Cinderella Gila

Cinderella Gila
Saya akan bertanggung jawab!


__ADS_3

Sunyi. Kesenyapan menyelimuti telinga wanita pirang di sana.


Pandangan Ashley melekat kuat pada wanita 50 tahunan di hadapannya. Layaknya berada pada ruang hampa, dunia tersebut hanya milik mereka berdua. Tak sedetik pun waktu ia lewatkan untuk menatap sang wanita berambut abu, bahkan untuk berkedip sekali pun.


Pergerakannya terasa sangat lambat, seolah waktu kini telah menjadi sahabatnya. Dalam keadaan tersebut ia seolah kehilangan fungsi dari kelima inderanya. Tak dapat merasakan apa pun, Ashley hanya fokus pada satu tujuannya.


Samar-samar, ia mendengar suara. Seperti suara angin atau hiruk pikuk perkotaan dari kejauhan. Seperti tengah bermimpi, ia tidak lagi sadar di mana ia berada sekarang.


Api amarah di dalam dirinya masih menyala dengan kuat. Luka dan darah dari lawannya bahkan tak cukup untuk meredam.


Tak pandang bulu, ia kemudian melayangkan 2 pukulan keras lainnya. Baik itu pria atau wanita, tua maupun muda, atau bahkan anak-anak sekali pun seharusnya tidak melewati batas mereka, karena wanita keji itu, tidak mengetahui apa yang disebut 'iba'.


Meski wanita tua tesebut telah kehilangan kesadaran, namun Ashley masih ingin melanjutkan tindakannya.


Akan tetapi, kali ini tangannya terasa jauh lebih berat. Daripada berat, lengannya lebih terasa seperti 'tersangkut'.


Menolehlah ia ke samping karena tidak dapat merasakan hal apa yang membuat dirinya tak bisa bergerak. Dilihatnya lengan seseorang tengah mengait dan menahan lengan kanannya agar tetap diam di tempat.


Melemparkan sikunya ke belakang guna menyerang si Pengganggu, ia lalu mendengar suara pria yang begitu familiar di telinganya.


"Ash!"

__ADS_1


Berhentilah wanita tersebut, mengabaikan niatnya yang hendak menyerang si Pengganggu.


Kenny?


Belum memingat siapa pemilik dari suara tersebut, ia hanya mengingat sosok laki-laki yang selalu menghentikannya saat lepas kendali.


Menoleh ke belakang, didapatinya wajah yang sangat tidak asing bagi Ashley, orang yang sama yang sedang menahan tubuh dan lengannya. Bukan Kenny, melainkan sang pemilik suara. Benar, memang tidak mungkin Kenny akan memanggil bosnya hanya dengan nama.


Tersadar dengan apa yang baru saja ia lakukan dan di mana ia saat ini, panca indera Ashley berangsur kembali. Dilihatnya orang-orang yang menjaga jarak dari tempat kejadian dengan raut wajah takut.


Melirik ke arah si Peramal, Ashley sama sekali tidak bereaksi. Satu-satunya hal yang ada di pikirannya saat ini adalah ia tidak boleh membunuh wanita tua tersebut karena sedang berada di depan publik. Salah-salah ia justru bisa dihukum mati. Tanpa tahu apa-apa mengenai hukum di dunia itu, Ashley tidak bisa bertindak gegabah karena tidak mempu mengatasi para saksi mata di sana.


Dilepasnya tangan Daryl kemudian saat Ashley sudah terlihat tenang. Seperti menjinakan hewan buas, perubahan sikap wanita tersebut sangatlah mengejutkan.


Tidak pernah terkena pukulan dari Ashley sama sekali, Daryl tak menyangka jika tenaga wanita itu sangatlah kuat. Setelah memanggil berkali-kali dan mengerahkan seluruh tenaganya, barulah ia bisa menghentikan si Pirang Liar.


Berniat mengubah opini saksi mata, Ashley pun meminta seseorang untuk mengantarnya ke dokter terdekat. Baik itu rumah sakit ataupun klinik kecil, tidak masalah karena hanya perlu mengurus luka luar.


Akan tetapi, berbeda dengan solidaritas mereka sebelumnya, para saksi mata tersebut tidak ada yang berniat membantu. Ashley sebenarnya hendak mengajak mereka guna menghapuskan kecurigaan yang bisa menuduhnya tidak benar-benar ingin mengobati.


Namun apa ini? Tidak ada bedanya dengan para bangsawan yang egois dan semena-mena, rakyat biasanya pun hanya suka menghakimi tanpa ada keinginan membantu.

__ADS_1


Dengan tatapan malas, Ashley pun meminta Daryl mengurusnya. Sambil melepas ikatan kudanya pada bagian belakang kerata, wanita itu berkata ia hendak pergi ke suatu tempat.


Digenggamnya tali kekang kuda tersebut oleh Daryl, menghalangi Ashley untuk pergi begitu saja. Bukan tidak terima karena harus mengurus masalah yang ditimbulkan oleh wanita tersebut, Daryl hanya ingin Ashley pulang terlebih dahulu.


"Kau pergi tanpa kabar, kan?" Tanyanya membahas kedatangan wanita itu secara tiba-tiba tadi malam.


Tidak menjawab dan hanya memalingkan pandangan, Ashley mengkonfirmasi bahwa ucapan Daryl tepat sasaran.


Mengatakan bahwa keluarga wanita tersebut pasti khawatir, Daryl membujuk Ashley untuk kembali ke kediaman Midgraff terlebih dahulu sebelum melanjutkan aktivitasnya yang lain. Mempertimbangkan reaksi Vincent, Ashley pun mengikuti saran yang diberikan oleh Daryl.


Dimintanya kusir mereka pergi kemudian, mengantar si Peramal ke dokter dan meninggalkan Daryl beserta Ashley dengan satu kuda.


Demi memastikan wanita itu kembali ke rumah dengan selamat dan tanpa kurang sedikit pun, Daryl pergi bersamanya. Selain itu, pria tersebut juga memiliki sesuatu yang harus ia sampaikan kepada Vincent.


Sesuatu seperti,


"Saya akan bertanggung jawab!"


Berlutut dengan satu kaki di hadapan Vincent, Daryl menyuarakan sesuatu yang membuat ketiga Midgraff di sana tercengang.


.................. Bersambung .................

__ADS_1


__ADS_2