Cinderella Gila

Cinderella Gila
Mendebarkan


__ADS_3

Setelah pertemuan Daryl dan Vincent berakhir bahagia, laki-laki muda tersebut langsung berpamitan karena harus segera kembali.


Setelahnya, semua kembali seperti semula, seolah kejadian 'Ashelia menghilang' tidak pernah terjadi sebelumnya. Mungkin ini juga karena Daryl, tak seperti sebelumnya, Ashley tidak diberi hukuman berat oleh Vincent. Wanita itu hanya tidak boleh lagi keluar di atas jam 9.


Di samping itu, Alais belum juga manampakkan diri.


Diperintahkanlah Bellena untuk mencari informasi terkait hilangnya sang kesatria. Mulai dari menanyai Dokter keluarga Midgraff, para kesatria lain yang menjadi rekan kerjanya, kepala pelayan yang memantau seisi rumah, para penjaga yang mengawasi keadaan di luar, siapa saja- semua pekerja bila perlu.


"Laporin ke gua apa aja yang lo dapet pas gua balik."


Bertanya apakah Ashley akan pergi keluar lagi saat ia baru saja kembali, Bellena hanya mendapatkan jawaban pendek tanpa pemberitahuan nama tempat yang akan didatangi nonanya.


"Boleh saya tahu tempat tujuan Nona?"


"Jika Tuan Vincent bertanya saya tidak tahu harus menjawab apa."


"Jajan." Jawab Ashley kemudian, singkat padat dan mengherankan.


Kata-kata yang akan keluar dari mulut pelayan itu tersendat setelah mendengar jawaban egois yang terlontar dengan begitu entengnya.


Dijelaskanlah oleh Bellena, jika ia telah mendapatkan teguran dua kali dari Vincent karena selalu lalai mendampingi Ashley. Jika Kepala Keluarga Midgraff tersebut tahu putrinya pergi keluar seorang diri lagi, maka posisi Bellena mungkin akan digantikan oleh orang lain.


Bukan hanya Bellena, jika itu terjadi, Ashley pun akan dirugikan karena orang baru tersebut bisa saja adalah orang suruhan Marion.


Namun layaknya orng yang mampu melihat masa depan, Ashley bersikap begitu tenang. Dengan senyum tipis ia lalu menepuk kedua pundak Bellena. Seperti seorang atasan munafik yang memaksa bawahannya untuk mengerjakan hal mustahil dengan kata-kata manis, Ashley berujar,


"Gua tahu potensi lo. Lo pasti bisa."


"Jangan sampe ketauan, oke?" Pesan wanita itu sambil mengedipkan satu matanya, sebelum kembali melepas pundak Bellena dan melangkah pergi.


Bellena sama sekali tidak menunjukkan reaksi apa pun. Otaknya tengah diputar keras saat itu juga guna mencari solusi yang akan memberi hasil memuaskan bagi Ashley. Namun mau bagaimanapun, pencuri tidak akan bisa bergerak bebas saat sang pemilik rumah tengah terjaga dan berada di dalam kediamannya.


"Tunggu, Non-"

__ADS_1


Menoleh kesamping berniat merundingkan kembali misi di luar nalar tersebut, Bellena dikejutkan dengan hilangnya Ashley dalam sekejap.


Berlarilah ia keluar, melihat lorong yang juga kosong tak berpenghuni. Lanjut menuju tangga, keberadaan Ashley juga sudah tidak lagi terdeteksi hingga ke pintu utama. Tidak dapat membayangkan Ashley yang berlari terburu-buru, Bellena lebih percaya jika ialah yang berpikir terlalu lama.


...****************...


Semakin mendapatkan perhatian Vincent, Ashley sebenarnya menjadi semakin kesulitan untuk bergerak. Namun ia tidak menyalahkan pria tersebut, karena baginya itu adalah bayaran yang sepadan.


Tidak lagi memiliki banyak waktu, ia harus membagi tugas investigasinya dengan Bellena. Saat pelayan setiannya mencari tahu mengenai Alais yang menghilang secara tiba-tiba, ia pergi menemui informan cilik yang berdagang makanan di alun-alun kota untuk bertanya tentang Eva.


Selain menyarankan untuk melupakan Eva, Guilherme juga mengatakan bahwa ada kemungkinan jika Eva masih selamat dan memang hanya dipindahkan saja. Karenanya, ia ingin mencari tahu di mana lokasi pemindahan tersebut.


