
Membuka matanya perlahan, kesadaran Ashley mulai kembali. Lalu, hal pertama yang disarakannya adalah kedua lengannya yang terasa seperti hampir putus.
Pelan, ditegakkannya tubuh wanita itu yang tergantung lemas dengan kedua tangan terkekang di atas kepala. Bersandar pada dinginnya dinding batu yang langsung menyentuh kulit, dijatuhkannya pandangan Ashley kemudian ke tubuhnya sendiri.
Tidak lagi berpakaian lengkap, wanita tersebut hanya mengenakan pakaian dalam. Kedua pisaunya telah dilucuti bersama dengan bajunya, tanpa menaruh kecurigaan pada kaki palsu serta kalung yang masih dikenakannya.
Mendongak melihat benda di atas kepalanya, Ashley mendapati kedua tangannya terkekang kuat oleh satu rantai besi dengan satu pengait di tengah-tengah.
Diturunkanlah perlahan satu tangan wanita tersebut, membiarkan tangannya yang lain terangkat tinggi untuk sesaat. Bergantian melakukan hal yang sama pada kedua tangannya, Ashley membuat lengan yang mulai mati rasa karena peredaran darah tidak lancar itu terasa lebih baik.
Tidak ada orang lain selain dirinya di dalam ruang gelap tersebut. Ashley tak tahu apakah ada orang yang berjaga di depan pintu dan juga di mana letak Eva dikurung.
Tempat yang cukup luas untuk menyekap satu orang itu begitu kosong dan hanya memiliki satu kursi yang tersandar pada pilar di bagian tengah ruangan. Tak butuh waktu lama bagi Ashley untuk mengetahui alasan luasnya tempat tersebut, karena tak lama kemudian beberapa orang datang mengunjunginya.
Area untuk melampiaskan stres itu haruslah luas agar dapat memuat banyak orang, yang nantinya digunakan sebagai area menghajar tahanan ramai-ramai dan melakukan apa pun yang mereka mau.
Aroma tidak sedap yang muncul karena gabungan beberapa bau-bauan di tempat tersebut cukup untuk menjelaskan bahwa tidak ada pengalaman baik yang terjadi di sana. Dari cara mereka mengekang Ashley, yang memaksanya untuk tetap berdiri dengan tangan di atas saja sudah sangat menyiksa.
Hal itu membuat Ashley sedikit khawatir. Ia mulai ragu jika Eva akan baik-baik saja. Tidak ada yang benjamin mereka tidak mencongkel mata, mencabut gigi, atau memotong tangan dan kaki Eva.
Kembali dalam posisi tergantung, Ashley melemaskan seluruh ototnya dan pura-pura tak sadarkan diri, sebelum telapak tangan yang tidak ada lembut-lembutnya menampar pipi wanita tersebut.
"Berhenti pura-pura, aku tahu kau sudah bangun."
"Paan si ganggu orang tidur." Jawab Ashley melirik malas laki-laki berjenggot tipis di depannya.
Ketiga orang di belakang pria itu saling melihat satu sama lain sambil tersenyum kering.
Sempat mengira Ashley datang untuk mencuri, para penjaga gudang tersebut dibuat heran setelah melihat penampilan wanita tersebut yang tampak seperti orang kaya. Mungkinkah ia seorang informan? Karena itu Far sedikit menganggapnya berharga?
Lalu teringatlah laki-laki itu pada sesuatu yang jelas akan membuat pria yang ditakuti banyak orang tersebut murka.
"Apa kau yang membuat kerusuhan di Samsi?"
__ADS_1
Mengetahui bahwa Samsi adalah nama daerah tempat gang pelacuran yang biasa dikunjungi Ashley, wanita itu hanya diam. Ia lebih fokus pada fakta bahwa pelelangan di Vinnas juga berada di bawah kendali Far. Wanita itu pikir, Far hanya sebatas mitra mereka.
Memang sebenarnya hanya mitra mereka.
Lalu kesalahpahaman wanita tersebut secara tidak sengaja mengkonfirmasi pertanyaan pria di hadapannya, karena ada istilah yang mengatakan 'diam berarti benar'.
Tertawalah orang-orang itu kemudian, tidak menyangka mereka telah mendapat tangkapan besar.
"Haa, aku tidak mengerti mengapa banyak wanita gila yang berani mengusik orang sepertinya?"
Apakah wanita lain yang ia maksud adalah Eva?
"Apa kau tahu? Kedatanganmu kemari sudah 'ia' prediksi? Oh atau kau ada hubungannya dengan si Pendek yang dibawa ke sini beberapa hari lalu?" Lanjut laki-laki tersebut.
