
Masih berjongkok di depan Kalia saat Ashley sudah mulai berjalan meninggalkan mereka, Daryl berucap,
"Ingin menunggu orang lain datang?"
Jika terus berlama-lama di sana, sangat memungkinkan bagi mereka untuk menjumpai hal yang tidak diinginkan lainnya. Ashley juga sudah berada beberapa langkah di depan, dan Kalia tidak ingin Daryl ikut terhambat karena dirinya.
Apa yang ia inginkan, apa yang bisa ia lakukan, dan apa yang harus ia lakukan, sangatlah tidak sejalan. Tidak ada pilihan lain selain memilih keputusan terbaik.
Di peluknya leher Daryl dari belakang dengan sedikit ragu. Perlahan, laki-laki itu berdiri sambil menopang kaki adik sepupunya. Gaun yang dipakai Kalia cukup lebar untuk melangkahkan kakinya, sehingga ia juga merasa nyaman.
"Tutup mata." Ucap Ashley tiba-tiba.
Tanpa bertanya, Kalia langsung menurutinya. Bau anyir mulai tercium di hidungnya. Ingatan buruk tentang kejadian sebelumnya pun kembali, namun ia berhasil menepis memori itu dengan membayangkan wajah Daryl.
Sikap pengertian Ashley membuat Kalia merasa seperti mendapat seorang kakak perempuan. Kakak sepupunya yang dingin juga ternyata masih begitu menyayanginya.
Dengan perasaan hangat yang menyelimutinya, gadis itu menyadari sesuatu.
Meski kejadian yang menimpanya sangatlah mengerikan dan tidak ingin ia alami untuk kedua kalinya, namun hal itu jugalah yang membuatnya merasakan kehangatan tersebut. Perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan.
Ia memang sangat ingin berubah. Ia ingin menjadi lebih kuat dan dewasa. Namun,
Aku akan berubah mulai besok saja.
Dengan senyuman polos yang begitu lembut namun ceria, Kalia ingin menikmati momen itu setidaknya untuk yang terakhir kali.
Entah apa yang akan terjadi padanya jika kedua orang itu tidak datang untuk menolongnya. Meski Daryl datang agak terlambat, Kalia tetap merasa senang melihat kehadirannya.
"Kau, datang untukku?" Tanya gadis itu.
Tanpa ragu atau sedikit berbasa-basi, Daryl langsung menyangkal asumsi adik sepupunya tersebut. Ia bahkan tidak membutuhkan waktu untuk memikirkan jawabannya.
"Tidak. Aku datang karena melihat Nona Midgraff."
Ashley melirik ke arah pria itu saat mendengar Daryl tidak lagi memanggilnya dengan nama 'Ashelia'. Sebelumnya pun juga sama. Wanita itu ingat ia memang pernah melarang Daryl memanggilnya demikian. Namun siapa sangka, hanya dari caranya memanggil, kesan seseorang bisa berubah.
Pria di sampingnya kini terlihat lebih dewasa. Sambil menggendong Kalia seperti itu, ia benar-benar terlihat seperti seorang kakak.
"Jika Ashelia tidak ada, kau tidak akan menolongku?"
__ADS_1
"Tentu saja."
Kakak yang menyebalkan.
Sambil tersenyum dan masih menutup kedua matanya, Kalia bersandar di punggung Daryl sebelum berkata,
"Aku tidak akan berterimakasih, kalau begitu."
Terlepas dari setiap jawaban dingin yang terlontar dari mulut pria itu, Kalia tetap terlihat puas.
Bukan kata-kata yang ia butuhkan, namun fakta dari perbuatan nyata. Fakta bahwa Daryl masih sama seperti yang dulu. Kakak yang dingin dan tidak suka diganggu, namun tetap peduli dengan cara yang lain. Sekalipun itu dilakukannya secara diam-diam.
Bukan hanya Kalia, Ashley pun tahu seberapa besar kepedulian Daryl terhadap adik sepupunya tersebut. Ia hanya tidak mengerti kenapa laki-laki itu bertingkah tidak peduli.
Berbeda dengan Daryl, Ashley adalah orang yang cukup jujur. Namun daripada mengatakan "Aku peduli padamu.", ia akan berkata "Kau adalah asetku."
Satu-satunya kesamaan mereka berdua adalah sama-sama sering membuat orang salah paham.
Keluar dari gang, mereka berjalan menuju jalan utama. Niat awalnya adalah menelusuri jalan alternatif lainnya, karena penampilan dan bau mereka tetap mencurigakan. Akan tetapi, jarak yang akan mereka tempuh sangatlah tidak manusiawi.
Mereka butuh kereta kuda.