Di lain tempat, Daryl yang baru saja sampai, langsung pergi menuju ruang kerjanya. Membuka pintu ruangan di lantai 3 tersebut, seorang laki-laki tinggi berambut pirang telah menunggunya dengan senyuman usil.


"Such a gentleman, I see." Ucapnya menjahili pria yang baru saja kembali itu.


Mengambil jam saku yang tersimpan di kantung bajunya, Daryl memperhatikan benda bundar tersebut sambil berkata,


Seketika Will pun berdiri, sedikit mendundukkan kepalanya memberi hormat, ia menyapa sang tuan rumah.


"Selamat datang kembali, maaf saya terlambat menyambut kedatangan Anda."


"Apakah perjalanan Anda menyenangkan?" Tanya Will mengangkat kepalanya kembali.


Senyum usil yang sempat menghiasi wajahnya kini tidak ada lagi, hanya ekspresi seriusnyalah yang tertinggal di sana.


"Mendebarkan." Jawab Daryl kemudian, mengingat kejadian di saat Ashley tiba-tiba mengamuk.


"Saya harap jantung Anda sehat selalu." Sahut Will yang tidak ingin bekerja sendirian jika terjadi sesuatu dengan jantung tuannya.


Mau bagaimana pun, tugasnya adalah 'membantu' bukan 'mengambil alih' pekerjaan Daryl. Bukannya tidak mampu, ia hanya tidak suka bekerja di dalam ruangan.


Berjalan menuju meja kerjanya, diliriknya oleh Daryl selembar koran yang tergeletak di atas meja tersebut. Dengan judul berita yang ditulis cukup besar, tidak sulit bagi artikel itu untuk mendapatkan perhatian Daryl.

__ADS_1


Dibacanya dengan seksama, surat kabar yang masih ditulis dengan tangan tersebut. Di saat yang bersamaan, pikirannya melayang mengaitkan memori satu dengan yang lain.


Sebuah peristiwa berdarah yang memakan begitu banyak korban jiwa tertulis di sana. Dengan keseluruhan korban yang beridentias sebagai 'pendatang' alias bukan orang yang semula berbisnis di sana, berita tersebut mampu mengundang banyak spekulasi. Meski kejadian itu terlalu besar untuk diabaikan, tidak ada keputusan penutupan sementara di wilayah pelacuran tersebut. Hanya saja, mungkin sekarang pelanggannya akan berkurang drastis.


Tidak peduli dengan apa yang terjadi di sana, perhatian Daryl hanya terfokus pada seseorang yang ia curigai adalah dalang di balik kejadian tersebut. Seorang gadis yang juga berada di sana semalam. Seorang gadis yang memiliki bukti bekas pertikaian di tubuh dan rambutnya.


It's not a big deal.


Jawaban yang diberikan Ashley saat Daryl menanyakan mengenai rambut wanita tersebut terus terngiang di kepalanya. Dengan wajah membeku dan pandangan yang masih terkunci pada goresan tinta tersebut di hadapannya, pria itu bertanya,


"Hey, bukankah ini masalah besar?"


Melihat ke arah surat kabar yang tengah deperhatikan Daryl, asistennya kemudian memberikan jawaban yang cukup wajar.


"Karena berita itu ditulis di halaman depan dengan judul besar, saya percaya mereka juga menganggapnya hal besar."


"Kan!? Bagaimana dia bisa berkata itu bukan masalah serius? Jadi yang serius skalanya sebesar apa?"


Sedikit tersentak karena Daryl tiba-tiba menjadi heboh, Will mencoba memahami apa yang sebenarnya sedang dipikirkan tuannya.


Menghela napas panjang, Daryl kemudian duduk di kursinya sambil bergumam,


"Apa yang harus kulakukan? Aku mungkin hanya mampu melindungi ujung kukunya."


Dari raut wajah terkejut, lalu berubah bingung, rusau, dan kini terlihat sedih. Perubahan ekspresi pria itu sudah cukup menjadi bukti bahwa ia sedang membicarakan Ashley. Namun fakta itu juga cukup mencengangkan bagi Will, karena mereka sedang membicarakan topik yang ada di surat kabar.


"Maksud Anda, Nona Midgraff yang melakukan hal tersebut?"


"Siapa lagi?"


Memalingkan pandangannya ke kiri bawah, pria pirang di sana terlihat sedang pempertimbangkan sesuatu. Hal yang selama ini ia lakukan secara diam-diam di balik punggung tuannya. Hal yang secara tidak sengaja juga berkaitan dengan Ashley.


.................. Bersambung .................

__ADS_1


__ADS_2