
Seorang pria menunggangi kudanya melaju dengan cepat melewati kota menuju area perkebunan. Tidak ada tanda-tanda melambat, ia terus memacu kudanya berlari memasuki hutan.
Melewati jalan setapak tersebut sampailah ia di sebuah danau.
Dilihatnya seekor kuda yang berada tidak jauh dari tempatnya berhenti. Wajah khawatirnya berubah menjadi lebih tenang namun masih terlihat kesedihan yang mendalam di dalam matanya.
Turunlah ia dari punggung kuda yang ia tunggangi, berjalan perlahan mendekati danau. Tanpa menghentikan langkahnya, diusapnya lembut leher kuda yang sedari tadi sudah berada di sana. Kuda yang sama yang pernah mendatangi kediamannya di tengah malam.
Meringkik pelan seolah membalas ramah sapaan pria yang ia kenal, kuda tersebut membiarkannya menemui pemiliknya.
Namun pemikiran tersebut tidaklah sejalan dengan wanita yang berada di balik pohon besar di tepi danau itu.
"Go home, or I'll kill you next." Ucap wanita tersebut menyadari siapa yang datang menemuinya.
"Ash-"
"If killing your girlfriend isn't enough, should I go slaughter all your people?" Sela wanita itu tidak memberi kesempatan pada pria tersebut untuk bicara.
Masih tidak menunjukan diri dari balik pohon, dan masih menggunakan suara berat yang begitu dingin, wanita itu melanjutkan inti pembicaraannya. Ia berniat memutus hubungan dengan pria itu sesegera mungkin.
"You're f***in' annoying. I'm fed up with you."
Mendengar ucapannya, raut wajah pria itu terlihat semakin sedih, menahan perasaannya yang begitu kompleks.
Apa sebenarnya yang salah? Bagaimana bisa berakhir seperti ini? Semua terasa baik-baik saja sebelumnya. Pria itu bahkan merasa hubungan mereka telah menjadi jauh lebih baik daripada sebelumnya.
Namun itu semua berubah dalam sekejap.
...****************...
Beberapa bulan sebelumnya.
"T-tunggu! Ini aku!"
Dengan tatapan penuh kecurigaan Ashley melihat wajah Daryl dari balik punggung orang yang baru saja ia tikam.
Dengan menggunakan pisau yang tertancap di dada dan pedang yang menembus perut, digeserlah tubuh laki-laki yang perlahan kehilangan nyawa tersebut.
Terbukalah ruang bagi kedua pria dan wanita itu untuk saling melihat ekspresi wajah satu sama lain. Begitu pula tatapan mata yang menunjukan dengan jelas apa yang ada di dalam pikirkan mereka.
Daryl seketika melangkah mundur menyadari Ashley masih berniat menyerangnya.
__ADS_1
Mata pisau yang digenggam wanita itu membelah udara saat target sasarannya mampu merespon bahkan sebelum ia mencabut pisaunya.
Melepaskan pedang yang sudah mulai tumpul akibat terselimuti darah, Ashley hanya mengandalkan pisau di tangan kirinya. Meski sama-sama mulai tumpul, sertidaknya benda itu masih lebih mudah digunakan.
Tidak memiliki niat untuk berhenti, Ashley melangkah maju dan kembali menyerang Daryl. Dihunuskannya pisau tersebut ke titik-titik vital laki-laki tersebut.
Akan tetapi bukan hanya sekali dua kali, Daryl sanggup menghindari seluruh serangan Ashley. Tidak hanya pisau, bahkan serangan kakinya pun tidak mampu menyentuh pria tersebut.
Geram.
Kecurigaannya terhadap Daryl meningkat seiring dengan rasa kesal yang dirasakannya.
Setelah diingat-ingat, yang mengatakan kematian Kalia murni tanpa konspirasi adalah asumsi Asteron sendiri. Mungkinkah sebenarnya memang ada pelaku yang merencanakan hal tersebut?
Pria dengan deskripsi tidak wajar seperti Daryl contohnya?
Terbiasa melihat pergerakan lambat lawannya sebulan terakhir ini, kecepatan mata Ashley menurun seolah beradaptasi. Namun karena reflek Daryl yang sangat bagus kemampuannya seolah berangsur kembali.
"Ugh- Nona Midgraff! Dengarkan dulu-"
Daryl mulai kewalahan karena merasa entah kenapa serangan Ashley terasa semakin sulit dihindari. Wanita itu tidak menggunakan tipuan dan Daryl jelas masih bisa melihat pergerakannya, akan tetapi laki-laki dengan reflek luar biasa tersebut merasa bahwa Ashley juga mulai mengantisipasi gerakannya.