"Kau tahu? Ini bukan cara menggendong seorang gadis." Ucap Kalia tiba-tiba kembali memecah keheningan.
"Masih takut akan menjatuhkanku?" Lanjutnya menggoda Daryl.
"Jangan seenaknya mengambil kesimpulan. Aku hanya tidak ingin wajahku berlubang karena terus kau tatap."
Kalia terkekeh. Memang benar jika Daryl menggendongnya di depan, gadis itu akan terus menatap kakaknya karena senang.
"Kau terlalu besar untuk merasa malu ditatap gadis cantik sepertiku."
"Aku tidak malu. Dan kau juga terlalu besar untuk sangat suka digendong di punggung."
Masih sambil menutup matanya, Kalia tertawa mendengar jawaban pria tersebut hingga tanpa sengaja ia mengeratkan pelukannya dan mencekik Daryl.
Tanpa sadar, Ashley ikut tertawa melihat mereka. Hanya tawa kecil sekejap yang bahkan tidak berlangsung lebih dari 2 detik. Namun senyum di bibirnya bertahan cukup lama. Bukan senyum ramah penuh kemunafikan, ataupun senyum jahat penuh kesombongan dan tipu daya yang biasa ia tunjukan, melainkan senyum tulus yang muncul karena perasaan positif dalam dirinya.
Seketika Daryl berhenti melihat hal langka tersebut. Napasnya bahkan ikut berhenti tanpa ia sadari. Begitu pula Kalia yang kembali melihat senyum tulus Ashelia setelah sekian lama.
__ADS_1
Menyadari tatapan kedua orang yang mengingatkannya kepada anak buahnya tersebut, senyum Ashley langsung terhapus dan membuat kakak beradik itu kembali tersadar.
Banyak hal baru yang mereka sadari satu sama lain malam itu. Hal yang mungkin tidak akan mereka tahu jika bukan karena kejadian barusan.
Secara alami, keadaan krisis, selain dapat memecah suatu hubungan-
juga dapat mendekatkan satu orang dan yang lainnya.
Setelah beberapa menit berjalan, mereka hampir sampai di area jalan utama.
Ashley melepaskan lapisan terluar bajunya yang kemudian ia tenteng seperti seseorang yang baru saja pulang kerja. Hanya dengan mengenakan kemeja tipis berenda, wanita itu menerobos dinginnya malam, merasakan setiap hembusan angin yang terasa menusuk tulang.
Kemeja putih yang ia kenakan hanya sedikit terkena percikan darah, berbeda dengan baju luar yang ia tenteng. Baju tebal itu sudah terlanjur basah meski tidak tertembus sampai dalam.
Setelah cukup jauh dari lokasi pembantaian tersebut, dibuanglah baju itu ke sudut tempat sampah yang wanita itu lewati. Memang lebih aman untuk membakarnya, tapi ia tidak mau menunggu lama saat ia juga harus memastikan Kalia sampai di rumah dengan selamat.
Saat Daryl masih mengkhawatirkan penampilan Ashley yang harus menahan dingin, matanya terhenti di balutan perban pada leher wanita tersebut. Hal yang sangat ingin ia tanyakan sejak awal tadi namun ragu.
Setelah mencoba memberanikan diri untuk bertanya, Ashley justru menanyakan hal lain yang langsung membuat Daryl kembali menelan kata-katanya.
"Kenapa lo ga nyerang balik?"
"Bukankah itu akan memperburuk keadaan?"
Berbeda dengan saat menjawab pertanyaan Kalia, pria itu menggunakan nada yang lebih lembut dan menatap lawan bicaranya. Melihat perbedaan nyata tersebut Kalia hanya bisa menghela napas tidak habis pikir.
Di lain pihak, Ashley tetap berbicara dengan nada dan cara bicara seperti biasanya, dan tanpa melihat Daryl.
"Dia mana bisa bertarung." Hina Kalia yang masih menempel di punggung pria yang ia remehkan.
"Bullsh*t."
Wajar bagi Ashley untuk tidak mempercayai hal itu. Meski Daryl mengatakan penyerangannya barusan berhasil karena beruntung, reflek luar biasa yang dimilikinya tetap tidak terbantahkan.
Laki-laki itu menjelaskan jika ia memang memiliki reflek yang bagus, namun hanya sebatas itu. Serangannya tidak cukup kuat untuk mengimbangi bakatnya tersebut, hal itu yang membuatnya selalu memilih untuk menghindar.
Masih belum sepenuhnya dapat meyakinkan Ashley, diskusi mereka harus terhenti karena 2 orang laki-laki berpedang muncul di hadapan mereka sambil berteriak,
"Aku menemukanya!"
__ADS_1
..................... Bersambung .....................