Pura-pura bodoh Ashley kemudian membuat candaan dengan mengolok-olok salah satu dari empat orang di sana yang juga memiliki tinggi badan di bawah rata-rata. Merasa kesal saat temannya yang lain justru ikut tertawa, ia pun menghadiahkan sebuah pukulan pada wajah satu-satunya wanita di ruangan itu.
"Bukannya bos lo udah pindah profesi jadi peramal? Kenapa ga minta ramal kapan lo tambah tinggi?"
Dilayangkanlah pukulan yang lain oleh korban pelecehan Ashley. Namun layaknya seorang psikopat, wanita itu justru tertawa semakin keras. Raut wajahnya tidak menunjukan rasa sakit sama sekali dan justru terlihat puas.
Menahan rekannya yang mulai lepas kendali, si Jenggot lalu menunjukan senyuman buayanya. Mengangkat tangan dan meletakannya di pipi Ashley, laki-laki itu kemudian mengusap kulit wajah tawanannya.
"Mereka bilang Far tidak menyukai wanita."
Usapan ibu jari tersebut lalu perlahan berpindah ke bibir Ashley. Dengan tatapan penuh nafsu ia melanjutkan ucapannya.
"Tapi kalau secantik ini..."
"Siapa yang bisa menolak?"
Hanya merespon dengan senyuman polos, Ashley membiarkan laki-laki itu menahan kuat rahangnya sebelum kemudian mencium bibir sang tawanan. Membalas ciuman tersebut tanpa ragu, wanita itu membuat ketiga orang lainnya ikut terpancing. Dengan ekspresi wajah terhibur, para lelaki di sana jelas-jelas menantikan sesuatu.
Di sisi lain orang yang mendapat balasan dari Ashley pun semakin merasa percaya diri dan mulai menggunakan lidahnya. Sesuatu yang langsung ia sesali satu detik setelahnya.
__ADS_1
Menggigit lidah orang tersebut kuat-kuat, Ashley memaksa pria itu menjauh darinya dalam sekejap. Meludahkan saliva yang bercampur darah di dalam mulutnya, Ashley kemudian mengumpat,
"Anj***, rasanya kek ******. Lo suka makan batang?"
Sambil menutup mulut menahan rasa sakit di lidahnya, laki-laki itu menampar wajah Ashley dengan penuh amarah. Darah yang mengalir di dalam mulutnya masih belum berhenti namun tidak akan sampai menyebabkan kematian.
"Sia-an! Jika bukan kawena Kuan Faw, sugah kucabut semua gigimu!!"
Mendapat perintah langsung dari Far untuk menjaga tawanannya tetap dalam keadaan 'utuh', mereka tidak bisa bebas menyiksa Ashley seperti yang biasa mereka lakukan pada tangkapannya yang lain.
Saat pria tersebut hendak memukul wanita itu sekali lagi, Ashley dengan sigap menendang selangkangannya dengan kuat.
"Kalo mau harusnya lo lakuin waktu gua ga sadar. Be**."
Mengumpat sambil merintih kesakitan, si Jenggot semakin dibuat naik pitam oleh tingkah berontak wanita tersebut. Begitu pula ketiga orang lainnya yang hendak membuat perhitungan dengan Ashley namun justru mendapatkan tendangan mematikan.
Bukan hanya sekali. Mengetahui bahwa satu tendangan saja tidak cukup, Ashley terus menendang mereka berkali-kali. Hingga akhirnya, kesabaran satu-satunya pria berjenggot di sana benar-benar habis.
Mengambil kursi yang berada di dekat tiang, pria itu kemudian memukulkannya ke kepala Ashley tanpa ragu. Pecah berkeping-keping dalam sekali pukul, kursi kayu murahan itu tetap memberi efek yang tidak main-main.
Menggunakan potongan kayu tersebut untuk lanjut memukuli Ashley, ia berhasil sedikit menjaga jarak dari tendangan si Gila.
Sambil berteriak berkata tidak ada serunya jika melakukan hal 'itu' kepada wanita yang tak sadarkan diri, pria tersebut menekankan jika yang ia inginkan adalah membuat Ashley berteriak.
Namun tidak peduli dipukuli sekeras apa, wanita pirang itu sama sekali tidak berteriak kesakitan. Meski sekujur tubuhnya memar dan penuh luka, Ashley tetap tak ingin dikalahkan oleh rasa sakitnya.
Terengah-engah menatap wanita yang terkulai lemas setelah dipuluki tanpa henti, pria tersebut kemudian berjalan menjauh sambil memberi perintah kepada ketiga rekannya.
"Buat dia berteriak."
Sebuah perintah yang cukup jelas ke mana arah tujuannya.
.................. Bersambung .................
__ADS_1