Meski sempat teriris sekali di lengan karena hampir terlambat menghindar, Daryl sama sekali tidak membalas. Pertarungan tersebut hanyalah penyerangan sepihak yang memaksanya untuk terus mundur menjauhi ujung gang.
Pria itu ingin menjelaskan alasannya datang namun Ashley sama sekali tidak memberinya peluang.
"Dengarkan dulu! Aku bukan musuh!"
Yah, tentu ucapan tersebut tidak akan langsung dipercaya oleh wanita tersebut. Sebaliknya, pernyataan itu justru terdengar mencurigakan.
Melihat Ashley yang tidak mampu ia ajak bicara dengan kata-kata, Daryl memutuskan untuk menunjukan kesungguhannya lewat perbuatan. Perbuatan yang sangatlah beresiko.
"Serang aku, aku tidak akan menghindar."
Laki-laki itu tidak bergerak dan hanya berdiri menatap wanita di depannya setelah mengatakan hal berani tersebut. Begitu pula Ashley yang tiba-tiba juga ikut berhenti menyerangnya.
Ditatapnya pria itu selama beberapa detik sebelum ia perlahan berjalan mendekatinya, Daryl benar-benar berusaha menjaga jarak dari jangkauan serang Ashley sebelumnya.
Diangkatnya kembali tangan kirinya yang masih menggenggam pisau. Kemudian dihunuskanlah pisau tersebut tepat ke arah wajah laki-laki tersebut.
"On second thought."
__ADS_1
Dengan cepat Daryl menggerakkan kepalanya ke kiri, menghindari pisau yang ditusukkan ke kepalanya tanpa ragu.
Tidak ada niat mengetes, dari awal wanita itu memang masih ingin membunuh Daryl.
Ashley bukanlah orang yang akan tergerak hatinya dan menjadi ragu setelah melihat ketulusan semu seseorang. Ia lebih memilih untuk mendengarkan penjelasan mereka nanti di neraka.
Itu juga jika ia masih ingat permasalahannya.
Tentu saja gagalnya rencana ke dua tersebut semakin membuat Ashley tidak dapat mempercayai ucapan Daryl. Masuklah ke rencana ke tiga. Rencana terakhir yang mau tidak mau harus ia lakukan.
Menghentikan Ashley.
Setelah melihat pria sasarannya menghindari tusukan lurus tanpa ampun tersebut, Ashley mengayunkan pisaunya ke kanan, mengejar titik targetnya yang berusaha melarikan diri.
Ditangkapnya tangan itu oleh Daryl sebelum sempat mengenai sasaran.
"Tunggu, tunggu! Nona-"
Siapa yang mengira?
Mencoba menghentikan wanita itu adalah pilihan yang justru memberi efek sebaliknya?
Dengan tangan kiri yang berhasil ditahan Daryl menggunakan dua tangan, wanita itu sedikit menarik pundak pria tersebut dengan tangan kanannya dan berusaha menyerang Daryl menggunakan lutut kiri.
Terpaksa melepaskan satu tangannya, Daryl berhasil menahan lutut Ashley. Sayang bukan hanya sebatas dua serangan beruntun, wanita itu mencabut pisau yang tertancap di kaki kayunya dan langsung melancarkan serangan berikutnya.
Daryl pun spontan melepas tangan Ashley dan melompat mundur. Bajunya robek di bagian dada kiri namun untungnya tidak sampai terkena kulit. Ashley langsung melangkah maju mengejar Daryl yang terus melarikan diri dari wanita berbahaya tersebut.
Sampailah ia pada jawaban terburuk.
Bukan hanya satu, kini Ashley justru menggunakan 2 pisau dan mengejar pria tersebut dengan lebih serius.
Kalia yang tidak tahan dengan panorama mengerikan di hadapannya berniat menyusul Ashley. Ia juga sempat mendengar suara yang cukup familiar baginya. Meski tidak mungkin, tapi ia masih ingin memastikannya.
Mengejutkan.
Bukan hanya tebakannya benar, namun kakak sepupu kesayangannya itu juga sedang dalam bahaya.
Melihat Kalia muncul dari balik punggung Ashley juga mengejutkan Daryl. Meski hanya sesaat, namun hal itu mampu membuat peluang kematiannya meningkat,
menjadi 100%
__ADS_1
..................... Bersambung .....................