashley dan Bellena bersembunyi di balik dinding. Didengarkanlah dengan seksama, segala suara yang datang dari rute pertokoan tersebut.


Namun tidak ada suara apa pun.


Setelah beberapa saat menunggu, ia sama sekali tidak mendengar suara. Jaraknya memang cukup jauh, namun jika orang itu bergerak seperti biasa seharusnya masih bisa terdengar.


Kecuali pria tersebut sengaja mengendap-endap.


Merasa aneh, Ashley pun meningkatkan kesiagaannya. Ia mulai membayangkan jika orang tersebut justru tengah menghampirinya dan hendak melakukan serangan tiba-tiba.


"Cek."

__ADS_1


Dikeluarkanlah sebuah perintah kematian tersingkat dalam sejarah oleh Ashley kepada pelayannya yang paling taat dan setia.


.................. Bersambung .................


__ADS_2